Belajar sejarah

bk-menari-dengan-mega

Coba Anda ingat kembali ketika duduk di bangku sekolah. Bagaimana pengalaman Anda ketika belajar sejarah. Deretan angka tahun, peristiwa, nama-nama tokoh pasti muncul kembali. Semua itu harus dihafal karena itulah yang akan muncul di dalam ulangan dan ujian. Singkat kata apakah belajar sejarah hanya sekedar menghafal angka tahun, nama tokoh, tempat, dan peristiwa?

Ada pengalaman sedikit traumatis ketika saya duduk di bangku SMP. Terus terang ketika duduk di bangku sekolah dasar saya sangat menyenangi pelajaran IPS. Nilai saya nyaris sempurna. Bahkan, saya pernah menjadi juara III cerdas cermat tingkat RW. Sebelum masuk final saya berhasil mengalahkan lawan-lawan yang duduk di bangku SMP. Namun, di babak final saya berhasil dikalahkan oleh lawan yang sudah duduk di bangku SMP dan lebih berpengelaman. Kalau meniru pendapat para pelatih olah raga ketika timnya dikalahkan, ungkapan yang sering kita dengar adalah, ‘maklum, kalah pengalaman.’

Di bangku SMP, saya sempat kedodoran mengikuti pelajaran sejarah.  Coba bayangkan, siapa sanggup menghafal nama-nama raja dan lokasi kerajaan di Nusantara masa lampau. Terbayang pun tidak. Memang ketika itu sedang ramai-ramainya sandiwara radio Saur Sepuh atau Satria Madangkara dengan tokoh Brama Kumbara, Mantili, Lasmini. Ini yang justru masuk ke kepala sedangkan pelajaran sejarah hanya sekebelatan saja, mampir di kepala.

Suatu ketika kami ujian lisan. Satu persatu kami dipanggil ke depan untuk ditanya. Tiba lah giliran saya. Ketika saya ditanya di manakah letak kerajaan X. Saya jawab sesuai dengan yang ada di kepala saya, “ Di kota X, bu,” jawab saya yakin seyakin-yakinnya. Ibu guru itu hanya menghela nafas. Entah kesal atau kasihan, ibu guru hanya berkomentar, sambil menggelengkan kepala: “Sejak kapan kamu pindahkan kerajaan itu di kota X. Lha waktu itu kota X itu belum ada.”

Entah mengapa saya dapat ‘selamat’ melewati pelajaran sejarah di sekolah alias selalu mendapat nilai meskipun pas-pasan. Tapi di luar kelas, semangat saya membaca buku yang berkaitan dengan sejarah sangat luar biasa. Saya ingat sebuah buku tebal milik ayah saya saya, buku setebal buku kuning yellow pages, yang selalu saya buka-buka. Awalnya saya tertarik dengan sampulnya. Sebuah lukisan para pejuang dengan tulisan di atasnya Di bawah Bendera Revolusi.  Meskipun saya belum memahami isinya, saya tertarik dengan berbagai karikatur di dalamnya. Kali lain saya membaca hingga habis buku Soekarno Masa Muda.

59099_soeharto_dan_ibu_tien_663_382

Di bangku SMA minat saya terselamatkan dengan antusias guru yang mengajar. Menurut saya, cara yang digunakannya mirip dengan cara sekarang yaitu problem based learning. Saat itu cara tersebut belum dikenal jadi istilahnya beliau menggunakan cara yang di luar mainstream.

Beliau mengawali dengan sebuah pertanyaan lalu kami dibagi dalam kelompok membahasnya. Pertanyaannya adalah ‘Mengapa Presiden Soeharto lama menjadi presiden?’. Pertanyaan yang sederhana tapi sangat menantang. Kami pun mendiskusikannya. Patut dicatat ini terjadi di awal tahun 1990-an. Jika ada intel, bisa-bisa pertanyaan itu dianggap subversi. Namun, tetap saja ketika ujian, lagi-lagi angka tahun, nama tempat dan tokoh serta peristiwa muncul kembali.

Ada pengalaman menarik ketika saya diundang oleh sebuah sekolah swasta internasional di Jakarta. Pada waktu acara diskusi ada seorang murid yang begitu antusias mengajukan pertanyaan yang menurut saya pertanyaan tersebut setingkat dengan mahasiswa di perguruan tinggi. Murid tersebut menanyakan peristiwa Mei 1998 dan implikasinya dalam sejarah Indonesia.  Saya sempat terkejut karena tak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Bahkan ketika saya menjawab, sepertinya dia belum puas. Lalu saya anjurkan dia untuk mengambil bidang sejarah jika lulus nanti.

Dari pengalaman ini sebenarnya kita bisa mengetahui bahwa belajar sejarah tidak sekedar angka tahun, nama tokoh, nama tempat atau peristiwa.  Salah satu hal terpenting adalah bagaimana menumbuhkan minat mempelajari sejarah.  Apalagi sebenarnya di lingkungan kita sehari-hari tak luput dari sejarah.

 

foto Bung Karno dan Megawati https://rosodaras.wordpress.com

foto Soeharto bermain gitar http://waones-sbm.blogspot.com/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *