Sibuk….Sibuk…Sibuk

Bulan Oktober 2019 kembali diisi dengan beberapa kegiatan baik akademik dan non akademik. Untuk kegiatan ‘fulitik’, masyarakat Indonesia menyaksikan pelantikan presiden dan wakil presiden serta pengumuman para menteri di kabinet untuk periode 2019-2024. ‘Kejutan’ juga mewarnai pengumuman nama-nama para menteri dalam kabinet. Seharusnya ‘kejutan’ itu tidak perlu membuah gundah ‘gundala’, mengingat di era milenial yang penuh disrupsi segala hal dapat saja terjadi.

Untuk kegiatan akademik seperti biasa kegiatan mengajar baik di Depok, maupun di Salemba. Demikian halnya dengan persiapan penulisan book chapter hasil konferensi internasional bulan Juli lalu. Hasil review dari editor harus segera ditindaklanjuti untuk tahap berikut. Kegiatan lain adalah proses persiapan draf naskah buku dengan EFEO yang diharapkan akhir tahun ini segera terbit. Mulai dari urusan penyuntingan, revisi, sampai penentuan sampul menjadi bagian dari proses tersebut. Proses yang harus dinikmati.

Kabar baik lain adalah salah satu naskah artikel sebagai hasil hibah riset klaster fakultas sudah masuk ke dalam jurnal fakultas. Artikel lainnya akan disajikan dalam konferensi internasional bulan November dan artikel interdisiplin sedang digarap dan mudah-mudahan dapat selesai tepat waktu. Pada bulan ini laporan akhir untuk hibah riset klaster sedang dipersiapkan.

Pada awal bulan Oktober ini saya diminta mengisi acara seminar Studi Klub Sejarah Mahasiswa Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia untuk membahas pengaruh kuliner Belanda di Nusantara. Acara ini merupakan rangkaian acara History Fair 2019. Permintaan mereka sudah saya terima sejak bulan lalu. Kali ini saya kembali satu panggung dengan Kang Fadly Rahman dari Unpad, penulis buku Jejak Rasa Nusantara dan Rijsttafel. Sebelumnya, kami satu panel dalam acara Simposium Membaca Ulang Max Havelaar di Rangkasbitung bulan September lalu. Dalam kesempatan seminar ini selain tampil bersama Kang Fadly, juga dengan Ibu Dilah Kencono dari Program Studi Cina. Diskusi yang ‘lezat’ berjalan dengan lancar. Saya menjadi pembicara pertama, disusul Ibu Dilah, dan terakhir Kang Fadly. Beberapa pertanyaan menarik dari para peserta mengemuka setelah ‘hidangan’ dan ‘sajian’ para pembicara. Apalagi di antara peserta mahasiswa terdapat murid-murid SMA yang juga mengajukan pertanyaan. Hal ini menjadi penanda harapan yang baik untuk pengembangan ilmu sejarah di masa depan yang konon para pegiatnya berjalan di ‘jalan sunyi’.

Pada bulan ini juga saya terpilih menjadi peserta International Forum for Advancement of Culture (IFAC) 2019 setelah mengajukan abstrak untuk sub tema ‘Sharing History, Safeguarding Cultural Diversity’ dari beberapa sub tema yang ditentukan oleh panitia. Sub tema lainnya adalah Harnesing Big Data, Fostering Cultural Practices, Festival as Method: A Network for Action, Bringing the People Back in: A Case for Popular Policy-Making in Culture, Culture-Based Economy in the Era of Industrial Revolution 4.0, Well-Being for All: Towards A Universal Basic Right to Happiness. Acara IFAC 2019 berlangsung di Hotel Fairmount, Jakarta pada tanggal 10-13 Oktober 2019. Para kontributor acara tersebut antara lain Hilmar Farid, Harry Waluyo, Daud Aris Tanudirjo, Alisan Heritage, Idham Setiadi, Basuki Antariksa, Budiman Sudjatmiko.

Kesempatan mengikuti konferensi internasional untuk mengisi catu daya pikiran dan membuat ‘bahagia’, saya gunakan dalam acara yang merupakan bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional 2019. Beberapa hal menarik saya peroleh dalam acara tersebut, antara lain makan bajamba yang diselenggarakan oleh Komunitas Jalansutra. Makan bajamba adalah tradisi makan bersama dari Minangkabau dengan cara duduk di lantai dan menikmati hidangan bersama-sama. Hidangan yang tidak pernah kita temui di rumah makan Padang tersaji. Hal lain adalah pengalaman mengikuti acara seremoni penutupan Pekan Kebudayaan Nasional yang disajikan ala milenial. Pertemuan dengan teman-teman baru dari berbagai daerah dan luar negeri dalam acara tersebut membuka wawasan sekaligus menambah gagasan hal-hal yang dapat digarap tahun mendatang. Semoga.

Rangkasbitung 2019

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya
Salam sejahtera!
Nama saya Multatuli.
Datang dari masa lalu.
Dahulu abdi Kerajaan Belanda,
Ditugaskan di Rangkasbitung,
Ibukota Lebak saat itu.

Continue reading “Rangkasbitung 2019”

Agustus Serius

Bulan Juli hingga pertengahan bulan Agustus lalu merupakan bulan penuh kesibukan. Tidak hanya berkaitan dengan perayaan Hari Raya Idul Adha dan Proklamasi 17 Agustus tetapi juga berbagai kesibukan lain. Kesibukan akademik dan non akademik.
Continue reading “Agustus Serius”

Selamat Jalan, Bu Frances (1950-2019)!

Sebuah kabar duka di bulan Juni. Frances Gouda wafat. Berita tersebut saya peroleh dari timeline Facebook milik Prof. Hans Pols penulis buku Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch Indonesia (2018) – Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia (2018). Sontak kenangan saya 12 tahun silam dengan Prof. Gouda muncul.
Continue reading “Selamat Jalan, Bu Frances (1950-2019)!”

Konser Metallica, Pertunjukan Angklung Garut, dan Balinisasi

Seperti tahun lalu, tahun 2019 ini kembali Universitas Indonesia memberikan dana hibah penelitian. Berbeda dengan tahun 2018 lalu, nama hibah untuk rumpun ilmu sosial dan humaniora adalah PITMA B. PITMA merupakan singkatan dari Publikasi Internasional Terindeks Mahasiswa Magister.
Continue reading “Konser Metallica, Pertunjukan Angklung Garut, dan Balinisasi”

Kartini dan Seni Batik

Sehelai foto memuat gambar tiga perempuan Jawa berkebaya sedang duduk membatik. Perempuan yang berada pada posisi kiri tampak tekun menorehkan canting di kain. Dia adalah Kartini. Dua perempuan lain adalah adik-adiknya, Roekmini dan Kardinah.
Continue reading “Kartini dan Seni Batik”

Wisata Mata, Wisata dalam Gambar

‘….seindah warna aslinya’. Ini adalah potongan dari iklan sebuah produk film kamera analog yang kerap muncul di TVRI, satu-satunya stasiun televisi di negeri tercinta ini. Maksudnya adalah foto yang dihasilkan oleh film tersebut diklaim memiliki warna seindah situasi aslinya. Apakah memang benar demikian, tentunya tergantung pada banyak hal.
Continue reading “Wisata Mata, Wisata dalam Gambar”

Target di tahun 2019

Tahun 2019 sudah berjalan hampir sebulan. Agenda tahun ini pun sudah mulai dicanangkan. Capaian tahun lalu dievaluasi dan dilihat kembali. Mana yang harus diperbaiki dan mana yang perlu ditingkatkan. Tahun lalu diwarnai dengan dua buku dan berbagai artikel yang ditulis sendiri dan yang berkolaborasi dengan rekan serta beberapa mahasiswa. Artikel-artikel itu pun sudah dipresentasikan in konferensi. Bahkan, artikel-artikel itu sempat dikonsultasikan dengan seorang pakar di Belanda.
Continue reading “Target di tahun 2019”

Kembali ke Yogya

Akhir tahun 2018 ditutup dengan mengikuti kegiatan ilmiah, tepatnya Seminar Sejarah Nasional tahun 2018. Seminar ini bertema Paradigma dan Arah Baru Pendidikan Kesejarahan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya acara seminar akan diselenggarakan pada 14-15 Desember 2018 tetapi kemudian dimajukan menjadi 3-4 Desember 2018.
Continue reading “Kembali ke Yogya”

Dari Turisme ke Pariwisata: Melacak Jejak Istilah Turisme di Indonesia

Salah satu artikel yang dimuat dalam Jurnal Melancong. Jurnal Perjalanan Wisata, Destinasi, dan Hospitalitas, Vol.1, 1, Maret 2018.

Berikut abstrak artikel tersebut.

Abstract
As one of the human activities for their leisure time, tourism is often considered as unimportant activities. According to Thorsten Veblen who examined the behavior of the upper classes, leisure activities owned by the upper classes is the non-productive use of time. This article discusses the origin of words related to tourism activities in Indonesia. The words that are discussed such as Dutch words vreemdelingenverkeer, toeristenverkeer, toerisme, toerist(en). By using newspapers from the Netherlands Indies period and Indonesian newspapers today and also the newspapers from the Netherlands in the 19th century, this article analyzes which words have a shift in the meaning. The official documents issued by the government of the Netherlands Indies and the Republic Indonesia are also used in this article. The result is there are the words that have a shift in the meaning because they related to using of the words and its original meaning in the Netherlands.

Kata kunci: istilah turisme; pariwisata Indonesia; toeristenverkeer; vreemdelingenverkeer