Catatan Seorang “Gila” tentang Suku Bajo

Judul            :  Orang Bajo Suku Pengembara Laut, Pengalaman Seorang Antropolog
Judul asli     :  Peuple nomade de la mer: Les Badjos d’Indonésie
Penulis         :  François-Robert Zacot
Penerjemah    :  Fida Muljono-Larue dan Ida Budi Pranoto
Penerbit    :  KPG, Forum Jakarta-Paris, EFEO 2008
Tebal        : 488 halaman

“Gila!” Demikian ungkapan spontan dari salah seorang peneliti asal Belanda ketika saya mengatakan bahwa saya telah beberapa tahun tinggal di sebuah pulau besar di sebelah timur Indonesia. Ungkapan “gila” itu tentunya memiliki banyak makna. Serupa dengan pengalaman antropolog Prancis, François-Robert Zacot yang meneliti masyarakat Bajo di Sulawesi sekitar tiga puluh tahun silam.


Ketika kembali ke negerinya di Perancis, Zacot yang tinggal cukup lama di antara orang Bajo, dianggap gila oleh lingkungan sekelilingnya. Gerakan-gerakan tangan, bentuk tubuh serta lontaran bahasa yang digunakan mengejutkan orang di negeri asalnya. Zacot telah menjadi “gila” dan ia berupaya menuliskan “kegilaannya” dalam bentuk buku yang Anda hadapi ini.

Buku ini merupakan terjemahan dari Peuple nomade de la mer: Les Badjos d’Indonésie (2002) yang diterjemahkan menjadi Orang Bajo: Suku pengembara laut. Pengalaman seorang antropolog.

Buku ini seperti yang diungkapkannya dalam prakata merupakan hasil penelitian etnografis ketika dia tinggal di tengah-tengah orang Bajo, di Pulau Nain (di utara Manado) dan desa Torosiaje (Gorontalo). Namun, di mana tepatnya kedua tempat itu tidak dijelaskan lebih lanjut. Menurut Zacot itu demi rasa hormatnya pada mereka. Oleh karena itu buku ini tak dilengkapi dengan peta yang biasanya muncul dalam hasil penelitian ilmiah.

Awalnya, Zacot ingin meneliti orang-orang gunung yaitu suku Tomini yang berdiam di sebelah barat Sulawesi Utara. Sehari sebelum keberangkatannya dari Prancis, dia kebetulan mendengar tentang suku Bajo. Suku pelaut-pelaut pengembara yang tersebar di seluruh penjuru Asia Tenggara tapi tak seorang pun yang tahu dari mana mereka berasal. Misteri asal usul suku Bajo ini mengusik Zacot dan memikatnya untuk memulai sebuah petualangan jauh dari negeri asalnya.

Dengan menggunakan pendekatan participant observer, Zacot ikut tinggal dengan suku ini ditemani istrinya Kat. Ia merasakan, membaui dan bertutur seperti orang Bajo. Zacot terlibat dalam siklus kehidupan mereka. Mulai dari kelahiran, khitanan, pernikahan hingga kematian melibatkan Zacot di dalamnya. Tidak hanya itu Zacot juga mengamati cara mendidik anak, kepercayaan pada setan-setan hingga cara membuang hajat. Ketika membuang hajat, orang Bajo di Torosiaje cenderung melakukannya dalam suasana kekeluargaan, demikian tulisnya (hal.122). Zacot pun ikut merasakan hebatnya lando, angin kencang yang mengguncang serta nyaris merobohkan rumahnya (hal.167).  Kata lando ini juga dipakai para ibu untuk menakuti anak-anak mereka, selain kata bagai, motor, suntik, dan sangang/malam (hal.252)

Bagi masyarakat Bajo, lautan selalu merupakan tempat satu-satunya untuk menetap dan bertemu. Ini sesuai dengan prinsip mereka: “Kami adalah orang-orang laut.” Kelak prinsip itu mengalami dilema, bahkan mendapatkan suatu ‘ancaman’ ketika mereka dihadapkan dengan program pemerintah yang mengharuskan mereka hidup menetap. Jauh dari prinsip mereka sebagai suku pengembara laut.

Selain peri kehidupan orang Bajo, bahasa juga menjadi pokok perhatian antropolog yang meraih gelar doktornya di bidang antropologi di Paris pada 1975 ini. Bahasa orang Bajo, baong sama, memperlihatkan kekhasan masyarakat ini. Apabila mereka berada di antara sesama mereka, mereka menggunakan kata sama sebagai istilah rujukan dan untuk menunjukkan kelompok mereka. Istilah sama ini beroposisi dengan bagai yang artinya semua masyarakat lain, di luar orang Bajo. Biasanya diikuti oleh nama suku bersangkutan, misalnya bagai Gorontalo, bagai Prancis. Zacot yang mulanya dianggap bagai akhirnya diakui mereka sebagai sama, bagian dari mereka, orang Bajo.

Simak juga catatan Zacot tentang kegelisahan penduduk desa Torosiaje menghadapi gosip adanya gerombolan ‘pemenggal kepala’. Menurut cerita gerombolan itu berjumlah kira-kira puluhan hingga empat ratus orang dan datang dari Sulawesi Tengah atau dari Pulau Jawa. Beberapa orang tua Bajo yang hidup pada masa kolonial Belanda bersaksi: “Pada waktu itu kelompok-kelompok serupa mungkin ditugaskan oleh orang Belanda, berusaha mendapatkan kepala anak-anak atau perempuan-perempuan hamil untuk dikorbankan dan dikuburkan dalam semen jembatan-jembatan yang sedang dibangun. Kepala-kepala ini menjamin kekuatan jembatan-jembatan itu.” (hal.435)

Hal menarik lainnya adalah pengalaman ‘berdiskusi’ ngalor-ngidul dengan setan, ditemani sebotol anggur, kapur sirih plus kemenyan melalui perantaraan duata, seorang dukun (hal.199). Atau masalah orientasi arah di mana orang Bajo tak mengenal kata “timur”. Mereka menganggap kata itu tabu dan tak pernah menggunakannya bahkan pergi ke arah sana. Oleh karena itu kata “timur” digantikan dengan kata “selatan” (hal.383)

Upaya ‘melebur’ Zacot ke dalam masyarakat Bajo berhasil. Apalagi pengakuan suku tersebut terhadap dirinya sebagai sama dan bukan bagai. Berbagai pertanyaan dari seorang peneliti pun terjawab, khususnya asal-usul orang Bajo. Meski hal itu awalnya tak mudah. Jawaban-jawaban yang sudah tersusun pun terkadang kembali menghadapi jalan buntu. Namun, keuletan dan kesabarannya ketika berdialog dan tinggal dengan mereka membuahkan hasil.

Di Tumbak, pada suatu hari hidung Zacot gatal. Ia bersin. Spontan ia menyebutkan mantra ritual  “Na mole sumanga!” (kembalilah jiwaku) seperti yang biasa dilakukan oleh orang Bajo. Sang Imam terkejut dan berkata bahwa dengan demikian Zacot boleh pulang ke Prancis karena ia telah “mengetahui semuanya” tentang Bajo (hal.466).

Ada satu hal yang harus kita pikirkan ketika membaca buku ini. Zacot ‘memperingatkan’ kita bahwa masalah besar mengancam suku Bajo pada dasawarsa terakhir. Masalah itu adalah kenyataan bahwa mereka harus hidup menetap yang merupakan salah satu program dari pemerintah. Padahal suku Bajo telah hidup di atas air selama berabad-abad (hal.12)

Membaca buku ini membuat kita kembali merenung. Negeri kita ini sangat kaya. Beragam suku dan budaya ada di sini, penuh sumber berharga tak ternilai seperti laboratorium raksasa. Inilah yang menjadi daya tarik para peneliti asing untuk datang dan berupaya meneliti. Seorang teman (WNI) yang sedang studi di Cornell University bertanya pada saya mengapa para peneliti asing itu yang justru mampu bertahan dan dapat menghasilkan penelitian hebat. Jawaban saya sederhana: karena mereka “gila”!

cover buku: www.gramediashop.com

23 thoughts on “Catatan Seorang “Gila” tentang Suku Bajo

  1. yunus ali

    tarime kasih je sanang danakan same, aku aha ma bajo jedu sanggah lau itu nia ma daerah banten. limongan jedu ka sehe-sehe same. karena aha same kamenah hebat ma nusantara pangiraku. aku laher ma daerah sapekan.kec. sapekan. kab. sumenep pasak wilayah madura. barah nia denakan-denakan aha mace itu. silahkanne dikomentari. suatu saat jenna tulisku carite aha same ma daerah sapekan ma facebookku kunjungi jenna… alamatku nia mandiru

    Reply
  2. Arqam

    Tabea comment.. barah tatuwana dipasitemmu pagir sama ta. sallah pasitemmuan tekka ma Sapekkan. Bajo Same

    Reply
  3. farid nanggo

    han,:kole te danakang’

    parman,: nia informasi tentang kegiatan na ma di pugai kami itu karaja sama baka sama ma nia ma jakarta insaallah di selenggarakan blan desember sampai januari kapa.vestival suku sama di teluk tomini baru na di pusatkan di torosiaje kec popayato kab pohuwato prov,gorontalo.aha telpon ku je kita law nia waktuku

    yunus,:ddarua te danakang aku jedu ada na si tummu baka ka’ang ma kampo iru. anu di je faceebook ku farid nanggo.

    arqam.:ddarua jeduu salla ku je ka sama ma nia mandiru aaaa patikkata te salla ku lika ma gorontalo torosiaje farid nanggo.

