Category Archives: Kuliner

Kebijakan Miras di Batavia Masa Kolonial

miras-bataviaJudul: Minuman Keras di Batavia Akhir Abad XIX

Penulis: Yusana Sasanti Dadtun

Penerbit: Ombak, Yogyakarta

Cetakan: I, 2016

Tebal: xiv + 160 halaman

ISBN:  978-602-258-406-3

Harga: Rp. 50.000

 

Apa perbedaan menyesap dan menenggak? Lalu apa perbedaan botol berisi minuman keras (miras) dan minuman (air mineral) biasa? Pertanyaan pertama mudah dijawab. Menyesap, terutama minuman keras adalah meminumnya sedikit demi sedikit. Sedangkan menenggak adalah meminumnya sekaligus. Jawaban pertanyaan kedua? Ah, kita jangan terlalu cepat menilai isi minuman dari botolnya. Siapa menyangka jika botol obat batuk atau sirup ternyata berisi minuman keras.

Continue reading

Suwe Ora Jamu, Jamu Sore-Sore bagian 1

JpegJumat sore itu saya siap menjemput macet. Saya pun bergegas, berpacu sebelum terkenal aturan nomor mobil ganjil-genap pada ruas-ruas jalan tertentu. Sudah terbayangkan suasana perjalanan dari pusat kota Jakarta menuju Depok.

Perjalanan saya menembus belantara Jakarta ditemani sebotol minimalis beras kencur. Minuman ‘kuno’ yang menjadi kekinian karena dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi tampak nggaya. Etiket di botolnya menarik “Suwe Ora Jamu”.

Ya, Suwe Ora Jamu. Sudah lama saya tidak menikmati jamu, minuman tradisional yang saya akrabi sejak kecil. Aroma beras kencur membawa ingatan saya pada masa kecil. Ingatan yang berkelindan dengan trauma masa kecil kembali muncul.

Semasa balita saya tampaknya tidak memiliki nafsu makan yang besar. Saya pun bukan termasuk balita sehat dengan tubuh gemuk gembil sehingga mengundang orang untuk menggemasi.  Singkat kata karena nafsu makan saya kurang sehingga membuat ibu saya khawatir saya kekurangan nutrisi sehingga terpaksalah saya diterapi dengan jamu pahitan.

Jangan bayangkan saya duduk manis lalu disuguhi jamu dalam gelas dan mau meneguknya hingga tandas. Untuk menerapi saya diperlukan tenaga tambahan. Setidaknya dua orang dewasa harus melakukannya. Satu orang memegangi saya dan satunya lagi mencekoki saya dengan saputangan yang telah direndam ramuan jamu yang rasanya pahit membuat kapok.

Urutan prosesi terapi ‘cekokan’ jamu itu masih saya ingat betul. Saya yang sedang bermain, biasanya dipanggil. Lalu duduk dipangku, lalu tangan saya dipegang erat dan mulut dipaksa dibuka. Tetesan jamu pahit pengundang nafsu makan dicekokkan ke dalam mulut saya yang meronta-ronta sambil menangis. Namun, dari beberapa tetesan jamu yang masuk ke dalam mulut saya, sepertinya patut dipertanyakan apakah memang manjur mengundang nafsu makan saya karena tubuh saya tetap kurus. Sepertinya, nafsu makan saya datang menjelang usia remaja sebagai bahan bakar berbagai aktivitas. Persis, putera saya yang masa balitanya sulit makan. Namun, sekarang rasanya segala macam hendak disantap.

Sambil meneguk beras kencur dalam botol mini itu ingatan saya kembali ke masa silam. Almarhum nenek saya dan juga ibu saya adalah pembuat jamu. Suara alu menumbuk ramuan dan aroma ramuan jamu yang meruap di dapur seolah kembali saya dengar dan hirup. Setelah dimasak, ramuan jamu dimasukkan ke dalam botol. Botol-botol itu juga tidak dilabeli etiket hanya tulisan keterangan isi botol yang ditempel selotip. Meskipun bukan skala besar, setidaknya beberapa belas atau puluhan botol beras kencur, kunyit asam, temulawak, cabe puyang terjual habis.

Bagi masyarakat Jawa, jamu merupakan obat tradisional. Kata jamu menurut pakar bahasa Jawa kuno berasal dari singkatan dua kata yaitu ‘djampi’ dan ‘oesodo’. Djampi berarti penyembuhan dengan menggunakan ramuan obat-obatan, doa-doa serta ajian sedangkan oesodo berarti kesehatan.

Dari relief Candi Borobudur terlihat kebiasaan berupa aktivitas meracik dan mengkonsumsi jamu. Bukti material lain adalah penemuan prasasti Madhawapura peninggalan Majapahit yang menyebut adanya profesi Acaraki yaitu peracik jamu. Hal ini membuktikan bahwa kebiasaan meracik dan mengkonsumsi jamu di Indonesia sudah dikenal sejak lama.

Dalam beberapa situasi, saya memang lebih suka mengkonsumsi minuman tradisional. Misalnya dalam kondisi badan tidak keruan alias panas-dingin, maka meneguk wedang jahe hangat menjadi pilihan atau jika perut sedang tidak mau berkompromi, jamu kunyit asem dengan madu saya konsumsi. Beberapa tahun silam, saya terkena typhus dan diharuskan rawat jalan. Saya diberi berbagai obat dari rumah sakit. Salah satu obat tersebut rupanya mengandung kunyit.  (bersambung)

 

Kenangan Goyang Lidah

ayam goreng bu haji-JNG

Urusan perut memang tidak bisa disepelekan. Namun, bukan berarti urusan ini menjadi segalanya dan mengalahkan urusan lain. Urusan yang jauh lebih penting dari sekedar urusan perut. Ingat saja ungkapan ‘makan bukan sekedar untuk hidup, hidup bukan sekedar untuk makan’. Setidaknya jika Anda berkenan biarlah saya sedikit berkisah mengenai kenangan saya dengan urusan perut yang juga menyinggung lidah untuk bergoyang.

Continue reading

Serabi

Dinginnya pagi memeluk tubuh. Mata masih enggan dibuka.  Aroma harum menggelitik penciuman. Hidungku kembang-kempis mencium aroma yang belum aku akrabi. Perutku tiba-tiba lapar. Aku menggeliat dan menengok. Kursi kemudi kosong.  Aku mengerjapkan mata. Dari arah jendela aku melihat bapak berjongkok di depan emperan toko yang masih tutup, menikmati sesuatu di hadapannya.  Bapak mengangkat daun pisang di hadapannya. Aku pun membuka pintu mobil, berjalan ke arahnya.

Continue reading

Resep Masakan dari Masa Lalu

Indonesia kaya akan beragam masakan. Sayangnya tidak semua resep masakan tersebut tercatat.  Beragam resep masakan tersebut, seperti halnya budaya yang berkembang di Indonesia, diturunkan secara lisan secara turun menurun. Catatan resep dicatat dalam ingatan. Alhasil jika tidak ada lagi yang meneruskan, masakan tersebut hanya akan menjadi kenangan.

Buku resep masakan tertua di Hindia-Belanda diperkirakan adalah Kokkie Bitja ataw Kitab Masak Masakan India njang terseboet bagimana orang orang sediakan segala roepa roepa makanan, maniesan, atjaran dan sambalan . Buku ini ditulis oleh Nona Cornelia dan dalam katalog KITLV Leiden tercatat pada 1845 sudah memasuki cetakan ketiga. Penerbitnya adalah Lange & Co Batavia.

Menurut Ed Vos dalam artikelnya “Kokkie Bitja. Bitja de keukenmeid. Voorberichten in het Nederlands” (2005) buku Kokkie Bitja, meskipun kata pengantarnya ditulis dalam bahasa Belanda, resep-resepnya ditulis dalam bahasa Melayu. Apakah dengan demikian buku resep ini ditujukan bagi para juru masak pribumi yang pada masa itu dikenal dengan sebutan kokkie atau untuk kalangan Indo yang menguasai bahasa Melayu? Hal menarik lainnya adalah ucapan terima kasih dalam buku Kokkie Bitja yang menggunakan sejumlah nama-nama khayalan seperti Mevrouw SARONDENG, Mejuffrouw SESATé, Njonja SMOOR. Nama-nama itu mengingatkan kita pada jenis masakan yang ada di Hindia-Belanda. Continue reading

Bunuh Diri Gara-Gara Ikan

Henry IV dikenal sebagai raja yang membawa kemakmuran bagi seluruh Prancis. Alasannya adalah karena dia, setiap orang Prancis dapat makan daging ayam. Henry IV dikenal juga memiliki hobi masak. Cucunya, Louis XIV justru dikenal hobi makan dan nafsu makannya luar biasa. Koki dan asisten kokinya di dapur istana Versailles berjumlah lima puluh. Setiap hari mereka bekerja keras memasak, menciptakan bermacam-macam makanan serta menghiasinya. Seperti biasa makanan-makanan tersebut sebelum disantap dipamerkan terlebih dahulu di meja makan.

Continue reading

Para Petani Cukup Makan Tanah

Pada tulisan sebelumnya “Dilarang menggunakan parfum ketika makan”,  diulas mengenai kehadiran wanita di meja makan. Kehadiran wanita di meja makan pada periode Karel Martel di Prancis membawa perubahan besar. Khususnya pada etiket makan yang semakin ketat. Tidaklah sopan jika orang yang makan menyeka ingusnya dengan taplak meja atau menggosok telapak tangan penuh minyak pada anjing. Lantas bagaimana? Dengan serbetkah?

Continue reading

Dilarang menggunakan parfum ketika makan

Jika Anda penggemar komik Asterix pasti tahu kebiasaan makan-makan para tokohnya, terutama tokoh Obelix yang doyan makan. Kisah yang menggambarkan orang Gaul (Ghalia) – proto Prancis penentang Romawi itu menampilkan hidangan babi hutan panggang dan bir. Apakah memang benar demikian?

Continue reading

Singkong dan Keju

Mungkin belum banyak orang yang tahu jika singkong atau cassava adalah tanaman impor di Indonesia.  Tanaman ini adalah pohon tahunan tropika dan subtropika. Kita mengkonsumsi umbinya yang menghasilkan karbohidrat. Daunnya pun kerap kita konsumsi, baik sebagai lalap atau dijadikan sayur. Tanaman ini sebenarnya berasal dari benua Amerika. Tepatnya di Amerika Selatan yang kemudian dikembangkan di Brazil dan Paraguay pada masa pra-sejarah.
Continue reading