Author Archives: achmad

Serabi

Dinginnya pagi memeluk tubuh. Mata masih enggan dibuka.  Aroma harum menggelitik penciuman. Hidungku kembang-kempis mencium aroma yang belum aku akrabi. Perutku tiba-tiba lapar. Aku menggeliat dan menengok. Kursi kemudi kosong.  Aku mengerjapkan mata. Dari arah jendela aku melihat bapak berjongkok di depan emperan toko yang masih tutup, menikmati sesuatu di hadapannya.  Bapak mengangkat daun pisang di hadapannya. Aku pun membuka pintu mobil, berjalan ke arahnya.

Continue reading

“Piye kabare mas bro? Penak zamanku to…”

Ini kali kedua saya pergi ke Jogja. Bukan kebetulan hotel tempat saya menginap pun sama. Hotel Saphir di Jl. Laksda Adi Sucipto yang pada akhir bulan Mei lalu menjadi tempat saya menginap, kembali saya sambangi. Jika pada kunjungan pertama merupakan tugas dari Kemendikbud, pada kunjungan kedua ini sehubungan dengan konferensi internasional yang diadakan fakultas.

Continue reading

Tukang Intip Kaum Pergerakan Di Hindia-Belanda

Judul: Mematai-matai Kaum Pergerakan: Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934

Penulis: Allan Akbar

Pengantar: Harry A. Poeze

Penerbit: Marjin Kiri, Tangerang Selatan

Cetakan: I, 2013

Tebal: xx + 117 halaman

ISBN:  978-979-1260-20-6

Namanya Pangemanann, dengan dua n.  Tugasnya mengamat-amati Minke yang aktivitasnya ditengarai menjadi akar dari pemberontakan pribumi di Hindia-Belanda.  Pangemanann cukup lihai sebagai agen rahasia kolonial dari kalangan pribumi.  Ia merancang kerusuhan rasial yang mengadu-domba kaum pribumi dengan Tionghoa. Bermula dari kota Sukabumi, lalu menyambung ke kota-kota lainnya di Jawa.

Continue reading

Kapan ke Jogja lagi?

Sebuah iklan muncul di layar televisi dalam kereta yang membawa saya ke Solo tahun lalu (2012). Di sana terpampang iklan bertuliskan ‘Kapan ke Jogja lagi?’. Iklan itu dari produsen kaos terkenal di Jogya yaitu Dagadu. Maka kota Jogja pun saya lewati sebelum sampai ke Solo. Sekilas saya melihat Jogja dari balik jendela kereta ketika kereta berhenti menurunkan penumpang di Stasiun Tugu.

Continue reading

Semarang…kaline banjir

Semarang, like Cheribon, is the capital of a residency of the same name as itself and lies at the mouth of a river also of the same name. There is nothing in its appearance from the sea to give one any idea that he is approaching a city of over 97,000 inhabitants and the third city of Java in commercial importance.” Demikian tulis Arthur S. Walcott dalam bukunya Java and Her Neighbours (1914).

Continue reading

Sejarah Naratif

Eksplanasi naratif merupakan cabang dari metodologi hermeneutika yang berkembang pada abad 20. Narativisme atau eksplanasi naratif dikembangkan oleh Ankersmit  yang mengikuti pendapat Johann Gustav Droysen (1808-1886) bahwa kisah memiliki kemampuan merangkaikan peristiwa-peristiwa dalam suatu bentuk utuh atau holistik (Leirissa 2002:16).

Dilihat dari sejarahnya narativisme merupakan bentuk awal dari sejarah kritis yang dirintis pada akhir abad ke-19. Salah satu tokoh narativisme yang terkenal adalah Leopold Von Ranke. Ranke menganjurkan supaya sejarawan menulis apa yang sebenarnya terjadi, wie est eigentlich gewesen (Kuntowijoyo 2001:58) Oleh karena itu narativisme menitikberatkan pada peristiwa, khususnya peristiwa politik.

Melalui pendekatan ini sejarawan diharapkan dapat menggambarkan keadaan yang mendekati kebenaran dari peristiwa masa lalu dengan cara menjelaskan fakta-fakta yang terdapat dalam sumber sejarah.

Kisah atau naratif bertitik tolak dari gagasan yang dipilih oleh sejarawan bersangkutan yang dijadikan acuan untuk membuat seleksi atas fakta-fakta dalam sumber sejarah. Dengan kata lain bukanlah masa lampau tersebut yang menjadi patokan melainkan gagasan dari sejarawan, misalnya mengenai peristiwa-peristiwa seperti perang, renaissance (Leirissa 2002:16)

Namun, ada beberapa kelemahan eksplanasi naratif ini. Continue reading

Kisah Ayam

Almarhum pakde saya adalah seorang pecinta hewan. Salah satunya ayam jago yang pada pagi hari suaranya mampu membangunkan saya dari mimpi indah. Ayam jago yang berjenis bangkok itu mendapat perlakuan istimewa. Mulai dari kandang yang selalu diperhatikan kebersihannya, makanan, vitamin  yang selalu dijaga hingga belaian penuh kasih dan mungkin rasa sayang.

Setiap minggu ayam bangkok itu dimandikan. Tentunya bukan seperti memandikan motor Honda tunggangannya, ke tempat dia bekerja setiap hari di sebuah pabrik di bilangan utara Jakarta. Ayam itu disiraminya dengan air dari tangan sambil diusap secara perlahan.

Lain dengan Almarhum ayah. Suatu ketika beliau membawa ayam jago hitam legam yang dikenal dengan ayam Cemani.  Sekujur tubuhnya, mulai dari bulu, jengger, kaki, hingga daging dan tulangnya berwarna hitam. Konon ayam ini berharga mahal (hingga puluhan juta) dan kerap dipakai untuk ritual tertentu. Mungkin almarhum ayah saya mengetahui betapa mahalnya jenis ayam itu sehingga berniat memeliharanya. Lain waktu beliau membawa ayam yang berbulu keriting, jantan dan betina. Ibu saya menyebutnya ayam bulu walik. Beberapa teman adik saya yang berkunjung ke rumah sering tertawa dan berseloroh ayam keriting itu cocok dipelihara keluarga kami lantaran kami semua nyaris berambut keriting. Continue reading

Mengalir

Awal 2013. Biasanya setiap awal tahun dimulai dengan resolusi yang akan dilakukan sepanjang tahun. Namun, awal tahun ini tidak banyak resolusi yang dibuat. Pertama, kondisi fisik yang masih belum memungkinkan alias masih perlu istirahat total. Virus yang menyerang di akhir tahun sepertinya masih betah hingga pertengahan Januari.

Dalam kondisi seperti itu, rasanya malas untuk melakukan berbagai hal (di luar aktivitas rutin seperti makan, minum, beribadah, istirahat). Aktivitas menulis serta membaca (kecuali Al Qur’an) yang biasanya dilakukan menjadi terasa berat. Satu hal yang sepertinya harus diubah. Waktu membaca yang pada tahun lalu nyaris tak ada (meskipun banyak buku-buku baru yang hanya jadi penghias rak), tahun ini harus digiatkan lagi. Tak ada lagi alasan. Tak ada lagi tawar-menawar.

Setelah tubuh kembali sehat, rasanya perlu memikirkan resolusi tahun ini. Kembali lagi resolusi untuk menulis terlontar dari pikiran. Sama halnya dengan aktivitas menulis yang tahun lalu ‘dipaksakan’ kembali menulis, aktivitas membaca dan mencari waktu yang ‘tepat’ (istilah orang yang sok sibuk seperti saya) sepertinya harus dipaksa.Hasilnya beberapa buku, koleksi saya dan istri saya yang belum sempat terjamah, saya baca halaman demi halaman hingga selesai. Awal tahun ini (hingga akhir Januari) dua setengah buku selesai. Tak ada target berapa buah buku yang harus saya baca tahun ini. Seperti kebiasaan dalam bekerja, saya tidak hanya fokus pada satu buku, tapi jika memungkinkan beberapa buku. Continue reading