<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sangkelana</title>
	<atom:link href="http://sunjayadi.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sunjayadi.com</link>
	<description>the journey of thousand miles begins with one step</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 03:21:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Nyai, Nenek Moyang Kaum Indo</title>
		<link>http://sunjayadi.com/?p=206</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/?p=206#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 03:21:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[De njai]]></category>
		<category><![CDATA[Het concubinaat in Nederland-Indië]]></category>
		<category><![CDATA[institusi nyai di Hindia]]></category>
		<category><![CDATA[nyai]]></category>
		<category><![CDATA[Reggie Baay]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah nyai di Hindia-Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Judul             :  De njai, Het concubinaat in Nederland-Indië Penulis         :  Reggie Baay Penerbit      :  Athenaeur-Polak &#38; Van Gennep Tebal             :  302 hlm Apa hubungan antara Nyai dan Kaum Indo?  Dalam salah satu kesempatan Professor Pamela Pattynama, guru besar luar biasa Universiteit van Amsterdam mengutip [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul             :  <em>De njai, Het concubinaat in Nederland-Indië</em><br />
Penulis         :  Reggie Baay<br />
Penerbit      :  Athenaeur-Polak &amp; Van Gennep<br />
Tebal             :  302 hlm</p>
<p>Apa hubungan antara Nyai dan Kaum Indo?  Dalam salah satu kesempatan Professor Pamela Pattynama, guru besar luar biasa Universiteit van Amsterdam mengutip kalimat dari penulis buku ini, Reggie Baay. ”Nyai adalah nenek moyang kaum Indo Eropa.” Kalimat ini sebenarnya berasal dari Rob van Nieuwenhuys.</p>
<p>Apabila kita menyebutkan kata  ’nyai’ pada masa kolonial, kemungkinan reaksi orang akan beragam. Ada yang tersenyum kecut, memasang wajah sinis atau meremehkan dan mungkin saja mengangkat bahu. Enggan membicarakannya lebih lanjut. Nyai pada masa kolonial kerap disandingkan dengan urusan dapur dan kasur yang berfungsi sebagai ’teman’ bagi para pria Eropa kesepian di tanah surga.<br />
<span id="more-206"></span><br />
Sebutan nyai pada masa kolonial ditujukan pada perempuan muda, setengah baya yang menjadi ‘gundik’ ‘perempuan simpanan’ orang asing, khususnya orang Eropa. Sebutan ini menurut anggapan orang Eropa pada masa itu setara dengan <em>concubine, bijwijf </em>atau <em>selir</em> yang meniru kebiasaan para raja di Nusantara yang memang memiliki banyak selir.</p>
<p>Reggie Baay yang juga penulis roman <em>De Ogen van Solo</em> (2006), dalam buku ini menelusuri akar pernyaian dengan menggunakan titik awal sejarah keluarganya. Baay yang juga ternyata cucu dari seorang nyai  (Moeinah) tidak hanya menelusuri akar keluarganya tetapi juga mewancarai anak-anak dan cucu-cucu dari para nyai yang lain serta mengumpulkan foto-foto mereka.</p>
<p>Seperti kata pepatah &#8216;sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui&#8217;, Baay tidak hanya mendapatkan informasi tentang asal-usulnya, ia juga mendapat informasi bagaimana nasib beberapa nyai tersebut sekaligus meramunya dengan sumber-sumber sejarah serta karya sastra sejaman dan modern. Deretan karya sastra dan catatan perjalanan yang digunakan membentang dari akhir abad ke-19 hingga abad ke-20 seperti Justus van Maurik, P.A. Daum, Victor Ido, Augusta de Wit, G. Francis, Louis Couperus,  Dé-Lilah, Johan Fabricius, Otto Knaap, E. Du Perron, Annie Foore, H. Gorter, Thérèse Hoven, J. Kleian, Herman Kommer, M.C. Kooy-van Zeggelen, Mina Kruseman, L. Székely, M.H. Székely-Lulofs, Bas Veth, Marie van Zeggelen, Ferdinand Wiggers, Willem Walraven, Lin Scholte. Baay juga menggunakan terjemahan karya Pramoedya A. Toer <em>Bumi Manusia </em>dan <em>Anak Semua Bangsa </em>sebagai sumber.</p>
<p>Membicarakan nyai berarti menelusuri sejarah terbentuknya status dan institusi ini dalam masyarakat kolonial di Hindia.  Khususnya pergeseran makna nyai dalam masyarakat. Dalam <em>Encylopaedie Nederlandsch Indië </em>(1919), <em>nyahi</em> (nyai) merupakan panggilan kehormatan untuk perempuan yang lebih tua. Istilah <em>Nyai </em>dipasangkan dengan<em> Kyai</em>, gelar kehormatan bagi seorang pria yang dianggap lebih tua serta kaya dalam ilmu dan pengalaman hidup. Dengan demikian istilah <em>Nyai</em> mengalami pergeseran seiring dengan berdatangannya perempuan kulit putih (Eropa) ke Hindia. Menurut Jean Gelman Taylor, pergeseran istilah ‘nyai’ sebagai pembantu pribumi pria Eropa sejak awal 1826, meskipun sebenarnya jauh sebelumnya istilah nyai sudah dipakai.</p>
<p>Bila ditelusuri lebih ke belakang, seperti yang ditulis oleh Rijckloff van Goens, utusan VOC dalam laporannya ketika melakukan perjalanan ke Mataram pada 1666, ia menyebutkan bahwa ada sekelompok perempuan setengah baya yang bertanggung jawab menjaga keamanan istana serta urusan raja dengan para selirnya di luar istana: “<em>Over alle dese waren mijn jonghste aenwesen 2 vrouwen tot opperste hoofden, de eene genaemt Injey Maes, ende d’andere Injey ’t Chela</em>.” (Mengenai semua ini , ada dua nyai yang ditunjuk memimpin mereka yaitu <em>Injey -Nyai Maes</em> dan yang lain <em>Injey -Nyai Chela</em>). Sebagai tambahan keterangan untuk<em> Injey</em> atau <em>Nyai</em> ini disebutkan:“<em>Injey/Njai is eerbiedwaardigheidstitel voor een oudere vrouw van aanzien</em>.”(Nyai adalah gelar kehormatan untuk seorang perempuan yang dianggap lebih tua)</p>
<p>Sebutan nyai pada masa kolonial, mengutip Kasyanto Sastrodinomo adalah eufemisme bagi para <em>bediende</em> atau <em>baboe</em> yang diangkat sebagai ‘istri gelap’ para tuan kolonial. Agar tak memalukan sang tuan, para nyai didandani. Mereka diajari beretiket dan berbahasa Belanda, menikmati budaya Eropa. De Haan dalam <em>Oud Batavia</em> (1922) menyebutkan para majikan juga menggunakan nama indah bagi para nyai: Saartje, Anjelier, Mawar, Roosje, sampai nama tokoh teater atau sastra klasik Corinna dan Pamela</p>
<p>Penggambaran nyai yang berkonotasi negatif dan murahan, terbatas pada ‘istri piaraan’, ‘gundik’ bahkan tak ubahnya seperti pelacur semakin dikukuhkan dalam berbagai karya sastra yang terbit pada masa kolonial. Terbitan<em> Commissie voor de Volkslectuur</em> (Balai Pustaka sekarang) yang dikenal sebagai roman picisan seperti <em>Tjerita Njai Dasima</em> (1896) karangan G. Francis, cerita bersambung Raden Mas Tirto Adhi Soerjo,<em> Tjerita Njai Ratna</em> (1909) yang dimuat di <em>Medan Prijaji.</em> Memang cerita-cerita kehidupan antar ras, khususnya tentang para nyai di Hindia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 itulah yang mendominasi. Dengan menggunakan bahasa Melayu pasar semakin mengurangi derajat kehidupan mereka. Jauh dari kata terhormat</p>
<p>Praktik ‘pergundikan’ ini, seperti yang diungkapkan Jean Gelman Taylor dalam <em>The Social World of Batavia</em> (1983) sebenarnya dilembagakan sejak adanya kebijakan VOC pada 1652 yang membatasi imigrasi perempuan Belanda serta tuntutan syarat rumit pada perkawinan resmi pria Belanda dan perempuan Jawa  Seiring berjalannya waktu, praktik ‘pergundikan’ terasa berakar kuat di Hindia. Banyak perempuan pribumi bekerja sebagai nyai, memasak, mengurus rumah tangga para pria Belanda yang belum menikah, sekaligus melayani secara seksual. Praktik ini tidak hanya berlangsung dalam benteng, tangsi militer tapi juga di perkebunan di pelosok luar Jawa. Seperti di perkebunan karet dan tembakau di pantai timur Sumatera.</p>
<p>Di antara berbagai tulisan yang membahas kisah per-nyai-an atau yang lebih sering disebut sebagai <em>concubinaat </em>(pergundikan) di Hindia-Belanda dalam buku ini, diungkapkan nasib beberapa nyai. Misalnya Lamira kelahiran Surabaya tahun 1853. Ia beribu seorang Jawa dan ayahnya dari kalangan <em>Mardijker</em>. Lamira bertemu dengan Johannes seorang Indo-Eropa yang bekerja sebagai juru sita di Kediri, Jawa Timur. Johannes menjadikan Lamira nyai. Mereka lalu hidup layaknya suami istri. Mereka dikaruniai empat anak. Pada 1881 Johannes meninggal dunia. Anak-anak mereka diadopsi oleh keluarga Johannes sehingga mendapat hak seperti orang Eropa. Lamira kemudian menikah dengan seorang Eropa. Lamira akhirnya pergi ke Belanda dan hidup hingga tutup usia pada usia 105 tahun di Den Haag (Baay 2008:51-52)</p>
<p>Kisah nyai yang lain adalah kisah Saila yang lahir dari sebuah keluarga miskin di Jawa Barat pada 1884. Ia bertemu dengan Edward dari Belgia. Tahun 1900 ia dijadikan nyai oleh Edward. Dari Edward Saila mendapatkan delapan anak. Lima perempuan dan tiga laki-laki. Saila tidak bisa membaca. Ia hanya dapat bicara bahasa Melayu dan paham bahasa Belanda. Edward yang bekerja sebagai sipir penjara mendapat nasib sial. Ia tewas ketika bekerja. Saila sedih. Anak-anak yang masih kecil dititipkan di panti asuhan Vincentius, Batavia. Sementara anak-anaknya yang lebih tua telah menikah. Saila pun akhirnya menikah dengan seorang pribumi dan dikarunai seorang anak. Saila masih tetap berhubungan dengan anak-anaknya yang lain. Anak-anak yang paling tua pun membantu secara finansial di samping uang pensiun dari Edward. Ketika pecah perang, anak-anak Saila tidak dimasukkan ke dalam kamp karena asal-usul mereka yang berdarah campuran. Usai perang, anak-anak Saila berangkat ke Belanda. Saila tetap tinggal di Indonesia. Ia tinggal<br />
dengan anak laki-lakinya yang paling kecil di sebuah rumah kecil di Jakarta. Saila meninggal pada 1972 dalam usia 88 tahun. Sebagai kenangan atas Saila, seorang cicitnya diberinama Saila (Baay 2008: 67-68)</p>
<p>Kisah di atas adalah sebagian dari nasib para nyai di Hindia. Mungkin ada juga nyai yang nasibnya jauh dari beruntung. Tak diingat, tak dikenang, dilupakan begitu saja. Dihilangkan sebagai sumber asal-usul suatu generasi. Namun, yang tidak dapat dihilangkan adalah peran mereka dalam salah satu budaya di Indonesia yaitu budaya Indo (Indis). Seperti halnya Rob Nieuwenhuis, Reggie Baay juga mengungkapkan bahwa nyai adalah “nenek moyang” dari para Indo-Eropa.  Buku ini tidak hanya mengungkap sisi kelam kolonialisme, tetapi juga memperlihatkan jejak satu ‘institusi’ yang sebenarnya dilembagakan sejak adanya kebijakan VOC pada 1652. Jejak sejarah yang memberikan warna pada negeri ini.</p>
<p>* Achmad Sunjayadi, Koordinator Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/?feed=rss2&amp;p=206</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Decolonization of Indonesian economic</title>
		<link>http://sunjayadi.com/?p=194</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/?p=194#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 03:05:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[decolonization of economic in indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[history of indonesian economic]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian economic decolonization in regional and international perspective]]></category>
		<category><![CDATA[J. Thomas Lindbald & Peter Post]]></category>
		<category><![CDATA[KITLV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Judul        :  Indonesian economic decolonization in regional and international perspective Editor        : J. Thomas Lindbald &#38; Peter Post Penerbit    : KITLV, Leiden 2009 Tebal        : 212 hlm This eight essays in this book provides insights into the complex process of economic decolonization in Indonesia from a variety of perspectives. This collection of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul        :  Indonesian economic decolonization in regional and international perspective<br />
Editor        : J. Thomas Lindbald &amp; Peter Post<br />
Penerbit    : KITLV, Leiden 2009<br />
Tebal        : 212 hlm</p>
<p>This eight essays in this book provides insights into the complex process of economic decolonization in Indonesia from a variety of perspectives. This collection of essays draw on a wide range of primary source materials consulted in Dutch and Indonesian archives. They present detailed evidence of waht economic decolonization entailed, especially during the transfer of sovereignity in 1949 and the nationalization of Dutch companies in 1949 and the nationalization of Dutch companies in 1959.<br />
<span id="more-194"></span><br />
Specialist from Indonesia, the Netherlands and Australia work on it. Thee Kian Wie, Bambang Purwanto, Anne Booth, Tri Candra Apriyanto, Jasper van de Kerkhof, J. Thomas Lindbald, Daan Marks, Peter Post. The eight contributions to this volume are selected in such a way as to obtain a broad and multi-facetted outlook on the premise that economic decolonization in Indonesia cannot be understood from one single viewpoint alone.</p>
<p>The various contributions are arranged according to three perspectives complementing each other: the new nation-state, private business and the international comparison. Each warrant a separate commentary, also incorporating some of the major findings of the individual contributions.</p>
<p>The change in idelogical outlook had important repercussions for how economic decolonization took shape in Indonesia, as is documented in Thee Kian Wie’s opening account of economic policy-making during the 1950s. Thee provides an overview of the most important policy measures in the 1950s aiming at the transformation from a colonial into a national economy.</p>
<p>A uniquely Indonesian feature of the nation-state in an entrepreneurial capacity was the heavy involvement of the military in economic life. Different from previous writers, Bambang Purwanto traces the origins of military-controlled business right to the very beginning of the Indonesian Revolution in 1945. He argues that the link between economic decolonization and increasing military business was established in the late 1940s and successively strengthened in the course of the 1950s. Decolonization placed the military in a key position that was reinforced by the apparent inability of the civilian government to manage the nation’s economic resources. This nurtured the interest of soldiers and officers in conducting business, both as a group and as individuals. By the late 1950s, military officers had slotted themselves into a dependance on business activities. They were reaping large profits, not only economically, but also socially and politically. As an institution, the army in particular grew dependent on financial proceeds from its business deals. By the time that economic decolonization was nearing its end, conducting business and being in the military had become two sides of the same coin.</p>
<p><em>Indonesianisasi</em> or <em>pribumisasi</em> was not confined to the post-Independence period.  In his contribution to this volume, Peter Post points out that economic decolonization started already in the late 1920s, when Japanese investment began to enter the Netherlands Indies. A Japan-oriented niche was created in the colonial economy that brought pribumi business groups in direct contact with Japanese industrial capital. Using the example of one leading pribumi entreprenur of the time, Agoes Moesin Dasaad, Peter Post demontrates that private indigenous business interests managed to influence economic policies to a significant degree during the late 1940s and 1950s. The role of Japan in Indonesia’s economic decolonization was twofold. Japanese private capital offered unique opportunities for indigenous entrepreneurship during both the late colonial period and the Japanese occupation (March 1942-August 1945), which went against the very foundations of the Dutch colonial economy. In addition, as Post emphasizes, substant</p>
<p>ial financial support from the Japanese government to Indonesia materialized in December 1957, precisely at the time when the Dutch enterprises were taken over by local labour unions.</p>
<p>In his survey of economic performance in North Sumatra before and immediately after the takeover of Dutch estates, Thomas Lindbald distinguishes between external and internal factors. Deteriorating conditions of lobal market prospects already existent in the mid-1950s. Difficulties due to the transfer of management in 1958 in the wake of the takeovers were aggravated by a short-term price fall in foreign markets. From his findings lead Lindbald to conclude that we should be cautious in establishing a direct causal link between the transfer of management in 1957-1959 and the deep economic crisis in which Indonesia found itself in the mid-1960s, an opinion which is not shared by all observers.</p>
<p>Tri Chandra Apriyanto takes a close look at the economic decolonization and nationalization of the sugar and tobacco plantations in the East Java region of Jember (Besuki). He traces the ideological roots of the public debate on estate agriculture during the Indonesian Revolution to nationalist writings preceding Independence.</p>
<p>Anne Booth deals with the colonial legacies by placing Indonesian colonial economic performance in an East Asian perspective. She raises the question whether Japanese colonialism in Korea and Taiwan was more developmental in its aims and achievements in comparison to colonial regimes in other parts of Asia. Drawing upon extensive quantitative data, Booth concludes that if one were to construct a composite index of human development on the basis of per capita Gross Domestic Product, demographic data and educational enrolment, the Philippines would rank first in 1938 and Taiwan second. Indonesia, despite four decades of efforts by the colonial authorities to ’uplift’ the indigenous population, would end up at the bottom of the ranking list.</p>
<p>The point of departure in the contribution by Daan Marks is whether Independence indeed formed a turning point in the long-term economic growth performance of former colonies. He applies a three-layered analysis, considering respectively the relationship in general between decolonization and economic growth, the experiences of selected former colonies in Asia and developments in the interisland shipping industry in Indonesia shortly after Independence. He argues that Independence and decolonization had a direct positive impact on economic growth in India, Malaysia and the Philippines, whereas the first couple of decades immediately following Independence in Indonesia failed to produce a significant break with the growth record of the colonial period. Indonesia remains a ’special case’, reaffirming the author’s, hypothesis, derived from the international literature, that decolonization and rapid economic growth are only positevely correlated to one another under specific circumstances.</p>
<p>The idea is common that the Dutch companies in Indonesia engineered their own demise by being so ill-prepared to ’indigenize’ management and respond adequately to the economic aspirations of the newly independent nation. This issue is taken up by Jasper van de Kerkhof, in his comparison of Dutch and British corporate strategies in Indonesia and Malaysia (British Malaya up to 1957). Neighbouring Malaysia makes an interisting case for comparison, since it is generally acknowledged that economic decolonization there proceeded much more smoothly and less detrimental for post-colonial economic development. Van de Kerkhof’s findings show that great care should be taken when making such generalizations. British firms in Malaysia were equally reluctant to vacate their privileged position and ’indigenuze’ top management. British and Dutch firms both took active steps to ’indigenuze’ the lower ranks of their corporation, but they found it equally difficult to appoint well-educated and capable Malay and Indonesian manag</p>
<p>ers into the higher echelons of the companies’ hierarchy. This leads Van de Kerkhof to conclude that it was not so much the attitudes and strategies of Dutch and British firms that caused the differences, but rather the institutional surroundings of the countries and the ideological outlook of political leadership. In Malaysia, full economic decolonization was arguably only achieved when the New Economic Policy was put into effect in the 1970s.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/?feed=rss2&amp;p=194</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kue Bugis Kanre Jawa</title>
		<link>http://sunjayadi.com/?p=192</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/?p=192#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 00:17:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Finally, I publish an eBook about my experience in Celebes (South Sulawesi) 1999-2003 Please visit Evolitera FREE Download. And I will thankful if you could give me a &#8216;Love&#8217; click on it. Enjoy reading it!!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://s233.photobucket.com/albums/ee246/andinie/?action=view&#038;current=coverebookmakassar.jpg" target="_blank"><img src="http://i233.photobucket.com/albums/ee246/andinie/coverebookmakassar.jpg" border="0" alt="cover ebook makassar"></a></p>
<h3>Finally, I publish an eBook about my experience in Celebes (South Sulawesi) 1999-2003  Please visit <a href="http://www.evolitera.co.id/themes/main/product.php?product_id=271&amp;language=en" target="_blank">Evolitera</a></h3>
<p><strong>FREE Download</strong>. And I will thankful if you could give me a &#8216;Love&#8217; click on it.</p>
<p>Enjoy reading it!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/?feed=rss2&amp;p=192</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Jalan Pak Lei (Prof. R.Z Leirissa)</title>
		<link>http://sunjayadi.com/?p=191</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/?p=191#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 06:31:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[mengenang Prof Leirissa]]></category>
		<category><![CDATA[Prof.R.Z.Leirissa wafat]]></category>
		<category><![CDATA[strukturistik prof leirissa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[“Memang pada masa itu ada turis yang datang?,” tanya Professor R.Z. Leirissa ketika saya mengajukan usulan tesis mengenai turisme pada masa kolonial di Hindia-Belanda.  Saya agak gelagapan tapi beruntung sebelum saya mengajukan usulan itu, saya pernah riset di Arsip Nasional Jakarta dan Perpustakaan Nasional. Maka saya jawab dengan yakin: “Ada, Prof!”  Professor  Leirissa  tersenyum sambil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Memang pada masa itu ada turis yang datang?,” tanya Professor R.Z. Leirissa ketika saya mengajukan usulan tesis mengenai turisme pada masa kolonial di Hindia-Belanda.  Saya agak gelagapan tapi beruntung sebelum saya mengajukan usulan itu, saya pernah riset di Arsip Nasional Jakarta dan Perpustakaan Nasional. Maka saya jawab dengan yakin: “Ada, Prof!”  Professor  Leirissa  tersenyum sambil mengangguk , “Oke, silakan lanjut!”<span id="more-191"></span></p>
<p>Akhirnya memang Professor R.Z. Leirissa menjadi pembaca tesis saya, dengan pembimbing utama DR. Masyhuri dari LIPI.  Sewaktu ujian seminar hasil, beberapa pertanyaan kritis dari beliau semakin mempertajam tesis saya. Sayang sewaktu ujian tesis beliau berhalangan karena harus ke luar negeri tapi sebelum ujian beliau sudah memberikan nilai.</p>
<p>Ada dua mata kuliah yang saya ikuti, Sejarah Asia Tenggara dan Metodologi Sejarah.  Meskipun nilai yang didapat tidak terlalu menggembirakan, saya mendapatkan banyak manfaat dari mata kuliah tersebut. Puncaknya, ketika saya mencoba memahami metode strukturistik beliau. Sepanjang perkuliahan rasanya saya tidak paham dengan apa yang dibicarakan. Beruntung, dalam sebuah seminar beliau membawakan materi satu semester.  Alhamdulillah, akhirnya saya paham juga meskipun saya tidak menerapkannya dalam tesis yang menggunakan pendekatan struktural.</p>
<p>Selama perkuliahan dengan beliau pun tidak ada istilah bosan.  “Cilaka tiga belas,” demikian istilah yang kerap Pak Lei (panggilan Angkatan saya untuk beliau) gunakan sewaktu memberikan kuliah. Sesekali beliau menceritakan pengalamannya ketika kuliah di Hawaii dan ketika menyusun disertasinya, Halmahera Timur dan Raja Jailolo.  Tumpukan-tumpukan arsip beliau telusuri dengan teliti, demikian uraiannya.</p>
<p>Dalam disertasinya Prof. Leirissa menggunakan beberapa teori sosiologi, antara lain dari Talcott Parsons, Neil Smelser, Charles Tilly dan Fernand Braudel.  Prof. Leirissa menggunakan teori Smelser untuk memahami perubahan sosial di Halmahera Timur, lalu teori Tilly untuk menganalisis pergolakan di wilayah tersebut, teori Braudel untuk memahami aspek geografis, dan teori Parsons untuk hukum sibernetika. Namun, dalam proses penulisan disertasinya tersebut, beliau menuturkan adanya perbedaan pendapat dalam hal metodologi dengan promotornya sehingga  memakan waktu lebih lama.</p>
<p>Sedikit mengulas metodologi strukturistik  dari Prof. Leirissa, yang saya kutip dari artikel Dr. Vincensius Yohannes Jolasa  ‘Konstruksi Sejarah  “Antara Agen dan Struktur” ‘ :</p>
<p>“<em>Pendekatan strukturistik menggunakan teori-teori sosiologi tertentu khususnya dengan konsep “emergency” dan “agency” dengan “belajar” dari cara kerja ilmu alam, berkaitan dengan structure of reasoning, yang tetap bertumpu pada data sejarah. Realitas yang diangkat bukan keseluruhan tetapi hanya yang disebut sebagai causal factor saja. Seperti dalam ilmu alam, gejala alam memang kasat mata tetapi sebab-sebab terjadinya tidak bisa ditangkap sepenuhnya. Tema sentral sejarawan strukturis adalah peran manusia sebagai agensi di dalam proses-proses penstrukturan sosial.”  Perhatian utama diberikan kepada “agensi”. Konsep agensi berbeda dari konsep individualistis tentang manusia dan dari konsep tindakan seperti dalam rasionalisme dan behaviorisme. Pendekatan ini berbeda dari pendekatan struktural yang bersumber dari sosiologi Talcott Parsons.</em></p>
<p>Kenangan lainnya ketika saya meminta surat rekomendasi untuk melanjutkan ke jenjang doktoral. “Mau ambil di mana?” tanya beliau.  “Amsterdam, Prof!”  Beliau mengangguk. “Kok, cuma satu?” tanya  beliau lagi ketika saya hanya menyodorkan selembar surat.  “Satu sudah cukup, Prof!” sahut saya.  “Ya, sudah.” Jawab Prof. Leirissa.  Surat itu masih saya simpan dan belum sempat dipergunakan.  Selamat jalan Professor R.Z. Leirissa! Selamat jalan Pak Lei….</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/?feed=rss2&amp;p=191</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertengahan tahun</title>
		<link>http://sunjayadi.com/?p=190</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/?p=190#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 01:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[17 Juli-17 September 2010]]></category>
		<category><![CDATA[juni]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas bisa]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Blog Depok]]></category>
		<category><![CDATA[LombaBlogDepok17 Juli-17 September 2010]]></category>
		<category><![CDATA[naskah]]></category>
		<category><![CDATA[no excuse]]></category>
		<category><![CDATA[pertengahan tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Tak terasa sudah enam bulan di tahun 2010 ini.  Sekarang sudah bulan Juni. Komitmen dan rencana yang dibuat pada awal tahun mulai dilihat lagi. Ada yang belum  terwujud, separuh, sepertiga, seperempat, seperlima bahkan ada yang sama sekali belum terwujud. Masih sekedar wacana, demikian kata pejabat atau tokoh di televisi. Kalau sudah demikian, harus dikuatkan lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak terasa sudah enam bulan di tahun 2010 ini.  Sekarang sudah bulan Juni. Komitmen dan rencana yang dibuat pada awal tahun mulai dilihat lagi. Ada yang belum  terwujud, separuh, sepertiga, seperempat, seperlima bahkan ada yang sama sekali belum terwujud. Masih sekedar wacana, demikian kata pejabat atau tokoh di televisi. Kalau sudah demikian, harus dikuatkan lagi nawaitu dan komitmen yang pernah terucap dan tertulis. Supaya tidak keluar jalur dan menciptakan keresahan publik di rumah.<span id="more-190"></span></p>
<p>Urusan domestik dalam negeri juga tak luput dari perhatian.  Apalagi anak-anak mulai tumbuh gigi dan besar.  Dan mulai kritis dengan pertanyaan-pertanyaannya.  Dan yang emoh sekolah (yang seharian dari 09.00-16.00 seperti orang kerja).  Naila yang sangat aktif dan gemar bertualang ala outbond serta keinginan sang menteri keuangan untuk aktualisasi diri harus diperhitungkan.</p>
<p>Urusan naskah yang tak kunjung selesai juga harus segera diselesaikan. Beberapa artikel ilmiah tinggal menunggu proses terbitan.  Alhamdulillah, royalti untuk buku yang terbit tahun lalu, membuat hati senang dan tenang.  Targetnya tahun ini ada buku lagi yang diterbitkan.  Harapannya lebih dari satu.</p>
<p>Sementara itu urusan luar negeri, maksudnya niat untuk kembali ‘sekolah’ yang  sempat luntur lantaran ‘tergiur’ untuk mencari proyek tambahan demi melunasi properti tepat waktunya, perlahan dipupuk kembali.  Intinya, No Excuse, meminjam judul buku Isa Alamsyah dari Komunitas Bisa. Tak ada alasan bagimu. Kalau semangat mulai menurun dan nyaris putus asa segera  saya mengingat judul buku itu, jadi semangat lagi. Intinya tidak ada lagi kata ‘tetapi’. Atau pesan dari Om Bob (Sadino), ‘Lakukan saja…’ HARUS BISA.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/?feed=rss2&amp;p=190</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekilas sejarah Program Studi Belanda FIB Universitas Indonesia</title>
		<link>http://sunjayadi.com/?p=189</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/?p=189#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 07:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Coretan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan Belanda UI]]></category>
		<category><![CDATA[Program studi Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Program Studi Belanda FIB UI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Enam tahun sudah saya berada di Program Studi Belanda FIB (FS) UI.  Sebelumnya saya sempat &#8216;mengembara&#8217;, &#8216;berguru&#8217; pengalaman di lain pulau.  Saatnya kembali ke barak (pinjam istilah militer). Mungkin tidak banyak yang tahu jika Program Studi Belanda yang ada di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, sudah berusia 40 tahun. Berikut sekilas sejarah Program Studi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Enam tahun sudah saya berada di Program Studi Belanda FIB (FS) UI.  Sebelumnya saya sempat &#8216;mengembara&#8217;, &#8216;berguru&#8217; pengalaman di lain pulau.  Saatnya kembali ke barak (pinjam istilah militer). Mungkin tidak banyak yang tahu jika Program Studi Belanda yang ada di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, sudah berusia 40 tahun. Berikut sekilas sejarah Program Studi Belanda FIB UI.</p>
<p><span id="more-189"></span>Pada 1 Februari 1949 pada Fakultas Sastra Nood-Universiteit (universitas darurat)-Universiteit van Indonesië dibuka jurusan khusus Bahasa dan Kesusastraan Belanda yang merupakan jurusan keenam di fakultas tersebut.</p>
<p>Sebelumnya Fakultas Sastra memiliki lima jurusan yaitu Bahasa dan Sastra Indonesia, Sinologi, Sejarah, Etnologi, Arkeologi dan Sejarah Kuno Kepulauan Nusantara (Hooykas 1948:9)<br />
Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Belanda ini hanya mampu berdiri selama tiga tahun karena pada awal tahun akademik 1952-1953 ditutup. Pada tahun akademik baru, hanya diberikan bahasa Belanda sebagai mata kuliah tambahan di Jurusan Inggris oleh Ny. Th. Kuiper-Weyhenke (Groeneboer 1995:21)</p>
<p>Kebijakan politik Indonesia di bawah Presiden Soekarno pada tahun 1957 sehubungan dengan masalah Irian Barat berimbas pula pada Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Belanda. Semua yang berbau &#8216;Belanda&#8217; dihapuskan. Kita tentu ingat kebijakan politik &#8220;Nasionalisasi&#8221; Presiden Soekarno.<br />
Barulah pada akhir tahun enam puluhan hubungan Indonesia dan Belanda kembali membaik. Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia ketika itu, Prof. Dr. Slametmuljana berinisiatif dengan dukungan Belanda membuka jurusan Bahasa dan Kesusastraan Belanda yang baru. Hasil dari Persetujuan Kebudayaan Indonesia-Belanda yang ditandatangani pada 1968, dua ahli Belanda ditugaskan di fakultas: Drs.J.W de Vries dan Drs. G. Termorshuizen. Selain itu dua orang staf pengajar Indonesia juga turut membantu yaitu Dra. Afiah Thamrin dan Dra. Tjiptaning Fuad Hassan. Di bawah pimpinan Dr. Harsja W. Bachtiar sebagai kepala program studi dan Dra. Afiah sebagai sekretaris program studi, pada bulan Oktober 1969 Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Belanda dibuka secara resmi.</p>
<p>Awal tahun 1970 kuliah-kuliah pertama dengan 35 mahasiswa berjalan. Dari 35 mahasiswa itu, hanya delapan yang berhasil menyelesaikan kuliah hingga akhir.<br />
Pada tahun 1977 didirikan program pendidikan professional tiga tahun (D3) dengan bahasa Belanda sebagai pengutamaannya. Program ini mendidik mahasiswa untuk menguasai pekerjaan di bidang usaha dan pariwisata. Tahun 2008 seiring dengan kebijakan universitas untuk menjadikan UI sebagai universitas riset, dibentuk program pararel. Pada tahun 2008 inipula Program D3 FIB ditutup.</p>
<p>Tahun ini Program Studi Belanda FIB UI berusia 40 tahun dan berkembang dengan baik. Pada saat ini terdapat 19 tenaga pengajar bergelar master dan doktor dengan 218 mahasiswa program sarjana (reguler dan pararel) serta 9 mahasiswa program diploma 3. Selain itu beberapa pengajar mengampu mata kuliah lintas program studi dan fakultas yaitu mata kuliah Bahasa Belanda Dasar dan Bahasa Belanda Sumber Hukum dengan jumlah mahasiswa sekitar 300 mahasiswa setiap tahun.</p>
<p>Selama 40 tahun Program Studi Belanda FIB UI telah menghasilkan banyak lulusan yang tersebar di seluruh Indonesia maupun di luar negeri serta bekerja di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, lembaga pemerintah, media massa, perbankan.<br />
Satu pengajar Program Studi Belanda saat ini sedang mengikuti program postdoctoral. Tiga pengajar saat ini sedang menyelesaikan doktornya dan beberapa pengajar sedang mempersiapkan untuk mengikuti program doktor. satu pengajar muda sedang menyelesaikan program master di Belanda dan satu pengajar muda lainnya akan mengikuti program master di Belanda.</p>
<p>Beberapa karya para pengajar Program Studi Belanda FIB UI juga telah dihasilkan, baik berupa buku teks maupun karya ilmiah. Seperti Belajar Bahasa Belanda untuk Studi Hukum, Welkom, Bahasa Belanda Pariwisata, Tata bahasa Bahasa Belanda, Makna Sosio-historis batu Nisan VOC di Batavia, Vereniging Toeristenverkeer Batavia (1908-1942): Awal Turisme Modern di Hindia-Belanda. Para pengajar juga aktif mengikuti pertemuan ilmiah di dalam maupun luar negeri, baik sebagai peserta maupun pemberi makalah.</p>
<p>Program Studi Belanda FIB Universitas Indonesia merupakan satu-satunya program studi di Asia Tenggara dan Oceania yang menyelenggarakan pendidikan jenjang sarjana studi Belanda dan diakui secara internasional oleh <em>Nederlandse Taalunie</em> (Uni Bahasa Belanda).</p>
<p>Dalam kurun waktu 40 tahun Program Studi Belanda telah bekerja sama dengan berbagai pihak antara lain <em>Nederlandse Taalunie</em> (NTU) – Uni Bahasa Belanda (Belanda, Belgia, Suriname), <em>Erasmus Taalcentrum </em>(Pusat Bahasa Belanda) Jakarta. Kerja sama tersebut dalam bentuk bantuan untuk pelatihan para pengajar Program Studi Belanda baik di Indonesia, Belanda maupun Belgia serta bantuan kepustakaan. Selain itu Nederlandse Taalunie juga menempatkan seorang penasihat akademis di Indonesia yaitu Dr. Kees Groeneboer serta mengirimkan dosen-dosen tamu setiap tahun.<br />
Bantuan juga diberikan setiap tahun kepada para mahasiswa berprestasi dalam bentuk beasiswa kursus musim panas bahasa dan budaya di Belanda dan Belgia. Selain itu pada bulan Mei setiap tahun, bekerjasama dengan Erasmus Taalcentrum diselenggarakan Ujian Bahasa Belanda sebagai Bahasa Asing yang menggunakan standar internasional, khususnya untuk bahasa Eropa (Europese Referentie Kader)- <em>Common European Framework.</em></p>
<p>Sumber:<br />
Groeboer, Kees.1995. “De eerste studierichting Nederlands 1949-1952” dalam <em>25<br />
tahun Studi Belanda di Indonesia</em>. Depok: FSUI</p>
<p>Suratminto, Liliek. 1995. “De huidige situatie bij de vakgroep Nederlands” dalam <em>25<br />
tahun Studi Belanda di Indonesia.</em> Depok: FSUI</p>
<p>Gustinelly, Eliza (eds.). 2005. <em>Tiga Puluh Lima Tahun Studi Belanda di Indonesia</em>. Depok: FIB UI</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/?feed=rss2&amp;p=189</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Menjadi Manusia Produktif</title>
		<link>http://sunjayadi.com/?p=188</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/?p=188#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 01:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[beyond productivity]]></category>
		<category><![CDATA[meningkatkan produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[pencerahan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[sugeng santoso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Judul  :  Beyond Productivity Penulis  : Sugeng Santoso Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2010 Tebal  : 169 hal + xxv Mungkin ada yang heran karena buku yang saya ulas kali ini bukan buku yang berbau sejarah atau budaya.  Memang, buku ini jelas-jelas jauh dari tema yang biasa saya tuliskan. Namun, bila kita kaitkan dengan masalah produktivitas, hal ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul  :  <em>Beyond Productivity<br />
</em>Penulis  : Sugeng Santoso<br />
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2010<br />
Tebal  : 169 hal + xxv</p>
<p>Mungkin ada yang heran karena buku yang saya ulas kali ini bukan buku yang berbau sejarah atau budaya.  Memang, buku ini jelas-jelas jauh dari tema yang biasa saya tuliskan. Namun, bila kita kaitkan dengan masalah produktivitas, hal ini tidak akan lepas dari urusan budaya. Urusan yang menyangkut manusia, kegiatan dan produk yang dihasilkan dari olah pikir manusia dalam upaya meraih sesuatu.</p>
<p>Sesuai dengan amanah yang diberikan kepada saya hingga beberapa tahun mendatang, tahun ini saya mendapatkan sahabat-sahabat baru yang memberikan &#8216;dukungan&#8217; secara tidak langsung. &#8216;Dukungan&#8217; tersebut dalam bentuk ilmu-ilmu baru yang harus saya praktikkan dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab itu.   Sudah saatnya kita harus berubah.</p>
<p><span id="more-188"></span></p>
<p>Berubah. Satu kata yang mudah diucapkan tapi cukup berat untuk dilakukan. Tak semua orang mampu menjalankannya. Memang, segala sesuatunya butuh waktu, butuh proses untuk mencapai sesuatu.  Sesuatu itu dapat berupa tujuan atau cita-cita. Namun, tak semua orang setia pada proses dan selalu ingin mencari jalan pintas.</p>
<p>Coba bayangkan jika seseorang tidak memiliki tujuan atau cita-cita? Alangkah meruginya mereka karena telah menyia-nyiakan hidup yang berharga. Tidak mengherankan jika kita mendengar kabar atau berita banyak orang yang mengakhiri hidupnya di dunia.</p>
<p>Buku <em>Beyond Productivity</em> karya Sugeng Santoso ini menempatkan kita pada posisi untuk siap menjalankan perubahan sesuai dengan tujuan yang diyakini masing-masing. Hal yang menarik, penulis buku ini menelusuri alasan mengapa manusia sulit berubah. Dengan melakukan analisis psikologis yang menarik, penulis membeberkan alasan-alasan yang dapat diterima dan memang itulah yang menjadi ‘musuh dalam selimut’ kita.</p>
<p>Penulis menggunakan istilah menarik <em>Psycho Sclerosis</em> (penyempitan psikis) yang dipinjam dari istilah kedokteran arterosclerosis (penyempitan pembuluh darah). Psycho Sclerosis merupakan penyakit yang tidak kita sadari lambat-laun menjadi ‘penyakit mematikan’ yang dapat membunuh kemampuan otak kita untuk berubah.</p>
<p>Banyak orang berprasangka buruk sebelum mencoba, menjalani serta merasakan segala hal yang mungkin dapat menjadi kunci kesuksesan mereka. Jujur saja, saya sendiri pernah mengalami hal yang sama. Merasa sudah tahu (hal.7), curiga (hal.10), tidak memiliki rencana lebih lanjut (hal.12), tidak sabar (hal.14), tidak semangat, tidak gembira (hal.16), tidak total (hal.17). Dengan kata lain hantu-hantu pikiran negatif menjadi pemenang dan berkuasa dalam diri kita. Akibatnya hasil yang diperoleh tidak sebagaimana yang diharapkan, bahkan seringkali membuat kecewa.</p>
<p>Satu hal yang menjadi inti buku ini adalah rahasia untuk menjadi manusia produktif. Tentunya Anda sering bertanya mengapa Anda sudah bekerja keras tetapi hasilnya jauh dari memuaskan. Atau Anda sudah menganggap diri Anda produktif  namun penghasilan yang diperoleh tidak mencukupi kebutuhan Anda. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat Anda peroleh dalam buku ini. Yang jelas nilai-nilai positif dalam buku ini menyibak rahasia yang dapat mengubah kehidupan Anda lebih baik daripada sekarang. Membuat kita lebih produktif dan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Tentunya bukan dengan cara instan.</p>
<p>Secara pribadi saya sependapat dengan penulis buku ini. Sesuai dengan keyakinan yang saya anut,  dalam satu ayat kitab suci disebutkan bahwa tidak ada yang mengubah suatu kaum selain kaum itu sendiri. Jadi memang perubahan harus dilakukan oleh diri sendiri dan bukan oleh orang lain.</p>
<p>Ada beragam manfaat yang dapat diambil dari buku ini. Selain memberikan pencerahan kepada diri kita, buku ini juga menawarkan bonus senilai 13, 5 juta dan yang lebih penting lagi dengan membeli buku ini kita turut membantu kehidupan anak-anak Indonesia.</p>
<p>Jika Anda siap untuk mendapatkan segala hal yang baru dan ingin berubah, Anda perlu membaca buku ini. Namun, alangkah baiknya setelah Anda membaca isi dari buku  segera mempraktikkannya dengan kontinyu dan bertahap. Supaya buku ini tidak hanya sekedar penghias rak buku.<br />
 </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/?feed=rss2&amp;p=188</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepak Bola Tionghoa Surabaya</title>
		<link>http://sunjayadi.com/?p=187</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/?p=187#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 04:54:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah sepak bola]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah sepak bola indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola Tionghoa]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola tionghoa surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[the history of Indonesian footbal]]></category>
		<category><![CDATA[Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola 1915-1942]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Judul  :  Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola 1915-1942 Penulis  : R.N. Bayu Aji Pengantar  : Freek Colombijn Penerbit : Ombak, Yogyakarta 2010 Tebal  : 141 hal + xxi Anda masih ingat iklan minuman energi yang diputar beberapa tahun silam? Dalam salah satu adegan kita lihat Dik Doank duduk termangu.  ”Kapan ya Indonesia bisa ikut Piala Dunia?,” kata Dik Doank [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul  :  Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola 1915-1942<br />
Penulis  : R.N. Bayu Aji<br />
Pengantar  : Freek Colombijn<br />
Penerbit : Ombak, Yogyakarta 2010<br />
Tebal  : 141 hal + xxi</p>
<p>Anda masih ingat iklan minuman energi yang diputar beberapa tahun silam? Dalam salah satu adegan kita lihat Dik Doank duduk termangu.  ”Kapan ya Indonesia bisa ikut Piala Dunia?,” kata Dik Doank yang membintangi iklan itu bersama dengan bintang sepak bola Italia, Alessandro Del Piero.</p>
<p><span id="more-187"></span></p>
<p>Pertanyaan Dik Doank itu sepatutnya menjadi cambuk bagi Indonesia untuk dapat menjawabnya. Namun, apa mau dikata pertanyaan itu hingga kini belum mampu dijawab. Prestasi sepak bola Indonesia jauh dari kata memuaskan. Tampil Piala Dunia masih berupa mimpi.</p>
<p>Begitu carut-marutnya kepengurusan dan sistem pembinaan sepak bola kita semakin mengaburkan harapan atas pertanyaan Dik Doank tersebut. Hingga berpuncak pada aksi Hendry Mulyadi, seorang penonton yang masuk ke lapangan pada laga Indonesia melawan Oman bulan Januari lalu. Aksi Hendry seolah mengukuhkan dan mewakili rasa frustasi para penggemar sepak bola Indonesia.</p>
<p>Krisis prestasi dan kepengurusan sepak bola di Indonesia ini pun mengundang perhatian Pemerintah Indonesia hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengusulkan kepada PWI-KONI untuk menggelar kongres sepak bola nasional. Dalam menyambut kongres tersebut tampaknya buku <em>Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola 1915-1942</em> karya R.N. Bayu Aji patut menjadi perhatian.</p>
<p>Seperti yang diungkapkan oleh Freek Colombijn dalam kata pengantarnya, buku ini merupakan buku penting karena sepak bola adalah bagian penting dalam keseharian masyarakat kolonial (Hindia). Bahkan, mampu menarik perhatian media berupa koran lokal yang memberitakan pertandingan sepak bola di kota-kota tertentu (hal. xviii) Sepak bola, tulis Colombijn, memang tidak hanya menarik perhatian tetapi juga mampu mengumpulkan orang-orang dari berbagai latar belakang etnis yang berbeda: Eropa, Tionghoa dan Arab yang tergabung dalam tim nasional – Hindia-Belanda (hal.xix)</p>
<p>Satu fenomena yang menarik adalah menurut sejarah sebenarnya sepak bola Indonesia lahir bukan karena alasan kebugaran atau kesehatan jasmani tetapi justru politik. Sepak bola kerap digunakan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme. Oleh karena itu nama-nama tokoh <em>founding-father</em> Indonesia seperti MH.Thamrin, Ki Hajar Dewantara, hingga Soekarno-Hatta tak dapat dilepaskan dengan kemunculan klub sepak bola di Hindia. Bahkan dalam biografi politik tentang Sjahrir, <em>Sjahrir: Politics and Exile</em> (1994), Rudolf Mrazek menuliskan kegemaran Sjahrir pada si kulit bundar sekaligus kepiawaian mengolahnya. Sjahrir bahkan dikenal sebagai penyerang tengah yang handal. Ketika berada di Bandung ia tercatat sebagai anggota <em>Club Voetbalvereniging Poengkoer</em> dan <em>Luno</em>.</p>
<p>Hal lain yang tak kalah menarik adalah ternyata orang Tionghoa memiliki peran penting dalam olahraga Indonesia, khususnya sepak bola. Namun, seiring jalannya waktu kiprah mereka lebih banyak pada olahraga lain seperti bulu tangkis, tenis meja, bola basket, dan bola voli.</p>
<p>Dalam <em>Politik dan Sepakbola Di Jawa 1920-1942</em> karya Srie Agustina Palupi (2004) dijelaskan alasan awal masuknya orang Tionghoa di sepak bola di Hindia-Belanda yaitu akhir abad ke-19 karena sentimen ras. Ketika itu orang Tionghoa enggan disebut sebagai warga kelas dua oleh pemerintah Hindia-sehingga sempat muncul <em>Chineesche Java Voetbalbond</em> (CJV) pada awal abad ke-20. Tahun 1912 saja di Batavia muncul lima klub sepak bola Tionghoa.</p>
<p>Kota Surabaya yang kini terkenal dengan klub sepak bola Persebaya ’Bajul Ijo’ plus boneknya menorehkan catatan sejarah awal tentang dibentuknya <em>bond</em> (perkumpulan) sepak bola. Perintis perkumpulan sepak bola di Surabaya atas jasa seorang pemuda Belanda, John Edgar mendirikan <em>bond Victoria </em>pada 1895. Disusul kemudian dengan <em>bond-bond</em> lain seperti Sparta (1896), SIOD (<em>Scoren Is Ons Doel </em>– mencetak gol adalah tujuan kami), Rapiditas, THOR (<em>Tot Heil Onzer Ribben</em>). Pertumbuhan perkumpulan-perkumpulan ini merangsang pertumbuhan perkumpulan sepak bola di kalangan Tionghoa dan Bumiputera (hal.57).</p>
<p>Keberadaan perkumpulan sepak bola Tionghoa di Surabaya tak lepas dari peranan POR –Perkumpulan Olahraga –<em>Gymnastiek en Sportvereeniging Tiong Hoa</em> yang didirikan pada 31 Desember 1908 (hal.79). Para <em>leden</em> (anggota) perkumpulan ini pada awal 1915 berkeinginan mendirikan <em>afdeling voetbal</em> (cabang sepak bola) dengan Oei Kwie Liem yang menjadi pelopornya. Pada tahun 1915 itulah cabang sepak bola menjadi olah raga populer. Tak jarang kerusuhan antarsuporter terjadi tetapi itu bukan hambatan untuk membina sepakbola (hal.81)</p>
<p>Namun, jangan bayangkan ketrampilan sepak bola mereka sehebat sekarang. Sepak bola di kalangan Tionghoa ketika itu masih sekedar asal menendang bola dengan kemampuan seadanya. Yang terpenting adalah bagaimana mencetak gol ke gawang lain.  Terlepas dari persoalan teknik atau bagaimana bermain cantik, Surabaya khususnya sepak bola Tionghoa Surabaya pernah menjadikan kota tersebut menjadi kiblat sepak bola Hindia di awal abad ke-20. Kejuaraan dengan penyelenggara CKTH (<em>Comite Kampioenwedstrijden Tiong Hoa</em>) yang didirikan pada 1927 dan HNVB (<em>Hwa Nan Voetbal Bond)</em> yang didirikan pada 1930 kerap dimenangkan oleh Tionghoa Surabaya.</p>
<p>Sepak bola Tionghoa, sebelum memiliki organisasi tertinggi – HNVB – ternyata telah mampu menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan pertandingan antarkota seperti perpanjangan waktu 7, 5 menit dan dilanjutkan dengan undian jika kedudukan tetap berimbang (hal.73). Permasalahan pun juga ada yaitu pemimpin yang mampu mempersatukan dan memajukan sepak bola serta sarana lapangan sepak bola. Bahkan, masalah lapangan ini sempat menjadi persoalan serius ketika lapangan sepak bola Quick di Pasar Turi akan dijadikan stasiun (hal.85). Akhirnya persoalan itu mampu teratasi setelah tempat berlatih baru didapat yaitu lapangan Cannalaan (hal.87).</p>
<p>Persoalan lain yang tak kalah serunya adalah perselisihan antara NIVB – <em>Nederlandsch Indische Voetbal Bond </em>yang telah berubah menjadi NIVU – <em>Nederlandsch Indische Voetbal Unie</em> dengan PSSI melalui pembatalan <em>gentlement’s agreement</em> pada 1938 menjelang Piala Dunia di Prancis. Pihak PSSI bersikeras bahwa wakil di Piala Dunia adalah PSSI bukan NIVU tetapi yang diakui oleh FIFA adalah NIVU yang mewakili Hindia Timur. Perselisihan ini ’dimanfaatkan’ oleh kalangan sepak bola Tionghoa di Hindia dan Tionghoa Surabaya. Akibatnya, pemain Tionghoa Surabaya dapat ikut serta dalam rombongan pemain (NIVU) ke Piala Dunia mewakili Hindia Timur (hal. 87). Pemain Tionghoa Surabaya yang ikut adalah Tan ’Bing’ Mo Heng dan Tan Hong Djien. Mereka bergabung dengan 16 pemain lainnya yang terdiri dari orang Belanda dan Bumiputra (hal.88)</p>
<p>Satu hal yang sepatutnya dicontoh dari perkumpulan sepak bola Tionghoa Surabaya yaitu pembinaan pemain muda. Mereka memiliki sistem pembibitan pemain muda yang lebih intensif dibanding dengan perkumpulan-perkumpulan lain. Perkumpulan juga memberikan kesempatan bermain lebih banyak kepada para pemain junior sehingga para pemain muda memiliki pengalaman, mental bertanding yang kuat (hal.90)</p>
<p>Sekarang, tinggal bagaimana kita menyikapi persoalan yang melilit sepak bola Indonesia. Saya membayangkan suatu hari nanti kita memiliki kesebelasan yang tangguh, terdiri dari berbagai suku di Indonesia yang memiliki semangat dan motivasi mengharumkan nama bangsa Indonesia. Semoga.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/?feed=rss2&amp;p=187</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persahabatan Antar Bangsa pada Dua Jaman</title>
		<link>http://sunjayadi.com/?p=186</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/?p=186#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 07:22:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia Pustaka Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Hella S Haasse]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan indonesia-belanda]]></category>
		<category><![CDATA[novel oeroeg]]></category>
		<category><![CDATA[resensi novel oeroeg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Judul       :  Oeroeg Judul asli :  Oeroeg Penulis  : Hella S Haasse Penerjemah : Indira Ismail Penerbit :  Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2009 Tebal  :  144 halaman Pada 1948 sebuah novel tipis dihadiahkan kepada para pembeli buku di Belanda yang berbelanja sedikitnya 3,5 gulden. Novel itu anonim, tanpa disebutkan pengarangnya. Hanya ada petunjuk, sebuah moto ‘Soeka Toelis’, kisah tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul       :  <em>Oeroeg</em><br />
Judul asli :  <em>Oeroeg</em><br />
Penulis  : Hella S Haasse<br />
Penerjemah : Indira Ismail<br />
Penerbit :  Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2009<br />
Tebal  :  144 halaman</p>
<p>Pada 1948 sebuah novel tipis dihadiahkan kepada para pembeli buku di Belanda yang berbelanja sedikitnya 3,5 gulden. Novel itu anonim, tanpa disebutkan pengarangnya. Hanya ada petunjuk, sebuah moto ‘Soeka Toelis’, kisah tentang persahabatan antara seorang anak Belanda dan pribumi di Hindia-Belanda. Di sampulnya terpampang judul: <em>Oeroeg</em>.</p>
<p><span id="more-186"></span></p>
<p>Di halaman belakang novel itu, ada 19 nama pengarang. Para pembaca diminta untuk menuliskan siapa nama pengarangnya dan mengirimkan jawabannya pada panitia, <em>Commisie voor de propaganda van het Nederlandsche Boek </em>(Komisi propaganda buku Belanda). Jawaban yang benar akan diundi dan tiga pemenang utama akan mendapatkan hadiah masing-masing 100 gulden. Dari 24.000 jawaban yang masuk, hanya 672 yang benar.</p>
<p>Salah satu dari nama-nama pengarang itu adalah Hella S Haasse yang sekaligus sebagai jawaban yang benar. Pada 1947 ia mendapatkan undangan dari CPNB, Komisi propaganda buku Belanda untuk mengikuti sayembara penulisan novel yang akan dijadikan hadiah pada saat <em>boekenweek</em> (minggu buku). Novel tersebut akhirnya menjadi pemenang. Ketika itu Haasse baru kehilangan putrinya. Maka seperti penuturannya, ia berupaya mengalihkan rasa sedihnya dengan menulis novel tersebut.</p>
<p>Setelah enam puluh tahun lebih, novel itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Negeri tempat kelahiran Haasse. Bersamaan dengan itu, Oeroeg kembali diterbitkan di Belanda dan dijadikan buku hadiah dalam rangka promosi program <em>Nederland leest</em> (Negeri Belanda membaca) 2009.</p>
<p>Novel Oeroeg mengisahkan persahabatan antara tokoh aku (Belanda) dengan Oeroeg, anak pribumi. Aku adalah anak administrator perkebunan teh dan Oeroeg, anak mandor perkebunan.  Usia mereka tak terpaut jauh, hanya berselisih beberapa minggu (hal.6)  Keduanya pun sama-sama dilahirkan di perkebunan Kebon Jati (hal.7)</p>
<p>Ketika mereka masih kanak-kanak perbedaan ras, warna kulit dan derajat bukan menjadi halangan persahabatan. Mereka tak merasakan dan menyadari hal itu, meskipun pada kenyataannya jurang perbedaan antara Tuan (baca: orang Belanda) dan Hamba (baca: pribumi) ketika itu sangatlah besar. Kepolosan khas anak-anaklah yang menyelubungi tabir perbedaan itu.</p>
<p>Dalam perjalanan persahabatan kedua anak itu, ada dua peristiwa penting yang merekatkan jiwa dan darah mereka. Pertama, tewasnya ayah Oeroeg, Deppoh karena menyelamatkan tokoh aku di Telaga Hideung (hal.34) Kedua, kepergian ibu tokoh aku ke Belanda sehingga tokoh aku hanya tinggal dengan sang ayah (hal.44) Kedua peristiwa penting itu seolah merekatkan jiwa tokoh aku pada Oeroeg. Padahal sebelumnya sang ayah tak begitu suka jika tokoh aku terlalu dekat dengan Oeroeg dan menjadi Belanda ‘cakar ayam’ alias Belanda ‘kampung’ (hal.16). Kelak yang tumbuh adalah perasaan bersalah bercampur aduk dengan kesedihan serta kekosongan jiwa tokoh aku.</p>
<p>Seiring pertumbuhan kedua tokoh tersebut tumbuh kesadaran adanya perbedaan di antara mereka. Kesadaran adanya perbedaan itu mulai tumbuh ketika tokoh aku melihat dan mendengar perlakuan orang-orang di sekitarnya terhadap Oeroeg. Hingga akhirnya Oeroeg sendiri yang mengatakannya. Tampaknya situasi di luar diri mereka mengubah arti persahabatan mereka.</p>
<p>Tokoh aku melihat proses perubahan atas diri Oeroeg. Oeroeg yang dikenalnya sejak kecil semakin berubah. Perubahan itu sangat besar seiring dengan munculnya sahabat-sahabat baru Oeroeg. Demikian pula tempat ia dibesarkan. Ia merasa asing di hadapan sahabatnya serta di tanah kelahirannya sendiri. Tokoh aku seolah terus mempertanyakan perubahan itu. Bahkan ia tidak mampu lagi mengenalinya.</p>
<p>Dengan mengambil latar-belakang perkebunan teh di Priangan, Batavia (Jakarta) dan Surabaya, Haasse melukiskan dan menuangkan kembali situasi, khususnya keindahan alam pada masa itu dengan kata-kata. Situasi yang kelak berubah dan dirasakannya ketika kembali berkunjung ke negeri kelahirannya.</p>
<p>Helena Sefaria Haasse lahir di Weltevreden, Batavia pada 2 Februari 1918. Ibunya, Katharina Diehim Wizenhhler seorang pianis dan ayahnya, Willem Hendrik Haasse seorang inspektur keuangan yang bertugas di Hindia. Setelah pensiun Willem menjadi penulis roman detektif dengan nama samaran W.H. Van Eemlandt. Ketika Hella berusia dua tahun, keluarga ini kembali ke Belanda lalu dua tahun kemudian kembali ke Hindia dan menetap di Surabaya, tempat Hella menyelesaikan sekolah dasar.</p>
<p>Tahun 1924, sang ibu sakit dan harus dirawat di sanatorium maka keluarga ini kembali ke Belanda. Di Belanda, Hella tinggal di Baarn dengan neneknya. Tahun 1928, keluarga ini kembali ke Hindia. Mereka tinggal setahun di Bandung, Buitenzorg (Bogor), dan Batavia (Jakarta) di mana Hella menyelesaikan lyceum (sekolah menengah). Tahun 1938 Hella kembali ke Belanda, meneruskan pendidikannya di Gemeentelijke Universiteit Amsterdam. Ia memilih jurusan bahasa dan sastra Skandinavia. Namun, orang tuanya masih tinggal di Hindia. Reuni keluarga ini gagal karena masuknya Jepang. Orang tua Hella pun sempat masuk interniran. Keluarga ini kembali berkumpul pada 1946.</p>
<p>Hella keluar dari kuliahnya pada 1941 lalu ia masuk <em>Toneelschool </em>(sekolah drama) di Amsterdam. Ia lulus pada 1943. Setahun berikutnya Hella menikah dengan mr. Jan van Lelyveld. Keluarga ini dikarunai seorang anak, Chrisye pada 11 November 1944. Tiga tahun kemudian Chrisye meninggal dunia.</p>
<p>Sebenarnya novel<em> Oeroeg</em> ini bukan karya pertama Hella yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karya lain yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah naskah drama <em>Een draad in het donker dan novel</em>  dan <em>Sleuteloog</em>.</p>
<p>Ketika terbit pada 1948, novel ini merebut perhatian para pembacanya di Belanda. Namun, di Indonesia novel ini menuai kritik. Misalnya tulisan dalam majalah budaya <em>Oriëntatie</em> mengkritik Hella yang sebagai seorang perempuan tidak tahu banyak permainan anak laki-laki sehingga persahabatan yang digambarkan tidak mungkin seperti itu – tidak sesuai kenyataan (<em>onrealistisch</em>). Selain itu novel Oeroeg dipandang berbahaya secara politik mengingat hubungan Indonesia-Belanda pada masa itu.</p>
<p>Menanggapi kritikan tersebut, Hella menyatakan novel itu merupakan reaksinya terhadap Aksi Polisionil (dalam historiografi Indonesia disebut Agresi Militer) Belanda di Indonesia pada 1947. Hatinya tergerak dan ia menulis, terus menulis tanpa henti hingga menghasilkan novel tersebut.</p>
<p>Dalam suatu kesempatan wawancara lainnya sehubungan dengan novel Oeroeg, Hella Haasse yang mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Universiteit Utrecht pada 1988 menyatakan bahwa ia merasa berhutang pada bangsa pribumi Hindia. Alasannya, ketika ia masih berada di Hindia, ia seolah mengabaikan peran dan keberadaan mereka. Padahal dalam kehidupan sehari-hari mereka lah yang mengisi hari-harinya.</p>
<p>Haasse adalah salah satu contoh generasi masa silam yang seakan mewakili kelompok masyarakat yang pernah merasakan kehidupan di Hindia dan seolah enggan pulang ke negerinya (kelompok <em>blijvers</em>). Pengalaman masa lalu tersebut seolah sulit dihilangkan dan akan terus terkenang dalam bingkai kenangan tempo doeloe.</p>
<p>Adalah juga hal menarik untuk mengetahui tanggapan generasi sekarang, baik di Belanda maupun di Indonesia yang tidak merasakan langsung latar belakang masa novel ini. Mungkin juga generasi kini hanya mengetahui situasi masa itu dari cerita atau buku-buku sejarah. Nuansa ‘masa sebelum dan sesudah perang’ tentunya tak mudah untuk dirasakan oleh generasi sekarang.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan akhir kisah persahabatan kedua anak dari bangsa dan latar belakang yang berbeda serta pada dua jaman, jaman sebelum dan sesudah perang ini? Silakan Anda temukan jawabannya pada novel ini yang juga telah difilmkan pada 1993.</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/?feed=rss2&amp;p=186</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kecil Aktor Sejarah</title>
		<link>http://sunjayadi.com/?p=185</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/?p=185#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 00:58:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[buku rosihan anwar]]></category>
		<category><![CDATA[petite histoire II]]></category>
		<category><![CDATA[resensi buku]]></category>
		<category><![CDATA[rosihan anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia II Penulis: Rosihan Anwar Penerbit: Penerbit Kompas,  Juli 2009 Halaman: viii + 348 halaman Judulnya boleh disebut Sejarah Kecil, Petite Historie Indonesia 2. Namun, penulisnya bukanlah orang kecil.  Setelah sukses dengan jilid pertama, jilid kedua buku tersebut kembali hadir. Pada jilid kedua ini fokus utamanya pada bidang pers, film, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul: Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia II<br />
Penulis: Rosihan Anwar<br />
Penerbit: Penerbit Kompas,  Juli 2009<br />
Halaman: viii + 348 halaman</p>
<p>Judulnya boleh disebut <em>Sejarah Kecil, Petite Historie Indonesia 2. </em>Namun, penulisnya bukanlah orang kecil.  Setelah sukses dengan jilid pertama, jilid kedua buku tersebut kembali hadir. Pada jilid kedua ini fokus utamanya pada bidang pers, film, kebudayaan yang juga mengenai para wartawan, sineas dan seniman.</p>
<p>Rosihan Anwar, penulis buku Sejarah Kecil ini bukanlah orang sembarangan. Beliau tidak hanya penulis sejarah tapi dapat dikatakan sebagai pelaku alias aktor sejarah. Sehingga apa yang dituturkan seperti laporan pandangan mata dari pelakunya sendiri.</p>
<p><span id="more-185"></span></p>
<p>Rosihan Anwar menulis dari sudut pandang lain, berbeda dengan arus utama penulisan sejarah yang sudah ada. Justru hal itu lah yang menarik. Kita mendapat banyak informasi penting yang tidak akan kita dapatkan dalam buku sejarah resmi.</p>
<p>Buku ini terdiri 12 bab yang berasal dari dua bagian utama. Bagian pertama tentang sejarah pers, film, budaya beserta pelakunya terdiri dari enam bab. Bagian kedua tentang reportase, resensi dan promosi juga terdiri dari enam bab.</p>
<p>Kedua bagian tersebut menarik namun menurut saya bagian kedua lebih menarik karena di situ lah letak ‘sejarah kecil’ nya. Simak saja, pengalaman penulis di balik peliputan Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung (hal.119) atau hiruk-pikuk cerita-cerita ringan seputar pengalaman mengikuti perjalanan Perdana Menteri Uni Sovyet Nikita Krushchev di Indonesia pada awal 1960 (hal.163). Misalnya soal terjemahan-menerjemahkan pidato yang kurang akurat (hal.174) atau cara kerja salah seorang fotografer Associated Press, Fred Waters yang simultan dan didukung oleh para tenaga lokal (hal.176). Kisah lain tentang reporter radio Darmosugondo yang mulutnya tak berhenti bergerak melaporkan apa yang dilihatnya ketika Kruschev singgah di sebuah rapat raksasa di Surabaya. Rosihan yang terkagum, terpana dan memandanginya. Tiba-tiba Darmosugondo yang berkacamata hitam mengalihkan pembicaraannya dan mengumumkan kepada pendengar bahwa salah seorang wartawan terkenal juga hadir dalam acara tersebut. Rosihan pun bertanya mengapa namanya disebut. Darmosugondo menuturkan biasanya bila seorang pembesar lewat di dekatnya sambil mencolek, itu merupakan tanda isyarat agar nama pembesar itu disebutkan di corong radio. Rupanya Darmosugondo mengira tatapan Rosihan sebagai tanda untuk disebut namanya (hal.183).</p>
<p>Serial kisah Safari Nikita, menurut Rosihan sebenarnya dipersembahkan bagi para wartawan Indonesia khususnya generasi muda. Maksudnya adalah ketika membuat suatu liputan tidak hanya sekedar jual tampang bagaikan pemuda di Rancak Dilabuh (hal.242). Dengan sedikit teknik jurnalistik dan dengan mata terbuka, tutur Rosihan, berbagai bahan bisa digali sehingga menghasilkan pelaporan secara mendalam.</p>
<p>Kisah lain yang tak kalah menariknya dan menggelitik adalah kisah tentang Clifford Geertz di Manila. Rosihan mengutip Geertz yang menuturkan pengalamannya ketika melakukan penelitiannya di Pare, Jawa Timur pada awal tahun 50-an. Ia mewawancarai para petani dan merekamnya. Mikrofon dipasang dan para petani sederhana menjawab pertanyaan yang diajukan Geertz. Setelah wawancara cukup lama, Geertz pergi ke tempat lain, meninggalkan mikrofon dan alat perekam. Rupanya si petani terus berbicara, mengikuti alur pikirannya. Awalnya Geertz terkejut. Namun, ia justru mendapatkan inspirasi dari kejadian tadi yang dituangkan dalam buku berjudul cultural involution, mengenai kemunduran dalam perkembangan budaya (hal.274).</p>
<p>Kekayaan pengalaman asam garam kehidupan wartawan ‘lima jaman’ (Kolonial, Jepang, Revolusi, Pembangunan, Reformasi) ini patut dijadikan pedoman.  Terus menulis di usia senja (Rosihan Anwar lahir 10 Mei 1922 di Kubang Nan Dua, Sumatra Barat) bukanlah hambatan bagi pria yang kerap dipanggil Cian ini. Alasannya menulis, mengutip wawancara di <em>The Jakarta Post</em> , selain menghindari kepikunan adalah karena ia tidak menerima uang pensiun. Tetap menulis dan sehat selalu, Pak!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/?feed=rss2&amp;p=185</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
