Alam Hindia-Belanda di Mata Pendatang

Hutan adalah anugerah Tuhan kepada umatnya. Tentunya Tuhan menciptakan hutan bukan tanpa maksud dan tujuan. Membicarakan hutan, berarti membicarakan alam.  Alam berikut hutan sebagai salah satu bagiannya dalam pandangan masyarakat kita pun memiliki tempat tersendiri. Demikian pula dalam pandangan masyarakat asing yang pernah datang di negeri kita dengan berbagai tujuan.

Seringkali kita menduga para pendatang (baca; orang Eropa) adalah yang mengilhami kita dalam perhatian dan pelestarian alam di negeri kita. Namun, bila kita telusuri jauh ke belakang, pendapat tersebut bisa berubah. Masyarakat kita pun sebenarnya memiliki kearifan lokal, jauh sebelum orang Eropa tersebut datang ke negeri kita. Bahkan, ketertarikan orang Eropa pada masa lalu berbeda dengan masa berikutnya.

Dalam artikel ‘Verleidelijk perspectief’ – Perspektif Menarik (2001), Dr. Arie J. Gelderblom, peneliti dari Universiteit Utrecht menyebutkan bahwa dilihat dari sudut pandang masyarakat sekarang, orang Belanda dari zaman VOC  atau kompeni (Sekitar 1600- 1800) memiliki hubungan aneh dengan alam.  Maksudnya adalah alam tidak menyentuh emosi melainkan akal mereka.  Orang Belanda hampir tidak mengenal pengalaman estetis tentang alam dan pemandangan alam, termasuk flora dan faunanya. Segala hal yang mereka lihat ditafsirkan sebagai pesan Tuhan yang telah memberikan ciptaan-Nya kepada manusia untuk dipelajari dan sebagai obyek konsumsi (Gelderblom 2001:145).

Menurut Gelderblom, di negerinya, para ‘pelancong’ Belanda pada abad 16 dan 17 yang melakukan perjalanan ke Italia sangat takut mendaki pegunungan Alpen. Mereka takut pada gunung-gunung yang terlalu tinggi, jurang-jurang yang dalam, tanjakan-tanjakan yang licin karena salju dan es. Wajarlah bila ada yang mengalami kecelakaan dan harus menghadap pengadilan Tuhan untuk mendapatkan putusan-Nya.  Di pegunungan Alpen, kehadiran Tuhan sebagai hakim lebih terasa dibandingkan di daerah polder yang rendah dan rata, daerah asal mereka. Apabila mereka tiba di daerah yang rendah dan hangat di Italia Utara, barulah mereka akan merasa lega dan bebas.  Itulah tanah surgawi bagi mereka (Gelderblom 2001:145)

Hal tersebut memperlihatkan bahwa ketertarikan orang Belanda terhadap alam secara estetis baru terbentuk pada masa sesudahnya. Demikian halnya dengan pegunungan. Di Belanda, puncak tertinggi adalah Vaalseberg (322 meter) yang terletak di provinsi Limburg, di wilayah selatan Belanda. Tinggi Vaalseberg ini bila dibandingkan dengan gunung-gunung di Indonesia yang memiliki tinggi di atas 3000 meter tentu jauh berbeda. Puncak Vaalseberg di Belanda bila dibandingkan dengan alam di Indonesia seperti bukit di Indonesia.

Alam, hutan sebagai obyek konsumsi para pendatang di Hindia-Belanda juga dikemukakan oleh Darja de Wever (1995) yang menerbitkan R.M. van Goens, Javaense reyse: De bezoeken van een VOC gezant aan het hof van Mataram 1648-1654. Rickloff van Goens adalah seorang utusan VOC yang dikirim ke keraton Mataram. Wever mengomentari laporan para pegawai VOC. Ia menyatakan bahwa dalam tulisan para pegawai VOC, hanya sedikit pegawai VOC yang menaruh perhatian pribadi pada alam tropis. Para pegawai VOC hanya menggambarkan daerah-daerah dari sudut pandang materialistis. Mereka hanya menyebutkan secara berurutan, apa saja yang dapat dihasilkan alam di daerah-daerah tertentu, tanaman apa saja yang dapat ditanam di sana dan bagaimana kesuburan daerah-daerah itu (Wever 1995:105-106)

Seperti yang diungkapkan van Goens dalam menggambarkan pohon-pohon tidak lebih daripada melihat kayu-kayu yang dapat digergaji:  ‘groote jaty ofte eycken bossen van hooge ende boven gemeene sware boomen, daer men uyt de sommige plancken kan sagen of blacken hacken, welcke niet min dan 3 a 3 ½ voeten breedt zijn
(Pohon-pohon jati yang besar dengan ketinggian melebihi ketinggian hutan pada umumnya, karena dari kayu itu dapat digergaji papan-papan atau dibuat balok-balok yang lebarnya 3 a 3,5 kaki)  (Gelderblom 2001:147)

Namun, pengecualian untuk penggambaran dalam laporan yang kering oleh para pegawai VOC, dapat kita lihat dalam reisverhaal (cerita perjalanan) dari Jacob van Neck pada 1599 dan Javaense reyse (perjalanan di Jawa) dari Rijklof van Goens pada 1650.  Laporan dan cerita perjalanan yang ditulis oleh mereka berbeda dengan laporan perjalanan pada umumnya.

Sekitar 1599, Laksamana van Neck menggambarkan suatu pulau di Selat Sunda, tempat dia bersantap siang di suatu daerah terbuka. Daerah tersebut tentu bukanlah sebuah ruang makan mewah dengan hiasan dinding berupa lukisan-lukisan melainkan suatu lapangan kecil dengan pepohonan dan kali kecil serta pemandangan menghadap perbukitan serta persawahan. Tanpa iringan musik orkes namun diiringi kicauan burung dan gemericik air serta bebauan harum yang bukan berasal dari parfum botolan. Tak ada penghibur, melainkan monyet-monyet yang berlompatan ke sana-ke mari. Penggambaran van Neck tersebut diungkapkan de Haan dalam Priangan: De Preanger-regentschappen onder het Nederlandsch bestuur tot 1811 (1910-1912).

Professor Bert Paasman dari Universiteit van Amsterdam dalam artikelnya De Ogen van de Nederlandse literatuur – Mata Kesusastraan Belanda (1995) mengungkapkan bahwa dalam laporan-laporan perjalanan VOC, aspek alam dan pemandangan menjadi salah satu gambaran yang berguna dan sekaligus menjadi ancaman bahaya yang ditakuti. Ancaman tersebut termasuk hewan buas, serta para penduduk yang ‘liar’ dan ‘buas’. Tentunya para penduduk di sini maksudnya adalah mereka yang tidak mau menjalin kerjasama dengan pihak VOC (Paasman 1995:234-235)

Meskipun van Goens memberikan gambaran dari sudut pandang materialistis terhadap alam, sekitar 1650 ketika ia melakukan perjalanan dari Semarang ke keraton Mataram, ia juga mengungkapkan kekagumannya pada gunung, air terjun, desa serta persawahan yang dilihatnya.

Setelah  menempuh perjalanan melalui pegunungan penuh hutan rimba, tibalah van Goens di suatu lembah yang menurutnya bagaikan surga dunia dengan hamparan tanah subur. Di puncak gunung [Merbabu], van Goens berkomentar:  “op deszelfs schoonheid zo verliefd te wezen, dat ik lust had die te gaan bezichtigen’ (Saya sungguh jatuh cinta dan saya ingin sekali lagi berkunjung ke tempat yang indah ini).

Pada abad kesembilan belas Eropa dilanda aliran romantisme yang secara khusus melagukan keindahan alam liar dan eksotis di luar Eropa. Adalah Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864), seorang peneliti biologi, naturalis, pemerhati botani, geologi asal Jerman yang bertugas untuk pemerintah Hindia-Belanda. Junghuhn menyandang nama besar yang dikaitkan dengan budidaya kina di Indonesia.  Seorang pahlawan kina Indonesia.

Berkaitan dengan romantisme yang melanda Eropa, Junghuhn adalah orang pertama yang melukiskan pulau Jawa dari sudut pandang romantis. Laporan yang ditulisnya berbeda dengan laporan kering para pegawai VOC, pada masa sebelumnya.

Dalam perjalanannya, Junghuhn membuat deskripsi dan ilustrasi alam pegunungan. Dia tinggal di desa terpencil dan menggambarkan kehidupan di sana. Terkadang ia melewatkan malam di puncak gunung berapi untuk menyaksikan hutan belantara dan keindahannya sambil menatap langit berbintang. Baginya, alam adalah segalanya (Paasman 1995:236)

Yang jelas perbedaan cara pandang para pendatang yang berkunjung ke Hindia-Timur dapat pula dikaitkan dengan latar belakang para pendatang tersebut. Misalnya para pegawai VOC yang tidak memiliki latar belakang keilmuan tertentu tentu berbeda dengan mereka yang memiliki latar belakang ilmu yang berhubungan dengan alam. Apalagi diketahui di antara para pegawai VOC tidak semua berpendidikan tinggi. Unsur estetis seperti yang digunakan van Goens atau Junghuhn, jelas merupakan pengecualian.

Berbeda dengan gambaran dalam kisah-kisah perjalanan orang Eropa yang ‘nekad’ masuk ke padalaman Hindia-Belanda pada abad ke-17 dan 18, pada umumnya mereka menceritakan kelebatan hutan, pada masa berikutnya diperlihatkan jumlah hutan semakin merosot. Seperti ketertarikan para ahli kehutanan Belanda pada persoalan jumlah hutan di Hindia-Belanda sejak akhir abad kesembilan belas. Persoalan sama yang juga kita hadapi pada masa kini. Semakin berkurangnya jumlah hutan di negeri kita.

gambar: litografi gunung sumbing, koleksi KITLV-Leiden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *