Doktor Banjir

Senin 21 Juli lalu saya menghadiri promosi Restu Gunawan untuk meraih gelar doktor di Pusat Studi Jepang, Depok. Kami lumayan kenal akrab. Lha wong istrinya Mbak Amur, teman seangkatan saya di S2. Ditambah lagi waktu ikut kuliahnya Prof. Susanto Zuhdi, kita sering ketemu. Bahkan beberapa kali saya main ke rumahnyaSewaktu terakhir bertemu bulan Juni lalu , Mas Gun, demikian panggilan saya untuknya meminta saya menjadi paranim. Namun, ketika itu menurutnya untuk tanggal 26 Juli. Saya jelas tidak bisa karena harus mengajar di Erasmus. Nah, Jumat 18 Juli undangan promosinya saya terima.

Pagi 21 Juli, sebelum Mas Gun dipromosikan saya berbisik: “Gimana, mas. Tahun depan masih banjir nggak?”. Mas Gun hanya nyengir: “Enggak bisa tidur aku!”. Saya hanya berkata: “Santai saja, mas. Sudah sampai sini, masak grogi.”

Sebelumnya Mas Gun sempat akan menggarap penelitian tentang sejarah penyakit (kelamin) kalau tidak salah. Mungkin juga takut tertular (he..he..he..) atau data-datanya kurang, maka beliau mengalihkan ke sejarah banjir yang masuk dengan sejarah lingkungan (environmental history).

Judul disertasinya pun puitis. “Kala Air Tidak Lagi Menjadi Sahabat: Banjir dan Pengendaliannya di Jakarta tahun 1911-1985”. Saya jadi teringat salah satu judul lagu Chrisye, Kala Cinta Menggoda.

Akhirnya para penguji memasuki ruangan. Yang bertindak sebagai promotor Prof. Dr. I Ketut Surajaya, ko promotor Prof. Dr. Susanto Zuhdi dan Dr. Rudy P Tambunan. Sedangkan para penguji, Prof. Dr. R.Z. Leirissa, Dr.Suharto, Dr. Priyanto Wibowo, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistyono dan Dr. Ir. Ruchiyat Deni Jakapermana, M. Eng.

Secara garis besar permasalahan yang diangkat adalah bagaimana upaya pemerintah dan masyarakat mengendalikan banjir di Jakarta yang dikaitkan dengan faktor geografi, pemanfaatan ruang kota, bentuk-bentuk respon masyarakat terhadap banjir dan upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mengendalikan banjir.

Dalam disertasinya, Mas Gun menggunakan pendekatan struktural dengan kerangka teori dan metodologi Fernand Braudel. Untuk pendekatan ini, Prof. A.B. Lapian lah pakarnya.

Menurut disertasi Mas Gun, upaya pemerintah dalam mengendalikan banjir ini dikelompokkan dalam dua periode, masa kolonial dan pemerintahan Indonesia. Pada masa kolonial, puncak pengendalian banjir di Jakarta pada periode 1913-1930. Hasilnya adalah kanal banjir Kali Malang, pintu air Matraman, Pintu air Karet dan perbaikan drainase di perkampungan. Masalah utama pengendalian banjir masa kolonial adalah dana terbatas (masalah klasik! Pen.) sehingga tidak mampu menyelesaikan seluruh rencana yang sudah ditetapkan.

Tahap kedua pengendalian banjir di Jakarta adalah periode 1965-1985 yang berhasil membangun waduk di dalam kota. Seperti Cengkareng drain, Cakung drain, perbaikan saluran dan kanal. Seperti halnya periode kolonial, masalah utama pada periode ini adalah dana.

Secara struktural pelaksanaan pengendalian banjir dari dua periode tersebut ada perbedaan. Pada masa kolonial masalah pembangunan sarana pengairan, dari perencanaan sampai pelaksanaan proyek dikerjakan oleh kotapraja dengan bantuan dana dari propinsi. Sedangkan pada masa pemerintahan Indonesia, pelaksanaan proyek banjir ditangani oleh suatu badan karena dianggap sebagai pekerjaan vital. Sejak 1965 dibentuk Kopro Banjir yang kemudian diubah menjadi PBJR (Proyek Pengendalian Banjir Jakarta Raya) pada 1972. Secara struktural, instansi ini berada di bawah koordinasi Departemen Pekerjaan Umum.

Rupanya pertanyaan saya pada Mas Gun mengenai apakah Jakarta masih akan dapat tamu ‘banjir’ juga ditanyakan oleh salah seorang penguji. Kali ini bukan dengan ‘cengiran’ ala Mas Gun tapi ia memberikan jawaban yang memuaskan para penguji. Hasilnya setelah menjawab berbagai pertanyaan para penguji Mas Gun meraih Doktor dengan predikat sangat memuaskan. Ketika usai sidang, saya mendekati Mas Gun sambil berkata kesimpulannya sederhana, mas. Pengendalian diri alias manusia sebagai salah satu unsur lingkungan harus mampu mengendalikan dirinya.

Di tengah sidang, Asep Sunarya dari UNJ yang duduk di sebelah saya berbisik menanyakan asal kata banjir Spontan saya teringat tulisan Mrazek. Banjir/bandjir sendiri, menurut Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land, menjadi salah satu kata Melayu yang tidak diterjemahkan (atau tak dapat diterjemahkan). Satu kata yang menandakan bencana. Pantas kata Asep, “gue pernah ditawarin mie banjir, maksudnya mie yang kuahnya banyak seperti banjir.”

Selamat Mas Gun ‘Doktor Banjir’.

keterangan foto: Ki-ka, Mbak Amur, Mas Gun, Kang Ade, saya.

2 thoughts on “Doktor Banjir

  1. sari di jogja

    salam kenal dulu,,,
    saya bisa ga ya kontak langsung dengan bapak restu gunawan untuk menanyakan masalah banjir jakarta. saya lagi mengerjakan tugas tentang kanal-kanal di batavia gitu. mungkin bisa dikasih tau email atau nomor yang bisa saya hubungin. kemarin dapat rekomendasi tentang bapak restu gunawan dari bapak junus satrio. terimakasih sebelumnya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *