Category Archives: Bukuku

Bonus Keinginan

Sudah pertengahan tahun lagi. Waktu bergulir dan bagi yang aktif dengan berbagai kegiatan, tahu-tahu sudah di pertengahan tahun. Tahun 2011 ini dapat dikatakan tahun penuh aktivitas. Baru saja selesai dengan satu pekerjaan, pekerjaan lain sudah menanti. Baik yang sifatnya rutin maupun insidental.

Continue reading

Buku Sejarah Awal Turisme Modern di Hindia Belanda

Buku ini membahas Vereeniging Toeristen Verkeer (VTV) Batavia, perhimpunan turisme yang mengawali kegiatannya di Jawa, lalu meluas ke Sumatera, Kalimantan hingga kepulauan Maluku. Secara khusus menjawab pertanyaan alasan pemerintah Hindia Belanda mendirikan perhimpunan tersebut serta menggambarkan situasi turisme masa kolonial di Hindia Belanda.

Kue Bugis Kanre Jawa

Urusan perut, merupakan urusan yang tidak bisa ditawar lagi. Ada orang yang menjadi beringas lantaran urusan perut. Yang jelas, urusan perut erat kaitannya dengan makanan. Di Makassar, bagi yang belum terbiasa dengan kuliner daerah ini dibutuhkan waktu beberapa saat untuk menyesuaikan diri. Meskipun terasa cocok dengan lidah, belum tentu perut mau menerima. Kalau tidak cocok, perut akan berdemonstrasi, berontak. Lantas, bisa celakalah kita.

Bagaimanapun, wisata kuliner de Macassart tak akan pernah terlupakan. Ada hal yang menarik berkaitan dengan kuliner Makassar ini. Aneka macam makanan dengan beraneka rasa dan warna dapat kita jumpai dan cicipi. Budayawan nasional, Umar Kayam yang pernah bertugas di Makassar berseloroh bahwa orang Bugis-Makassar merupakan masyarakat yang rendah hati. Alasannya meskipun pembuat kue-kue adalah orang Makassar, Bugis, Mandar atau Toraja, kue-kue itu tetap disebut Kanre Jawa. Suatu penghormatan bagi orang Jawa. Sebaliknya di Jawa, kita mengenal Kue Bugis. Sejenis kue yang terbuat dari tepung ketan yang berisi gula merah dan kelapa lalu dibungkus daun pisang muda. Suatu hal yang menarik.

Tidak hanya makanan kecil seperti jalangkote, aneka macam penganan dari pisang pun dapat kita nikmati, seperti: barongko berupa pisang yang dilumatkan hingga seperti bubur , dicampur adonan telur lalu dibungkus dengan daun pisang. Biasanya disajikan dalam keadaan dingin. Pisang Epe yaitu pisang yang dipanggang tapi sebelumnya dipres hingga gepeng lalu diberi saus gula merah, terkadang diberi aroma durian. Pisang Ijo yaitu pisang yang dibungkus adonan terigu dan daun pandan hingga berwarna hijau lalu diberi saus putih dari kelapa.

Selain itu ada pula umba-umba yang di Jawa dikenal dengan nama klepon. Di Makassar ada pula yang menyebutnya onde-onde yaitu kue dari tepung beras dengan gula merah di dalamnya dan dilumuri parutan kelapa. Biasanya kue ini khusus disajikan pada saat menempati rumah baru atau dalam upacara pembuatan perahu. Penganan lain adalah sengkolo, sejenis ketan urap dengan bahan ketan putih atau ketan hitam. Seringkali kita jumpai warung yang menjual songkolo begadang. Disebut demikian karena dijual pada malam hingga pagi hari. Biasanya dinikmati hangat-hangat dengan telur asin dan sambal. Lucu juga bila kita menawari turis asing: “Would you like to try an overnight songkolo, Sir?”

 

Batavia Awal Abad XX

Cerita Awalnya….

Berawal dari upaya pencarian seorang sobat tentang berita Boeaja Ketjil Batavia di Perpustakaan Nasional RI Jakarta. Kami pun menemukan tumpukan koran-koran tua berdebu. Bandera Wolanda. Ada satu cerita kenang-kenangan (gedenkschriften) seorang prajurit tua di Batavia. Surat cerita demikian si prajurit menyebutnya tampak menarik bila diterjemahkan supaya bisa dibaca khalayak. Berlembar-lembar surat cerita yang bersambung itu difotokopi dan saya bawa ke Makassar tempat saya bertugas. Cerita itu saya terjemahkan di sela-sela kesibukan dan teriknya Makassar dengan syarat sang sobat yang akan mengeditnya. Akhirnya jadilah surat cerita itu seperti ini…

cover-betawi-copy.jpg

Dan sekilas komentar pembaca serta media…

Iskandar.P. Nugraha

H Tanzil

Gatra