Benny dan Mice VS Fokke en Sukke

Jujur saja setiap Minggu pagi yang paling saya tunggu adalah kedatangan Benny dan Mice. Dua tokoh kartun yang muncul di harian Kompas. Selain kartun Panji Koming dan kolom ‘buku’ tentunya. Tidak hanya jalinan gambar dan cerita dalam tiap panel yang membuat saya ngakak atau tersenyum kecut, gambar dua tokoh di bawah tulisan Kartun Benny dan Mice sudah membuat saya tersenyum.

Sebenarnya saya ‘kenal’ mereka ketika pertama kali muncul dalam serial Lagak Jakarta terbitan KPG tahun 1997. Pada jaman krisis menjelang Reformasi. Berhubung gaji saya tak cukup untuk membeli serial mereka untuk menghibur diri maka saya cukup puas hanya mengintip di toko buku sambil tersenyum-senyum sendirian (pernah ada yang melihat tidak ya?)

Selanjutnya ketika mereka mulai muncul di Kompas sekitar tahun 2003, beberapa kartun mereka sempat saya kliping. Namun, entah di mana klipingan itu sekarang. Beruntung ada kumpulan kartun mereka yang dibukukan dengan judul Jakarta Luar Dalem yang mengobati kekesalan saya lantaran hilangnya koleksi klipingan itu. Maka saya bisa ngakak sepuasnya tanpa khawatir ‘dicurigai gila’ oleh orang lain.

Bicara kartun sewaktu berkesempatan nyantri di Belanda akhir tahun 2000, saya ‘kesengsem berat’ dengan kartun satu panel Fokke en Sukke. Kartun ini muncul di koran gratis terbitan universitas. Sekilas, kedua tokoh ini bukan manusia. Seperti bebek atau burung. Fokke, sang bebek mengenakan topi pelaut ala Donal Bebek. Sedangkan Sukke, si burung kecil mengenakan topi baseball terbalik. Yang lucu adalah kedua tokoh itu tidak bercelana hingga (maaf) penisnya kelihatan. Tapi menurut para pembuatnya itu ekor mereka.

Selain bermain dengan gambar, sentilan kedua tokoh ini lumayan keras juga. Khususnya yang berbau politik. Sebagai tukang gambarnya adalah Jean-Marc van Tol sedangkan untuk teks dibuat oleh John Reid dan Bastiaan Geleijnse. Pertama kali mereka muncul pada 1994 di majalah mahasiswa Propria Curses . Menurut para pembuatnya Fokke dan Sukke adalah nama dalam bahasa Fries (Friesland – ingat susu bendera/Frisian Flag). Mereka secara rutin muncul di harian sore Belanda NRC-Handelsblad.

Kalau kedua kartun ini dibandingkan jelas ada kelebihan dan kekurangannya. Benny dan Mice membutuhkan beberapa panel (empat atau lima) sedangkan Fokke en Sukke cukup satu panel saja. Tapi dari ‘sentilan’ dan ‘tendangan’ keduanya ‘kena banget!’ Memang, khusus memahami Fokke en Sukke kita harus tahu konteks sosial, politik atau isyu yang lagi hot baik di dunia maupun di Belanda. Kalau Benny dan Mice dengan sentilan ringan mengenai fenomena di sekitar kita sudah membuat kita terbahak.

One thought on “Benny dan Mice VS Fokke en Sukke

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *