Catatan Turistik Seorang Pangeran Jawa

Judul: De Grote Reis van Prins Soeparto Java-Nederland 14 Juni -17 Juli 1913

Penulis: Raden Mas Haryo Soerjosoeparto

Pengantar: Madelon Djajadingrat

Ilustrasi   : Hoesein W. Djajadiningrat

Penerbit: AD.Donker-Rotterdam

Cetakan: I, 2014

Tebal: 166 halaman

ISBN:  978-90-6100-686-2

Pada masa kolonial banyak catatan perjalanan atau yang mengarah pada catatan turistik yang ditulis oleh orang asing, khususnya orang Belanda. Namun, tidak banyak catatan perjalanan yang ditulis oleh orang Hindia. Dari catatan perjalanan yang sedikit itu, catatan perjalanan Pangeran Soeparto ini perlu mendapatkan catatan tersendiri.

Raden Mas Haryo Soerjosoeparto (Soeparto) lahir di Surakarta 12 November 1885. Ia adalah putera ketiga dari Mangkunegara V (1881-1896). Ayahnya wafat ketika Soeparto berusia 11 tahun. Pamannya yang naik takhta sebagai Mangkunegara VI, keberatan Soeparto melanjutkan pendidikan. Soeparto kecewa dan memutuskan keluar dari istana, tulis Harry Poeze dalam In het land van de overheerser (1986) – terjemahannya Di negeri penjajah (2008) diterbitkan oleh KPG.

Karir Soeparto dimulai dari bawah. Ia pernah menjadi jurutulis magang bupati Demak hingga penerjemah residen Surakarta, G.F. van Wijk. Soeparto pun menekuni bahasa Jawa, Belanda, Melayu, Perancis, dan Belanda secara mandiri (Bataviaasch Nieuwsblad 22/08/1924). Pekerjaannya di kantor pemerintah memberikan kesempatan pada Soeparto untuk bertemu dengan para pejabat penting Hindia-Belanda, salah satunya adalah D.A. Rinkes, Adjunct Adviseur Inlandse Zaken (asisten penasihat urusan pribumi) dan sekretaris Commisie voor de Volkslectuur (komisi bacaan rakyat) di Batavia. Rinkes inilah yang kelak meminta Soeparto menulis catatan perjalanannya ke Belanda dalam bahasa Jawa.

Kesempatan Soeparto untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda terbuka ketika C. Th van Deventer berkunjung ke Surakarta pada 1912. Van Wijk meminta bantuan van Deventer untuk membantu Soeparto supaya dapat berkuliah di Belanda. van Deventer sebenarnya terpikat pada salah satu artikel Soeparto yang ditulis dalam majalah Darmo Kondo. Dengan uang tabungan yang ia miliki ditambah bantuan dan rekomendasi dari J.H, Abendanon, pemerintah Hindia-Belanda memberikan cuti kepada Soeparto untuk kuliah di jurusan bahasa timur dan filsafat di Leiden. Pada bulan Juni 1913 ia berangkat ke Belanda bersama Pangeran Hangabehi, putra pertama Sunan Pakubuwono X menumpang Kapal Wilis.

Sebenarnya catatan perjalanan Soeparto bukanlah catatan perjalanan pertama yang ditulis oleh seorang bangsawan Jawa. Pada masa sebelumnya, Raden Mas Purwolelono nama samaran Raden Mas Aryo Adipati Tjondronegoro sudah menuliskan catatan perjalanannya di Jawa pada 1865-1866. Perbedaannya adalah Pangeran Soeparto tidak hanya melakukan perjalanan di Jawa. Soeparto dengan menggunakan kapal uap melakukan perjalanan dari Jawa menuju Belanda.  Selain singgah di Batavia dan Padang, Soeparto juga mengunjungi  Perim (Yaman), Suez, Port Said, Marseille.

Bentuk dan gaya catatan perjalanan Soeparto pun sama seperti halnya catatan perjalanan Purwolelono yang menulis dalam bahasa Jawa Kromo dan menggunakan bentuk prosa (bentuk yang lazimnya digunakan oleh para penulis catatan perjalanan dari Eropa, Amerika Utara) serta bergaya tutur ‘aku’.  Catatannya berjudul Kekêsahan dhatêng Nagari Walandi (Perjalanan ke negeri Belanda) diterbitkan oleh Commisie voor de Volkslectuur pada 1916 di Batavia.

Pada tahun 1970-an, antropolog Madelon Djajadingrat penulis roman sejarah Vorst tussen de twee werelden (2006) menemukan catatan perjalanan ini di perpustakaan Mangkunegaran Solo. Pak Husodo, pustakawan di sana bersedia menerjemahkan catatan itu ke dalam bahasa Belanda. Meskipun bahasa Belanda Pak Husodo begitu indah, tetapi hasil terjemahannya dianggap kuno. Oleh karena itu Madelon Djajadinigrat dan Clara Brinkgreve menerjemahkan ulang catatan perjalanan tersebut dan dilengkapi ilustrasi menarik dari Hoesein Djajadiningrat yang merupakan cucu dari Soeparto (hal 7-8).

Dalam catatan perjalanan yang ditulis oleh orang Eropa atau Amerika Utara kita disuguhi berbagai obyek yang dianggap menarik dan eksotis oleh mereka. Demikian halnya dalam catatan perjalanan ini. Dapat dikatakan obyek yang dilaporkan serupa. Berbagai obyek amatan yang biasanya dilaporkan oleh orang kulit putih (baca Eropa atau Amerika Utara) kali ini disajikan oleh seseorang yang biasanya dijadikan obyek.

Misalnya uraian tentang keindahan pemandangan alam, penduduk, dan budaya. Uraian yang menarik adalah tentang kemajuan teknologi pada masa itu. Hal ini tentunya sejalan dengan tujuan diterbitkannya buku catatan perjalanan ini yaitu memberikan pengetahuan kepada orang Hindia (baca Jawa) mengenai perjalanan pangeran ke dunia barat yang modern (hal.7).

Antara lain Soeparto menjelaskan aktivitas di stasiun dan tata cara di atas kapal laut. Di stasiun para penumpang naik kereta, setelah membeli tiket, jelas Soeparto (hal. 45). Penjelasan tentang aturan membeli tiket dan tata cara di kapal pada masa sekarang tentu menggelikan. Namun, pada masa itu penjelasan ini berguna bagi penduduk Hindia (Jawa) awam karena tidak semua mengetahui tata cara menggunakan transportasi kereta api dan kapal laut. Soeparto pun memberikan pujiannya pada sarana jalan di Padang yang indah, bersih, telah diaspal dan dipelihara dengan baik. Jalan-jalan itu tidak hanya di dalam kota tetapi juga di luar kota (hal.60).

Selain membahas keindahan pemandangan alam, Soeparto mengamati pakaian dan penduduk yang ia temui di perjalanan. Menurutnya perbedaan antara penduduk di Batavia dan Padang adalah warna pakaian yang dikenakan. Penduduk pria di Padang cenderung mengenakan pakaian yang berwarna lebih gelap (hal. 47; 60). Ketika kapalnya singgah di Perim (Yaman), Soeparto menggambarkan para pendayung yang mengantarkannya ke daratan berkulit hitam, berambut keriting hitam atau kemerahan. Seperti rambut palsu yang tumbuh di kepala, tulis Soeparto (hal.89). Di Perim, ia juga mengamati pakaian putih yang dikenakan penduduknya dan tak ada yang mengenakan jas (hal.89-90).

Unsur catatan turistik seperti dalam catatan perjalanan yang ditulis oleh orang Eropa dan Amerika Utara juga kita temukan di sini. Maksudnya adalah informasi mengenai obyek turisme yang dapat dikunjungi dan transportasi di suatu tempat layaknya yang kita temukan dalam buku panduan turisme. Segala hal yang telah diatur sebagaimana layaknya turisme modern.

Ketika Soeparto singgah di Batavia, ia menceritakan beberapa obyek yang bisa kita temukan dalam buku panduan turisme pada masa itu. Antara lain Kota Tua, Weltevreden, istana gubernur jenderal di Rijswijk, Waterlooplein. Secara khusus Soeparto menceritakan obyek yang layak dikunjungi yaitu bangunan Gedung gajah, meriam ‘Kyai Setomo’ di kota Inten, makam Sayid Idrus di Mesjid Luar Batang, Stadhuis (balaikota) alias ‘rumah bicara’, patung singa di Waterlooplein, dan patung Jan Pieterszoon Coen (hal. 45-50).  Bahkan ketika singgah di Padang, Soeparto mengomentarinya sebagai kota yang indah dan sangat layak dikunjungi oleh para turis (hal.62).

Di Eropa, Soeparto singgah di Marseille dan Paris. Ia sempat bingung dengan lalu lintas yang ramai dan berjalur kanan (hal. 136-137). Di Paris ia menginap di Hotel Montaigne di Rue Montaigne no.30, di dekat Champs Elysées. Di depan hotel terpampang sebuah papan dengan lambang negara dan warna bendera Belanda. Di kedua sisi lambang tertulis Men spreekt Hollandsch dan Bitjara Melayoe. Pemilik hotel tersebut ternyata orang Belanda (hal. 147).

Sayangnya, dalam catatan perjalanan yang ditulis dalam bahasa Jawa, Soeparto tidak membahas bagaimana dia mencapai Belanda dan situasi di Belanda. Dari catatan dan surat-surat Soeparto lah kita mengetahui bahwa Soeparto dari Perancis ke Belanda dengan menggunakan kereta api. Mereka tiba di Den Haag pukul setengah lima sore dan dijemput oleh C. Th van Deventer. Pada malam pertama di Belanda Soeparto menginap di hotel De Zalm di Molenstraat 53. Keesokan harinya Noto Soeroto mengantarkannya ke Weimarstraat 336 Den Haag. Pada pertengahan Oktober Soeparto pindah ke Leiden. Ia tinggal di Schelpenkade 2, sebuah asrama yang juga ditinggali oleh mahasiswa dari Hindia-Belanda (hal. 147-149).

Di Leiden, Soeparto tidak hanya berkuliah. Ia menerjemahkan puisi karya Noto Suroto dan Rabrindranath Tagore ke dalam bahasa Jawa. Soeparto juga bergabung menjadi anggota pasukan cadangan. Bahkan ketika Perang Dunia I pada 1914 meletus, ia ikut dikirim bertugas di perbatasan (Algemeen Handelsblad 11/10/1928). Tahun 1915 Soeparto kembali ke Hindia dan pada 1916 secara resmi Soeparto diangkat sebagai putera mahkota dengan nama Prangwedono dan kelak pada usia 40 tahun dinobatkan sebagai Mangkunegara VII.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *