Dua Ribu Tiga Belas

kal-teng

Akhir tahun, menjelang tahun yang baru, saat yang tepat untuk melihat kembali apa saja yang telah dilalui sepanjang tahun 2013 ini.  Sengaja saya melihat kembali tulisan saya di awal tahun 2013 dengan judul ‘Mengalir’.  ‘Mengalir’ yang tidak sekedar mengalir seperti air, mengalir jauh ke bawah tetapi jika perlu mengalir ke atas seperti aliran air dalam akuaduk, struktur saluran air pada masa Romawi.

Jika akhir tahun lalu hingga pertengahan bulan Januari saya harus beristirahat karena sakit, tahun ini Alhamdulillah saya dapat beraktivitas seperti biasa. Bahkan saya mendapatkan kesempatan melakukan kegiatan dan bepergian.

Tahun 2013 ini sepertinya tahun bepergian.  Sejak bulan April hingga Desember saya mendapat kesempatan ke luar kota.  Bahkan ada yang ke luar pulau.  Meskipun semua kegiatan itu berhubungan dengan tugas dan bukan untuk plesiran tetapi boleh saja, kan ‘sambil menyelam, mencari ikan’.  Untuk pertama kalinya  dalam rangka tugas (negara), saya menginjakkan kaki di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan. Kesempatan tersebut merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya.

NTTPengalaman tersebut sangat berharga, terutama untuk menguji tesis Benedict Anderson mengenai komunitas yang dibayangkan. Dalam hal ini adalah membayangkan Indonesia yang sekarang memiliki 33 provinsi. Pengalaman ini juga mengantarkan saya bertemu dengan teman dan sahabat baru (thanks to Dr. Abdul Syukur, Dr. Rudy Gunawan, Dr. Nana Supriatna, Dr. Huriah Rachmah. Kurniawati, M.Hum).

Aktivitas membaca dan menulis seperti yang tercantum dalam tulisan saya pada awal tahun 2013 kembali menjadi aktivitas yang sepertinya begitu berharga.  Alasannya pun sangat klise karena tidak ada waktu. Sebenarnya itu bukan alasan. Waktu selalu ada tetapi bagaimana mengatur waktu yang baik itu yang sulit. Mengatur waktu membaca, mengatur waktu menulis atau sekedar merenung untuk dituangkan dalam tulisan.

Saya pun ‘memaksakan’ diri untuk menulis. Hasilnya, beberapa resensi buku, artikel  untuk makalah dapat diselesaikan.  Sepertinya ‘pemaksaan’ ini harus terus dilakukan sehingga nanti tidak lagi menjadi pemaksaan tetapi menjadi sukarela. Apalagi infra strukturnya sudah ada. Tahun ini saya diberikan senjata baru berupa laptop yang diharapkan meningkatkan produktivitas saya. Selain itu diharapkan pula sebagai upaya percepatan penyelesaian disertasi saya yang targetnya tahun depan (2014).

Disertasi, ah jadi teringat pengalaman di beberapa tempat. Pengalaman ‘menggetarkan’ sekaligus menjadi pemicu bagi saya untuk segera menyelesaikan kewajiban. Supaya sah dan tidak menjadi beban.

Untuk aktivitas membaca, saya punya ukuran tertentu. Jika dalam hitungan menit ketika saya membaca sesuatu saya tertidur, berarti saya mengantuk.  Tahun 2013 ini sepertinya lebih baik dari tahun lalu. Beberapa buku dapat saya baca dan saya cukup menikmatinya.

….Tahun 2013 sudah hampir berganti.

foto: koleksi Huriah Rachmah a.k.a Okke (thanks forto-fotonya, bu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *