Category Archives: Artikel

Lawatan Oscar Fabrés ke timur Nusantara

fabres-harimau

Pada tahun 1932 seorang kartunis kelahiran Chili yang juga menjadi jurnalis Prancis Oscar Fabrés (1894-1960) berkesempatan mengunjungi Hindia-Belanda atas undangan pengurus Alliance francaise Batavia.  Ia berkunjung ke Hindia bersama istrinya Alice Voorduin yang merupakan seorang perempuan Belanda. Ketika itu Fabrés yang pernah studi di Paris pada tahun 1920-an merupakan editor untuk surat kabar Prancis Le Petit Journal. Namun menurutnya ia tidak terikat dengan surat kabar itu sehingga ia dapat bebas bepergian ke mana-mana.

Continue reading

Belanda sebagai Tujuan Wisata bagi Warga Hindia dan Indonesia

indische-verlofSelama ini saya menitikberatkan pada penelitian di Indonesia, terutama persoalan pariwisata masa lalu. Dalam kesempatan ini saya ingin melihat dari sudut pandang sebaliknya yaitu dari Belanda. Namun, tetap menggunakan metode sejarah. Berikut adalah abstrak hasil kajian tersebut yang telah disajikan dalam The 1st International Conference on Social Sciences and Humanities (ICSSH) pada 18–20 Oktober 2016

Continue reading

Suwe Ora Jamu, Jamu Sore-Sore bagian 1

JpegJumat sore itu saya siap menjemput macet. Saya pun bergegas, berpacu sebelum terkenal aturan nomor mobil ganjil-genap pada ruas-ruas jalan tertentu. Sudah terbayangkan suasana perjalanan dari pusat kota Jakarta menuju Depok.

Perjalanan saya menembus belantara Jakarta ditemani sebotol minimalis beras kencur. Minuman ‘kuno’ yang menjadi kekinian karena dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi tampak nggaya. Etiket di botolnya menarik “Suwe Ora Jamu”.

Ya, Suwe Ora Jamu. Sudah lama saya tidak menikmati jamu, minuman tradisional yang saya akrabi sejak kecil. Aroma beras kencur membawa ingatan saya pada masa kecil. Ingatan yang berkelindan dengan trauma masa kecil kembali muncul.

Semasa balita saya tampaknya tidak memiliki nafsu makan yang besar. Saya pun bukan termasuk balita sehat dengan tubuh gemuk gembil sehingga mengundang orang untuk menggemasi.  Singkat kata karena nafsu makan saya kurang sehingga membuat ibu saya khawatir saya kekurangan nutrisi sehingga terpaksalah saya diterapi dengan jamu pahitan.

Jangan bayangkan saya duduk manis lalu disuguhi jamu dalam gelas dan mau meneguknya hingga tandas. Untuk menerapi saya diperlukan tenaga tambahan. Setidaknya dua orang dewasa harus melakukannya. Satu orang memegangi saya dan satunya lagi mencekoki saya dengan saputangan yang telah direndam ramuan jamu yang rasanya pahit membuat kapok.

Urutan prosesi terapi ‘cekokan’ jamu itu masih saya ingat betul. Saya yang sedang bermain, biasanya dipanggil. Lalu duduk dipangku, lalu tangan saya dipegang erat dan mulut dipaksa dibuka. Tetesan jamu pahit pengundang nafsu makan dicekokkan ke dalam mulut saya yang meronta-ronta sambil menangis. Namun, dari beberapa tetesan jamu yang masuk ke dalam mulut saya, sepertinya patut dipertanyakan apakah memang manjur mengundang nafsu makan saya karena tubuh saya tetap kurus. Sepertinya, nafsu makan saya datang menjelang usia remaja sebagai bahan bakar berbagai aktivitas. Persis, putera saya yang masa balitanya sulit makan. Namun, sekarang rasanya segala macam hendak disantap.

Sambil meneguk beras kencur dalam botol mini itu ingatan saya kembali ke masa silam. Almarhum nenek saya dan juga ibu saya adalah pembuat jamu. Suara alu menumbuk ramuan dan aroma ramuan jamu yang meruap di dapur seolah kembali saya dengar dan hirup. Setelah dimasak, ramuan jamu dimasukkan ke dalam botol. Botol-botol itu juga tidak dilabeli etiket hanya tulisan keterangan isi botol yang ditempel selotip. Meskipun bukan skala besar, setidaknya beberapa belas atau puluhan botol beras kencur, kunyit asam, temulawak, cabe puyang terjual habis.

Bagi masyarakat Jawa, jamu merupakan obat tradisional. Kata jamu menurut pakar bahasa Jawa kuno berasal dari singkatan dua kata yaitu ‘djampi’ dan ‘oesodo’. Djampi berarti penyembuhan dengan menggunakan ramuan obat-obatan, doa-doa serta ajian sedangkan oesodo berarti kesehatan.

Dari relief Candi Borobudur terlihat kebiasaan berupa aktivitas meracik dan mengkonsumsi jamu. Bukti material lain adalah penemuan prasasti Madhawapura peninggalan Majapahit yang menyebut adanya profesi Acaraki yaitu peracik jamu. Hal ini membuktikan bahwa kebiasaan meracik dan mengkonsumsi jamu di Indonesia sudah dikenal sejak lama.

Dalam beberapa situasi, saya memang lebih suka mengkonsumsi minuman tradisional. Misalnya dalam kondisi badan tidak keruan alias panas-dingin, maka meneguk wedang jahe hangat menjadi pilihan atau jika perut sedang tidak mau berkompromi, jamu kunyit asem dengan madu saya konsumsi. Beberapa tahun silam, saya terkena typhus dan diharuskan rawat jalan. Saya diberi berbagai obat dari rumah sakit. Salah satu obat tersebut rupanya mengandung kunyit.  (bersambung)

 

Plateau van Dieng

come to java-danau ceding Pukul 02.00. Udara dingin yang menusuk tulang tak menyurutkan semangat saya untuk mengikuti kegiatan melihat matahari terbit di Bukit Sikunir.  Kawasan yang berada di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo. Sekitar pukul 03.00 kami berangkat dari Hotel Dieng Kledung Pass, Wonosobo yang memiliki pemandangan gunung kembar (Sindoro, Sumbing).

Continue reading

Kampung Halaman

sujatno-koempoel-1950Lebaran sudah di ambang pintu. Para pemudik berangsur-angsur meninggalkan ibukota menuju kampung halaman masing-masing. Salah satu meme yang beredar tentang berlebaran di ‘kampung halaman’ sangat menggelitik: ‘Pengen pulang ke kampung halaman, tapi lupa halaman berapa?’. Demikian teks yang tertulis dalam meme tersebut.

Continue reading

Motif Turis Masa Lalu

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_dansvoorstelling_voor_toeristen_op_Bali_TMnr_60027498Turisme berhubungan dengan mobilitas manusia (perjalanan). Manusia memang menjadi unsur penting dalam kegiatan turisme. Demikian pula dengan sejarah. Sejarah membahas manusia serta berbagai kegiatannya. Maka sejarah turisme menempatkan manusia beserta kegiatannya dalam hal turisme. Ini juga yang berlaku dengan sejarah turisme di Hindia-Belanda.

Continue reading

Turisme di Depok Masa Hindia-Belanda bag 2

336ff6b2-a3f5-4c4b-afcf-b8c328f4dd57

 Kereta Batavia-Buitenzorg via Depok 

Transportasi menuju Depok dari Batavia pada masa kolonial, selain jalan yang bila ditempuh dengan delman ditempuh selama 6-7 jam, juga mengandalkan kereta api. Jalur jalan mengambil rute Batavia-Meester Cornelis (Jatinegara)-Buitenzorg yang kemudian berbelok di sekitar Cimanggis menuju Pancoran Mas. Jalur kedua adalah Batavia-Pasar Minggu-Lenteng Agung-Pondok Cina-Pancoran Mas yang hampir sejajar dengan jalur kereta.

Continue reading

Turisme Depok Masa Hindia-Belanda bagian 1

depok_stationBila kita mengingat Depok puluhan tahun silam, yang muncul di ingatan kita adalah sebuah kota yang tak terlalu ramai. Jalan menuju Depok dari Pasar Minggu serta jalan Margonda yang kita kenal pun sekarang masih belum seramai sekarang. Di kanan-kiri jalan masih terlihat pepohonan yang rimbun. Kemacetan yang ada pun hanya disebabkan pintu kereta, perlintasan rel. Memang sarana transportasi darat lain selain jalan raya adalah kereta listrik Jabodetabek yang sekarang disebut Commuterline. Sarana ini menjadi andalan bagi warga Depok yang bekerja, sekolah di Jakarta atau warga Jakarta yang hendak berkunjung ke Depok. Jalur lain adalah melalui jalan tol lewat jalan Juanda.

Continue reading

Mari ke timur

454f4756-215c-4b10-ba07-8a4e2c4b4196

Nil novi sub sole’, ‘Tak ada yang baru di bawah mata hari’. Demikian lah adagium tua yang kerap kita dengar apabila terkait dengan orisinalitas. Hal ini tampaknya berlaku hampir untuk semua hal. Tak terkecuali untuk satu sektor yang kerap tidak ditangani secara serius.  Sektor yang dimaksud ini adalah sektor turisme.

Continue reading

Fungsi Metodologi dan Teori dalam Ilmu Sejarah

sartonoDalam penelitian sejarah, metode dan metodologi merupakan dua perangkat penting. Sartono Kartodirdjo (1992) mengungkapkan perbedaan antara metode dan metodologi. Metode adalah bagaimana orang memperoleh pengetahuan (how to know), sedangkan metodologi  adalah ilmu tentang untuk tahu bagaimana harus mengetahui (to know how to know).

Continue reading