Category Archives: Tokoh

Ketidaktahuan, Kemiskinan dan Penyakit: Mengenang Pak Fuad Hassan

Jumat sore 7 Desember lalu saya mendapat kabar dari salah seorang rekan senior di kantor bahwa Prof. Fuad Hassan meninggal dunia. Saya terdiam lalu berdoa semoga beliau mendapatkan tempat di sisi Allah SWT. Saya teringat ketika “menyusup” ke dalam kuliah umum beliau di Fakultas Psikologi dua tahun lalu. Ketika itu istri saya yang sedang mengandung meminta saya mengantarkannya. Saya pun langsung mengiakan. Memang perkuliahan dan ceramah beliau sangat menarik. Tidak mengherankan beliau adalah salah satu dosen favorit di Fakultas Psikologi UI. Tidak banyak hal-hal njelimet yang dibebani pada pendengarnya.

Seperti halnya pada suatu Minggu siang di sebuah hotel berbintang di kawasan jalan Sudirman akhir tahun 2006. Sambil duduk terkantuk-kantuk lantaran usai makan siang dan ruangan ber-AC, saya mendengarkan uraian para pembicara mengenai globalisasi pendidikan. Sesekali saya terjaga karena suara tepuk tangan peserta lainnya. Hingga saya akhirnya benar-benar terjaga ketika giliran Prof. Fuad Hassan, guru besar Fakultas Psikologi urun bicara.

Ada hal menarik yang beliau ungkapkan pada siang itu sehubungan dengan tema yang diangkat dalam acara seminar itu. Menariknya adalah karena beberapa hal yang beliau bicarakan menurut hemat saya relevan dengan situasi sekarang, khususnya dunia pendidikan.

Menurut beliau ada tiga hal penting yang seharusnya menjadi perhatian kita semua. Pertama adalah upaya untuk menghapuskan ignorance (ketidaktahuan). Kedua yaitu penghapusan poverty (kemiskinan) dan terakhir disease (penyakit).

Bukankah kita semua akhir-akhir ini memang berkutat dengan ketiga hal tersebut. Upaya kita dalam menghadapi berbagai bencana alam di tanah air yang di luar kehendak sepertinya kurang memadai dan banyak keluhan di sana-sini sehingga kesannya kurang tanggap. Demikian pula kasus LuSi (lumpur Sidoarjo) yang sampai kini sulit ditemukan pemecahannya hingga dianggap “game over”. Bahkan masyarakat Sidoarjo sampai perlu mengadakan sayembara untuk menghentikan LuSi itu. Lalu “ekspor” asap akibat pembakaran hutan yang membuat gerah negeri tetangga. Terakhir, longsornya ribuan ton sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang , 8 September lalu yang mengakibatkan korban jiwa. Semua ini disebabkan karena ketidaktahuan kita dan bukan kebodohan kita dalam ‘menggauli’ teknologi yang berkembang dengan pesat serta tidak diimbangi pemahaman terhadap kearifan alam

Pun masalah kemiskinan sempat menjadi perhatian. Misalnya BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang menghebohkan karena dianggap proyek populis pemerintah ala sinterklas yang hanya membagi-bagikan uang. Akibatnya banyak orang yang tak malu mengaku-aku diri mereka miskin. Ironisnya, dalam pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 16 Agustus 2006 beliau menyampaikan turunnya angka kemiskinan. Namun, angka-angka yang menjadi data tersebut diragukan karena dianggap tidak menggambarkan kondisi riil saat ini.

 Masalah penyakit juga perlu menjadi titik perhatian kita. Ancaman virus flu unggas (baca: flu burung) yang sudah menewaskan 44 orang dan menginfeksi 56 orang di Indonesia seharusnya ditangani secara serius. Terus bermunculannya kasus baru membuat negara-negara di dunia menuding pemerintah Indonesia dianggap tidak responsif, lamban, dan lalai dalam menanggulangi wabah flu burung ini. Kekhawatiran pun berlanjut karena bisa saja Indonesia dianggap menjadi sumbu pemicu pandemi global. Ini baru kasus flu burung, belum lagi virus H.I.V. serta penyakit lainnya seperti penyakit demam berdarah atau malaria.

Pemecahan yang ditawarkan oleh Prof. Fuad Hassan cukup sederhana yaitu pendidikan. Saya pun sependapat dengan beliau karena bila kita melihat negara-negara lain yang puluhan tahun lalu berada di bawah kita dan bahkan “berguru” pada kita, sekarang sudah melesat jauh.

Lagi-lagi, ironisnya pemerintah serta para elite kita tampaknya belum memedulikan bidang pendidikan dan sekedar mengangkatnya sebagai isu-isu populis pada waktu kampanye. Setelah para elite itu berhasil menjadi “pemimpin”, masalah politik dan ekonomi dirasa lebih penting hingga harus didahulukan dibanding pendidikan. Lihat saja berapa banyak sekolah-sekolah yang nyaris ambruk dan anak-anak yang putus sekolah. Coba bandingkan dengan pembangunan mal atau pusat perbelanjaan yang berdiri megah. Padahal dengan mengembangkan pendidikan, kita berharap dapat menghapuskan ketidaktahuan (dan bukan kebodohan) itu. Pendidikan di sini bisa berwujud pendidikan formal maupun non formal. Idealnya, bila pendidikan ini benar-benar menjadi prioritas pemerintah, upaya menghapuskan ketidaktahuan akan terwujud. 


Bila ketidaktahuan itu telah dihapus, tentu akan memudahkan untuk menemukan cara menghapuskan kemiskinan. Karena hanya orang yang memiliki pengetahuan memadai yang bisa terlepas dari jeratan kemiskinan.Orang yang berpengetahuan pun sejatinya mempunyai kemampuan untuk bisa mengupayakan penghapusan penyakit. Mereka mempunyai cara bijak untuk mencegah penyakit menular. Hal itu dimungkinkan karena pengetahuan memadai mereka yang tentunya diperoleh baik di bangku pendidikan formal maupun non formal dengan sistem yang baik.  Namun, patut diingat pula, pendidikan yang dijalankan bukan sekedar “industri” pendidikan yang hanya mengajari anak untuk menghapal, tidak mampu mandiri/berinisiatif atau berfikir kritis. Tentu kita tidak mengharapkan akan menghasilkan “robot-robot” yang tidak kreatif dari “pabrik” pendidikan kita itu. Tapi justru manusia kreatif sebagai penerus generasi sekarang untuk menghadapi masa depan dan globalisasi. Oleh karena itu diperlukan sistem pendidikan yang memadai dan sesuai. Tidak sekedar ganti menteri, ganti kebijakan (baca: kurikulum).

Selain pendidikan, mungkin bisa saya tambahkan dengan kemampuan berbahasa yang baik, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing. Hal ini disebabkan bahasa merupakan salah satu media berkomunikasi yang cukup penting. Tidak jarang kita melihat atau mendengar karena “kegagapan” dan ketidakmampuan dalam berbahasa, meskipun itu bahasa sendiri, dapat  menimbulkan kesalahpahaman serius. Yang seringkali juga dapat menimbulkan konflik di antara kita.

Demikian pula dengan penguasaan bahasa asing karena globalisasi tidak bisa dielakkan lagi. Globalisasi sudah merebak ke mana-mana bagai tamu tak diundang. Sebenarnya, bangsa Indonesia tidak perlu khawatir dengan penguasan bahasa asing ini. Alasannya, kita sudah terbiasa dan terlatih berbicara lebih dari satu bahasa (bukan dialek pen.). Coba tengok berapa banyak orang di Indonesia yang mampu menguasai bahasa selain bahasa ibunya. Misalnya bahasa Jawa, Sunda, Batak atau Makassar. Di sini yang diperlukan hanya kerja keras, keuletan dan ketekunan untuk mau belajar. Pertanyaannya: masih punyakah kita keinginan bekerja keras, keuletan, ketekunan itu? Terutama untuk mengejar ketertinggalan kita dari bangsa lain.

Selamat jalan Pak Fuad!

 

 

 

 

Menyingkap Kumpulan Surat Pribadi Raja Ali Haji

Surat merupakan salah satu sarana komunikasi tulisan yang kini kian tergeser kedudukannya oleh bentuk komunikasi yang lain, seperti e-mail maupun SMS. Namun, bagi sebagian kalangan surat tetap dianggap lebih bersifat ‘pribadi’ dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah. Apalagi jika sang penulis surat merupakan tokoh penting karena dapat dipergunakan untuk menyusun gambaran tentang penulis dan zamannya. Seperti halnya penulis surat dalam buku ini.

Buku Di Dalam Berkekalan Persahabatan: Surat-surat Raja Ali Haji kepada von de Wall adalah kumpulan surat-surat pribadi Raja Ali Haji (ca.1809-ca.1873) kepada Herman von de Wall, seorang sarjana kelahiran Jerman yang menjadi pegawai pemerintah Hindia Belanda. Kumpulan surat-surat tersebut ditulis antara 1857 hingga akhir 1872. Ketika itu mereka sibuk mengumpulkan bahan dalam upaya menyusun Kamus Melayu.

Raja Ali Haji merupakan penulis Melayu abad ke-19, sezaman dengan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Dua karyanya yang terkenal Gurindam XII dan magnum opus, Tuhfat al-Nafis (Hadiah yang berharga). Khusus karya yang disebut terakhir merupakan sumber informasi berharga bagi sejarah Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya serta mengandung deskripsi peristiwa yang sangat terperinci, demikian tulis Barbara Watson Andaya dan Virginia Matheson.

Pada 2004, Raja Ali Haji diangkat menjadi pahlawan nasional dari kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Namun, Raja Ali Haji bukanlah pahlawan yang diangkat karena semangat berperangnya. Melainkan karena sejumlah karya, hasil goresan kalam yang memberikan sumbangan berharga bagi bahasa Indonesia.

Perhatian Raja Ali Haji begitu luas tak terbatas pada karya sastra. Ranah agama, hukum, dan sejarah diakrabinya dan diungkapkan dengan sentuhan sastra seolah antara ranah-ranah itu terjalin rapi, satu sama lain. Misalnya dalam kitab Thamarat al-Muhimmah setebal 79 halaman. Karya ini memiliki keistimewaan dalam sejarah perundangan di Nusantara sebelum munculnya undang-undang Barat.

Kumpulan surat-surat Raja Ali Haji ini sebelumnya pernah diterbitkan dan dianotasikan dalam bahasa Inggris pada 1995 yang mendapatkan banyak pujian dan kritikan. Serta dimuat dan diresensi dalam berbagai majalah, jurnal luar negeri yang berbobot.

Namun demikian penerbitan kumpulan surat-surat ini tidak serta-merta dapat menjawab sejumlah pertanyaan mengenai sosok Raja Ali Haji. Setidaknya, melalui buku yang sedikit lebih lengkap dari edisi Inggrisnya diharapkan dapat memberikan gambaran keseharian dan gagasan dirinya. Misalnya, merekonstruksi citra dirinya dan hubungan penulis Melayu ini dengan para pegawai kolonial di kepulauan kecil sekitar Singapura pada pertengahan abad ke-19. Hubungan serta citra yang disebut oleh Eliza Netscher, pejabat khusus urusan Melayu yang kemudian menjadi Residen Riau, sebagai “penulis Islam (alim) yang dengki dan membenci orang Eropa (Belanda)”.

Ironisnya, Netscher jualah yang “mensponsori” syair-syair lain dari Raja Ali Haji untuk diterbitkan dalam majalah Bataviaasch Genootschap, TBG (Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde van Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) edisi 1853.

Berlawanan dengan citra “negatif” yang dibentuk Netscher, melalui kumpulan surat-suratnya ini muncul sosok diri Raja Ali Haji sebagai guru agama yang alim dalam upaya memajukan orang-orang Melayu. Raja Ali Haji pun justru melihat manfaat kerjasama dengan pemerintah kolonial untuk tujuan pendidikan dan bersahabat dengan seorang pejabat Belanda. Bahkan mereka kelak mengumpulkan bahan dan menyusun kamus Melayu-Belanda dan kamus ekabahasa Melayu. Perihal persahabatannya ditunjukkan dalam surat 22 April 1862 (hal.69).

Begitu eratnya persahabatan itu, hingga Raja Ali Haji dalam suratnya begitu bebas mengungkapkan informasi pribadi. Mulai dari urusan uang persekot “proyek” kamusnya (surat 30 Mei 1869), persoalan anaknya (surat 26 Juli 1867) hingga rasa khawatirnya atas kegagalan memuaskan hasrat pada perempuan yang baru dinikahinya: ”Ini satu susah, akan tetapi rahasia kitalah kepada paduka sahabat kita, yaitu syahwat kita inilah yang kurang benar2…. Bagaimanakah kiranya ikhtiar paduka sahabat kita memberi ikhtiar kepada kita. Istimewa pula ini baharu pula kita dapat satu gundik budak muda. Maka hal kita inilah, itulah susah kita ” (surat 31 Juli 1872),

Pada umumnya, gagasan-gagasan yang muncul dalam kumpulan surat-suratnya adalah pemikiran Raja Ali Haji di bidang bahasa, khususnya Melayu. Ini sangat membantu kita dalam memahami kamusnya, Kitab Pengetahuan Bahasa, serta Bustanul Katibin, kitab tatabahasanya.  Pun kita bisa menyibak beberapa pemikiran Raja Ali Haji tentang bentuk-bentuk sastra, khususnya syair.

Bahkan dalam kamus yang merupakan karya nonsastra, Raja Ali Haji tetap memasukkan karya sastra sebagai bagian dari rasa keindahan yang dimilikinya. Seperti dalam salah satu suratnya kepada von de Wall pada 12 Maret 1872: “Bermula adapun kamus yang hendak diperbuat itu, yaitu bukannya seperti kamus yang seperti paduka sahabat kita itu. Hanyalah yang hendak kita perbuat bahasa Melayu yang tertentu bahasa pada pihak Johor dan Riau Lingga jua. Akan tetapi dibanyakkan bertambah di dalam qissah2 cerita2 yang meumpamakan dengan kalimah yang mufrad, supaya menyukakan hati orang muda2 mutalaahnya, serta syair2 Melayu sedikit2. Di dalam hal itupun memberi manfaat jua kepada orang2 yang mempikirkan perkataan dan makna bahasa Melayu pada orang2 yang bukan ternak Johor dan Riau dan Lingga” (hal.130)

Selain itu dengan membaca surat-surat ini, kita mendapatkan contoh langka tentang bentuk tidak resmi dan sehari-hari bahasa Melayu abad ke-19 yang bisa dikatakan ‘informal’. Namun, bukan berarti Raja Ali Haji menggunakan bahasa Melayu pasar. Tentunya, hal itu menunjukkan bentuk kontras bahasa dalam surat resmi serta berbagai bentuk sastra tradisional Melayu.

Raja Ali Haji tak hanya terkenal di tanah Melayu, karya-karyanya juga dikenal di seberang lautan. Ketika karya-karyanya dicetak dan diterbitkan di Batavia dan Belanda, namanya pun semakin dikenal hingga menyeberangi benua. Karya Raja Ali Haji juga merupakan satu-satunya syair Melayu pertama yang diterbitkan Warnasarie (1853), majalah terbitan Batavia yang sebenarnya hanya khusus untuk sastrawan Belanda di Hindia. “Hak privilege” ini diperolehnya setelah Roorda van Eysinga menerima Syair Abdul Muluk karya Raja Ali Haji langsung dari tangan penulisnya dan terpukau karena keindahannya. Roorda van Eysinga juga yang menerjemahkan Syair Abdul Muluk itu dan dimuat dalam Tijdschrift voor Neerlandsch Indië (1847).

Perihal, keterkenalan dan kegembiraan karena karyanya dibaca kalangan luas juga diungkapkannya dalam salah satu suratnya pada 11 November 1869 : “Dan lagi saya maklumkan kepada tuan, ada surat Raden dari Bandung kepada saya yang dia sudah sampai di Bandung. Membawalah dia kamus yang tiada bersampaian, maka dipinjamlah konon orang2 Bandung ke sana ke mari, suka akan syairnya konon. Dan lagunya pun dibacakanlah oleh Raden, sangatlah sukanya orang2 yang tahu2 bahasa Melayu.” (hal.104)

Akhir hayat Raja Ali Haji tidak dapat ditentukan secara pasti. Baik tanggal, tahun dan sebab-sebab kematiannya. Yang jelas, ketika itu ia tengah menyelesaikan kamus ekabahasa Melayu. Diperkirakan ia menutup mata di sekitar masa-masa kematian sahabatnya, von de Wall pada 1873.

Buku ini dilengkapi dengan peta, foto-foto naskah surat, catatan biografis orang-orang yang disebutkan dalam surat, silsilah Raja Ali Haji serta indeks. Semua itu sangat membantu pembaca. Namun, alangkah baiknya jika disertakan pula gambar/foto Raja Ali Haji dan Hermann von de Wall, Sehingga khalayak pembaca, khususnya generasi kini, bisa membayangkan rupa sang penulis surat-surat dalam kekekalan  persahabatan.

Menjadi Indo Jangan Setengah-Setengah!

Menjadi orang Indo bukan berarti menjadi setengah-setengah. Demikian pesan Tjalie Robinson alias Jan Boon, ayah Rogier Boon seorang ilustrator dan desainer grafis yang karyanya dipamerkan di Erasmus Huis Jakarta, mulai 9 Maret hingga 11 April 2007 lalu.
Menjadi orang Indo justru memikul beban ganda: Oost en West (Timur dan Barat). Budaya campuran merupakan suatu janji dan mengabdi pada masyarakat keturunan Indo yang harus diwujudkan, lanjut Tjalie Robinson.

Rogier Boon dilahirkan di Meester Cornelis (Jatinegara) pada 19 Juni 1936. Pada ulang tahunnya yang ke-17 (19 Juni 1954), ia kembali ke Belanda bersama ayah, ibu tiri dan adik-adik tirinya. Pada masa itu pemerintah Indonesia memang sedang getol-getolnya menasionalisasi semua hal yang berbau Belanda. Bahasa Belanda dilarang padahal para founding father kita menyerap ilmu melalui bahasa itu. Bahkan urusan nama pun dipersoalkan. Maka lenyaplah nama-nama berbau Belanda seperti Mientje, Saartje, Hans, Kees, Bram, Rudy dari Indonesia berganti dengan nama yang lebih “Indonesia”. Menjadi Indo pada masa itu menjadi sesuatu yang nista dan terhina. Mereka diminta untuk memilih, menjadi WNI atau kembali ke Belanda.

Sebelumnya, pada masa pendudukan Jepang orang Indo berada pada posisi sulit. Kalau ternyata dalam tubuh mereka mengalir darah Eropa lebih banyak persentasenya. Habislah mereka, masuk kamp interniran. Oleh karena itu Kantor Arsip Negara yang waktu itu bernama Kobunsjokan dikunjungi orang-orang Indo yang mengetahui asal-usul mereka. Mereka bisa bebas dari tawanan Jepang bila dapat menunjukkan bukti keturunan orang Indonesia. Berapapun persentase darah ‘pribumi’ yang mengendap dalam tubuh seseorang ketika itu sangatlah berharga dan menentukan hidup di dalam atau luar kamp Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang ini dan menjelang Proklamasi Kemerdekaan, kaum Indo mengalami perlakuan yang menyedihkan. Dalam bukunya, Anton Lucas menyebutkan bahwa peristiwa pembunuhan terhadap kaum Indo pada masa awal Republik Indonesia di bulan-bulan akhir di tahun 1945— yang berhubungan dengan Peristiwa Tiga Daerah—sebagai ‘masa-masa kacau’. Kaum Indo mengalami tindak kekerasan paling hebat terutama karena mereka dipandang sebagai orang-orang asing dengan kedudukan ekonomi yang istimewa, serta ada prasangka rasial kuat yang jadi salah satu pemicu berbagai kekacauan tersebut. Selain itu keberadaan mereka dikaitkan dengan keberadaan bangsa penjajah (baca: Belanda).

Menurut Prof. Djoko Soekiman dalam Kebudayaan Indis, pada masa VOC, secara garis besar struktur masyarakat dibedakan atas beberapa kelompok. Masyarakat utama disebut signores, kemudian keturunannya disebut sinyo. Yang langsung merupakan keturunan Belanda dengan pribumi “grad satu” disebut liplap, sedang “grad kedua” disebut grobiak, dan “grad ketiga” disebut kasoedik. Liplap biasanya menjadi pedagang atau pengusaha, yang sangat disukai menjadi pedagang budak karena mendapat untung banyak. Sedangkan grobiak kebanyakan menjadi pelaut, nelayan, dan tentara, sedangkan kasoedik mata pencariannya menjadi pemburu dan nelayan.

Pertumbuhan budaya baru (Indis) pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan wanita Belanda ke Hindia Belanda memacu terjadinya percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran dan menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi, atau gaya Indis.

Kata “Indis” berasal dari bahasa Belanda Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda, yaitu nama daerah jajahan Belanda di seberang lautan yang secara geografis meliputi jajahan di kepulauan yang disebut Nederlandsch Oost Indie, untuk membedakan dengan sebuah wilayah jajahan lain yang disebut Nederlandsch West Indie, yang meliputi wilayah Suriname dan Curascao. Istilah “Indis” ini sering disebut Indo yang tidak hanya terbatas pada percampuran budaya dengan Belanda tetapi dengan budaya lainnya.

Demikian pula Rogier Boon sebagai bagian dari kaum Indo yang berupaya menampilkan “identitas” ke-Indoannya tanpa melupakan akarnya yang bukan berarti mengorek masa lalu. Kalau Jan Boon alias Tjalie Robinson lebih dikenal sebagai “tukang cerita” atau penulis, maka Rogier dikenal sebagai “tukang gambar”. Sama-sama seniman. Maka peribahasa Belanda de appel valt niet ver van de boom (buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya) berlaku untuknya. Bahkan ayah-anak ini pernah bekerja sama. Ketika Tjalie mendirikan majalah bulanan gerilja (1955) yang hanya muncul dua edisi lalu mati, Rogier menjadi ilustratornya. Saat itu ia masih duduk sebagai mahasiswa Kunstnijverheidsschool di Amsterdam (kini Gerrit Rietveld Academie). Rogier pun bersedia membantu sang ayah ketika Tjalie mengambil alih majalah Onze Brug pada 1958 dan mengganti namanya menjadi Tong-Tong (sekarang Moesson). Selain itu Rogier juga menjadi ilustrator bagi buku-buku ayahnya Tjoek (1960), Piekeran van straatslijpers, Ik en Bentiet (1976).

Sehari-hari Rogier dididik dengan berbagai alasan mengapa hal yang bersifat Indo bukanlah masa lalu dan tidak boleh menjadi masa lalu. Karena itu ia selalu berusaha mencari gaya Indo asli yang baru dan modern. Rogier juga membiarkan dirinya terilhami oleh tradisi-tradisi dari berbagai wilayah di Asia dan budaya campuran (mestizo) lainnya. Misalnya budaya Meksiko. Motif dalam rancangannya yang kerap muncul adalah pohon (kehidupan). Rogier menggambarkannya dalam berbagai corak dengan caranya tersendiri. Tanaman digambar secara terpisah dari rimbunan dedaunan kecil. Pohon-pohon besar digambarnya pula seperti pada sampul buku Gordel van Smaragd karya Johan Fabricius.

Akhir tahun 1958 Rogier berkenalan dengan Ellen Derksen yang membantu redaksi Tong-Tong. Setelah berpacaran cukup lama pada tahun 1963 mereka menikah dan mereka dikaruniai seorang putri pada 1964. Hingga mereka memutuskan untuk berpisah tetapi tetap menjalin hubungan baik.

Periode paling produktif dan kreatif Rogier adalah selama Tjalie, ayahnya berada di Amerika Serikat (1962-1965). Ia membuat logo rubrik dan selalu menggunakan tangan bila membuat huruf. Berbagai ilustrasi dibuatnya untuk berbagai artikel dalam majalah Tong-Tong. Tiap artikel dihiasinya dengan ilustrasi detil dan terkadang dengan kartun.
Tahun 1973 Rogier mengadu nasib di Singapura. Di sana ia mendapat pekerjaan sementara. Lalu ia mencoba peruntungannya di kota kelahirannya, Jakarta. Ia berhasil mendapatkan pekerjaan dan tinggal di Indonesia. Ketika itu ia masih bekerja untuk majalah Tong-Tong, menjadi koresponden. Hampir pada setiap edisi, ia mengirimkan artikel beserta foto-fotonya. Selain menjadi koresponden untuk Tong-Tong, Rogier juga bekerja pada berbagai biro iklan di Indonesia. Antara lain PT Perwarnal Utama dan perwakilan biro iklan Amerika di Indonesia, Ted Bates.

Pada awal 1980-an, Rogier kembali ke Belanda karena alasan kesehatan. Namun, istri dan kedua anaknya tetap memilih tinggal di Indonesia. Keterlibatan Rogier pada semua hal yang ‘berbau’ Indo tetap besar. Ia menghadiri reuni, debat serta mengunjungi Pasar Malam Besar sambil mengobrol dan menikmati jajanan dengan para kenalan dan orang yang belum dikenalnya. Rogier meninggal dunia pada tanggal 26 Januari 1995 pada usia 57 tahun.

Dalam pameran Rogier Boon ini ditampilkan berbagai karyanya. Antara lain cerita bergambar Wim is weg yang merupakan tugas akhirnya di Kunstnijverheidsschool Amsterdam, ilustrasi dan rancangan untuk majalah Tong-Tong, terutama logo kentongan yang menjadi ciri khas majalah tersebut. Yang tidak kalah menarik adalah karya fotografinya. Baginya itu merupakan ‘pertemuan kembali’ dengan Indonesia setelah hampir 20 tahun tidak aktif. Berbagai peristiwa yang jarang dapat dilihat di Belanda diabadikannya. Misalnya musim hujan dan banjir, penjaja jalanan serta pengalaman anak-anak yang juga merupakan bagian dari pengalaman dirinya sebagai “anak Betawi”.

Dibandingkan dengan masa Rogier, memang kaum Indo, terutama anak-anak Indo sekarang lebih beruntung. Kapitalisme yang didukung oleh globalisasi di mana-mana, menyerap wajah-wajah Indo ini dalam pasar dunia iklan atau hiburan. Dunia yang juga pernah digeluti Rogier Boon. Wajah-wajah mereka kini seolah ‘mewakili’ arus utama kecantikan atau ketampanan di masyarakat. Serta menjadi gambaran ideal bagi kesempurnaan fisik. Menurut Nuriana Juliastuti dalam artikelnya “Indis dalam Indonesia masa kini”, fakta mempunyai keturunan keluarga ras campuran menjadi penemuan yang menyenangkan, karena itu artinya tampang “bule” (begitu biasanya orang di Indonesia menamakan seseorang dengan wajah campuran) menjadi pintu masuk yang potensial untuk menjadi artis atau selebritis. Namun, seperti pesan Tjalie Robinson pada Rogier: “Jangan setengah-setengah menjadi Indo!”. Jangan sekedar kulit luarnya tanpa memerhatikan makna sesungguhnya menjadi Indo alias cuma jual tampang.