<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sangkelana</title>
	<atom:link href="http://sunjayadi.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sunjayadi.com</link>
	<description>the journey of a thousand miles begins with one step</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 May 2013 23:01:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Semarang&#8230;kaline banjir</title>
		<link>http://sunjayadi.com/semarang-kaline-banjir.html</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/semarang-kaline-banjir.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 May 2013 11:46:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Coretan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[achmad sunjayadi]]></category>
		<category><![CDATA[jongkie tio]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan ke semarang]]></category>
		<category><![CDATA[semarang]]></category>
		<category><![CDATA[semarang kaline banjir]]></category>
		<category><![CDATA[simposium akaba 17 agustus semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Sunjayadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[“Semarang, like Cheribon, is the capital of a residency of the same name as itself and lies at the mouth of a river also of the same name. There is nothing in its appearance from the sea to give one any idea that he is approaching a city of over 97,000 inhabitants and the third [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/05/lawangsewu.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-437" title="lawangsewu" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/05/lawangsewu-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>“<em>Semarang, like Cheribon, is the capital of a</em><em> </em><em>residency of the same name as itself and lies at the </em><em>mouth of a river also of the same name. There</em><em> </em><em>is nothing in its appearance from the sea to give </em><em>one any idea that he is approaching a city of over</em><em> </em><em>97,000 inhabitants and the third city of Java </em><em>in commercial importance</em>.” Demikian tulis Arthur S. Walcott dalam <em>bukunya Java and Her Neighbours</em> (1914).</p>
<p><span id="more-435"></span></p>
<p>Saya lalu mengambil buku lain, <em>Isles of the East: An Illustrated Guide to Australia, Papua, Java, Sumatra </em>(1912). Di sana tertulis: ‘<em>SAMARANG is an important commercial</em><em> </em><em>town, and the new port, which</em><em> </em><em>is in course of construction, will doubtlessly</em><em> </em><em>add to the prosperity of the town.</em><em>’</em></p>
<p>Buku lain <em>Guide Through Netherlands India</em> (1903) menuliskan: ‘<em>Travelling from Batavia to Samarang, the principal seaport of Mid-Jawa, it is better to make use of the direct steamers of the Packet Company, which, in twenty-four hours accomplish the passage over the generally very calm sea. The steamers, which call at the coasting-places Cheribon at the foot of the isolated volcano Tjerimai, 93070 m.high), Tegal (behind which rises the smoking Slamat, 3427 m.high), and Pekalongan (with the Prahoe mountain, 2500 m.) taka a day longer</em>.’</p>
<p>Saya berhenti membaca lalu melanjutkan dengan buku yang lain. Sebuah catatan dari Alleta Jacobs, perempuan pertama Belanda yang menjadi dokter setelah menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Groningen. Alleta sempat mengunjungi Semarang. Dalam catatannya <em>Reisbrieven uit Afrika en Azie, benevens eenige brieven uit Zweden en Noorwegen </em>(1913) ia menulis: “<em>Batavia maakte op ons, want mijne reisgenoote denkt er ook zoo over, den indruk alsof de gegevens er zijn om er een mooie stad van te maken, maar dat men nog maar steeds met den opbouw niet begonnen is. Semarang is daarentegen af, de stad staat er en mag zich laten zien en bewonderen. Maar, behalve dat de stad als zoodanig een bezoek waard is, biedt zij overigens voor toeristen niet veel merkwaardigs. Ook bleven wij er niet lang genoeg om sociale instellingen te gaan zien. het nieuwe hospitaal moet, zooals mij gezegd werd, het beste van heel Java zijn.”</em></p>
<p>Saya menutup buku-buku itu sambil membayangkan Semarang, kota yang akan saya kunjungi. Pertengahan April lalu saya pun tiba di sana.</p>
<p>Ketika saya masih kanak-kanak, pada saat melakukan perjalanan lintas Jawa bersama keluarga, kota Semarang hanya kami lewati. Jadi terus terang, saya sama sekali tidak ada bayangan mengenai salah satu kota penting di Jawa ini. Selain merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah pada masa kini, pada masa kolonial kota Semarang juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Pada 23 Mei 1920, <em>Indische Sociaal-Democratische Vereeniging</em> (ISDV) didirikan di Semarang.</p>
<p>Namun, perjalanan ke Semarang kali ini bukan untuk liburan. Saya mendapat undangan dari Akaba 17 Agustus dan Yayasan Budaya Widya Mitra Semarang untuk menghadiri Simposium Akulturasi Indonesia-Belanda dalam rangka 20 tahun Program Studi Belanda Akaba dan 18 tahun Yayasan Budaya Widya Mitra. Selain saya, beberapa mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI juga diundang untuk tampil memeriahkan konser penyanyi dari Belgia, Eva De Roovere di Auditorium RRI Semarang.</p>
<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/05/simposium-Akaba-semarang2013.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-439" title="simposium Akaba-semarang2013" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/05/simposium-Akaba-semarang2013-211x300.jpg" alt="" width="211" height="300" /></a></p>
<p>Seperti halnya perjalanan sewaktu menghadiri konferensi internasional IAHA di Solo bulan Juli 2012 lalu, saya memilih menggunakan kereta. Ada beberapa alasan saya menggunakan transportasi tersebut. Pertama, perjalanan ke bandara yang menurut saya lebih lama (lebih menegangkan) dibandingkan ke stasiun serta tidak adanya kesempatan menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.</p>
<p>Ada beberapa hal yang menurut saya cukup menarik sepanjang perjalanan menuju Semarang. Posisi kursi yang ada di sebelah kiri rupanya sangat menguntungkan. Setelah beberapa jam duduk, lepas kota Pekalongan, kita akan disuguhi pemandangan yang luar biasa. Pemandangan Laut Jawa dari sudut pandang yang berbeda. Apalagi jika kita melihatnya dari arah kereta.</p>
<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/05/pemandgn1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-440" title="pemandgn" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/05/pemandgn1-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Memasuki Stasiun Tawang, cuaca panas menyambut. Rombongan kami disambut Ibu Inge, Koordinator Program Studi Belanda Akaba 17 Agustus.</p>
<p>Sekilas di tengah perjalanan menuju tempat penginapan di daerah Singosari, saya melihat Kota Lama Semarang dengan bangunan-bangunan kunonya.</p>
<p>Sore hari, saya berniat wisata kuliner, meskipun sedikit agak khawatir lantaran akhir tahun lalu terpaksa istirahat total karena urusan perut. Akhirnya, saya memutuskan menuju kawasan Simpang Lima. Rupanya godaan terlalu besar, maka saya mengudap Tahu Gimbal. Saya tidak makan di tempat tetapi <em>take away</em> alias dibungkus. Saya menikmatinya di penginapan.</p>
<p>Malam hari, kami menuju Lawang Sewu. Saya berpikir lumayan juga buat uji nyali. Dari penginapan kami menggunakan taksi. Dari kejauhan tampak bangunan Lawang Sewu yang bergaya Art Deco. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000 per orang, kami pun masuk.</p>
<p>Sebenarnya Lawang Sewu merupakan kantor <em>Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij</em> (NIS), Perusahaan Kereta Api Hindia-Belanda. Bangunan yang berada di bundaran Tugu Muda ini dibangun pada 1904 dan selesai pada 1907. Mengapa di sebut <em>Lawang Sewu</em> (Pintu Seribu), apakah karena jumlah pintu bangunan yang sangat banyak hingga mencapai seribu pintu?. Sebenarnya, jumlah pintu bangunan itu tidak sampai seribu (saya tak perlu menghitungnya). Ukuran jendela bangunan yang tinggi dan lebar (mengingatkan saya pada rumah Kakek saya di Cikini) seperti pintu membuat masyarakat menganggapnya sebagai pintu (<em>lawang</em>).</p>
<p>Rupanya bangunan ini memiliki ruang bawah tanah. Saya pun teringat tawaran seseorang dari <em>National Geographic</em> yang meminta saya untuk menjadi asisten riset terkait dengan bangunan-bangunan kuno yang memiliki ruang bawah tanah. Salah satunya, Lawang Sewu ini. Beberapa mahasiswa memutuskan untuk masuk ke ruang bawah tanah, sedangkan saya memilih mengamati bagian lain dari bangunan itu. Di tempat penjualan tiket, saya membeli suvenir magnet kulkas bergambar Lawang Sewu.</p>
<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/05/CIMG5201.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-441" title="CIMG5201" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/05/CIMG5201-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Keesokan harinya saya menghadiri Simposium. Selain membawakan makalah, saya ingin sekali bertemu dengan Bapak Jongkie Tio, pemilik restoran Semarang dan penulis buku <em>Kota</em> <em>Semarang dalam Kenangan</em> dan <em>Semarang City: A Glance into the Past </em>juga menjadi pembicara dalam simposium itu. Usai acara pembukaan saya memberikan buku saya kepada beliau. Sayang kami tidak sempat bercakap-cakap lebih lama. Beliau sempat menawari saya untuk singgah.</p>
<p>Usai acara saya bergegas membeli oleh-oleh untuk teman-teman di kantor dan keluarga di rumah. Tanpa pikir panjang saya menuju kawasan Pandanaran, pusat oleh-oleh. Pesanan lunpia untuk istri tercinta, wingko babat serta beberapa penganan kecil ditunaikan. Lalu saya menuju toko buku Merbabu untuk membeli buku <em>Pecinan Semarang  dan Dar Der Kota </em>karya Tubagus P. Svarajati yang juga direkomendasikan oleh Pak Jongkie. Malamnya saya menyaksikan penampilan mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI dan konser Eva De Roovere.</p>
<p>Esok paginya kami kembali ke Jakarta. Di tengah balutan kantuk di mata, terngiang di benak saya penggalan lirik lagu <em>Semarang kaline banjir, Jo semelang rak dipikir</em>&#8230;.Dua hari kemudian, Stasiun Tawang terendam banjir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/semarang-kaline-banjir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Naratif</title>
		<link>http://sunjayadi.com/sejarah-naratif.html</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/sejarah-naratif.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Mar 2013 11:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[andrew p. norman]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah naratif]]></category>
		<category><![CDATA[Sunjayadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Eksplanasi naratif merupakan cabang dari metodologi hermeneutika yang berkembang pada abad 20. Narativisme atau eksplanasi naratif dikembangkan oleh Ankersmit  yang mengikuti pendapat Johann Gustav Droysen (1808-1886) bahwa kisah memiliki kemampuan merangkaikan peristiwa-peristiwa dalam suatu bentuk utuh atau holistik (Leirissa 2002:16). Dilihat dari sejarahnya narativisme merupakan bentuk awal dari sejarah kritis yang dirintis pada akhir abad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/03/bradley.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-418" style="margin: 3px 7px;" title="bradley" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/03/bradley.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
<p>Eksplanasi naratif merupakan cabang dari metodologi hermeneutika yang berkembang pada abad 20. Narativisme atau eksplanasi naratif dikembangkan oleh Ankersmit  yang mengikuti pendapat Johann Gustav Droysen (1808-1886) bahwa kisah memiliki kemampuan merangkaikan peristiwa-peristiwa dalam suatu bentuk utuh atau holistik (Leirissa 2002:16).</p>
<p>Dilihat dari sejarahnya narativisme merupakan bentuk awal dari sejarah kritis yang dirintis pada akhir abad ke-19. Salah satu tokoh narativisme yang terkenal adalah Leopold Von Ranke. Ranke menganjurkan supaya sejarawan menulis apa yang sebenarnya terjadi, <em>wie est eigentlich gewesen </em>(Kuntowijoyo 2001:58) Oleh karena itu narativisme menitikberatkan pada peristiwa, khususnya peristiwa politik.</p>
<p>Melalui pendekatan ini sejarawan diharapkan dapat menggambarkan keadaan yang mendekati kebenaran dari peristiwa masa lalu dengan cara menjelaskan fakta-fakta yang terdapat dalam sumber sejarah.</p>
<p>Kisah atau naratif bertitik tolak dari gagasan yang dipilih oleh sejarawan bersangkutan yang dijadikan acuan untuk membuat seleksi atas fakta-fakta dalam sumber sejarah. Dengan kata lain bukanlah masa lampau tersebut yang menjadi patokan melainkan gagasan dari sejarawan, misalnya mengenai peristiwa-peristiwa seperti perang, renaissance (Leirissa 2002:16)</p>
<p>Namun, ada beberapa kelemahan eksplanasi naratif ini. <span id="more-416"></span>Pertama berhubungan dengan interpretasi sejarawan terhadap fakta sejarah.  Dalam bekerja, sejarawan dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain seperti personal bias, perbedaan ideologi, latar belakang budaya. Tarik menarik interpretasi ini, seperti yang diungkapkan Chris Lorenz (1990) bukannya menambah pengetahuan  tetapi justru membingungkan (Leirissa 2002:17).</p>
<p>Kelemahan dari eksplanasi naratif berikutnya adalah metodologi ini hanya membahas mengenai tokoh-tokoh besar (elit). Padahal sejarah tidak hanya terbatas membahas tokoh-tokoh besar.  Kelemahan lainnya adalah kemungkinan munculnya kesalahan ketika menyajikan kisah karena penggunaan bahasa yang emosional akibat pengaruh personal bias sejarawan terhadap suatu peristiwa sejarah yang ditelitinya (Kuntowijoyo 2001: 180). Kelemahan berikut adalah dalam pendekatan ini hanya bertumpu pada sumber tertulis.  Narativisme hanya menjelaskan sejarah atas dasar fakta yang ada pada dokumen. Padahal, selain sumber tertulis kita bisa menggunakan sumber lisan untuk melengkapi sumber tertulis.</p>
<p>Dalam artikel Andrew P. Norman ‘<em>Telling It  Like It was: Historical Narratives On Their Own Terms</em>’ (1998) diungkapkan perdebatan mengenai sejarah naratif. Namun, terlepas adanya perdebatan tersebut Norman menegaskan bahwa sejarah naratif harus diambil dari istilah mereka sendiri dan epistemis/pengetahuan mereka yang cukup serta dinilai berdasarkan kasus per kasus.</p>
<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/03/freedom.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-419" style="margin: 3px 7px;" title="freedom" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/03/freedom-300x186.jpg" alt="" width="300" height="186" /></a></p>
<p>Ada beberapa pendapat sehubungan dengan eksplanasi naratif ini. Pertanyaan yang muncul adalah apakah ‘struktur naratif’ telah ‘<em>imposed</em> (ditetapkan)’  oleh sejarawan pada pra naratif masa lalu. Norman menyebut <em>impositionalism</em> sebagai gagasan yang diangkat dalam tingkatan filosofis. Dalam menceritakan sebuah cerita mengenai masa lalu memerlukan keterlibatan bentuk interpretatif tertentu. Tokoh teoritis yang mendorong impositionalis ke garis yang paling keras adalah Hayden White. White melihat sejarah naratif sebagai penetapan struktur naratif yang memalsukan masa lalu dan menyimpulkan bahwa naratif tidak mungkin benar.</p>
<p>Dalam pandangan sejarawan Heather Sutherland, sejarah menurut White adalah narasi yang dikuasai oleh konvensi-konvensi estetika dan lebih dekat ke bidang sastra daripada bidang ilmu pengetahuan. Narasi sejarah adalah rekonstruksi yang tidak sempurna dari masa lalu yang disusun dari kepingan-kepingan bukti (Sutherland 2008:48)</p>
<p>Selanjutnya Norman mengungkapkan ‘<em>historical realism</em>’ (realisme sejarah) yang merupakan gagasan bahwa keberadaan sejarah sebagai cerita yang ditentukan dan tidak diceritakan sampai ditemukan dan diceritakan oleh sejarawan. Hal ini berkaitan dengan konstruksi narasi sejarah apakah dengan menentukan susunan narasi masa lalu atau membacakan yang sudah ada.</p>
<p>Ada sejumlah filsuf yang mendukung narativisme. Mereka memberikan tawaran argumen inovatif untuk validitas kognitifnya. Ada dua pendekatan yang cukup jelas yang dapat dilihat dalam literatur. Hal yang pertama tumbuh dari pemahaman fenomenologis dunia yang ‘sudah’ terstruktur dengan beberapa cara tertentu yang sudah pasti. Sementara pendekatan kedua memiliki akar dari teori <em>speech-act</em> (tindak bahasa) yang mencoba menempatkan dan membatasi pencarian kebenaran wacana yang lebih luas dan lebih beragam dari <em>language-games</em> (permainan bahasa)</p>
<p>Pendekatan yang pertama, membela representasional naratif ini dengan sejumlah  realisme moderat. Sementara itu pendekatan kedua menantang representasional yang sangat ideal dan dengan diam-diam mengakui kekurangan representasional naratif tersebut sehingga tampak seperti semacam impositionalisme radikal.  Dalam karya-karya Alasdair MacIntyre, David Carr dan Frederick Olafson terdapat saran untuk membela sejarah naratif dari tuntutan para impositionalis.</p>
<p>Para impositionalis menyatakan bahwa menceritakan masa lalu dalam bentuk kisah pasti dibebani oleh struktur naratif yang palsu</p>
<p>Catatan MacIntyre mengenai ‘struktur naratif kehidupan manusia’ tidak banyak tetapi itu merupakan bagian penting. Naratif, menurutnya bukanlah pekerjaan penyair, dramawan dan novelis yang merenungi peristiwa-peristiwa yang tidak memiliki susunan naratif sebelumnya dan yang digunakan oleh penyanyi atau penulis. Bentuk naratif tersebut bukanlah sekedar samaran atau hiasan. Kisah-kisah sudah ada hidup sebelum mereka diceritakan (kecuali dalam fiksi). Sejarah menurut MacIntyre adalah sebuah narasi dramatis dengan para karakter yang diperankan oleh para penulisnya.</p>
<p>Gagasan mengenai struktur naratif dari pengalaman manusia (di sini MacIntyre menggunakan istilah ‘kehidupan’, sementara Carr menggunakan istilah ‘pengalaman) mengizinkan kita untuk mengkoreksi pandangan bahwa struktur secara umum dan struktur naratif secara khusus yang diterapkan pada pengalaman manusia secara intrinsik, sehingga struktur seperti itu bukan merupakan kecerdasan, sesuatu yang tidak alamiah melainkan dipaksakan, sesuatu yang mengganggu atau melakukan ‘kekerasan’ pada sifat sejati dari realitas manusia.</p>
<p>Pandangan tersebut memiliki beberapa kebaikan. Pertama memiliki cara terhadap ‘<em>atomistic prejudice</em>’ (prasangka atomistik) tertentu yang telah lama menjadi bagian dari pendekatan analisis filsafat sejarah. Argumen yang diberikan ini bertentangan dengan analisa pendekatan dari asumsi banyak filsuf (khususnya impositionalis) yaitu masa lalu itu tidak berawal atau secara khusus diberikan kepada kita dalam bentuk kejadian yang terpisah atau terisolasi yang lalu diberikan dalam bentuk koherensi naratif palsu oleh seorang sejarawan.</p>
<p>Kebaikan kedua dari catatan <em>Plot-reifier</em> (alur konsep/gagasan abstrak yang dijadikan nyata) sepertinya untuk menjelaskan bagaimana sejarah naratif dapat menjadi benar. Kisah mengenai masa lalu adalah benar, untuk catatan seperti itu ketika secara tepat memetakan struktur naratif dari kehidupan masa lalu.</p>
<p>Dalam karya awalnya, MacIntyre menjelaskan perhatian dalam pembelaan atas tuntutan kebenaran naratif. Menurutnya untuk mengajukan pertanyaan tentang kebenaran tidak membutuhkan penolakan kisah atau cerita yang sesuai dan mungkin hanya bentuk yang sesuai dengan kebenaran yang diceritakan. Kesimpulan yang diperoleh oleh MacIntyre dalam <em>After Virtue</em> kelihatannya dipaksa oleh kebutuhan untuk menjelaskan bagaimana ini dapat seperti itu.</p>
<p>Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah masa lalu memiliki plot/alur cerita? Gagasan bahwa masa lalu sudah memiliki alur, menurut Norman bukanlah gagasan yang dapat dipahami. Hal ini akan berkaitan dengan siapa yang menulisnya, bagaimana, kapan dan untuk siapa. Sehubungan dengan pertanyaan mengenai penulis dan pembaca, kita dapat mengajukan pertanyaan bagaimana dan kapan masa lalu tersebut dibuat alur ceritanya?</p>
<p>Tentunya akan ada keberatan yang tergantung pada penolakan langsung terhadap pernyataan MacIntyre dan Carr mengenai ‘kisah-kisah sudah ada sebelum mereka diceritakan’.</p>
<p>Pendekatan kedua yang membela naratif sebagai alat diskursif (tidak  berkesinambungan) tidak memperdulikan gambaran yang terbukti benar. Hal ini memunculkan pertanyaan radikal yang mengasumsikan bahwa narasi sejarah dimaksudkan sebagai kebenaran dan banyaknya permintaan bahwa kita melihat narasi sejarah seperti mencari sesuatu yang lain dari legitimasi referensial.</p>
<p>Sejarah harus dilihat bukan sebagai gambaran sederhana yang pernah terjadi tetapi sebagai upaya yang berorientasi praktis untuk membentuk kembali pemahaman efektif kolektif kita terhadap masa lalu.</p>
<p>Norman memberikan contoh J.F Lyotard dan Roland Barthes sebagai tokoh utama yang mengacu pada pandangan ini yaitu pandangan <em>anti-referentialism.</em> Pandangan tersebut merupakan distilasi(penyaringan) dari upaya sugestif untuk membebaskan narasi sejarah dari ‘ kriteria kebenaran’. Setelah mendiskusikan argumen yang diajukan oleh Lyotard dan Barthes, Norman menganggap mereka gagal dengan argumen yang diajukan tersebut.</p>
<p>Lyotard berargumen bahwa pengetahuan naratif dan pengetahuan ilmiah merupakan bagian dari permainan bahasa yang berbeda. ‘Pengetahuan ilmiah mengharuskan bahwa permainan bahasa, tanda penunjuk (denotasi), dipertahankan dan semuanya dikecualikan. Sebuah pernyataan yang mengandung nilai kebenaran menentukan kriteria penerimaannya.’</p>
<p>Pengetahuan denotasi membutuhkan fakta, argumen dan bukti tetapi pengetahuan naratif tidak memberikan prioritas untuk pertanyaan atas legitimasinya sendiri. Pengetahuan denotasi sepertinya menyatakan dirinya dalam penyebaran pragmatik sendiri tanpa harus menggunakan jalan lain untuk berargumentasi dan mencapai kebenaran. Sehingga adalah hal mustahil untuk menilai keberadaan atau keabsahan pengetahuan naratif berdasarkan pengetahuan ilmiah dan sebaliknya karena kriteria yang relevan berbeda.</p>
<p>Lyotard mengira bahwa pernyataan denotasi dapat ‘dengan mudah dimasukkan’ dalam naratif tetapi menegaskan bahwa naratif merupakan jenis pengetahuan yang  harus terisolasi dari kriteria kebenaran.</p>
<p>Sementara itu Barthes dengan kritis mencatat bahwa ‘narasi dari peristiwa masa lalu’ dalam budaya kita merupakan ‘subyek yang telah dikenakan sanksi ilmu sejarah’ dan secara historis terikat pada standar yang mendasari kenyataan. Ia menyayangkan hal tersebut dan ia menyimpulkan bahwa ‘klaim mengenai “realisme” naratif oleh karena itu diabaikan. Fungsi dari naratif bukan untuk “mewakili”, tetapi untuk membentuk satu pertunjukan utuh. Naratif tidak memperlihatkan dan tidak meniru. Apa yang terjadi dalam sebuah narasi adalah dari sudut pandang referensial secara harfiah tidak terjadi apa-apa. Justru yang terjadi adalah dalam bahasa itu sendiri.</p>
<p>Maka dalam anti-referentialisme dapat dilihat sebagai bagian gerakan yang berasal dari Wittgenstein melalui Austin menuju teori <em>Speech-act </em>(tidak bahasa) untuk mengkoreksi kelalaian dan kesalahan persepsi yang muncul dari pandangan bahasa sebagai media representasional yang murni. Hal itu bertujuan untuk menyingkap hal yang sering dikaburkan.secara normatif, performatif dan dimensi praktis dari penggunaan naratif bahasa.</p>
<p>Untuk  membuat naratif diperhitungkan sebagai sejarah dan bukan fiksi, naratif harus memperhatikan fakta-fakta tetapi pada umumnya upaya penyusunan kembali ini merupakan masalah yang dikesampingkan.</p>
<p>Kenyataannya adalah narasi sejarah merupakan bagian besar yang dimaksudkan untuk menceritakan kepada kita seperti apakah masa lalu tersebut (<em>what the past was like</em>). Mereka terdiri dari pernyataan <em>mengenai</em> masa lalu dan mereka berupaya untuk menceritakan kepada kita apa yang sebenarnya terjadi. Ini berarti bahwa secara tepat narasi sejarah dimaksudkan untuk mengacu kebenaran yang mereka klaim.</p>
<p>Secara rinci pembelaan dari <em>plot-reifier</em> dan <em>anti-referensialis</em> mengembalikan kita kepada pertanyaan mengenai legitimasi epistemis dari kisah. Bagaimana  tuntutan impositionalis dijawab dengan singkat oleh struktur plot-reifier atau menarik narasi dari permainan kebenaran sepenuhnya?</p>
<p>Hal pertama yang dapat dicatat adalah argumen yang telah diajukan sebelumnya dapat digunakan lagi di sini untuk melawan tuntutan impositionalis. Sebuah narasi tentu dapat menggunakan hubungan palsu atau secara mudah mendapatkan masa lalu yang keliru tapi itu tak dibutuhkan.</p>
<p>Argumen kedua yang melawan impositionalis, dapat disebutkan dengan singkat bahwa tidak cukup menggambarkan proses penulisan sejarah. Tak dapat dipungkiri bahwa sejarawan harus memilih, mengumpulkan, menafsirkan, menyusun, dan sebagainya. Namun, untuk mengatakan bahwa ini merupakan <em>pemaksaan</em> pada masa lalu menyiratkan sebuah kekerasan yang ‘merindukan karakter dialektika yang tepat’ dalam penelitian sejarah.</p>
<p>Seorang sejarawan yang baik akan berinteraksi secara dialogis dengan catatan sejarah, mengenali batas-batas itu dan menempatkan penjelasan yang mungkin dari masa lalu.</p>
<p>Norman berpendapat bahwa ada sesuatu yang dipaksakan dan merupakan hal yang dibuat pada setiap tiga posisi utama dalam filsafat sejarah. Beberapa ahli teori bersikeras meskipun terdapat sejumlah silang pendapat, bahwa narasi sejarah tidak mungkin menjadi kebenaran. Sebaliknya, ada yang didorong untuk membuat klaim ontologisme yang aneh demi membela kehormatan epistemis narasi. Akhirnya, ada kelompok ahli teori yang lain membuat kesimpulan bahwa sejarah naratif tidak mengklaim kebenaran.</p>
<p>Secara garis besar uraian Norman mengenai naratif dapat dibagi dalam masing-masing kelompok yaitu:</p>
<ol>
<li>Kelompok Impositionalis menerima bahwa sejarah naratif dimaksudkan sebagai rujukan. Mereka juga meyakini bahwa menceritakan sebuah kisah mau tidak mau membebankan struktur narasi yang memalsukan masa lalu dan sampai pada kesimpulan skeptis yang membuat tidak senang yaitu narasi tidak mungkin benar.</li>
<li>Kelompok Anti-referensialis memilih keluar dari masalah dengan menyangkal bahwa sejarah naratif mengklaim kebenaran. Posisi ini sebagian besar dimotivasi oleh keinginan untuk berada di depan, di mana fungsi non-referensial sebagai wacana naratif.</li>
<li>Kelompok Plot-reifier setuju dengan kelompok impositionalis bahwa sejarah bertujuan untuk mencapai kebenaran tetapi berbeda dengan impositionalis dalam pemikiran bahwa sejarah naratif terkadang berhasil. Secara singkat dapat dikatakan bahwa mereka membuat konsep alur dalam sejarah menjadi nyata untuk menjadi sesuatu di dunia di mana struktur naratif dapat sesuai dalam mencapai kebenaran.</li>
</ol>
<p>Argumen lain dari Norman adalah hal  yang penting untuk melestarikan pemahaman tentang sejarah sebagai  upaya mengklaim dan terkadang untuk mencapai kebenaran. Hal tersebut adalah mulai perlu dibiasakannya gagasan bahwa dalam membangun sebuah narasi sejarah tidak perlu memalsukan masa lalu. Norman ingin menunjukkan bahwa beberapa narasi sejarah merupakan konstruksi yang benar (<em>construction does not entail falsification</em>) dan ia berargumen bahwa jika kita mengambil fakta tersebut dengan serius dan berusaha untuk mengatasinya, maka itu akan bermakna bagi teori naratif.</p>
<p>Sejarah naratif mungkin hanya sekedar figural (perlambang) dalam arti menghasilkan bentuk diskursif (ketidaksinambungan) baru dan pada saat bersamaan memiliki makna literal dalam hal untuk dipertanyakan dan (layak) dipahami secara harfiah dan tidak ada yang bertentangan di dalamnya <em>(there is nothing contradictory in thi</em>s)</p>
<p>Jadi menurut Norman upaya ilmiah adalah upaya untuk menggambarkan (<em>describe</em>) sesuatu yang abadi, serta upaya etis untuk menentukan (<em>prescribe</em>) masa depan yang lebih baik, dan upaya-upaya historis untuk menuliskan kembali (<em>reinscribe</em>) masa lalu. Masing-masing dapat menjadi kenyataan dengan cara mereka sendiri. Bagi mereka yang memiliki keinginan besar untuk menggeneralisasi, mungkin kita dapat mengatakan bahwa yang pertama mungkin dapat menjadi benar dengan menceritakannya seperti apa adanya (<em>telling it like it is</em>). Lalu yang kedua dengan menceritakan seperti yang seharusnya (<em>telling it like it ought to be</em>) serta yang ketiga menceritakan seperti yang telah terjadi (<em>telling it like it was</em>). Jumlah ini dalam kasus tertentu tentu saja akan sangat bervariasi. Namun, kita jangan berharap gambaran yang lebih tepat pada tingkat generalisasi dari subyek materi yang memungkinkan.</p>
<p>Secara fakta dapat dikatakan bahwa narasi adalah produk dari sebuah proses kreatif, suatu konstruksi yang kembali mengartikulasikan masa lalu sehingga dengan sendirinya bukan suatu kompromi atas kebenaran.</p>
<p><strong>Daftar Bacaan</strong></p>
<p>Kuntowijoyo. 2001. <em>Pengantar llmu Sejarah</em>. Yogya: Bentang</p>
<p>Leirissa, R.Z. 2002. <em>Diktat Metodologi Sejarah</em>. Depok: FIB UI</p>
<p>Norman, Andrew. P. 1998. ““<em>Telling It Like It Was: Historical Narratives on Their Own </em></p>
<p><em>Terms” </em> dalam Brian Fay (eds). <em>History and Theory. Contemporary Readings</em>. Oxford: Blackwell</p>
<p>Sutherland, Heather. 2008. “Meneliti sejarah penulisan sejarah” dalam Henk Schulte</p>
<p>Nordholt (eds). <em>Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia</em>. Jakarta: YOI</p>
<p>foto:</p>
<p>1.www.bibliovault.org</p>
<p>2. www.latitudes.nu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/sejarah-naratif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Ayam</title>
		<link>http://sunjayadi.com/kisah-ayam.html</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/kisah-ayam.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2013 23:45:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[ayam bangkok]]></category>
		<category><![CDATA[ayam cemani]]></category>
		<category><![CDATA[ayam kate]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tentang ayam]]></category>
		<category><![CDATA[kisah ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Sunjayadi]]></category>
		<category><![CDATA[the story of ayam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Almarhum pakde saya adalah seorang pecinta hewan. Salah satunya ayam jago yang pada pagi hari suaranya mampu membangunkan saya dari mimpi indah. Ayam jago yang berjenis bangkok itu mendapat perlakuan istimewa. Mulai dari kandang yang selalu diperhatikan kebersihannya, makanan, vitamin  yang selalu dijaga hingga belaian penuh kasih dan mungkin rasa sayang. Setiap minggu ayam bangkok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/02/ayam_jago.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-411" style="margin: 3px 7px;" title="ayam_jago" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/02/ayam_jago-223x300.jpg" alt="" width="223" height="300" /></a></p>
<p>Almarhum pakde saya adalah seorang pecinta hewan. Salah satunya ayam jago yang pada pagi hari suaranya mampu membangunkan saya dari mimpi indah. Ayam jago yang berjenis bangkok itu mendapat perlakuan istimewa. Mulai dari kandang yang selalu diperhatikan kebersihannya, makanan, vitamin  yang selalu dijaga hingga belaian penuh kasih dan mungkin rasa sayang.</p>
