Category Archives: Coretan Sejarah

‘Come to Holland’

This is my article in Bahasa Indonesia on Jurnal Kajian Wilayah.

‘Come to Holland’: Promosi Pariwisata Belanda bagi Hindia-Belanda dan Indonesia

Abstract
Relation between Indonesia and The Netherlands, particularly in the tourism sector has been established long time ago. The relation has been built since Indonesia still part of Dutch colony until now. Relation in the tourism sector had disconnected between the beginning of Second World War until the 1950s. This article tries to trace the relation and the contemporary situation of the tourism sector in Netherland. The discussion focuses on the Netherlands as a tourism destination for the Dutch East Indies’ verlofgangers (those who furlough) and for Indonesian tourists. The question is how Netherlands promote their country as tourist destination and the reason why they promote their country to Dutch East Indies and Indonesian tourists. The data sources for this article are from Dutch’s newspapers and magazines during the colonial period, archives of tourism agencies in the Netherlands as well as Dutch contemporary newspapers.

Keywords: The Netherlands, Indonesia, Dutch East Indies, tourism, promotion

For the full text article, please see: http://jkw.psdr.lipi.go.id/index.php/jkw/article/viewFile/759/pdf

Cover of the book Come to Holland, source: https://www.arranalexander.co.uk

Literasi Kartini: Apa yang ditulis akan abadi

Verba Volant, Scripta Manent. Apa yang dikatakan akan lenyap, apa yang ditulis akan abadi. Demikian makna ungkapan bahasa Latin ini. Ungkapan dalam bahasa Latin tersebut sesuai dengan kiprah R.A.Kartini yang menghasilkan sejumlah karya tulis. Jejak karya beliau masih dapat kita baca hingga hari ini. Dari kumpulan surat hingga beberapa karangan beliau. Baik yang dipublikasikan, maupun tidak. Jejak tersebut akan abadi dan tak akan terhapus oleh waktu karena scripta manent.
Continue reading

Tahun 2017

Tahun 2017 yang telah dilewati menyisakan kenangan. Ada banyak kenangan yang membahagiakan. Semua datang silih-berganti. Ada yang memang sudah diniatkan dan diresolusikan dari tahun-tahun sebelumnya. Ada pula yang datang tiba-tiba, tak diundang tapi harus dilaksanakan.

Tahun 2017 ada sejumlah artikel yang dihasilkan dan dipresentasikan di berbagai acara.
1. ‘Wisata Imaji’ Chairil Anwar dalam Ruang dan Waktu dipresentasikan acara Mengenang Chairil Anwar: Kepenyairan dan Pemikiran 4 Mei 2017. Dalam acara ini saya satu panel dengan Prof. Sapardi Djoko Damono.

2. ‘Raffles dan Pariwisata di Jawa’, artikel dalam buku Raffles dan Kita: Peringatan 200 Tahun The History of Java dengan editor Catrini Kubontubuh dan Eka Budianta. Sebelumnya, pada tanggal 6 Mei 2017 saya menyampaikan artikel tersebut dalam diskusi 200 Tahun The History of Java di Griya BPPI Jakarta.

3. ‘Chinese Community in the Netherlands-Indies in the View of Foreign Women Travelogue Writers of the 19th-20th Century’, makalah disampaikan di The 4th International Conference on Chinese-Indonesia Studies di FIB UI Depok (Agustus 2017)

4. ‘The Early Tourist Guidebooks to the Dutch East Indies and Malaya in the 19th and 20th Centuries’, makalah disampaikan di the 11th International Conference on Malaysia-Indonesia Relation (PAHMI 11) di FIB UI Depok (Agustus 2017)

5. ‘Cultural Aspects of Tourism Promotion Activities in the Dutch East Indies (1908-1941), makalah disampaikan di 2nd Asia Pasific Research in Social Sciences and Humanities (APRiSH) di Hotel Margo Depok (September 2017)

6. ‘Tracing the Early Tourism Activity in Eastern Indonesia’, makalah disampaikan di International Scholar Summit ‘On Shaping the Beter World 2017’ di Universitas Indonesia (Oktober 2017)
Makalah yang terakhir ini ‘mengakibatkan’ saya diberangkatkan ke University New South Wales, Sydney Australia pada pertengahan bulan November 2017.


Sebenarnya puncak ketegangan saya pada tahun 2017 adalah pada bulan Mei 2017 karena saya menjalani sidang tertutup dan dilanjutkan pada 6 Juli 2017 dengan sidang terbuka. Persiapan menghadapi ujian di saat menjelang liburan lebaran sangat menegangkan. Alhamdulillah saya berhasil mempertahankan disertasi tersebut yang berjudul ‘Dari Vreemdelingenverkeer ke Toeristenverkeer: Dinamika Pariwisata di Hindia-Belanda 1891-1942’.

Untuk tahun 2018 sedang dipersiapkan sejumlah artikel dan naskah. Semoga semua terwujud.

Wisata Menantang Maut

Meletusnya Gunung Agung di Bali akhir November 2017 silam membuat dunia kepariwisataan di wilayah tersebut mengalami gangguan. Banyak turis yang membatalkan liburan ke pulau tersebut. Namun, ada juga para turis yang nekad bertahan tinggal di Bali. Mereka malah mengabadikan momen langka yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Fenomena para turis ‘menantang maut’ dengan menikmati objek wisata yang dalam kondisi tidak normal ini bukan lah fenomena baru. Bila kita menelusuri catatan masa silam, kita menemukan fenomena yang sama. Continue reading

Disertasi yang baik adalah disertasi yang selesai

Bagaimana rasanya setelah promosi dan jadi doktor?’, tanya salah seorang rekan. ‘Pasti sekarang sudah bisa tidur nyenyak.’. ‘Wah, sekarang  jalannya sudah tegak.’ ‘Wajahnya sumringah.’  Berbagai komentar tersebut saya dengar dan terima dengan senyuman.

Continue reading

Catatan Turistik Seorang Pangeran Jawa

Judul: De Grote Reis van Prins Soeparto Java-Nederland 14 Juni -17 Juli 1913

Penulis: Raden Mas Haryo Soerjosoeparto

Pengantar: Madelon Djajadingrat

Ilustrasi   : Hoesein W. Djajadiningrat

Penerbit: AD.Donker-Rotterdam

Cetakan: I, 2014

Tebal: 166 halaman

ISBN:  978-90-6100-686-2

Pada masa kolonial banyak catatan perjalanan atau yang mengarah pada catatan turistik yang ditulis oleh orang asing, khususnya orang Belanda. Namun, tidak banyak catatan perjalanan yang ditulis oleh orang Hindia. Dari catatan perjalanan yang sedikit itu, catatan perjalanan Pangeran Soeparto ini perlu mendapatkan catatan tersendiri.

Continue reading

Mencari Sejarah Pariwisata Budaya di Bali

 

dans-bali

Sebuah undangan simposium saya terima. Acaranya tanggal 28 Januari 2017 di Balairung Susilo Sudarman, Gedung Sapta Pesona, Kemenpar RI. Awalnya ada beberapa hal yang membuat saya enggan untuk menghadirinya. Pertama, acara itu berlangsung pada hari Sabtu kedua bertepatan dengan hari libur Imlek, dan ketiga guyuran hujan dari pagi hingga sore membuat saya enggan untuk keluar rumah. Namun, judul simposium itu membuat saya penasaran dan bersemangat untuk menghadirinya. Apalagi saya sempat berfikir tema tersebut berhubungan dengan penelitian disertasi saya.

Continue reading

Kebijakan Miras di Batavia Masa Kolonial

miras-bataviaJudul: Minuman Keras di Batavia Akhir Abad XIX

Penulis: Yusana Sasanti Dadtun

Penerbit: Ombak, Yogyakarta

Cetakan: I, 2016

Tebal: xiv + 160 halaman

ISBN:  978-602-258-406-3

Harga: Rp. 50.000

 

Apa perbedaan menyesap dan menenggak? Lalu apa perbedaan botol berisi minuman keras (miras) dan minuman (air mineral) biasa? Pertanyaan pertama mudah dijawab. Menyesap, terutama minuman keras adalah meminumnya sedikit demi sedikit. Sedangkan menenggak adalah meminumnya sekaligus. Jawaban pertanyaan kedua? Ah, kita jangan terlalu cepat menilai isi minuman dari botolnya. Siapa menyangka jika botol obat batuk atau sirup ternyata berisi minuman keras.

Continue reading

Lawatan Oscar Fabrés ke timur Nusantara

fabres-harimau

Pada tahun 1932 seorang kartunis kelahiran Chili yang juga menjadi jurnalis Prancis Oscar Fabrés (1894-1960) berkesempatan mengunjungi Hindia-Belanda atas undangan pengurus Alliance francaise Batavia.  Ia berkunjung ke Hindia bersama istrinya Alice Voorduin yang merupakan seorang perempuan Belanda. Ketika itu Fabrés yang pernah studi di Paris pada tahun 1920-an merupakan editor untuk surat kabar Prancis Le Petit Journal. Namun menurutnya ia tidak terikat dengan surat kabar itu sehingga ia dapat bebas bepergian ke mana-mana.

Continue reading