Monthly Archives: February 2008

Bapak

22 Februari lalu genap dua tahun bapak meninggalkan kami semua. Kenangan bergulir satu persatu. Saya masih ingat tetesan air mata bapak di ruang ICU ketika kami semua berkumpul di sana dan mengatakan melepas beliau dengan ikhlas. Tetesan air mata itu persis seperti yang saya lihat ketika beliau mendengar saya diterima di perguruan tinggi negeri.

Bapak tak meninggalkan warisan yang banyak karena kami bukan orang kaya dan juga tidak termasuk miskin. Kami, empat bersaudara pun tak terlalu meributkan itu. Satu warisan penting yang beliau tinggalkan adalah pendidikan. Alhamdulillah, kami semua menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi. Sesekali bapak mengeluhkan biaya pendidikan si bungsu yang lumayan mahal. Namun, bapak tetap berupaya sekuat tenaga supaya si bungsu menyelesaikan pendidikannya.

Ada satu cerita beliau yang menggelitik. Continue reading

Mandi dari Masa ke Masa

‘Bangun tidur kuterus mandi…’ Inilah penggalan lagu anak-anak di Indonesia yang saya ingat mengenai kebiasaan di pagi hari. Kebiasaan yang ‘tabu’ dilakukan pada hari libur atau Minggu karena pada hari itu kita cenderung bermalas-malasan sebelum mandi. Namun, kebiasaan mandi khususnya di pagi hari, baik untuk kesegaran, memulai hari kita.

Ada satu hal yang tidak saya temui di Belanda yaitu bak mandi plus gayungnya. Tentu saja karena bak mandi tidak dikenal di Belanda. Di Belanda hanya ada badkuip atau bathtub dan pancuran (shower). Kalau pun ada bak, itu juga yang berukuran besar alias kolam (renang). Oleh karena itu dalam bahasa Belanda sebelumnya hanya dikenal baden (mandi di kolam atau sungai) dan douchen (mandi dengan pancuran). Barulah setelah mandi dikenal oleh mereka, kosakata mandiën akhirnya masuk dalam bahasa Belanda. Termasuk kata mandiebak (bak mandi), mandiekamer (kamar mandi), dan gajoeng (gayung). Tidak hanya itu, menurut sastrawan Louis Couperus, istilah sirammen juga dipakai yang mengacu pada urusan membersihkan tubuh ini.

Urusan membersihkan diri ini bagi orang Belanda yang pernah tinggal di Hindia Belanda tentu sangat menarik karena di negeri asal mereka, apalagi jika musim dingin, mandi adalah suatu keterpaksaan. Continue reading

Sepotong Kenangan tentang Pak Harto

Minggu siang 27 Januari 2008, udara panas sekali. Kaos yang saya kenakan terpaksa dilepas karena basah oleh keringat. Komputer saya matikan karena tak tahan dengan panas siang itu. Tiba-tiba putera saya yang masih berusia 18 bulan menangis histeris. Bangun dari tidurnya. Saya melirik jam dinding, sekitar jam satu lewat. Kami kebingungan menenangkan dan membujuk si kecil yang menangis tak henti. Tak lama hujan turun cukup deras. Udara panas sirna seketika. Si kecil kembali terlelap dan kami pun ikut terlelap. Kelelahan.

Cukup lama hujan membasahi bumi dan akhirnya reda. Kami bangun. Saya bergegas berpakaian hendak ke minimarket membeli susu si kecil yang nyaris habis. Di depan rumah, di rumah tetangga berdiri bendera setengah tiang. Ada apa, pikir saya. Apakah? Saya minta istri saya segera menyalakan televisi. Innallillahi Wainnalillahi Rojiun. Pak Harto telah berpulang ke Rahmatullah. Continue reading