Category Archives: Kuliner

Singkong dan Keju

Mungkin belum banyak orang yang tahu jika singkong atau cassava adalah tanaman impor di Indonesia.  Tanaman ini adalah pohon tahunan tropika dan subtropika. Kita mengkonsumsi umbinya yang menghasilkan karbohidrat. Daunnya pun kerap kita konsumsi, baik sebagai lalap atau dijadikan sayur. Tanaman ini sebenarnya berasal dari benua Amerika. Tepatnya di Amerika Selatan yang kemudian dikembangkan di Brazil dan Paraguay pada masa pra-sejarah.
Continue reading

Rindu Tempe

Berita perajin dan pengusaha tempe-tahu yang berunjuk rasa kalah dengan berita kondisi kesehatan Pak Harto. Maklum saja, hampir setiap jam kondisi terakhir Pak Harto terus diberitakan. Padahal persoalan tempe-tahu pun tak kalah pentingnya.

Bicara mengenai tempe, sepertinya kita langsung menghubungkan dengan orang Jawa. Alasannya seperti yang diungkapkan sejarawan Ong Hok Ham, masakan tempe hanya dijumpai dalam kuliner Jawa. Sedangkan masakan Padang, Bali, Menado apalagi Makassar tidak mengenal tempe.

Dalam Encyclopaedia van Nederlandsch Indië (1922) disebutkan bahwa tempe yang terbuat dari kacang kedelai merupakan hasil fermentasi dan merupakan makanan sehari-hari penduduk. Mungkin sebaiknya kata penduduk, menurut Pak Ong dapat ditambahkan, menjadi penduduk Jawa. Continue reading

“Bagai Sayur Kurang Garam”: Kisah Garam di Nusantara

Bila kita bicara tentang makanan yang baik, biasanya sering dikaitkan dengan kesehatan. Misalnya makanan itu hendaknya makanan yang tidak mengandung terlalu banyak lemak, tidak berkadar gula atau garam tinggi, mengandung serat dan lain-lain. Memang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik untuk tubuh kita.

Salah satu unsur pelengkap makanan yang hampir tidak pernah lepas dari masakan adalah garam. Kita mengenal garam sebagai salah satu bumbu penyedap yang membuat suatu hidangan masakan menjadi lebih terasa. Jenis garam itu kita kenal dengan nama garam dapur atau garam meja.

Rasanya tentu agak aneh dan kita sebut hambar bila suatu masakan lupa kita bubuhi dengan garam. Sehingga muncul ungkapan ‘Bagai sayur kurang garam’ yang maksudnya kurang begitu pas alias tidak sempurna. Tetapi jangan keliru dengan membubuhkan masakan itu dengan garam Inggris. Karena garam jenis ini meskipun ada unsur kata ‘garam’ dengan bentuk seperti gula pasir merupakan obat untuk pencuci perut.

Menariknya, jika suatu masakan kelebihan garam dan diketahui yang memasak adalah seorang gadis, maka dikatakan: “Wah asinnya masakan ini, yang masak pasti mau kawin!” Suatu masakan yang lezat dan pas itu, menurut Bondan Winarno pasti mak nyus tapi jika kurang atau kelebihan garam maka akan membuat mak nyun.

Tema dalam tulisan ini adalah garam. Khususnya kisah garam yang menjadi salah satu komoditas perdagangan antar pulau di Nusantara serta berbagai aspek menarik yang melingkupinya.

Butiran Sejarah Garam di Nusantara
Butiran sejarah garam di Nusantara ini yang juga pernah disebutkan Denys Lombard sepertinya masih harus dituliskan karena dalam Encylopaedie Nederlandsch Indië dibawah entri zout (garam) tidak memberikan keterangan apa pun mengenai sejarah garam sebelum abad ke-19 (ENI 2 1921:865-867).

Padahal, jauh sebelumnya menurut beberapa catatan disamping gula kelapa, asam, terasi, ikan asin, bawang merah dan bermacam-macam bumbu, garam (wuyah) merupakan salah satu komoditas makanan dan bumbu-bumbuan yang dibawa para pedagang yang lebih profesional serta memiliki jangkauan yang lebih luas di Jawa (Rahardjo 2002:331; Nastiti 1995:88-89). Hal ini dapat ditemukan dalam prasasti abad IX-X Masehi. Dalam hal ini garam yang diperoleh dengan cara kuno erat kaitannya dengan proses pengawetan ikan (ikan asin) pada masa itu.

Sebagai masyarakat yang tinggal di negara kepulauan dan dikelilingi laut tentu masyarakat Nusantara yang tinggal di pantai tahu cara-cara membuat garam. Apalagi garam, khususnya di pulau Jawa tidak berada di dalam tanah, melainkan di atas permukaan tanah yaitu di pantai. Sementara itu orang Maluku membuat garam dengan menuangkan air laut ke unggunan api di pantai kemudian merebus lagi abunya dengan air laut.

Di beberapa daerah pantai yang musim kemaraunya panjang, mereka mengusahakan garam dengan membiarkan matahari mengeringkan air laut yang sudah dipetak-petakkan di tepi pantai, seperti di pantai utara Jawa Timur. Dan garam ini merupakan salah satu komoditi ekspor utama dari pelabuhan-pelabuhan antara Juwana dan Surabaya. Para pedagang lalu membawa garam Jawa Timur ini ke Sulawesi dan Maluku serta memperdagangkannya secara langsung maupun melalui Banten ke Sumatera. (Reid 1992:33)

“Dari Jaratan, Gresik, Pati, Juwana dan tempat-tempat di sekitarnya, para pedagang itu membawa garam yang mutunya baik. Orang biasanya membeli 800 gantang (1 gantang -> 3,1 kg) seharga 150.000 perak dan menjualnya ke Banten seharga 1.000 periak setiap 3 gantang. Mereka juga membawanya ke Sumatera ke pelabuhan-pelabuhan seperti Baros, Pariaman, Tulang Bawang, Indragiri dan Jambi,” tulis Pieter Willemsz dalam Atchins Dachregister 1642 (Reid 1992:33).

Gerrit Knaap dan Heather Sutherland menyebutkan bahwa pada 1720 komoditas perdagangan utama yang dikirim Semarang ke Makassar adalah tembakau, beras dan garam. Masing-masing seberat 2300, 1800 dan 800 pikul (Knaap & Sutherland 2004: 140). Garam itu memang didatangkan dari Jawa karena Makassar ketika itu sedang berada dalam peperangan. Awalnya Makassar juga mengirimkan garam, hasil produk lokal mereka namun akhirnya lenyap pada paruh kedua abad ke-18 karena kualitasnya kalah bersaing dengan garam dari Jawa (Knaap & Sutherland 2004:96)

J.Crawfurd dalam A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries (1856) menyebutkan bahwa prinsip tambak garam hanya dikenal di pantai utara Jawa dan di daerah Pengasinan di Pulau Luzon. Ia juga menyebutkan adanya proses kuno pembuatan garam di tempat lain seperti pembakaran tanaman air di Kalimantan dan pengumpulan air laut yang kemudian dipercepat penguapannya di pantai selatan Jawa (Lombard II 2000:98). Tetapi hal itu dibantah Denys Lombard, menurutnya cara itu tidak ditemukan di pantai selatan Jawa tetapi di Bali timur (daerah Karang Asem) dan di dekat Bandar Aceh, Sumatera Utara. Ada kemungkinan proses pembuatan garam dengan membuat tambak-tambak itu mendapat pengaruh dari metode pembuatan garam di Hokian, China. Tetapi tampaknya kita perlu membandingkannya dengan perbagai cara yang diuraikan dalam teks-teks China untuk dapat mengenali teknik kuno di Jawa tersebut.

Dilihat dari sejarah, produksi garam di Indonesia sebelum dikembangkannya pembuatan garam secara modern oleh Pemerintah Kolonial pada abad ke-19, hampir seluruhnya dikuasai orang Tionghoa. Pemerintah Kolonial lalu mengambil alih tambak-tambak garam besar yang terdapat di sekitar Gresik dan Sumenep (Madura) di Jawa Timur.

Penggarapan tambak garam inilah merupakan salah satu hal yang menyebabkan pulau Madura memiliki nilai ekonomi yang lebih besar sebagai pemasok utama garam ke wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda di Nusantara (Ricklefs 2005:286). Namun menurut Daghregister dari Batavia pada 1648, 1661, 1663 tidak disebutkan garam dalam daftar hasil yang diekspor. Yang disebutkan justru hanya beras, sayur-sayuran dan bumbu serta barang anyaman, minyak dan cita Jawa (batik). Sehingga dapat disimpulkan garam belumlah dapat dikatakan sebagai sumber penghasilan yang tertua bagi Madura (Lombard II 2000: 411).

Dalam perdagangan bahan makanan di perairan Asia Tenggara, Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan daerah pengekspor terbesar. Selama dua bulan di tahun 1642, dua belas perahu orang Jawa sampai ke Aceh. Muatan utama perahu-perahu itu terutama adalah bahan makanan “garam, gula, buncis, kacang-kacangan dan bahan-bahan makanan lainnya”, demikian tulis Pieter Willemsz dalam Atchins Daghregister 1642 (Reid 1992:37).

Di Aceh, dimana emas dipakai sebagai alat tukar orang Aceh menukarnya kepada orang-orang yang mereka kenal baik, di daerah Minangkabau dengan beras, senjata dan kain katun. Seperti juga kepada orang Priaman dengan lada, garam, baja dari Masulipatam dan kain dari Surat (Lombard 2006:100)

Karena dianggap menguntungkan maka aturan terhadap garam dianggap perlu juga diterapkan. Peraturan pertama mengenai garam ditemukan dalam Plakaatboek yang berangka tahun 1648. Isinya mengenai orang Cina Conjock yang telah memasang kuali-kuali garamnya (zoutpannen) di sebelah barat Batavia dan memperoleh izin untuk mengekspor hasilnya secara bebas bea. Tetapi dengan syarat mereka dapat memenuhi keperluan Kompeni dan kaum burgher (penduduk kota) dengan harga yang ditetapkan sebesar 8 rial sekali muat. Monopoli itu dikonfirmasikan pada tahun berikutnya dan diterbitkan dalam bahasa Belanda, Portugis, Melayu dan Cina. Namun peraturan itu kemudian dibatalkan tahun 1654 karena kualitas garam yang dipasok pada masa itu menurun sekali. (Lombard II 2000:273)

Dengan kata lain sebelum pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 mengembangkan pembuatan garam secara modern dengan mengambil alih tambak-tambak garam besar di sekitar Gresik dan Sumenep (Madura), produksi garam dikuasai oleh orang Tionghoa.

Di abad 18, Plakaatboek yang sama juga beberapa kali menyebutkan pengusaha garam yaitu orang Tionghoa, dan ketika telah dibangun zoutnegoryen (negeri garam) justru para penduduk sebenarnya dikuasai oleh pemilik tambak garam. Semacam monopoli pembuatan dan perdagangan garam oleh orang Tionghoa. Sistem ini ditegaskan kembali pada masa pemerintahan Daendels (1807-1810) dalam Nederlandsch Indië Plakaatboek XV yang dapat dilihat dalam “Reglement voor de huurders van negorijen en desa’s, aan suikermolens, zoutpannen en de zoogenaamde volgelnest klippen verbonden”.

Sistem tersebut adalah sistem monopoli dimana orang Tionghoa mendapat hak privilege atas garam ini kelak dianggap memalukan bagi Raffles yang memerintah di Hindia Belanda 1811-1816 sehingga ia menghapuskan untuk selamanya sistem itu. Hal itu kemungkinan besar merupakan pukulan keras bagi struktur perekonomian orang Tionghoa. (Lombard II 2000:273)

Tahun 1813, Raffles menyelenggarakan monopoli garam di seluruh daerah kekuasaannya, baik produksi maupun distribusi. Namun, karena kaum buruh garam, terutama di pantai utara Jawa seperti di Banten, Karawang, Cirebon dan Semarang berhasil mensiasati peraturan monopoli itu, maka pada tahun 1870 akhirnya pengusahaan garam dibatasi dengan sewenang-wenang pada Pulau Madura saja. Dengan alasan lebih mudah diawasi.

Pada awalnya pemerintah kolonial hanya membeli garam dari pembuat-pembuatnya dengan harga tetap, lalu mereka membuka perusahaan pada tahun 1918 dan pada akhirnya pada tahun 1936 mengambil alih seluruh produksinya. Sistem yang dipakai masih berlangsung hingga sekarang. Para buruh membawa garam ke gudang. Lalu garam itu dibersihkan dan dibentuk briket sebelum didistribusikan. Garam itu berasal dari tambak garam yang luasnya kini kira-kira 6000 ha, terletak di berbagai tempat di pantai selatan, terutama di sebelah timur daerah Sumenep, 600 ha terletak di pantai Jawa, di sekitar Gresik. Sementara itu produksi tahunan dari waktu ke waktu berubah banyak, rata-rata ditaksir sebesar 50 ton per ha, kira-kira secara keseluruhan sebanyak 300.000 ton. Perusahaan itu mempekerjakan 5000 buruh tetap dan 15.000 buruh musiman (Lombard II 2000:98).

Monopoli pemerintah kolonial tidak hanya di Jawa dan Madura, monopoli meluas ke beberapa distrik di Sumatra dan hampir seluruh Borneo (Kalimantan). Sementara itu di barat daya Sulawesi pembuatan garam masih berada di tangan pihak swasta (Handbook of the Netherlands Indies 1930:121)

Pada jaman Jepang ketika produksi garam di Pulau Jawa berhenti, penduduk Sumatra ramai-ramai merebus air laut untuk mendapatkan garam. Pada 1957 monopoli garam dihapus. Garam negara pun berubah menjadi perusahaan negara pada 1960 (Cribb 2004: 382).

Garam dalam peri(bahasa)
Kisah butiran garam tak berhenti di situ saja. Garam pun masuk dalam peribahasa kita. Sewaktu duduk di sekolah dasar dalam pelajaran bahasa Indonesia, saya mendapat tugas mencari peribahasa, ungkapan yang berhubungan dengan garam. Ternyata banyak sekali ungkapan, peribahasa dalam bahasa Indonesia yang berhubungan dengan garam, yang dalam istilah kimianya dikenal dengan nama Natrium Chlorida (NaCl).

Peribahasa-peribahasa itu antara lain; ‘Banyak makan asam garam’ yang artinya banyak pengalaman hidup, ‘Hidup sebagai asam dengan garam’ yang berarti sudah sesuai benar (lelaki dan perempuan) dan pasti menjadi jodoh, ‘Membuang garam ke laut’ yang artinya melakukan pekerjaan yang tidak ada gunanya, ‘Bagai garam jatuh ke air’ yang berarti nasihat atau saran yang mudah diterima, ‘Sudah seasam segaramnya’ yang artinya sudah baik benar (tidak ada celanya), ‘Garam di laut, asam di gunung bertemu di belanga’ yang berarti lelaki dan perempuan kalau jodoh biarpun terpisah oleh samudera bertemu juga akhirnya, ‘Kelihatan garam kelatnya’ yang berarti kelihatan sifat-sifatnya yang kurang baik. Masih banyak lagi peribahasa dalam bahasa Indonesia yang berhubungan dengan garam (Kamus Besar Bahasa Indonesia 1993:255).

Hal yang menarik dalam bahasa Indonesia atau Melayu, kata ‘garam’ terpisahkan dengan rasa ‘asin. Berbeda dengan bahasa-bahasa lain misalnya Inggris ‘salt’ dengan ‘salty’, Perancis ‘sel’, Spanyol ‘sal’ dengan ‘salado’, Italia ‘sale’, Jerman ‘zalt’, Belanda ‘zout’ selain berarti garam juga mengacu pada rasa ‘asin’.

Pada masa Romawi Kuno, harga garam sangat mahal. Oleh karena mahalnya garam pada masa itu lalu dipakai untuk membayar gaji para pekerja dan prajurit dengan salarium (garam). Istilah salarium (Latin) yang maksudnya ‘garam’ itu dipakai untuk gaji yang kemudian diambil dalam bahasa Inggris salary. Lucunya garam dalam bahasa Inggris kuno adalah ‘sealt’. Bila kita hilangkan dua huruf terakhir –lt, kita akan dapatkan kata ‘sea’ yang artinya laut. Mungkin juga maksudnya begitu karena air laut rasanya asin dan garam berasal dari laut.

Garam pengusir roh jahat

Seperti yang tadi disebutkan sebelumnya ada berbagai garam yang kita kenal. Garam dapur yang butirannya lebih halus, garam bata yaitu garam yang berbentuk bata serta garam kasar. Biasanya garam dapur ditambahi unsur iodium yang diperlukan tubuh kita. Karena bila kekurangan zat tersebut dapat mengakibatkan penyakit gondok. Tak heran jika pemerintah mencanangkan suatu program “Garam beryodium” yang dipromosikan dengan gencar. Tapi bagi mereka yang mengidap penyakit darah tinggi, mereka justru diminta mengurangi konsumsi garam. Kalau tidak tekanan darah bisa melonjak.

Garam juga turut berperan dalam industri. Penangkapan ikan misalnya menggunakan garam yang dibubuhi pada es batu supaya es tersebut lebih tahan lama. Begitupula pembuatan ikan asin (ikan kering) yang memanfaatkan garam.

Dalam sebuah buku catatan perjalanan seorang turis Belanda, Augusta de Wit disebutkan manfaat garam yang mampu mengusir rasa pedas sambal yang menyengat. Ia menceritakan pengalamannya ketika pertama kali mencicipi sambal:

“Saya tak mampu melukiskan apa yang terjadi. Saya hanya dapat mengatakan bahwa saya sangat menderita sekali. Bibirku gemetar karena pedasnya sambal, leher terasa terbakar dan semakin parah ketika harus meneguk segelas air” (Wit 1905: 20). Untunglah ada seorang pengunjung yang kasihan dan menyarankan agar ia menaruh sedikit garam di lidah. Ia pun menuruti nasihat itu dan tak lama kemudian siksaan itu berakhir. Sambil terengah-engah, ia bersyukur ia masih hidup. Ia pun bersumpah tidak mau mencoba rijsttafel lagi. Namun, ternyata ia melanggar sumpahnya tersebut (Wit 1905: 20).

Tidak hanya itu, menurut kepercayaan, garam dianggap dapat mengusir roh jahat, tamu yang tidak dikehendaki hingga ular. Caranya dengan menaburkan garam (garam krosok, garam butirannya lebih kasar dibanding garam meja) di sudut-sudut dalam rumah dan di halaman rumah. Ternyata itu tidak hanya berlaku di Nusantara. Di Amerika yang konon masyarakatnya lebih rasional juga percaya hal seperti ini. Contoh menarik untuk hal ini, bisa kita saksikan serial televisi Supernatural, kisah petualangan dua bersaudara Dean dan Sam Winchester yang memburu roh jahat yang membunuh ibu mereka. Selain bersenjata api (yang telah disucikan), mereka juga melengkapi dirinya dengan garam. Percaya atau tidak, saya sendiri pun pernah mencobanya dan dengan izin Allah terbukti berhasil. Wallahu alam

Di luar Jawa, seperti Sulawesi Selatan, tambak-tambak garam dapat kita temui di sepanjang pantai di jalan menuju Tanjung Bira. Tepatnya di daerah Jeneponto yang memang kadar curah hujannya sangat kurang. Garam menjadi komoditas utama daerah tersebut. Tetapi tetap saja daerah itu dikategorikan daerah minus karena harga garam yang begitu rendah. Seperti cerita seorang dokter di Makassar yang suatu ketika bertugas di daerah itu. Usai bertugas, ia mendapatkan oleh-oleh kurang lebih lima karung plastik berukuran berat 60 kg. Awalnya, ia mengira karung-karung itu berisi, beras atau jagung. Dengan senang hati diterimanya oleh-oleh itu dan dimasukkan ke dalam mobilnya. Sesampainya di Makassar, ia berniat ingin membagi oleh-oleh itu pada para tetangganya. Dibukanya karung-karung itu, ternyata karung-karung itu berisi garam yang masih kasar. Pengalaman dirinya mengingatkan pada masa Romawi ketika para pekerja dan prajurit diberi upah dengan garam (salarum).

Garam pun dianggap membawa keberuntungan. Meski tidak secara langsung karena yang diambil adalah ‘gudangnya’ yang kemudian diabadikan menjadi sebuah merek. Di Indonesia, para pecandu rokok (khususnya kretek) tentu akan ingat merek ini: Gudang Garam. Gudang garam merupakan salah satu pabrik rokok terbesar di Indonesia. Didirikan oleh Tjoa Ing Hwie (Surya Wonowidjojo) yang sebelumnya bekerja untuk pamannya di pabrik rokok Cap 93, salah satu pabrik rokok terkenal di Jawa Timur. Pada tahun 1956, ia meninggalkan Cap 93 dan memproduksi sendiri kretek dari klobot di bawah nama merek Inghwie. Dua tahun kemudian ia mengganti perusahaannya menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam. Terbukti merek ini menjadikan perusahaan ini salah satu perusahaan rokok terbesar (www.gudanggaramtbk.com)

Anda ingat Roger Moore, pemeran James Bond, agen 007? Pada 2001 ia pernah datang ke Indonesia khusus sebagai duta khusus PBB untuk Unicef. Di Indonesia “Mr. Bond” ini mempromosikan garam beriodium.

Garam dan politik
Garam juga tak seremeh yang kita bayangkan. Peranannya merambah ke dunia politik yang bisa membuat sejarah. Di India, pada 12 Maret 1930, Mahatma Gandhi memimpin sebuah gerakan perlawanan rakyat sipil. Tujuannya adalah memprotes monopoli garam yang diberlakukan pemerintah Inggris di India. Aturan monopoli garam yang ditetapkan Inggris berisi larangan bagi rakyat India untuk mengumpulkan atau menjual garam. Inggris bahkan memaksa rakyat India membeli garam dari Inggris yang telah dikenai bea pajak yang tinggi. Mahatma Gandhi melihat garam sebagai kebutuhan penting bagi bangsa India maka ia memimpin gerakan satyagraha atau perlawanan rakyat sipil tersebut.

Gandhi dan 78 pengikutnya melakukan pawai ke kota Dandi yang terletak di pantai Laut Arab, berjarak 241 mil. Di sepanjang jalan, puluhan ribu rakyat India bergabung dalam pawai itu. Ketika rombongan itu tiba di kota Dandi, mereka memulai gerakan penyulingan garam dari laut. Gerakan ini segera meluas ke seluruh India, termasuk Bombay dan Karachi. Tentara Inggris pun tak tinggal diam, mereka turun tangan menghadapi perlawanan rakyat sipil India dan menahan 60.000 orang, termasuk Gandhi. Namun, gerakan satyagraha itu terus berlangsung hingga kelak Gandhi dibebaskan dan bersedia menghentikan gerakan itu dengan kompensasi akan diselenggarakan konferensi untuk menentukan masa depan India (www.irib.com/world service).

Di Indonesia dikenal istilah ‘politik garam’. Politik garam ini merupakan ajaran Muhammad Hatta (mantan Wakil Presiden RI pertama), Muhammad Natsir dan para tokoh pendiri Indonesia lainnya. Ajaran itu antara lain bahwa politik garam itu lebih sejuk. Dirasakan gurihnya, dirasakan asinnya, tapi tidak menimbulkan gejolak. Menurut Amien Rais itu semacam high politics (politik tingkat tinggi) dan bukan ‘politik gincu’ yang hanya mampu dilakukan oleh mereka yang ahli dan berpengalaman di bidang ini (Koran Tempo, 27 Juni 2004)

Pada masa pemerintah Hindia Belanda terdapat de Opium en Zout regi(ment) (Jawatan Candu dan Garam Negara) yang mengatur produksi dan penjualan garam di Hindia Belanda. Seperti yang dituturkan Soebadio Sastrosatomo, tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang pada usia sepuluh tahun pada 1929 ditinggal ayahnya seorang pegawai Jawatan Garam dan Candu Negara di Sumatra Timur.

Lain halnya dengan Mr. Tan Po Goan yang ketika Aksi Militer I (1947) dirawat di CBZ (RS Cipto Mangunkusumo) setelah kendaraannya menabrak truk militer Belanda. Sekeluarnya dari rumah sakit ia segera mencari pekerjaan. Tetapi ia tak mau menjadi advokat karena harus mengucapkan sumpah setia kepada Ratu Belanda. Ia lebih memilih menjadi wiraswastawan dengan memiliki dua truk angkutan. Truknya menyusuri Tegal –Purwokerto untuk mengangkut garam dan kemenyan, lalu sekembalinya membawa gula Jawa (Intisari, Agustus 2001)

Tetapi dari semua itu yang paling mengenaskan adalah nasib para petani garam. Nasib petani garam kita juga semakin ‘asin’ dan memprihatinkan karena terus merosotnya harga garam. Ditambah lagi dengan dibukanya kebijakan impor garam oleh pemerintah. Dapat kita bayangkan, hingga November 2006 impor garam yang tercatat mencapai 1,16 juta ton. Ketika itu garam petani di Cirebon dihargai Rp. 50 per kg sedangkan harga garam impor asal Australia mencapai 40 dolar AS per ton (Pikiran Rakyat 8 Desember 2006).

Di lain sisi impor garam memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan garam karena produksi garam nasional hanya 1,3 juta ton- 1,4 juta ton, sedangkan tingkat kebutuhan baik untuk konsumsi maupun industri mencapai 2,3 juta ton per tahun. Namun, masalahnya jumlah garam impor di lapangan melebihi catatan yang resmi. Belum lagi permainan harga yang ditengarai hanya “komoditas politik” pihak tertentu.

Penutup
Garam memang tidak seremeh yang kita bayangkan. Jika kekurangan, apalagi yang mengandung yodium, kita bisa menderita penyakit gondok. Jika terlalu berlebihan, maka cukup berbahaya karena dapat memicu tekanan darah menjadi tinggi. Tanpa garam para penikmat ikan asin tak bisa menikmati ikan asin (ikan kering). Di samping itu harga garam yang tak seberapa, membuat para petani garam kebingungan. Bahkan dipolitisasi oleh para penguasa di masa lalu. Bagaimanapun juga, kita membutuhkan garam karena makan sayur pun jika kurang garam, terasa hambar dan tidak enak.

Disajikan dalam Seminar Kuliner Bangsa-Bangsa dengan tema Makanan dan Identitas Budaya, Departemen Kewilayahan FIB UI Depok 6 Desember 2007

Pengusaha Perintis Ajer Belanda

Beberapa waktu yang lalu kita dihebohkan dengan berita mengenai air mineral dalam kemasan yang mengandung zat-zat tertentu. Air memang bukan sekedar pelepas dahaga, terutama air mineral. Air, khususnya untuk minum seharusnya tak boleh tercemar. Namun, melihat kondisi alam kita sekarang dan perlakuan kita terhadap alam bukan mustahil sumber-sumber mata air akan musnah. Akanlah menakutkan jika kelak air menjadi barang langka.

Sejarah air dalam kemasan di negara kita sangat menarik untuk dikupas. Kita tentu teringat pada satu nama produk yaitu Aqua yang menjadi pelopor air dalam kemasan botol (kaca). Saat ini air sudah dikemas dalam kemasan botol dan gelas plastik dalam berbagai ukuran. Menariknya lagi, jika kita ingin membeli air dalam kemasan, kita pasti akan menyebutnya Aqua, bukan merek yang tercantum. Padahal sudah banyak sekali merek air minuman kemasan di pasaran.

Jika kita telusuri ke belakang ternyata air kemasan di Indonesia (Hindia Belanda) sudah ada sejak masa kolonial. Adalah Hendrik Freerk Tillema sebagai pelopor air minuman kemasan di Hindia.

Hendrik Freerk Tillema dilahirkan di desa Echten di tepi danau Tjeuke. Echten adalah sebuah desa di Friesland, Belanda. Ia lahir 5 Juli 1870. Ayahnya, Sikke Tillema adalah seorang kepala sekolah. Ketika Hendrik berusia tujuh tahun, ibunya meninggal. Maka ayahnyalah yang menjadi panutannya.

Ia terpaksa tinggal dengan familinya di Heerenveen tempat ia menyelesaikan HBSnya pada tahun 1888. Setelah lulus ia pun kembali ke rumah. Ketertarikannya pada ilmu pengetahuan alam membuatnya rela berjalan 16 km hanya untuk mengikuti pelajaran ilmu alam di hari Minggu di Heerenveen. Karena kekurangan tenaga dokter dan apoteker, maka pemerintah pada 1889 membuka pendidikan persiapan di bidang tersebut. Tillema pun lulus ujian masuk Universiteit van Leiden tempat ia belajar menjadi apoteker. Selama dua tahun ia belajar di Leiden namun ia merasa tidak betah. Sejak 1891 ia pindah ke Groningen dan tiga tahun kemudian ia menyelesaikan pendidikan apotekernya. Ia pun bekerja di sebuah apotik di Bolsward.

Pada 1896 di usia 25 ia berangkat ke Hindia Timur. Ayahnya membukukan surat-surat Hendrik yang dikirimkan ke ayahnya dalam Mijn reis naar Semarang. Di Semarang ia bekerja di ‘ Samarangsche-Apotheek milik firma R. Klaasesz en Co. Menurut kontrak ia mendapat gaji 200 gulden per bulan pada tahun pertama, 300 gulden pada tahun kedua lalu 400 gulden. Setelah tahun ketiga, ia diangkat menjadi rekanan di perusahaan itu. Pada tahun 1899 ia dapat membeli perusahaan itu. Ia tetap mempertahankan nama Klaasesz en Co. Dalam usia belum genap 30 ia menjadi satu-satunya pemilik dan pemimpin di perusahaan itu.

Pekerjaan apoteker, seperti menimbang dan mempersiapkan bahan-bahan kimia bukanlah hal yang mengejutkan baginya. Sehingga sepertinya ia tidak merasa puas. Pada tahun pertama sebagai bos, ia berupaya mencari hal baru. Ketika ia membaca het Pharmaceutisch Weekblad , ia mendapati tulisan yang menyebutkan bahwa selama setahun jutaan botol minuman soda diimpor ke Jawa. Otak bisnisnya bekerja: kalau ia mampu menjual seratus ribu botol saja!

Samarangsche-Apotheek memiliki anak perusahaan yang membuat air dalam botol yang dalam beberapa tahun kemudian membangunnya menjadi pabrik hipermodern minuman soda. Tillema begitu memperhatikan higienis. Ia tahu bahwa air minum murni merupakan persyaratan bagi kesehatan. Pada mulanya ia tidak berhasil mencampurkan gas oksigen dalam air hingga ia teringat pada pelajaran di kelas 2 HBS mengenai hukum alam: Garam dapat larut dengan cepat dalam air hangat sedangkan gas dalam air dingin. Awalnya ia mendatangkan batu es tetapi itu terlalu mahal. Maka akhirnya ia memesan berton-ton air bersuhu 5 derajat celcius dari pabrik es. Tafelwater ( air minuman meja) nya semakin nikmat. Ia pun tetap bereksperimen dan mempelajari hal-hal baru.

Tahun 1901 ia membangun bangunan pabrik pertama di Hindia dengan beton tempat para buruh memurnikan dan mengisi air dalam botol di atas ban berjalan. Ayer blanda ( blank water) dari firma Klaasesz en Co memiliki etiket yang menarik perhatian di botolnya, kucing hitam dengan ekor yang melambai melompati huruf-huruf merk HygeiaHygeia ( atau sebenarnya Hygieia) merupakan anak perempuan dari Asklepios , dewa Yunani pelindung kesehatan.

Pada tahun 1901 ia berhasil menjual 500.000 botol Hygeia. Awal bulan Desember pada tahun yang sama ia menikahi Anna Sophia Weehuizen, seorang guru yang berusia 24 tahun. Anna lahir dan besar di Jawa, dari sebuah keluarga dengan sepuluh anak. Ayahnya meninggal dalam usia muda. Namun di bawah didikan ibunya, ia menjadi salah seorang dari anak-anak perempuan di Jawa yang meneruskan pendidikan HBS. Kelak setelah menikah ia menjadi pembaca dan pengoreksi banyak publikasi suaminya. Sepuluh bulan setelah perkawinan mereka, Anna melahirkan anak pertama. Dua tahun kemudian anak kedua lahir. Tillema sangat suka dikelilingi keluarganya. Maka ia mengajak anggota keluarga istrinya ikut bekerja di perusahaannya.

Ia mempelajari metode reklame Perancis dan proses produksi Amerika untuk memajukan usaha pabrik sodanya. Dengan segera ia membangun instalasi mesin pendingin sendiri. Ia juga mendatangkan bermacam-macam minuman (tafelwater) dari Eropa ke Hindia untuk menjual dan membandingkannya dengan produk buatannya. Ia juga mengembangkan usahanya dengan ikut mengimpor minuman ringan (tafelwater), anggur dan wiski.

Di Amerika yang sejak tahun 1890-an berhasil dengan minuman Coca-Cola serta diikuti iklan yang baik. Tillema pun menggunakan cara yang sama. Ia membagikan asbak -asbak yang bermerek minuman limunnya. Di atas perempatan paling sibuk di Semarang ia menggantungkan papan reklame yang cukup menarik perhatian. Foto-foto dari jalan-jalan tempat ia memasang iklan dijadikannya kartu pos dan dibagikan secara gratis dengan menggunakan kalimat: Limun Hygeia memang luar biasa!  Ketika dewan kota memintanya mencabut semua reklamenya, Tillema sadar untuk menggunakan biaya reklame dengan cara menggunakan publisitas secara gratis yang dapat menjangkau massa yang lebih luas. Ia berupaya menguasai Semarang dengan menggunakan balon udara bertuliskan merek Hygeia yang melayang di atas kota Semarang.

Pada tahun 1909-1910 ia membangun sebuah pabrik baru dengan 80 tenaga kerja yang memproduksi 10.000 botol Hygeia perhari. Untuk mendukung kegiatan ‘eksperimen’ nya, ia membeli 2 miligram radium, tidak lama setelah ditemukan oleh  pasangan Currie. Orang-orang di seluruh Semarang datang menyaksikan.

 

Produk-produk Tillema hanya dibeli oleh orang Eropa. Seperti yang tulis di tahun-tahun awal: ‘ Ketika seorang importir dari minuman (tafelwater) Eropa mulai merasa disaingi, pengusaha itu mempengaruhi publik bahwa pabrik minuman saya tidak baik. Saya menulis brosur kecil dan mengirimkannya secara tercatat kepada ribuan orang di Jawa. Orang-orang yang belum pernah menerima surat tercatat datang ke kantornya. Pada hari itu sekurang-kurangnya ribuan makian saya terima. Tetapi tujuannya tercapai. Ia mengirim foto-foto pabrik modern miliknya yang begitu bersih seperti ruangan operasi rumah sakit’. Bagi sekelompok pelanggan ia mengajak mereka meninjau keliling pabrik.

Tillema suka sekali mengunakan foto-foto yang pada awal abad merupakan sebuah medium baru di awal abad ke-20. Maka ia membuat sebuah buku berisi foto-foto wajah kota Semarang. Di belakang bukunya ia memasang merek Hygeia dan di pinggirnya daftar harga anggur dan wisky. Setahun ia menghabiskan dana untuk reklame sebesar 50.000 gulden dan dengan segera ia menikmati hasilnya. Dana besar yang ia keluarkan untuk reklamenya pun menjadi bahan pembicaraan sendiri. Ia berupaya membangun citra dirinya: Tillema, apoteker yang dapat dipercaya dan bagi mereka yang percaya pada kemurnian. Ia pun membuat brosur dengan foto-foto dirinya dalam berbagai pose yang memperlihatkan bagaimana cara terbaik menuang sebotol Hygeia. Foto-foto itu disertai teks: Ajarilah para pembantu Anda bagaimana mereka harus menuang Hygeia sehingga tidak banyak air bersoda yang terbuang.’

Minuman Hygeia baik limun bergas dan air mineral sangat populer di seluruh Hindia. Botol-botol dengan tutup dari porselen berlapis karet berharga 25 sen gulden. Enam botol kosong dengan 75 sen dapat ditukar dengan enam botol yang penuh. Precis seperti botol-botol minuman sekarang sebotol Hygeia pada masa itu disegel dengan sehelai kertas.

Dalam beberapa tahun Tillema menjadi sangat makmur. Pabrik minuman ringannya memberikan keuntungan negeri jajahan yang berasal dari air paling murni. Ia pun menikmati kekayaaannya dengan segera. Ia merupakan salah satu dari orang-orang yang mendatangkan sebuah mobil (dari Jerman) ke Semarang. Sejak didirikannya ia sangat antusias menjadi anggota de Semarangsche Auto Club.

Pada 30 November 1909 ia menjadi berbagai anggota komisi dewan kotapraja Semarang yang masih baru. Baru pada 1910 ia menjadi anggota dewan kota praja. Pertengahan tahun 1911 Tillema mengikuti lagi pemilu dan salah satu semboyannya adalah: Enyahlah Malaria karena itu pilihlah Tillema

Sambal Setan

Kebanyakan lidah orang Indonesia menganggap makan tanpa sambal terasa belum lengkap. Hampir semua masakan Nusantara selalu diiringi dengan sambal. Bahkan di Menado, pisang goreng pun dimakan dengan sambal. Kalau pun sambal tak tersedia di meja, beberapa potong gerusan cabai merah atau beberapa potong cabai rawit dicepluskan ke mulut sebagai teman makan.

Perkara kebiasaan makan sambal ini terbawa sampai di luar negeri. Alasannya, masakan yang disantap terasa hambar, belum pedas. Apalagi bila ada sambal yang tersedia pun tidak sepedas sambal dari tanah air. Maklum saja lidah dan perut orang asing berbeda dengan kita. Oleh karena itu sambal botolan menjadi pilihan untuk dibawa. Untungnya ada sambal botolan. Coba bila harus mengulek sendiri dengan membawa serta cobek batunya. Bayangkan berapa berat bagasi yang harus dibawa.

Mengapa sambal begitu populer di Nusantara dan nyaris menjadi makanan utama, bukan sekedar pelengkap? Hal ini dikarenakan seni kuliner Nusantara bersifat koud eten (hidangan dingin). Sehingga cabai menjadi hal penting dalam setiap masakan. Rasa pedas cabe tidak hanya memberikan rasa yang menggugah selera tetapi juga memiliki fungsi sebagai pengganti temperatur panas.

Jacob de Bondt alias Bontius, dokter VOC yang juga dokter pribadi Jan Pieterszoon Coen pernah menyebut adanya Ricino Brasiliensi atau lada Chili vocato. Menurutnya ini adalah lombok, cabai merah atau yang dikenal sebagai cabai Brazil. Orang Brazil sendiri menyebutnya Chili lada. Sementara itu ada yang berpendapat bahwa asal kata nama ricino dari recche atau reche berasal dari bahasa Portugis. Kata ini mengingatkan kita pada kata rica yang juga mengacu pada cabai atau lombok. Tentu kita ingat ‘rica-rica’, masakan khas Menado. Namun, kata reche menurut pendeta P.J Veth tidak ditemui dalam kamus Portugis. Veth berpendapat bahwa yang disebut  Spaanse peper, cabai Spanyol adalah Capsicum alias cabai Brazil. Pendapatnya ini juga menolak anggapan bila cabai dibawa oleh orang Portugis dari West Indien/Hindia Barat (Amerika Tengah dan Selatan) ke Hindia Timur pada penghujung abad ke-16.

Pendapat Veth beralasan bahwa cabai pun telah ada sebelumnya. Seperti yang diungkapkan oleh arkeolog Titi Surti Nastiti bahwa cabai pada masa Jawa Kuno telah menjadi komoditas perdagangan yang langsung dijual. Bahkan menurut Nastiti dalam teks Ramayana dari abad ke-10, cabai juga sudah disebut sebagai salah satu contoh jenis makanan pangan.

Namun, setidaknya kata reche atau ritsjes pernah populer pada 1669 yang dapat diketahui dari syair Van Overbeeke di Batavia:
Soya, Gengber, Loock en Ritsjes
Maeckt de maegh wel scharp en spitsjes
”.
(Kedelai, jahe, bawang putih dan cabai
Membuat perut melilit karena pedas dan diaduk-aduk)

Pendeta Valentijn pun menyebutkan ada tiga jenis cabai merah. Yaitu cabai merah besar, cabai merah kecil dan cabai kecil yang berwarna kekuningan.

Hal yang mengerikan sehubungan dengan cabai ini adalah sebagai alat untuk menghukum para kuli kontrak perempuan di Sumatra pada akhir abad ke-19 yang dianggap menentang perintah. Jan Breman dalam Koelies, planters en koloniale politiek, Het arbeidregime op de grootlandbouwondernemingan aan Sumatra’s Oostkust in het begin van de twintigste eeuw (1992) menuliskan bahwa para kuli perempuan itu diikat di tonggak berposisi salib , lalu kemaluan mereka digosok dengan cabai.

Sebaliknya para budak pada masa VOC yang mahir membuat sambal mendapatkan tempat ‘khusus’ karena disenangi para majikannya. Bisa jadi ‘harga pasaran’ mereka menjadi cukup tinggi.

Sementara itu dalam turisme, sambal pun mendapat catatan tersendiri. Dalam beberapa buku panduan turisme dituliskan peringatan kepada para calon turis untuk “berhati-hati” dalam mengkonsumsi sambal yang pedas karena ini berurusan dengan kesehatan perut. Tentu tidak akan mengesankan bila liburan terganggu karena masuk rumah sakit gara-gara menikmati sesendok sambal.

Namun, tetap saja ada juga turis yang tetap nekat ingin mencicipi. Seperti pengalaman dari Justus van Maurik, pengusaha cerutu asal Amsterdam yang mengunjungi Batavia akhir abad ke-19.  Ia menuturkan: “ Salah satu dari hidangan dalam rijsttafel yang menarik perhatian saya adalah Spaanse peper (lada Spanyol/cabai rawit). Suatu kali saya pernah melihat seorang nona muda dengan pipinya yang kemerahan menikmati lada spanyol seperti menikmati permen bon-bon. Matanya tidak berair. Rasanya, saya tak akan bisa menikmati hidangan itu seperti dirinya karena saya pernah merasakan pedasnya Lombok setan itu. Mulut saya terbuka dan mata sepertinya mau keluar karena rasa panas dan pedas. Rasanya mau meledak. Ini semua gara-gara rasa penasaran dan bisikan pelayan yang menawari saya sambil berbisik: Sambal, toewan?”

Demikian pula pengalaman jurnalis perempuan yang juga seorang guru, Augusta de Wit yang juga mengunjungi Batavia. Pengalamannya yang tak akan terlupakan adalah ketika ia untuk pertama kali mencicipi sambal. Bibirnya langsung gemetar kepedasan. Leher terasa panas seperti terbakar sehingga harus diguyur air. Sementara itu air mata bercucuran. Untunglah ada seorang pengunjung yang kasihan dan menyarankan agar ia menaruh sedikit garam di lidah. Ia pun menuruti nasihat itu dan tak lama kemudian siksaan itu berakhir. Sambil terengah-engah, ia bersyukur ia masih hidup. Ia pun bersumpah tidak mau mencoba rijsttafel lagi. Namun, ternyata ia melanggar sumpahnya tersebut. Ia malah suka dan terbiasa dengan hidangan pedas itu.

Louis Couperus dalam Oostwaarts (1992, 1924)  mengingatkan para turis yang belum pernah mencicipi dasyhatnya sambal oelek untuk berhati-hati. “Sebaiknya,” tulis Couperus, “…sambal itu jangan dicampur di nasi, tetapi letakkan di pinggir piring.” Lalu “Setiap suap nasi yang diiringi daging ayam, sapi atau ikan dicocolkan sedikit sambal.”

Memang selain garam, sebagai cara menghilangkan rasa pedas membakar di mulut, dianjurkan meneguk susu, yoghurt. Jangan minum air apalagi air es. Bergelas-gelas air tak akan mampu memadamkan panasnya cabai. Selain susu, bisa juga dengan mengunyah roti, kerupuk, nasi tapi tentunya jangan dicocolkan ke sambal lagi.

Dalam buku resep lama, Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek karya J.M.J Catenius van der Meijden (1903) yang juga buku pegangan wajib para perempuan Belanda sebelum datang ke Hindia, tercantum resep “Sambal Bajak”. Sambal ini berpenampilan kasar, persis sawah yang baru dibajak. Atau “Sambal Serdadu”, sambal terasi yang khusus disiapkan untuk bekal para serdadu pada saat ekspedisi atau bertempur. Bahkan pada masa itu, para keluarga Indo ada yang gemar mengoleskan sambal sebagai beleg (isi roti) di atas rotinya. Hmm lekker, zeg !(Hmm lezat!)

Ketika berkunjung ke Belanda untuk pertama kali, saya yang lumayan doyan sambal disuguhi “Sambal Setan”. Terbayang di benak saya, rasa pedas yang luar biasa. Namun, kekecewaanlah yang saya terima. Sambal Setan tidak “se-setan” dan seseram namanya karena minus rasa pedas. Rasanya hanya agak asin manis. Oleh karena itu pada kesempatan berikutnya ketika studi di Belanda, saya membawa beraneka ragam sambal botolan. Terbayarlah dendam lama saya pada Sambal Setan itu.

Kastengel

Hari raya Idulfitri alias Lebaran sudah di ambang pintu. Semua umat Islam yang merayakannya tentu akan suka cita menyambutnya. Pun persiapan menyambut hari raya ini tentu sudah sejak jauh-jauh hari. Salah satu persiapan menyambut hari raya Lebaran adalah hidangan aneka macam kue yang disajikan untuk para tamu. Mulai dari kue ‘tradisional’ hingga ‘modern’ tersaji di meja tamu.

Di antara hidangan kue-kue itu ada dua macam kue kering yang sepertinya tak pernah absen yaitu kastengel dan nastar. Entah kapan kue-kue kering ini muncul pertama kali tapi sejak saya kecil, sekitar 30 tahun lalu kue-kue kering ini selalu tersedia. Bahkan saya yakin kue-kue tersebut sudah ada jauh sebelumnya. Zaman voor de oorlog alias Tempo Doeloe.

Kastengel adalah sejenis kue kering yang dipanggang di oven. Bentuknya sebesar jari kita dengan panjang sekitar 5 centimeter. Adonannya mirip dengan adonan nastar. Bedanya, adonan kastengel menggunakan keju dan akan lebih enak jika kita menggunakan keju (tua) dari Belanda. Kalau bisa keju Edam atau Gouda yang tua dan berbentuk seperti bola bowling dengan lapisan lilin merah. Rasanya, pahit-pahit gurih dan sulit dijelaskanlah. Sedangkan nastar menggunakan nanas sebagai isinya.

Sepuluh tahun lalu, seminggu sebelum Lebaran, kami sekeluarga masih sibuk membuat dua jenis kue kering ini. Namun, keju yang dipakai cukup keju lokal saja. Kalaupun menggunakan keju Belanda, itu pun hanya beberapa bongkah kecil saja. Sekarang ini, lantaran sibuk dan tidak ingin berpayah-payah, kami tinggal membeli saja. Meskipun tahu kastengel yang kami beli tak lagi berunsur keju karena terlalu banyak margarinenya.

Beberapa hari lalu, istri saya membeli beberapa kue kering, salah satunya kastengel itu. Namun, pada toples plastiknya ada yang mencantumkan castangels. Tidak hanya itu, ketika saya berjalan-jalan di sebuah supermarket saya melihat kastengel tapi dengan nama-nama, seperti castengel, chasstengel, dan khastengel.

Istri saya tentu tak peduli dengan berbagai nama alias dari kastengel itu. Ia hanya tahu bahwa itu kue dengan rasa keju titik. “Betul!,” kata saya tak mau kalah. Nah, kastengel memang kue kering dengan rasa keju karena jika kita telusuri asal- usul namanya akan kita temukan: kata kaas dan stengels yang berasal dari bahasa Belanda. Kaas berarti keju dan stengels berarti batangan. Oleh karena itu disebut kaasstengels atau batangan keju dan sekarang dikenal dengan kastengel.

Di Belanda, kue kaasstengels ini tidak sependek di Indonesia tapi panjangnya mirip mistar, sekitar 30 centimeter. Kue ini sangat digemari anak-anak karena rasanya yang gurih. Misalnya saja Melati dan Adinda, anak-anak sobat saya Dian di Haarlem, Belanda yang gemar mengudap kaastengel ini.

Kalau kita iseng menelusuri sejarah kuliner Indonesia, saya menduga resep kue ini dibawa oleh nyonya-nyonya Belanda di masa kolonial Hindia Belanda. Begitu masuk ke sini, lantaran oven yang ada tidak terlalu besar, maka kue dipotong kecil-kecil. Beradaptasi dengan peralatan di sini.

Begitupula dengan nastar yang ternyata juga berasal dari bahasa Belanda ananas dan taart. Ananas berarti nanas dan taart berarti kue tar. Jika digabung akan menjadi ananastaart, tar nanas. Tetapi kue tar nanas ini lebih mirip kue pai. Untuk kue nastar ini mungkin sudah diadaptasi dengan buah-buahan lokal di sini karena di Belanda nanas tidak tumbuh. Mungkin saja para nyonya Belanda mengadaptasi dari pai apel di sana.

Lebaran sudah dekat tapi toples berisi kastengel dan nastar tinggal separuh. Rupanya sambil bercerita tentang kue-kue ini, mulut terus saja berganti-ganti mengunyah kastengel dan nastar. Jangan takut, masih ada kue satu, kue sagu, kue sagon, kue semprong, kue semprit, rengginang, emping melinjo, dodol, geplak dan tape uli kiriman dari para tetangga. Selamat Idulfitri. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Geef mij maar een nasi goreng!

 

 

 

Kalau Anda mengunjungi restoran Asia di luar negeri, hidangan yang satu ini tak pernah absen. Tengoklah, daftar menunya pastilah nasi goreng menjadi andalan. Tentu saja ada perbedaan mencolok seperti dari segi harga dan cita rasanya.

Nasi goreng atau Hanzi merupakan komponen penting dari kuliner Tionghoa. Menurut catatan sejarah, nasi goreng ini sudah ada sejak 4000 Sebelum Masehi. Nasi goreng ini berasal dari daratan China yang kemudian tersebar ke Asia Tenggara, dibawa oleh para perantau Tionghoa yang menetap di sana. Mereka ini yang juga sering disebut peranakan “menciptakan” nasi goreng khas lokal, berdasarkan atas perbedaan bumbu dan cara menggoreng.


Nasi goreng sebenarnya muncul dari beberapa sifat dalam kebudayaan Tionghoa yang tidak suka mencicipi makanan dingin, apalagi membuang sisa makanan beberapa hari sebelumnya. Oleh karena itu nasi dingin sisa kemudian digoreng untuk dihidangkan kembali di meja makan.


Bumbu standar nasi goreng ini terdiri dari nasi, minyak goreng , kecap manis, kecap asin. Nasi goreng yang sekarang mendapat tambahan bumbu lain seperti bawang merah, bawang putih, cabe merah, garam. Tentu saja rasanya mampu menggoyang lidah.
Khusus untuk bumbu kecap, itu merupakan penyesuaian orang Tionghoa ketika berada di Jawa. Sebenarnya kecap atau kie tjap terbuat dari sari ikan yang difermentasikan. Ketika mereka tinggal di Jawa, mereka menemukan bahwa kedelai lebih murah dibandingkan ikan. Maka bahan baku kie tjap pun diganti dengan kedelai. Akibatnya, kie tjap tak lagi memiliki cita rasa ikan tetapi hanya terasa manis, seperti kecap manis yang kita ketahui sekarang.

 

Nasi goreng bisa dinikmati untuk sarapan, makan siang atau makan malam. Namun, biasanya lebih nikmat disantap untuk makan malam. Kita bisa menikmatinya mulai di penjual yang menggunakan gerobak, warung kaki lima hingga restoran hotel berbintang. Jelas cukup bervariasi, mulai dari yang menggunung di atas piring hingga seuprit (sedikit) malu-malu penuh hiasan. Sudah begitu harganya bisa sepuluh kali lipat dari nasi goreng kaki lima. Tentu saja, di restoran hotel berbintang tujuannya bukan untuk makan kenyang. Setelah beberapa sendok, habis disantap. Itu pun terkadang tidak licin tandas. Kalau kata teman saya: ”Mana nendang?”. Ini namanya nasi goreng kontekstual. Anda tinggal pilih: mau gengsi atau kenyang?

 

 

Ada berbagai jenis nasi goreng yang saya ketahui. Antara lain nasi goreng ikan asin, nasi goreng jawa yang dibumbui sambal ulek, nasi goreng kambing, nasi goreng putih yang hanya diberi kecap asin, serta nasi goreng petai. Hampir semua jenis nasi goreng tersebut pernah saya cicipi. Bahkan sewaktu berada di Antwerpen, Belgia saya sempat menikmati hidangan yang mirip nasi goreng dengan potongan kecil daging ayam. Namun, warnanya agak pucat bukan kemerah-merahan menantang. Mungkin tepatnya disebut nasi goreng putih. Uniknya, “nasi goreng” itu dihidangkan di atas mangkuk lonjong besar (untuk ukuran saya) bukan di atas piring. Ketika nasi itu berada di hadapan saya, saya berbisik pada Pak Sulas, dosen dari UGM, teman sekamar di Antwerpen: “Lha, pak kalau di Indonesia ini bisa untuk sekeluarga!” . Anehnya perut saya menjadi seperti karung bolong lantaran saya masih kuat menikmati setengah porsi lagi. Mungkin karena ketika itu sudah lebih dari seminggu tidak ketemu nasi. Heegh, Alhamdulillah!


Budayawan terkenal Umar Kayam yang juga penikmat masakan enak pun menulis dalam salah satu kumpulan kolomnya Mangan Ora Mangan Kumpul mengenai “Teori Nasi Goreng”. Resep rahasia beliau yaitu tak menggunakan mentega lokal maupun echte boter uit Holland (mentega asli dari Belanda) melainkan menggunakan minyak jelantah bekas gorengan telor dan teri yang dikocok menjadi satu.

 

Bumbu-bumbu nasi gorengnya: cabe merah, bawah merah, sedikit bawang putih dan potongan terasi Tuban. Bumbu-bumbu itu diulek di atas cobek hingga lumat. Ditambah pula ikan teri dan dendeng gajih Solo yang dipotong kecil-kecil. Sebagai catatan, api yang dipakai untuk menggoreng harus benar ajek besarnya. Ketika sudah panas, masukkan bumbu lalu ikan teri dan dendeng gajih dalam wajan. Sesudah bau campur aduk bumbu itu mulai menggedel (menusuk hidung), air mata mulai berleleran barulah nasi dilempar ke wajan. Untuk finishing touchnya bisa dikecrutkan kecap Juwana hingga merata. Setelah nasi tampak berminyak, merah dan mlekoh angkat wajan dari kompor dan nasi goreng siap dihidangkan. Boleh juga ditambah kepyuran telor dadar dan potongan tomat. Rasanya? Mak nyuus (istilah ini dipopulerkan lagi oleh Mas Bondan Winarno), tutur beliau.

Inti teori nasi goreng ala Umar Kayam: nasi mesti digoreng dengan jelantah dan jangan mentega. Sambalnya diulek dengan terasi. Pokoknya bumbu itu semangkin mbleketek dari dapur sendiri semangkin enak…Nah, nasi goreng Umar Kayam ini dikenal dengan nasi goreng jawa.

 

Perihal nasi goreng juga muncul dalam literatur sastra Indonesia. Misalnya Pramoedya Ananta Toer. Dalam salah satu tetraloginya Bumi Manusia, ia menulis tokoh Minke ketika “dijemput” oleh dua agen polisi dan menumpang kereta kelas satu, ia ditraktir nasi goreng berminyak mengkilat dengan sendok dan garpu. Nasi goreng itu dihias matasapi dan sempalan goreng ayam dalam wadah takir daun pisang. Menurut Minke, hidangan itu terlalu mewah untuk dirinya.

 

Nasi goreng juga muncul dalam karangan Marco Kartodikromo, Student Hijo yang diterbitkan pertama kali sebagai cerita bersambung di surat kabar Sinar Hindia, 1918 dan terbit sebagai buku pada 1919. Dalam karangan itu diceritakan tokoh Betje (baca: Bece), anak perempuan induk semang Hijo di Amsterdam yang gemar makan nasi goreng di warung jawa. Jelaslah, nasi goreng yang dimaksud adalah nasi goreng jawa.

 

Zaman kakek saya ada satu lagu Belanda yang menceritakan tentang nasi goreng. Kalau tidak salah, liriknya seperti ini: “Geef mij maar een nassi goreng en ook gebakken ei. En nog met een kroepoek en een grote glass bier!” (Berilah saya nasi goreng dan juga telur goreng. Tambah lagi krupuk dan segelas besar bir!).

Djongos kassie kartoe makan!’: Kuliner dalam Pariwisata Kolonial di Jawa

Pendahuluan
Dalam pariwisata unsur kuliner (makanan) memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya dengan unsur-unsur lain, seperti obyek, atraksi dan fasilitas. Hal ini dapat kita lihat dalam buku panduan pariwisata. Di sana kita dapat menemukan saran untuk menikmati makanan atau minuman khas setempat.  Namun, selain saran kita juga menemukan larangan-larangan untuk menikmati makanan atau minuman tertentu.

Menariknya, saran dan larangan itu ditemukan dalam buku panduan pariwisata di Indonesia sejak masa kolonial hingga kini. Hal itu jelas penting karena urusan kuliner berhubungan dengan perut dan sekaligus kesehatan.

Dalam persoalan kuliner, pemerintah atau penyelenggara pariwisata pastinya tak akan sembarangan. Tentu bukanlah promosi yang baik bagi pariwisata setempat jika turis yang datang terpaksa terbaring di rumah sakit sebelum penuh menikmati liburan yang menyenangkan dan berkesan. Meski tetap saja ada wisatawan yang mengabaikan peringatan dan larangan itu karena gairah petualangan yang besar.

Kuliner masa kolonial inilah yang akan dibahas dalam tulisan berikut. Sebagai sumber digunakan beberapa pengalaman para turis (tahun 1800-1900-an) yang menuliskan kesan dan catatan mereka mengenai urusan kuliner. Selain itu digunakan pula buku panduan pariwisata masa kolonial (tahun 1920-30-an).

Pengalaman kuliner para wisatawan
Justus van Maurik, seorang wisatawan Belanda atau tepatnya pengusaha cerutu yang menggunakan waktunya untuk berwisata mengungkapkan pengalaman kulinernya di Jawa pada 1800-an dalam Indrukken van een totok (1897). Ia menceritakan para penjual makanan di warung pinggir jalan yang menjual nasi, sayur dan gebakken vischjes (ikan goreng) dibungkus pisang-bladeren (daun pisang). Selain itu ia menceritakan juga seorang Tionghoa, penjual makanan keliling lezat dengan menggunakan pikulan. Makanan yang dijajakannya disebut kimlo atau sop tjina. Makanan itu disajikan dengan mangkok dan sendok porselen berwarna biru yang dinikmati oleh para pembeli sambil jongkok dengan uang beberapa sen saja.

Sementara itu di perkampungan orang Tionghoa dijumpai bermacam-macam warung kecil namun cukup lengkap. Mereka menjual berbagai hidangan seperti nasi, ikan goreng dan asap, dendeng, sambal, kopi, buah-buahan, kembang gula (buatan pabrik orang Tionghoa), aneka macam kue, rokok, rokok lintingan sendiri, kelapa, cabe, bermacam-macam pisang dan tentu saja minuman tuak. Yang menarik perhatian Maurik adalah bermacam-macam minuman sirup rasa buah-buahan dalam botol. Maurik berpendapat orang Tionghoa adalah peniru terbaik untuk minuman-minuman Eropa. Situasi dalam warung itu pun tak luput dari komentarnya. Ia menulis:

‘namun kita juga dapat menjumpai warung-warung yang di dalamnya terdapat kamar makan. Terdiri dari ruangan yang gelap dan berasap…’(hal.112)

Begitupula durian yang baunya menurut Maurik sangat menusuk. Sementara itu hidangan Tionghoa yang disukainya selain kimlo, Maurik menyebutkan bami, yang dinikmatinya di roemah-makan di Glodok. Bami menurut Maurik :

‘…merupakan hidangan dari sejenis makaroni tipis dengan berbagai macam bumbu,
ditambah kuah kaldu yang dicampur jamur, hati ayam, lada, irisan bawang, potongan
daging babi atau paha kodok’. (hal.114)

Maurik juga menulis bila mengingat hotel-hotel di Hindia, ia akan teringat pada kopi dan pisang yang lezat serta ‘harum’ buah nanas dan terasi.

Sebelumnya Charles Walter Kinloch (Bengal Civilian) seorang wisatawan asal Inggris yang berkunjung ke Jawa pada 1852 mengkritik hidangan dingin dan gaya makan Belanda yang menyajikankan seluruh hidangan (pembuka dan penutup) sekaligus. Menurutnya dalam Rambles in Java and The Straits in 1852 (1987), hidangan itu tidak cocok dengan perut orang Inggris. Ia juga mengkritik penggunaan sendok dan garpu serta tak dikenalnya penggunaan pisau mentega dan sendok garam, bahkan tata cara makan di perjamuan gubernur jenderal.

Sedangkan Désiré Charnay yang pergi ke Jawa mengemban misi resmi dan surat rekomendasi dari Pemerintah Hindia Belanda pada 1878, khususnya Kementrian Pendidikan, mengungkapkan pengalamannya menikmati masakan di hotel. Menurutnya sayur kari itu berisi campuran menjijikkan dari bahan-bahan seperti nasi, ditambah telur dadar di atasnya, lalu ikan asin, ayam, daging kambing, ketimun dan bistik. Di atasnya lalu disiram sambal dan dibubuhi 4 atau 5 jenis acar. Charnay pun tak mampu memakannya karena mual.  Masakan itu tak lain adalah rijsttafel yang memang dibanggakan oleh orang Belanda di Hindia.

Hidangan rijsttafel yang cukup terkenal ini mendapat perhatian dari wisatawan lain yaitu Augusta de Wit yang mengunjungi Jawa akhir 1890-an. Dalam Java :Feiten en Fantasieën (1905) , ia menyebutkan ada dua hal yang menarik perhatiannya yaitu pertama, hidangan tersebut disajikan tidak di ruang makan biasa melainkan di bagian belakang hotel. Hal lainnya adalah pakaian para pelayan pribumi yang menghidangkan rijsttafel. Dengan kaki telanjang, mereka mengenakan pakaian potongan semi Eropa yang dikombinasi dengan sarung dan ikat kepala.

‘(…) hidangan pedas itu disajikan bolak-balik dengan nyaris tak bersuara oleh para pelayan pribumi dengan kaki telanjang serta berpakaian separuh Indis, separuh Eropa.’ (hal.18)

Isi aneka hidangan rijsttafel itu sendiri juga menarik perhatian Augusta de Wit. Hidangan utamanya nasi dan ayam. Yang juga dilengkapi dengan aneka lauk pauk yang berupa daging asap, ikan dengan berbagai bumbu kari, saus, acar,  telor asin, pisang goreng, dan tak ketinggalan sambal ati ayam. Semuanya diberi bumbu cabai (hal.19).

Augusta de Wit ternyata tidak hanya menikmati hidangan di hotel, ia juga mengamati bagaimana para penduduk pribumi (di sini ia menyebutnya orang Jawa) menikmati sarapan paginya setelah mandi di kali.

‘Setelah mandi, orang-orang Jawa itu sarapan dan ini juga dilakukan
di depan umum’ (hal.113)

Ia menunjuk lokasi warung penjual makanan tersebut di daerah Tanah Abang dan Koningsplein (sekarang Jl. Medan Merdeka/Monas), daerah yang dihuni oleh penduduk pribumi. Tapi selain itu ada lagi warung-warung yang lebih kecil dan bisa dipindahkan. Mereka ada yang mangkal di pinggir kali, sepanjang kanal, di sudut-sudut jalan, di stasiun serta pangkalan sado.

‘Kita dapat menjumpai bermacam-macam warung atau yang serupa di daerah Tanah Abang dan Koningsplein serta tentu saja di daerah orang pribumi. Namun, warung yang lebih kecil atau para pedagang keliling dapat dijumpai di mana saja, di pinggir kali, di stasiun kereta, di pangkalan sado, sepanjang kanal, di pojok-pojok jalan. Tampaknya mereka itu berdagang dengan baik.’ (hal.114-115)

De Wit mengamati mereka. Pagi-pagi sekali mereka memikul dagangannya lalu aneka dagangan, piring, gelas serta botol diatur supaya menarik. Setelah menurunkan anglo untuk memasak, mulailah mereka berjualan. Ada yang menjual nasi, ikan asin dengan sambal, kue hijau yang diberi parutan kelapa berwarna putih, pelbagai macam kue yang tampaknya terasa manis berwarna-warni mencolok (oranye, merah jambu dan coklat tua) tampak kontras ketika disajikan di atas daun pisang segar berwarna hijau.

‘Semuanya telah siap di pikulan –istri penjual itu menyiapkannya di waktu subuh – dan sekarang mereka siap disajikan di atas daun pisang yang berfungsi sebagai piring dan mangkuk. Kue bulat dari tepung beras berwarna hijau dan putih  dengan parutan kelapa di atasnya, pipilan jagung berwarna oranye, selai berwarna merah muda dan kue-kue alot berwarna coklat tua.’ (hal.116)

Gambar dan cerita ‘eksotis’
Hal yang menarik adalah penggunaan kartu pos sebagai sarana promosi kuliner, khususnya makanan khas setempat. Misalnya kartu pos bergambar ruang makan Java Hotel,  ruang makan Hotel Marinus Jansen.  Ada pula kartu pos bergambar penjual nasi yang sedang dikerumuni para pembelinya, penjual soto keliling, suasana warung pinggir jalan di Jawa, bahkan ada gambar penjual roti pikulan keliling di Batavia, gambar penjual sekoteng, penjual rujak ulek , penjual buah-buahan, penjual sate.

Tidak hanya melalui gambar, tulisan Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie 1918 menggambarkan makanan-makanan yang dikonsumsi penduduk Hindia. Misalnya hidangan daging banteng, kerbau, kambing, kijang, kelinci dikonsumsi penduduk Jawa. Daging kuda yang dikonsumsi penduduk Sumba, daging orang utan dan kera dikonsumsi penduduk Borneo (Kalimantan), daging kelelawar oleh penduduk Minahasa, daging anjing oleh penduduk Batak, Papua dan Tionghoa (hal.243).

Gambar-gambar kartu pos tersebut tentu menarik perhatian para calon wisatawan asing. Tentunya keinginan untuk mencicipi makanan ‘eksotis’ itu sudah tertanam sebelum mereka menginjakkan kaki di Hindia Belanda. Gambar-gambar itu tampaknya dibuat, baik di luar maupun dalam studio sehingga kita harus mempertanyakan apakah memang disarankan kepada para wisatawan untuk mencicipi makanan khas atau hanya sekedar daya tarik gambar ‘eksotis’ semata. Dalam pandangan orientalis, menurut Alison Blunt dan Jane Willis dalam  Dissident Geographies:An Introduction to radical ideas and practice (2000) itu semua merupakan imajinasi Barat tentang Timur yang menyajikan Timur dengan hal romantis, eksotik, misterius dan berbahaya (hal.184)

Seperti di rumah sendiri
Selain makanan dan minuman khas setempat, para wisatawan juga disediakan makanan dan minuman yang sengaja diimpor dari negara asal. Misalnya dalam Gids voor Indie dicantumkan iklan DEL MONTE yang khusus untuk makanan kaleng impor seperti asparagus, ercis hingga buah-buahan.

Menurut data dari Handboek of the Netherlands East Indies 1930 jumlah makanan-makanan kaleng yang diimpor dari luar negeri memiliki nilai cukup besar. Misalnya untuk mentega, pada 1926 bernilai 7.625 gulden dan pada 1928 bernilai 8.125 gulden; ikan pada 1926 bernilai 22.040 gulden dan pada 1928 bernilai 20.046; keju pada 1926 bernilai 1.125 gulden dan pada 1928 bernilai 1.169 (hal.323)

Selain makanan kaleng ada pula iklan peternakan sapi di beberapa kota besar seperti Batavia, Bandung dan Semarang. Misalnya Melkerij “Petamboeran” yang merupakan peternakan tertua dan terbesar serta terletak di Petamboeran, Paalmerah.  Ada pula toko FROSCHER’S di Batavia-Centrum yang menyediakan roti dan kue.  Selain yang segar ada pula susu dalam kaleng seperti iklan NESTLE’S MELK CO di Batavia-Centrum yang menyediakan susu kalengan seperti yang kita nikmati sekarang.  Begitupula dengan pabrik air mineral dan limun di kota-kota besar, seperti iklan pabrik air mineral dan limun NOVA di Bandung yang menyediakan limonades Hollandsche smaak, Aer Blanda gelijk Apollinaris, Orange Crush. Air mineral ini juga menjadi salah satu fasilitas yang disediakan di pasanggrahan selain fasilitas tempat tidur dan makan.

Tidak lengkap rasanya jika tidak tersedia minuman beralkohol. Dalam Hotel Blad terdapat iklan minuman JONKER CAPERO, minuman sherry yang diimpor. Selain itu tersedia juga Heineken’s Bier. Ada pula Haantjes Bier, Pittig Hollandsch Pils, bir pahit Belanda cap ayam.  Bisnis impor minuman keras ‘modern’ dari Eropa ini cukup menggiurkan. Dalam laporan Departement van Financiën, ribuan gulden hasil dari cukai masuk ke kas pemerintah.  Ironisnya, menurut Kasijanto Sastrodinomo dalam artikelnya ‘Mabuk-mabukan dalam Sejarah’ (Kompas, 18/3/2006) Pemerintah Hindia Belanda juga membentuk Alcoholbestrijdings-commisie (Komisi Pemberantasan Alkohol) pada 1918. Tujuannya untuk menyelidiki dan memerangi penyalahgunaan alkohol di kalangan penduduk Hindia. Sasaran utamanya adalah minuman keras tradisional yang populer di kalangan masyarakat pribumi, seperti arak, badèg, dan ciu. Menurut polisi jenis-jenis minuman beralkohol itu termasuk minuman ‘gelap’ tak berizin.

Iklan makanan kaleng, susu dan minuman tersebut jelas ingin memperlihatkan bahwa para wisatawan tidak perlu khawatir dengan masalah kuliner negara asal mereka karena hampir semua tersedia. Elsbeth Locher-Scholten dalam artikelnya mengenai makanan kaleng ini menyebutkan bahwa hingga 1900-an hidangan Eropa dinilai lebih tinggi daripada hidangan Hindia. Hidangan dari makanan kaleng ini disediakan sehari-hari, kecuali hari Minggu di kalangan keluarga totok. Para wisatawan hanya tinggal menikmati suasana Hindia ditemani makanan dari tanah air. Dengan kata lain tak ada liburan senikmat seperti di rumah sendiri.

Djongos kassie kartoe makan!

Para wisatawan pun dimudahkan dalam urusan perut ini. Dalam The Garoet Express and Tourist Guide (1922-1923) dicantumkan kosa kata dan kalimat-kalimat perintah praktis berhubungan dengan kuliner dalam bahasa Inggris, Belanda dan khususnya Melayu yang dapat digunakan mereka (hal.22).

Kalimat-kalimat perintah itu antara lain:

Boy bring me a Menu, a winelist, icewater, sodawater, whiskey and soda’ (Inggris)
Jongen breng een menu, wijnlist, ijswater, sodawater whisky soda’ (Belanda)
Djongos kassi kartoe makan, kartoe minoeman, aijer ijs, aijer blanda’ (Melayu)

Hurry up fetch ice’ (Inggris)
Haas[t] je haal ijs’ (Belanda)
Lekas ambil ijs (aijer batoe)’ (Melayu)

Atau kosa kata yang berhubungan dengan aktivitas kuliner, peralatan makan dan aneka menu seperti:

To boil (Inggris); ko[o]ken (Belanda); masak (Melayu)
To drink (Inggris); drinken (Belanda); minoem (Melayu)
To eat (Inggris); eten (Belanda); makan (Melayu)
To fry (Inggris); bakken/braden (Belanda); goreng (Melayu)
To mix (Inggris); mengen (Belanda); tjampoer (Melayu)

Clean plate (Inggris); schoon bord (Belanda); piring bresi (Melayu)
A knife (Inggris); mes (Belanda); piso (Melayu)

Cold water (Inggris); koud water (Belanda); aijer dingin (Melayu)
Soft boilled eggs
(Inggris); zacht gekookte eieren (Belanda); telor stengah mateng (Melayu)
Hard boilled eggs (Inggris); harde eieren (Belanda); telor kras (Melayu)
Bacon and eggs (Inggris); spek met eieren (Belanda); mata sampi sama sepek (Melayu)

Penutup

Bila dikaji lebih jauh ternyata masih banyak hal yang dapat diungkap dan diteliti dari masalah kuliner sebagai unsur pariwisata baik pada masa lampau maupun sekarang. Antara lain  asal usul suatu jenis masakan, industri rumahan makanan dan minuman yang dipengaruhi oleh pariwisata.

Masalah kuliner pun ternyata tidak hanya dapat dijadikan sarana promosi positif, tapi juga sarana promosi negatif. Hal tersebut tak lepas dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Disajikan dalam Seminar Hasil Penelitian Departemen Sejarah FIB UI, Desember 2006 

Siapa Suka Susu?

Siapa yang tidak suka susu? Maaf, ini bukan porno. Susu yang dimaksud adalah susu sapi. Memang tidak semua orang, terutama anak-anak menyukai minuman sehat ini. Di Indonesia, masyarakat yang mengkonsumsi susu sapi segar pun masih sangat rendah. Kalah jauh dengan India. Apalagi sekarang susu menjadi barang mewah dan impor serta harganya yang kian melonjak. Khususnya susu bubuk dan susu yang diformulasikan.

Ada pendapat yang mengkaitkan melonjaknya harga susu dengan pemanasan global. Pemanasan global tersebut menyebabkan kekeringan di sebagian wilayah Australia dan Selandia Baru sehingga sapi perah kekurangan pakan. Kita tahu selama ini masih ada bahan baku susu, khususnya susu formula yang harus diimpor dari negara-negara tersebut. Dampaknya, harga susu formula di dalam negeri ikut naik sampai 15 persen.

Sejarah susu di Indonesia ini pun menarik untuk diketahui mengingat tidak semua orang mengetahuinya. Tahun 1906 atas anjuran Pemerintah Hindia Belanda, maka diimporlah beberapa jenis sapi pedaging ke Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menetapkan Sumba sebagai pusat pengembangbiakan ternak sapi daging dari jenis O ngole (India). Sekitar tahun ini pula, sapi perah mulai masuk ke Hindia Belanda. Namun, tahun masuknya sapi perah ini perlu dipertanyakan lagi. Alasannya, sejak akhir abad ke-19, wilayah Bandung terkenal sebagai penghasil susu sapi berkualitas tinggi di Nusantara.

Restorasi kereta pos pada awal abad ke-20 yang melewati jalur Cirebon-Bandung- Bogor – Batavia konon menghidangkan susu sapi segar kepada para penumpangnya. Lumayan sebagai pelepas dahaga dan obat lapar di perjalanan. Bahkan jauh sebelumnya , berdasarkan catatan Heer Medici pada 1786 yang melancong ke ‘Negorij Bandoeng’ dengan rombongan berkuda dari Batavia, sudah mencicipi segarnya susu Bandung tatkala rombongan sampai di Cianjur.

Menurut catatan sejarah, pada tahun 1938 di wilayah Bandung terdapat 22 usaha pemerahan susu dengan produksi 13.000 liter susu per hari. Hasil produksi susu ini semua ditampung oleh “Bandoengsche Melk Centrale” untuk diolah (pasturisasi) sebelum disalurkan kepada para langganan di dalam maupun luar kota Bandung.

Direktur B.M.C dengan nada sedikit sombong menulis: ‘Vergeet U  niet, dat er in geheel Nederlandsch Oost-Indië slechts een Melk centrale is, en dat is de Bandoengsche Melkcentrale’ (Anda jangan lupa, bahwa di seantero Nusantara ini cuma ada satu Pusat Pengolahan Susu dan itu adalah Bandoengsche Melk Centrale)

Dari sejarah persusuan di Indonesia, di wilayah Bandung ada 3 perusahaan pemerahan susu (Boerderij) yang terkemuka. Mereka inilah yang merupakan cikal bakal usaha peternakan sapi perah dari jenis unggul yang didatangkan dari Friesland, salah satu propinsi di Belanda.

Model peternakan sapi perah yang terkenal adalah perusahaan ‘Generaal de Wet Hoeve’ milik Tuan Hirschland dan Van Zijll di Cisarua, kabupaten Bandung. Mereka inilah yang pertama kali mendatangkan sapi perah Friesland ke Nusantara pada awal abad ke-20.

Kemudian tercatat pula Lembangsche Melkerij ‘Ursone’, sebuah perusahaan pemerahan susu di Lembang yang didirikan oleh tiga diantara empat bersaudara Ursone pada tahun 1895. Keluarga Ursone yang berkebangsaan Italia ini terkenal sebagai pemain musik gesek ulung di kota Bandung.    Usaha keluarga Ursone diawali dengan 30 ekor sapi dengan hasil hanya 100 botol per hari. Kemudian pada tahun 1940 telah berkembang menjadi 250 ekor sapi dengan produksi ribuan liter susu perhari.

Selain kedua perusahaan ini, di Pangalengan, sekitar danau Cileunca, ratusan ekor sapi perah diternakkan orang Eropa di sana. Begitu banyaknya sapi perah bibit luar negeri di lembah danau Cileunca, hingga majalah Mooi Bandoeng sering menyebut wilayah di Pangalengan sebagai ‘Friesland in Indië (Friesland di Hindia)’.

Selain minuman dengan bahan baku susu seperti es krim, susu coklat (chocomelk), B.M.C mengolah susu menjadi mentega, keju dan cream untuk kosmetika. Hampir seluruh produksi susu di Jawa Barat tertampung oleh B.M.C pada jaman sebelum perang.

Jika demikian hebatnya sejarah susu di Indonesia lalu mengapa di Indonesia yang lebih populer adalah susu bubuk dibandingkan susu segar? Hal ini pun ada alasannya.

Sekitar tahun 1920, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan aturan mengenai produksi susu yang disebut Melk-Codex. Salah satu aturan persusuan ini adalah mengenai kondisi mikroba atau bakteri psychotropic pada susu segar di bawah satu juta mikroba untuk setiap satu sentimeter kubik susu segar. Standar ini dibuat untuk memenuhi kualitas susu segar yang siap minum tanpa melalu proses pengolahan lebih lanjut.

Dapatlah dibayangkan betapa Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu telah menyosialisasikan kualitas susu segar untuk siap minum tanpa proses lebih lanjut. Namun, kebanyakan kualitas susu segar kita di atas satu juta mikroba sehingga kita terpaksa harus melupakan kebiasaan minum susu segar dan susu tersebut harus diolah dalam bentuk bubuk dan diminum dalam keadaan hangat.

Menariknya lagi tradisi minum susu segar pada masa Hindia Belanda ternyata
juga tak tersosialisasi dengan baik meski sudah ada Melk-Codex. Masyarakat kita pada masa itu masih menganggap susu adalah minuman yang hanya dikonsumsi oleh orang kulit putih (baca: Belanda) serta golongan tertentu yang berkuasa. Sehingga muncul anekdot jika mau berkuasa, maka minumlah susu.

Lucunya lagi ada yang berpendapat sinis, tak perlulah bangsa kita punya tradisi minum susu (segar) nanti kelewat pintar. Alasannya, dahulu kala nenek moyang kita sangat getol puasa mutih atau hanya minum air segar (putih), nasi serta umbi-umbian saja mampu menjadi orang “pintar” dan ditakuti. Apalagi jika minum susu (putih), bisa-bisa kita menjadi “super pintar”.

Ketika Pemerintah Hindia Belanda sedang gencar-gencarnya mempromosikan pariwisata di Hindia, peternakan sapi menjadi salah satu daya tarik fasilitas yang ditawarkan. Promosi tersebut dimuat Gids voor Indie: Handleiding en Hotel Pension-, Toko en Dienstengids voor New Comers en  Touristen in Ned-Indie. Misalnya iklan peternakan sapi di beberapa kota besar seperti Batavia, Bandung dan Semarang. Salah satunya iklan Melkerij “Petamboeran” yang merupakan peternakan tertua dan terbesar di Petamboeran, Paalmerah (Jakarta). Iklan tersebut memperlihatkan bahwa para turis (kulit putih) tak perlu khawatir jika di Hindia juga tersedia minuman susu.

Kita tentu ingat slogan pemerintah “Empat Sehat Lima Sempurna” yang ternyata disosialisasikan pada awal 1950-an. Menurut Prof. Dr. Ali Khomsan, ahli gizi IPB, pencetus “Empat Sehat Lima Sempurna” adalah Prof. Poorwo Sudarmo yang menempatkan susu pada urutan terakhir dari empat hidangan lainnya. Akibatnya masyarakat biasa akhirnya beranggapan bahwa susunan hidangan kita menjadi tak sempurna tanpa susu. Meskipun komposisi kandungan susunya itu sendiri perlu dipertanyakan karena lebih banyak airnya dibandingkan susunya.

Mungkin masyarakat melihat yang terpenting adalah warna putihnya. Perkara komposisi kandungan susunya urusan belakangan. Maka tak heran ketika harga susu (formula) melambung, sebagian ibu-ibu menggantikan susu dengan air tajin (susu beras). Padahal sangat jelas dari segi kualitas air tajin tak dapat menggantikan susu formula apalagi ASI meski dilihat dari warnanya nyaris serupa.

Memang kandungan protein air tajin mungkin setara atau bahkan lebih rendah dari pada beras. Apalagi kandungan vitamin dan mineralnya. Sehingga bisa diduga jika air tajin tak akan menandingi susu terutama dari segi kandungan kalsium dan fosfor.

Bicara melambungnya harga susu (formula) tentu mengingatkan kita pada ASI yang memang sangat dianjurkan. Namun, jangan lupa para ibu itu pun harus mendapatkan asupan gizi yang memadai, misalnya dengan minum susu. Bagaimana bisa memberikan ASI yang baik jika gizi para ibu itu tak berkualitas. Hal inilah yang sering dilupakan dan terabaikan. Jadi, siapa suka susu?

Kue Bugis Kanre Jawa

Urusan perut, merupakan urusan yang tidak bisa ditawar lagi. Ada orang yang menjadi beringas lantaran urusan perut. Yang jelas, urusan perut erat kaitannya dengan makanan. Di Makassar, bagi yang belum terbiasa dengan kuliner daerah ini dibutuhkan waktu beberapa saat untuk menyesuaikan diri. Meskipun terasa cocok dengan lidah, belum tentu perut mau menerima. Kalau tidak cocok, perut akan berdemonstrasi, berontak. Lantas, bisa celakalah kita.

Bagaimanapun, wisata kuliner de Macassart tak akan pernah terlupakan. Ada hal yang menarik berkaitan dengan kuliner Makassar ini. Aneka macam makanan dengan beraneka rasa dan warna dapat kita jumpai dan cicipi. Budayawan nasional, Umar Kayam yang pernah bertugas di Makassar berseloroh bahwa orang Bugis-Makassar merupakan masyarakat yang rendah hati. Alasannya meskipun pembuat kue-kue adalah orang Makassar, Bugis, Mandar atau Toraja, kue-kue itu tetap disebut Kanre Jawa. Suatu penghormatan bagi orang Jawa. Sebaliknya di Jawa, kita mengenal Kue Bugis. Sejenis kue yang terbuat dari tepung ketan yang berisi gula merah dan kelapa lalu dibungkus daun pisang muda. Suatu hal yang menarik.

Tidak hanya makanan kecil seperti jalangkote, aneka macam penganan dari pisang pun dapat kita nikmati, seperti: barongko berupa pisang yang dilumatkan hingga seperti bubur , dicampur adonan telur lalu dibungkus dengan daun pisang. Biasanya disajikan dalam keadaan dingin. Pisang Epe yaitu pisang yang dipanggang tapi sebelumnya dipres hingga gepeng lalu diberi saus gula merah, terkadang diberi aroma durian. Pisang Ijo yaitu pisang yang dibungkus adonan terigu dan daun pandan hingga berwarna hijau lalu diberi saus putih dari kelapa.

Selain itu ada pula umba-umba yang di Jawa dikenal dengan nama klepon. Di Makassar ada pula yang menyebutnya onde-onde yaitu kue dari tepung beras dengan gula merah di dalamnya dan dilumuri parutan kelapa. Biasanya kue ini khusus disajikan pada saat menempati rumah baru atau dalam upacara pembuatan perahu. Penganan lain adalah sengkolo, sejenis ketan urap dengan bahan ketan putih atau ketan hitam. Seringkali kita jumpai warung yang menjual songkolo begadang. Disebut demikian karena dijual pada malam hingga pagi hari. Biasanya dinikmati hangat-hangat dengan telur asin dan sambal. Lucu juga bila kita menawari turis asing: “Would you like to try an overnight songkolo, Sir?”