<p>Setiap minggu ayam bangkok itu dimandikan. Tentunya bukan seperti memandikan motor Honda tunggangannya, ke tempat dia bekerja setiap hari di sebuah pabrik di bilangan utara Jakarta. Ayam itu disiraminya dengan air dari tangan sambil diusap secara perlahan.</p>
<p>Lain dengan Almarhum ayah. Suatu ketika beliau membawa ayam jago hitam legam yang dikenal dengan ayam Cemani.  Sekujur tubuhnya, mulai dari bulu, jengger, kaki, hingga daging dan tulangnya berwarna hitam. Konon ayam ini berharga mahal (hingga puluhan juta) dan kerap dipakai untuk ritual tertentu. Mungkin almarhum ayah saya mengetahui betapa mahalnya jenis ayam itu sehingga berniat memeliharanya. Lain waktu beliau membawa ayam yang berbulu keriting, jantan dan betina. Ibu saya menyebutnya ayam bulu walik. Beberapa teman adik saya yang berkunjung ke rumah sering tertawa dan berseloroh ayam keriting itu cocok dipelihara keluarga kami lantaran kami semua nyaris berambut keriting.<span id="more-410"></span></p>
<p>Ada satu lagi jenis ayam yang pernah kami pelihara yaitu ayam Kate. Ayam cebol yang dikenal sebagai ayam Bantam. Berbeda dengan ayam Cemani yang mendapatkan kandang khusus, ayam Keriting dan ayam Kate dimasukkan dalam kandang (sebenarnya bukan kandang tapi bagian lahan kosong di samping rumah yang diberi pagar dan pintu). Selain mereka, ada pula beberapa pasang ayam kampung biasa yang kami pelihara khusus untuk menjadi hidangan opor di hari Lebaran.</p>
<p>Pasangan ayam kampung yang ‘subur’ memberi kami telur-telur. Beberapa telur diambil oleh ibu saya atau kami yang dengan hati-hati mengambil telur itu. Lalu ibu mengubahnya menjadi telur ceplok atau dadar untuk lauk sarapan. Sebagian telur lagi menetas menjadi anak-anak ayam.</p>
<p>Bulu boleh berbeda tapi dalamnya hati siapa tahu. <em>Size doesn’t matter</em>. Kisahnya bermula ketika ayam Kate betina usai mengerami telur-telurnya dan telur-telur itu menetas. Anak-anak ayam Kate berbulu walik pun berlarian ke sana-kemari mengikuti induk mereka mencari makan. Hubungan intim antara ayam Bulu walik jantan dan ayam Kate betina membuahkan hasil. Ayam Kate berbulu walik menjadi salah satu jenis ayam yang pernah kami miliki. Teman-teman adik saya pun semakin sering tertawa melihat ayam-ayam jenis itu.</p>
<p>Pasti Anda yang membaca kisah ini menunggu-nunggu apakah saya akan menuliskan atau mengkaitkannya dengan ayam kampus. Lalu Anda terkejut ternyata kisah ini bukan kisah ayam kampus yang harganya tidak kalah dengan ayam Cemani.  Ditunggu saja. Kisah ayam ini masih ada lanjutannya, kok!</p>
<p>foto ayam: http://esq-news.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/kisah-ayam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengalir</title>
		<link>http://sunjayadi.com/mengalir.html</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/mengalir.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2013 00:33:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[achmad sunjayadi]]></category>
		<category><![CDATA[aliran kata dan kalimat]]></category>
		<category><![CDATA[catatan awal tahun 2013]]></category>
		<category><![CDATA[mengalir]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi 2013]]></category>
		<category><![CDATA[Sunjayadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Awal 2013. Biasanya setiap awal tahun dimulai dengan resolusi yang akan dilakukan sepanjang tahun. Namun, awal tahun ini tidak banyak resolusi yang dibuat. Pertama, kondisi fisik yang masih belum memungkinkan alias masih perlu istirahat total. Virus yang menyerang di akhir tahun sepertinya masih betah hingga pertengahan Januari. Dalam kondisi seperti itu, rasanya malas untuk melakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-430 alignleft" style="margin: 3px 7px;" title="sunjayadi dan tintin, brussel" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2013/01/mengalir-blog-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></p>
<p>Awal 2013. Biasanya setiap awal tahun dimulai dengan resolusi yang akan dilakukan sepanjang tahun. Namun, awal tahun ini tidak banyak resolusi yang dibuat. Pertama, kondisi fisik yang masih belum memungkinkan alias masih perlu istirahat total. Virus yang menyerang di akhir tahun sepertinya masih betah hingga pertengahan Januari.</p>
<p>Dalam kondisi seperti itu, rasanya malas untuk melakukan berbagai hal (di luar aktivitas rutin seperti makan, minum, beribadah, istirahat). Aktivitas menulis serta membaca (kecuali Al Qur’an) yang biasanya dilakukan menjadi terasa berat. Satu hal yang sepertinya harus diubah. Waktu membaca yang pada tahun lalu nyaris tak ada (meskipun banyak buku-buku baru yang hanya jadi penghias rak), tahun ini harus digiatkan lagi. Tak ada lagi alasan. Tak ada lagi tawar-menawar.</p>
<p>Setelah tubuh kembali sehat, rasanya perlu memikirkan resolusi tahun ini. Kembali lagi resolusi untuk menulis terlontar dari pikiran. Sama halnya dengan aktivitas menulis yang tahun lalu ‘dipaksakan’ kembali menulis, aktivitas membaca dan mencari waktu yang ‘tepat’ (istilah orang yang sok sibuk seperti saya) sepertinya harus dipaksa.Hasilnya beberapa buku, koleksi saya dan istri saya yang belum sempat terjamah, saya baca halaman demi halaman hingga selesai. Awal tahun ini (hingga akhir Januari) dua setengah buku selesai. Tak ada target berapa buah buku yang harus saya baca tahun ini. Seperti kebiasaan dalam bekerja, saya tidak hanya fokus pada satu buku, tapi jika memungkinkan beberapa buku.<span id="more-406"></span></p>
<p>Saya sadar dalam aktivitas menulis kita sebelumnya perlu mendapat berbagai informasi yang sehat. Informasi sehat yang membuat kita dengan sendirinya membuat kita mengalirkan kata, kalimat dalam susunan logis, dapat dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.</p>
<p>Berbagai kegiatan di tahun ini sudah menanti. Kalimat ‘biarkan mengalir, seperti air’ rasanya sudah tidak tepat lagi karena air mengalir pun ada saatnya berhenti. Meskipun aliran air biasanya mencari tempat yang lebih rendah. Padahal aliran air bisa kita arahkan ke tempat yang lebih tinggi. Caranya? Tentu diperlukan alat bantu (selain proses hujan) yang bisa mengalirkan air itu ke tempat yang lebih tinggi untuk mengalir kembali ke tempat yang lebih rendah. Dengan harapan aliran air tersebut berguna dan tidak merugikan orang banyak. Semoga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/mengalir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhir tahun 2012</title>
		<link>http://sunjayadi.com/akhir-tahun-2012.html</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/akhir-tahun-2012.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2012 10:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[catatan akhir tahun 2012]]></category>
		<category><![CDATA[menulis minimal tiga puluh menit sehari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2012 nyaris berlalu. Sempat dihebohkan karena diyakini sebagai akhir dari dunia alias kiamat. Orang-orang yang mempercayainya menunggu dengan cemas. Mulai dari 12-12-12 hingga 21-12-12. Semua berlalu tanpa terjadi apa pun. Tahun 2012 ini bagi saya penuh dengan dinamika. Berbagai kegiatan baik di dalam maupun di luar negeri yang saya ikuti menambah pengalaman dan pengetahuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2012 nyaris berlalu. Sempat dihebohkan karena diyakini sebagai akhir dari dunia alias kiamat. Orang-orang yang mempercayainya menunggu dengan cemas. Mulai dari 12-12-12 hingga 21-12-12. Semua berlalu tanpa terjadi apa pun.</p>
<p><span id="more-400"></span></p>
<p>Tahun 2012 ini bagi saya penuh dengan dinamika. Berbagai kegiatan baik di dalam maupun di luar negeri yang saya ikuti menambah pengalaman dan pengetahuan yang saya rasa semakin kurang.  Sepanjang tahun 2012, saya bertemu dan berkenalan dengan beragam orang dengan segala kepentingannya. Walau tidak semua orang dapat saya penuhi maksudnya tetapi saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah mereka mengenal saya melalui teknologi informasi alias melalui internet.</p>
<p>Tahun 2012 yang saya resolusikan untuk semakin banyak menulis, sepertinya saya menulis masih karena kewajiban. Banyak ide bersliweran di kepala namun hanya di sana. Tidak pernah ide tersebut saya tuangkan dalam tulisan. Beruntung, ada beberapa kuliah, seminar serta konferensi yang harus saya ikuti sehingga mau tidak mau saya harus menulis artikel yang berbentuk ilmiah.</p>
<p>Di sini saya tidak akan menyalahkan siapa pun atau kondisi apa pun. Kesalahan hanya pada diri saya yang memang tidak terlalu fokus untuk kegiatan menulis ini. Saya ingat dan mencoba menghitung berapa banyak waktu yang saya habiskan untuk membaca? Sepertinya kegiatan membaca menjadi kegiatan mewah dan bukunya nyaris bisa dihitung dengan jari. Membaca yang saya maksudkan di sini mmebaca dengan santai menikmati kata demi kata.</p>
<p>Akhir tahun 2012 ini saya diingatkan oleh Allah untuk selalu menjaga kondisi tubuh. Setelah sekian lama merasa selalu kuat, saya terpaksa ‘mengistirahatkan’ tubuh. Sebenarnya masih belum full  beristirahat karena selama lima hari saya mengikuti pelatihan penulisan artikel jurnal internasional dan masih ada satu ujian akhir. Alhamdulillah saya dapat melewatinya dan langsung full <em>bedrest</em> mengembalikan kondisi tubuh menyambut 2013.</p>
<p>Dalam kondisi sakit, saya mengikuti pelatihan penulisan artikel jurnal internasional. Keikutsertaan dalam pelatihan tersebut, semakin membuka mata saya terhadap aktivitas menulis. Sebenarnya beberapa tahap yang disampaikan dalam pelatihan telah saya lakukan. Namun, saya tidak konsisten untuk melakukannya setiap hari. Seharusnya ini yang perlu diubah di tahun 2013. Salah satu ‘resep’ dari pelatihan yang menurut saya menarik adalah ‘menulislah tiga puluh menit sehari (minimal)’, ‘jangan menganggap kegiatan menulis merupakan kegiatan nomor satu, ini akan membuat kita menjadi stress’.</p>
<p>…..Akhir tahun 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/akhir-tahun-2012.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ku&#8217;pe</title>
		<link>http://sunjayadi.com/kupe.html</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/kupe.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 23:02:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[album lawas]]></category>
		<category><![CDATA[band legendaris indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[cd koes plus]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian band]]></category>
		<category><![CDATA[koes plus]]></category>
		<category><![CDATA[koes plus jadul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[Kenangan bisa dibangkitkan dengan berbagai medium. Entah itu benda yang dapat kita lihat, sentuh dan cium atau pun sesuatu yang dapat kita dengar. Salah satunya album-album lawas dari kelompok musik legendaris Indonesia ini yaitu Koes Plus. Saya mulai mendengar album-album Koes Plus sejak usia balita puluhan tahun silam. Bersama dengan lagu-lagu kocak dari Benyamin S [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenangan bisa dibangkitkan dengan berbagai medium.  Entah itu benda yang dapat kita lihat, sentuh dan cium atau pun sesuatu yang dapat kita dengar. Salah satunya album-album lawas dari kelompok musik legendaris Indonesia ini yaitu Koes Plus.</p>
<p><span id="more-396"></span></p>
<p>Saya mulai mendengar album-album Koes Plus sejak usia balita puluhan tahun silam. Bersama dengan lagu-lagu kocak dari Benyamin S , lagu-lagu jadul lainnya dan tentu saja musik tradisional yang kerap diputar dan diperdengarkan melalui radio oleh orang tua saya.  Ketika itu kami masih tinggal di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.</p>
<p>‘Ku’pe’, demikian saya menyebut kelompok musik legendaris Indonesia ini sambil mengacungkan kaset Koes Plus ke ibu atau bapak saya minta diputarkan. Ini bukan karena gaya atau trend seperti halnya ragam bahasa masa kini: ‘miapah’, ‘ciyus’, ‘enelan’.  Selain mendengar melalui radio (gelombang MW) yang mutu suaranya khas, kita ketika itu bisa melihat penampilan Koes Plus melalui TVRI. Baik dalam acara musik atau iklan kaset mereka.</p>
<p>Dalam kurun waktu tertentu, Koes Plus mengeluarkan berbagai ragam album. Mulai dari pop, pop melayu, keroncong hingga yang berbahasa Jawa. Saya masih ingat pada akhir tahun 70-an, ada buku tulis bergambar Koes Plus. Di sampul belakangnya ada satu lirik lagu Koes Plus.</p>