    Reply
  4. Kamaruddin

    Sallahku danakan same’
    Aku sikama ana’ same tikke ma boepinah,battiuanne nia aku ma daerah banjarmasin,ada kodoh natonangku sejarah mbo same ma dipalao karaeng bajo manikke ke ratu gowa tomanurung.shg nia kerajaan gowa,lamo nia ngatonang iyye pakirimante aq email,wassalam

    Reply
  5. padli

    ayo kito padakau, sallahku memong danakang seluruh indonesia. klw nia wktu mari kito kumpul demi kemajuan anak suku bajo/sama d seluruh indonesia atw dunia.

    Reply
  6. sahdan

    aku same tikka ma NTB,kabupaten sumbawa besar,kec.alas barat,desa lab.mapin.dusun bajo……..kirinta ka email ku nte nia organisasi same barah tua ne kole ta bea ku…..aku masih kulia ma UNIVERSITAS MATARAM ,Fakultas HUKUM smester 5 kosentrasi hukum acara…………….alamat facebook ku .sah dan

    Reply
  7. Sukinto Suparto

    sallahki likka ma banggai untuk danakang mememong ma linoitu, peitu kita sipaitamang mememong danakang,pajarreta padakauangta sama,mona ingge kita diare-are, sikarahitune kita kole narintah danakang-danakangta…. sukinto suparto…. sama Kasuari..(banggai)

    Reply
  8. mayank

    sallah danakang Sama Bajo
    sabole-bole tarima kasi
    ats infone,mau kole bele batinnge kalo mugei suatu perkumpuln ma kmpoh, supya nantine iru gampah buat kite mugai prtemuan untk memperkuat kerukn sku bajo
    di brbagai kmpoh ma indonesia maupun ma luar indonesia

    Reply
  9. Taufik

    Salla’ku ma dadanakang tikka ma penjuru dunia…

    Zacot pernah ke desa saya, Tumbak. Ia sempat jatuh cinta dengan tante saya (Adna Baba), anak Imam Tumbak.

    Jika ada yg tahu dia, sampaikan salam. Bulan April kami pesta ulang tahun Tumbak.

    Reply
  10. Si rizal Tikka Ma Pdea Maddikki .

    Kami itu Sama Tikka Ma Padea Maddikki ,,, Sallah Kami Ka Sama Ma nia Ma Indonesia ,,,, barah D’padakw Kita Memong Dibunang kesehatan ele papu, Ya Ne Iru Ma Pabaong kami kamemong Sama Tikka Ma Pdea …..
    Desa Kami Terpencil kodoh Ma Kec.manui ma Sulawesi tengah ..

    Reply
  11. Djaja

    Aku anak sama tikka ma LORA-BOMBANA, sebenarna bitta ne na gabung aku ma fb, cuman waktu iru nggai mina katonangku,
    aku sekolah ma UNIVERSITAS MUHAMMADYAH KENDARI, alasanna aku Kuliah, insyaallah, na pabasarku derajat aha’ sama supaya daha kita di pandang hina ale’ suku Lain.

    Reply
  12. sopian

    barah ta tua ne bagal suku bajo dan di akui ye,,,,,,,,,,,
    ten adak ma facebook nia arang fb bajo together dan arang fb muhammad abdul sopian kuliah di universitas AMIKOM MATARAM.,,,,,,

    Reply
  13. dian

    Sallah pasitemmuang. Kebetulan aku sedang penelitian skripsi tentang kesejahteraan masyarakat berbasis kearifan lokal. studi kasus suku bajo kec. Sapeken. Selama ini saya kekurangan refrensi untuk melengkapi penelitian saya. Mohon info danakang2, barah nia buku2 yg berkaitan dg suku bajo/same.

    Reply
  14. dian

    Suda ne putarang ku seluaruh perpustakaan ma seluruh jawatimur. Sangge dakau kodoh temmu ku buku tentang suku bajo. Yg berjudul orang Bajo: suku pengembara laut. Barah nia kodoh buku selain iru tentang suku bajo. Mohon infone danakng. Alamat email ku. Yanx_marxis@rocketmail.com

    Reply
  15. sudirman

    sallahku danakang memong na sama ma nia ma indonesia atau ma dunia. Ba tingga kalo kita mugai organisasi untuk sama.

    Aku sudirman tikka ma dongkala, kabaena timur, sultra.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *