Category Archives: Tokoh

KISAH PARA PEREMPUAN BELANDA PENDUKUNG REPUBLIK

Judul: Tanah Air Baru, Indonesia
Judul asli: Enkele Reis Indonesië. Vier Amsterdamse vrouwen in hun nieuwe vaderland
Penulis: Hilde Janssen
Penerjemah: Meggy Soedjatmiko
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: I, 2016
Tebal: 360 halaman
ISBN: 978-602-03-3541-4
Harga: Rp. 89.000

Berawal dari sehelai foto yang dibeli Hilde Janssen pada pameran peringatan 65 tahun Republik Indonesia tahun 2010 di Jakarta. Dalam foto itu memuat gambar dua perempuan kulit putih berambut pirang yang sedang menjulurkan badan di atas kereta api. Di bagian bawah foto terdapat keterangan bertuliskan: ‘Wanita-wanita Belanda dalam perjalanan menuju Republik, 1947’.

Beragam pertanyaan muncul di benak Hilde Janssen dan mungkin kita ketika melihat foto tersebut. Mengapa mereka menuju wilayah Republik? Siapa sebenarnya kedua perempuan Belanda itu? Apa yang mereka lakukan di wilayah Republik ketika orang-orang Belanda justru meninggalkan wilayah Republik? Bagaimana nasib mereka selanjutnya? Continue reading

Catatan Turistik Seorang Pangeran Jawa

Judul: De Grote Reis van Prins Soeparto Java-Nederland 14 Juni -17 Juli 1913

Penulis: Raden Mas Haryo Soerjosoeparto

Pengantar: Madelon Djajadingrat

Ilustrasi   : Hoesein W. Djajadiningrat

Penerbit: AD.Donker-Rotterdam

Cetakan: I, 2014

Tebal: 166 halaman

ISBN:  978-90-6100-686-2

Pada masa kolonial banyak catatan perjalanan atau yang mengarah pada catatan turistik yang ditulis oleh orang asing, khususnya orang Belanda. Namun, tidak banyak catatan perjalanan yang ditulis oleh orang Hindia. Dari catatan perjalanan yang sedikit itu, catatan perjalanan Pangeran Soeparto ini perlu mendapatkan catatan tersendiri.

Continue reading

Menguak Sisi Kontroversial Raffles

Judul: Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa

Penulis: Tim Hannigan

Penerjemah: Bima Budiarto

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tahun terbit: 2015

Tebal: xv + 419 halaman

ISBN: 978-979-91-0956-9

No panggil: 959.820.223.HAN

‘Rumput di halaman tetangga lebih hijau dari rumput di halaman sendiri’. Demikian peribahasa yang kita kenal, jika kita membandingkan kondisi kita yang kurang beruntung dengan keberuntungan orang lain. Kerap kali kita, orang Indonesia membandingkan dan membayangkan betapa beruntungnya jika kita dijajah Inggris daripada dijajah Belanda. Dalam catatan sejarah, kita (tepatnya Jawa) memang pernah berada di bawah kekuasaan Inggris periode 1811-1816. Satu nama yang berkaitan dengan kekuasaan Inggris di Jawa: Raffles. Continue reading

Memoar Seorang Sarjana Ngawur

ben-anderson-hidup

Judul               : Hidup di Luar Tempurung

Judul asli         : A Life Beyond Boundaries

Penulis             : Benedict Anderson

Penerjemah      : Ronny Agustinus

Penerbit           : Marjin Kiri, Tangerang Selatan

Cetakan           : I, 2016

Tebal               : x + 205 halaman

ISBN               :  978-979-1260-59-6

Adakah di antara kita mengetahui siapa yang pertama kali memperkenalkan istilah ‘bule’ di Indonesia? Istilah yang menggantikan kata londo (Belanda) dan mengacu untuk orang asing berkulit putih. Bagi yang belum mengetahui, istilah tersebut diperkenalkan oleh Benedict R.O’G. Anderson yang akrab dipanggil Om Ben pada tahun 1960-an ketika ia melakukan penelitian pertama kali di Indonesia.

Continue reading

Lawatan Oscar Fabrés ke timur Nusantara

fabres-harimau

Pada tahun 1932 seorang kartunis kelahiran Chili yang juga menjadi jurnalis Prancis Oscar Fabrés (1894-1960) berkesempatan mengunjungi Hindia-Belanda atas undangan pengurus Alliance francaise Batavia.  Ia berkunjung ke Hindia bersama istrinya Alice Voorduin yang merupakan seorang perempuan Belanda. Ketika itu Fabrés yang pernah studi di Paris pada tahun 1920-an merupakan editor untuk surat kabar Prancis Le Petit Journal. Namun menurutnya ia tidak terikat dengan surat kabar itu sehingga ia dapat bebas bepergian ke mana-mana.

Continue reading

Si Anak Hilang Pulang

oude tijgerJumat sore itu saya bergegas kembali ke apartemen usai menyaksikan film yang merupakan bagian dari perkuliahan. Setelah berkemas saya berjalan menuju ke stasiun Leiden. Hari itu saya telah berjanji pada Sitor untuk menginap di rumahnya, di Apeldoorn, provinsi Gelderland. Beberapa bulan sebelumnya kami bertemu untuk kali pertama di perpustakaan KITLV Leiden.

Perjalanan ke Apeldoorn sudah dirancang sebelumnya. Ketika itu Sitor memberitahu alamat rumahnya serta petunjuk saya harus turun di Schiphol untuk berganti kereta, lengkap dengan jamnya. Ternyata saya terlambat beberapa menit dan ketinggalan kereta. Terpaksalah saya menunggu kereta berikutnya.  Sampai di Apeldoorn hari menjelang gelap. Saya menelusuri jalan yang diarahkan Sitor dengan perut lapar hingga tiba di alamat yang dituju. Paaslaan.

Saya agak sedikit bingung karena rumah Sitor bukan vrijstaand huis (rumah yang berdiri sendiri) tapi serupa apartemen. Untuk memastikan saya menaiki tangga memeriksa nomor rumah di depan pintunya. Rupanya saya keliru dan saya kembali ke bawah. Saya menekan bel. Pintu dibuka dengan sosok Sitor berdiri di sana. Saya minta maaf dan menjelaskan keterlambatan saya. Tak lama kemudian telepon berdering. “Ja, hij is onze gast. Bedankt, hoor!,” kata Sitor. Rupanya langkah kaki saya di anak tangga membuat penghuninya curiga dan ia mendengar langkah kaki saya berhenti di depan pintu rumah Sitor dan Barbara. Sang tetangga memastikan itu bukan pencuri.

Barbara, istri Sitor langsung menyilakan saya ke meja makan. Di meja makan rupanya sudah terhidang makanan. “Pak Sitor yang masak,” kata Barbara. Hidangan berupa soto ayam segera saya santap. Sambil makan kami bercakap-cakap berbagai hal, khususnya perkembangan kuliah saya.

Apeldoorn2000Usai santap malam, kami berbincang lagi sambil menikmati minuman. Saya memilih teh hangat. Berbagai hal kami perbincangkan. Salah satunya, saya menceritakan pengalaman saya, JJ Rizal, Agus ketika menyambangi rumah Pramoedya Ananta Toer untuk wawancara. Sitor beranjak dari kursi, sepertinya ia mengambil sesuatu. Ia kembali dengan sebuah buku. Judulnya penghormatan untuk 70 tahun Pramoedya yang disunting Bob Herring. Buku itu diberikan kepada saya. Itu buku kedua yang saya peroleh. Buku pertama terjemahan kumpulan ceritanya dalam bahasa Belanda de oude tijger (1996) saya peroleh pada pertemuan pertama di KITLV.

Pun saya teringat obrolan di kantin KITLV yang begitu hangat beberapa bulan sebelumnya. Saya, Kees Snoek, dan Sitor saling bertukar cerita. Salah satu cerita yang saya ingat pengalaman masa revolusi Sitor. Dengan penuh ekspresif, Sitor menceritakan pengalamannya tentang Amir Syarifudin. Dengan ekspresif, sesekali Sitor bangkit dari bangku, berdiri mempertegas ceritanya. Obrolan bermula ketika saya menceritakan buku Tan Malaka dan Islam terbitan Komunitas Bambu ketika itu. Mengalirlah kisah masa revolusi dari mulut Sitor.

Minggu 21 Desember 2014, Sitor Situmorang wafat di Apeldoorn, Belanda. Selamat jalan, Bung!

Menjelang Natal

Si Anak Hilang

pulang

ke Lembah Kekal

Selamat Berlayar Professor A.B. Lapian, ‘Nakhoda Sejarawan Maritim Asia Tenggara’

“Bagus,” jawab pria itu sambil tersenyum ketika saya mengutarakan niat ingin meneliti zeerovers (bajak laut) yang tercantum dalam Dagh Register milik VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). “Apalagi jika saudara bisa membaca sumber-sumber lain dari bahasa aslinya. Saya sendiri hanya membaca sumber sekunder,” sambungnya lagi dengan nada merendah.

Continue reading

Andy Tielman: Perintis Rock n’ Roll Belanda

Awal tahun 2008 lalu saya dan rekan saya Indira Ismail diminta untuk memberikan kuliah pilihan Budaya Belanda dengan tema kuliah musik pop Belanda. Suatu tema yang menarik, menantang dan sekaligus membuat dahi berkerut. Musik pop Belanda? Apakah kami harus membahas Marco Borsato, Andre Hazes, De Dijk, De Kast, Acda en de Munnik, BlØf , Ali B atau K3? Continue reading

Memproklamirkan Kembali “Kemerdekaan”

Bulan Agustus ini bagi bangsa Indonesia dianggap bulan ‘keramat’. Enam puluh tiga tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 17, Proklamasi Kemerdekaan diproklamirkan oleh para founding father negeri ini. Kemerdekaan yang dicita-citakan sejak lama akhirnya terwujud meskipun usai Proklamasi bukan berarti selesai segala-galanya Continue reading