Kisah Ayam

Almarhum pakde saya adalah seorang pecinta hewan. Salah satunya ayam jago yang pada pagi hari suaranya mampu membangunkan saya dari mimpi indah. Ayam jago yang berjenis bangkok itu mendapat perlakuan istimewa. Mulai dari kandang yang selalu diperhatikan kebersihannya, makanan, vitamin  yang selalu dijaga hingga belaian penuh kasih dan mungkin rasa sayang.

Setiap minggu ayam bangkok itu dimandikan. Tentunya bukan seperti memandikan motor Honda tunggangannya, ke tempat dia bekerja setiap hari di sebuah pabrik di bilangan utara Jakarta. Ayam itu disiraminya dengan air dari tangan sambil diusap secara perlahan.

Lain dengan Almarhum ayah. Suatu ketika beliau membawa ayam jago hitam legam yang dikenal dengan ayam Cemani.  Sekujur tubuhnya, mulai dari bulu, jengger, kaki, hingga daging dan tulangnya berwarna hitam. Konon ayam ini berharga mahal (hingga puluhan juta) dan kerap dipakai untuk ritual tertentu. Mungkin almarhum ayah saya mengetahui betapa mahalnya jenis ayam itu sehingga berniat memeliharanya. Lain waktu beliau membawa ayam yang berbulu keriting, jantan dan betina. Ibu saya menyebutnya ayam bulu walik. Beberapa teman adik saya yang berkunjung ke rumah sering tertawa dan berseloroh ayam keriting itu cocok dipelihara keluarga kami lantaran kami semua nyaris berambut keriting. Read more…

Mengalir

Awal 2013. Biasanya setiap awal tahun dimulai dengan resolusi yang akan dilakukan sepanjang tahun. Namun, awal tahun ini tidak banyak resolusi yang dibuat. Pertama, kondisi fisik yang masih belum memungkinkan alias masih perlu istirahat total. Virus yang menyerang di akhir tahun sepertinya masih betah hingga pertengahan Januari.

Dalam kondisi seperti itu, rasanya malas untuk melakukan berbagai hal (di luar aktivitas rutin seperti makan, minum, beribadah, istirahat). Aktivitas menulis serta membaca (kecuali Al Qur’an) yang biasanya dilakukan menjadi terasa berat. Satu hal yang sepertinya harus diubah. Waktu membaca yang pada tahun lalu nyaris tak ada (meskipun banyak buku-buku baru yang hanya jadi penghias rak), tahun ini harus digiatkan lagi. Tak ada lagi alasan. Tak ada lagi tawar-menawar.

Setelah tubuh kembali sehat, rasanya perlu memikirkan resolusi tahun ini. Kembali lagi resolusi untuk menulis terlontar dari pikiran. Sama halnya dengan aktivitas menulis yang tahun lalu ‘dipaksakan’ kembali menulis, aktivitas membaca dan mencari waktu yang ‘tepat’ (istilah orang yang sok sibuk seperti saya) sepertinya harus dipaksa.Hasilnya beberapa buku, koleksi saya dan istri saya yang belum sempat terjamah, saya baca halaman demi halaman hingga selesai. Awal tahun ini (hingga akhir Januari) dua setengah buku selesai. Tak ada target berapa buah buku yang harus saya baca tahun ini. Seperti kebiasaan dalam bekerja, saya tidak hanya fokus pada satu buku, tapi jika memungkinkan beberapa buku. Read more…

Akhir tahun 2012

Tahun 2012 nyaris berlalu. Sempat dihebohkan karena diyakini sebagai akhir dari dunia alias kiamat. Orang-orang yang mempercayainya menunggu dengan cemas. Mulai dari 12-12-12 hingga 21-12-12. Semua berlalu tanpa terjadi apa pun.

Read more…

Go to top