Category Archives: Coretan Sejarah

Turisme Depok Masa Hindia-Belanda bagian 1

depok_stationBila kita mengingat Depok puluhan tahun silam, yang muncul di ingatan kita adalah sebuah kota yang tak terlalu ramai. Jalan menuju Depok dari Pasar Minggu serta jalan Margonda yang kita kenal pun sekarang masih belum seramai sekarang. Di kanan-kiri jalan masih terlihat pepohonan yang rimbun. Kemacetan yang ada pun hanya disebabkan pintu kereta, perlintasan rel. Memang sarana transportasi darat lain selain jalan raya adalah kereta listrik Jabodetabek yang sekarang disebut Commuterline. Sarana ini menjadi andalan bagi warga Depok yang bekerja, sekolah di Jakarta atau warga Jakarta yang hendak berkunjung ke Depok. Jalur lain adalah melalui jalan tol lewat jalan Juanda.

Continue reading

Mari ke timur

454f4756-215c-4b10-ba07-8a4e2c4b4196

Nil novi sub sole’, ‘Tak ada yang baru di bawah mata hari’. Demikian lah adagium tua yang kerap kita dengar apabila terkait dengan orisinalitas. Hal ini tampaknya berlaku hampir untuk semua hal. Tak terkecuali untuk satu sektor yang kerap tidak ditangani secara serius.  Sektor yang dimaksud ini adalah sektor turisme.

Continue reading

Fungsi Metodologi dan Teori dalam Ilmu Sejarah

sartonoDalam penelitian sejarah, metode dan metodologi merupakan dua perangkat penting. Sartono Kartodirdjo (1992) mengungkapkan perbedaan antara metode dan metodologi. Metode adalah bagaimana orang memperoleh pengetahuan (how to know), sedangkan metodologi  adalah ilmu tentang untuk tahu bagaimana harus mengetahui (to know how to know).

Continue reading

Turisme di Hindia-Belanda

VTV-office     VTV merupakan perhimpunan turisme pertama di Hindia-Belanda. Perhimpunan yang didirikan pada tahun 1908 ini menandai turisme modern sebagai industri di Hindia-Belanda yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.  Sebelum dibentuknya VTV para pengunjung yang datang belum terorganisasi, kebanyakan mereka masih sendiri-sendiri (individu) dan tidak bertujuan untuk khusus berwisata, melainkan karena tugas dari pemerintah.

Continue reading

Menikmati Aijer Blanda dan Nangke Lande

terong belandaApalah arti sebuah nama, demikian ungkapan dari seorang pujangga Inggris William Shakespeare. Namun, ungkapan tersebut seolah tak berarti jika kita membicarakan masalah berikut. Misalnya kata ayam. Jika kita gabungkan dengan kata bakar di belakangnya tentu akan berbeda dengan kata goreng. Apalagi jika kata ayam digabungkan dengan kata kampung dan ‘kampus’. Kata tersebut akan memiliki makna denotatif dan konotatif.

Continue reading

Sejarah Obyek Turisme

borobudurSalah satu unsur penting dalam turisme adalah obyek turisme. Tentu saja penting karena untuk apa para turis datang berkunjung ke suatu tempat jika tidak ada yang dilihat.

Continue reading

Turis itu orang asing

vvv

Turis adalah orang asing. Demikian makna dari kata turis ketika pertama kali digunakan. Mereka bukan bagian dari wilayah yang dikunjunginya. Dalam hal ini saya menggunakan konteks di Eropa serta secara khusus di Belanda dan Hindia-Belanda.

Continue reading

Si Anak Hilang Pulang

oude tijgerJumat sore itu saya bergegas kembali ke apartemen usai menyaksikan film yang merupakan bagian dari perkuliahan. Setelah berkemas saya berjalan menuju ke stasiun Leiden. Hari itu saya telah berjanji pada Sitor untuk menginap di rumahnya, di Apeldoorn, provinsi Gelderland. Beberapa bulan sebelumnya kami bertemu untuk kali pertama di perpustakaan KITLV Leiden.

Perjalanan ke Apeldoorn sudah dirancang sebelumnya. Ketika itu Sitor memberitahu alamat rumahnya serta petunjuk saya harus turun di Schiphol untuk berganti kereta, lengkap dengan jamnya. Ternyata saya terlambat beberapa menit dan ketinggalan kereta. Terpaksalah saya menunggu kereta berikutnya.  Sampai di Apeldoorn hari menjelang gelap. Saya menelusuri jalan yang diarahkan Sitor dengan perut lapar hingga tiba di alamat yang dituju. Paaslaan.

Saya agak sedikit bingung karena rumah Sitor bukan vrijstaand huis (rumah yang berdiri sendiri) tapi serupa apartemen. Untuk memastikan saya menaiki tangga memeriksa nomor rumah di depan pintunya. Rupanya saya keliru dan saya kembali ke bawah. Saya menekan bel. Pintu dibuka dengan sosok Sitor berdiri di sana. Saya minta maaf dan menjelaskan keterlambatan saya. Tak lama kemudian telepon berdering. “Ja, hij is onze gast. Bedankt, hoor!,” kata Sitor. Rupanya langkah kaki saya di anak tangga membuat penghuninya curiga dan ia mendengar langkah kaki saya berhenti di depan pintu rumah Sitor dan Barbara. Sang tetangga memastikan itu bukan pencuri.

Barbara, istri Sitor langsung menyilakan saya ke meja makan. Di meja makan rupanya sudah terhidang makanan. “Pak Sitor yang masak,” kata Barbara. Hidangan berupa soto ayam segera saya santap. Sambil makan kami bercakap-cakap berbagai hal, khususnya perkembangan kuliah saya.

Apeldoorn2000Usai santap malam, kami berbincang lagi sambil menikmati minuman. Saya memilih teh hangat. Berbagai hal kami perbincangkan. Salah satunya, saya menceritakan pengalaman saya, JJ Rizal, Agus ketika menyambangi rumah Pramoedya Ananta Toer untuk wawancara. Sitor beranjak dari kursi, sepertinya ia mengambil sesuatu. Ia kembali dengan sebuah buku. Judulnya penghormatan untuk 70 tahun Pramoedya yang disunting Bob Herring. Buku itu diberikan kepada saya. Itu buku kedua yang saya peroleh. Buku pertama terjemahan kumpulan ceritanya dalam bahasa Belanda de oude tijger (1996) saya peroleh pada pertemuan pertama di KITLV.

Pun saya teringat obrolan di kantin KITLV yang begitu hangat beberapa bulan sebelumnya. Saya, Kees Snoek, dan Sitor saling bertukar cerita. Salah satu cerita yang saya ingat pengalaman masa revolusi Sitor. Dengan penuh ekspresif, Sitor menceritakan pengalamannya tentang Amir Syarifudin. Dengan ekspresif, sesekali Sitor bangkit dari bangku, berdiri mempertegas ceritanya. Obrolan bermula ketika saya menceritakan buku Tan Malaka dan Islam terbitan Komunitas Bambu ketika itu. Mengalirlah kisah masa revolusi dari mulut Sitor.

Minggu 21 Desember 2014, Sitor Situmorang wafat di Apeldoorn, Belanda. Selamat jalan, Bung!

Menjelang Natal

Si Anak Hilang

pulang

ke Lembah Kekal

Kenangan Goyang Lidah

ayam goreng bu haji-JNG

Urusan perut memang tidak bisa disepelekan. Namun, bukan berarti urusan ini menjadi segalanya dan mengalahkan urusan lain. Urusan yang jauh lebih penting dari sekedar urusan perut. Ingat saja ungkapan ‘makan bukan sekedar untuk hidup, hidup bukan sekedar untuk makan’. Setidaknya jika Anda berkenan biarlah saya sedikit berkisah mengenai kenangan saya dengan urusan perut yang juga menyinggung lidah untuk bergoyang.

Continue reading

Belajar sejarah

bk-menari-dengan-mega

Coba Anda ingat kembali ketika duduk di bangku sekolah. Bagaimana pengalaman Anda ketika belajar sejarah. Deretan angka tahun, peristiwa, nama-nama tokoh pasti muncul kembali. Semua itu harus dihafal karena itulah yang akan muncul di dalam ulangan dan ujian. Singkat kata apakah belajar sejarah hanya sekedar menghafal angka tahun, nama tokoh, tempat, dan peristiwa?

Continue reading