<p>Beberapa bulan lalu, ketika mengantar istri berbelanja di sebuah mini market dekat rumah, saya melihat dua album CD Koes Plus, Volume 1 dan 2. Saya langsung tertarik ketika melihat sampulnya. Kedua sampul CD Koes Plus tersebut menurut saya sangat menarik , klasik dan unik. Harganya pun tak terlalu membuat kita merogoh kantong terlalu dalam.  Saya pun membeli kedua album tersebut demi mengenang masa lalu.</p>
<p>Bagian belakang sampul CD volume pertama Dheg Dheg Plas mengingatkan saya pada masa balita. Lalu sampul di album volume kedua, properti bangku besi ala tahun 70-an serupa dengan bangku milik keluarga kami. Entah di mana bangku-bangku itu sekarang.   Seingat saya, sampai kami pindah ke Pondok Gede, bangku-bangku itu masih ada.</p>
<p>Lagu-lagu seperti Derita, Kembali ke Jakarta, Manis dan Sayang, Cintamu Tak Berlalu, Kisah Sedih di Hari Minggu, Hidup Yang Sepi, Andaikan Kau Datang yang pernah juga dinyanyikan kembali oleh berbagai artis Indonesia generasi sesudah Koes Plus, dapat kita temukan dan nikmati di kedua album tersebut. Kedua album ini ditampilkan apa adanya. Maksudnya bukan hasil rekaman ulang (sekarang) atas lagu-lagu tersebut. Sambil menikmati lagu-lagu dari kedua album tersebut, kepingan kenangan masa lalu terajut kembali.  Ku’pe…ah…Koes Plus…..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/kupe.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Dari Selembar Foto</title>
		<link>http://sunjayadi.com/makna-dari-selembar-foto.html</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/makna-dari-selembar-foto.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Oct 2012 10:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana perasaan Anda jika foto-foto koleksi Anda yang sifatnya pribadi dinikmati oleh orang lain? Perasaan yang timbul bisa campur-aduk. Bisa senang, bangga, terharu bahkan dapat pula sedih bercampur malu. Yang terakhir ini bila foto-foto tersebut memang sebenarnya tidak dimaksudkan dikonsumsi untuk umum. Bulan September silam saya berkesempatan mengunjungi FOAM museum fotografi Amsterdam. Museum ini terletak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2012/10/foto-radesa.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-392" title="foto-radesa" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2012/10/foto-radesa-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Bagaimana perasaan Anda jika foto-foto koleksi Anda yang sifatnya pribadi dinikmati oleh orang lain? Perasaan yang timbul bisa campur-aduk. Bisa senang, bangga, terharu bahkan dapat pula sedih bercampur malu. Yang terakhir ini bila foto-foto tersebut memang sebenarnya tidak dimaksudkan dikonsumsi untuk umum.</p>
<p><span id="more-391"></span></p>
<p>Bulan September silam saya berkesempatan mengunjungi FOAM museum fotografi Amsterdam. Museum ini terletak di Keizersgracht 609. Salah satu pameran yang menarik perhatian saya adalah koleksi para kolektor foto-foto pribadi. Maksudnya adalah foto-foto yang dipamerkan adalah koleksi album foto orang lain, bukan milik mereka. Menurut Aldo, salah seorang petugas museum, para kolektor itu membeli album-album foto di pasar loak, menyeleksinya dan hasilnya adalah foto-foto yang dipamerkan tersebut.</p>
<p>Para pengunjung pun berfantasi. Ini kesempatan yang baik menggunakan konsep ‘denotasi’ dan ‘konotasi’ Roland Barthes pikir saya. Gabungan foto-foto yang dibidik oleh jurufoto amatir dan professional bergabung menjadi satu. Aldo menunjuk pada salah satu foto dan menanyakan apakah foto itu hasil bidikan jurufoto amatir atau profesional. Sebuah foto dengan obyek seorang pria dan seorang gadis kecil (putrinya).Kami pun menjawab dengan berbagai argumen. Mulai dari pose, bahasa tubuh obyek dan juga latar belakang.  Foto yang lain adalah seorang anak kecil yang berpakaian rapi memegang sebuah buku kecil. Sepertinya dia baru saja mengalami hari yang khusus.</p>
<p>Saya tertarik pada kumpulan pasfoto yang mengingatkan saya, pada kumpulan pasfoto milik saya. Rata-rata menatap ke depan dengan wajah serius. Berbeda dengan pasfoto milik almarhum ayah saya atau ibu. Pasfoto mereka diambil dari sudut yang berbeda. Tidak hanya dari depan dan dengan tatapan serius.</p>
<p>Saya ingat ketika membuat pasfoto saya yang pertama. Rasanya tersiksa sekali. Mata tidak boleh berkedip dan menatap ke arah depan. Jurufoto yang bersembunyi di balik kain hitam akan memberikan aba-aba…satu…dua…tiga. Lalu kilatan blits membuat mata saya berkedip. Maka terpaksa diulang lagi dari awal. Oleh karena itu saya terpaksa memelototkan mata supaya tidak berkedip. Hasilnya, sebuah foto dengan tatapan wajah galak.</p>
<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2012/10/foto-keluarga.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-393" title="foto-keluarga" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2012/10/foto-keluarga-209x300.jpg" alt="" width="209" height="300" /></a></p>
<p>Kami pun terus melangkah menikmati koleksi foto-foto yang lain.  Sebuah foto dengan obyek sekumpulan pria dan wanita sedang berdiri menatap ke arah juru foto. Aldo bertanya kepada kami periode foto itu dibuat dan lokasi foto itu dibuat. Salah seorang kawan menjawab bahwa foto itu dibuat pada periode 50-an di Belgia. Alasannya dari pakaian dan latar belakang mereka. Aldo mengangguk. Foto lainnya adalah foto-foto para kelasi yang memeluk dengan mesra wanita lokal. Dari tulisan tangan yang ada di foto tersebut, kita mengetahui foto-foto itu dibuat di sebuah studio foto di Hawaii pada tahun 1940-an. Mungkin foto-foto itu sekeping kenangan sebelum Jepang menyerang Pearl Harbour. Entah bagaimana nasib para kelasi dan para wanita yang ada di dalam foto tersebut? Saya pun membayangkan sanak saudara para kelasi yang ada di foto itu jika mereka melihat foto-foto tersebut.</p>
<p>Koleksi foto yang lain membuat tercekat. Foto-foto itu sifatnya sangat pribadi sekali. Foto-foto wanita tanpa sehelai benang pun di tubuh mereka. Entah apakah mereka sukarela melakukannya atau dengan alasan lainnya.</p>
<p>Dalam penelitian sebuah karya sejarah, kehadiran sumber visual semakin membantu membangun suasana latar periode sejarah yang kita teliti. Tentunya setelah foto-foto tersebut diverifikasi keasliannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/makna-dari-selembar-foto.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alam Hindia-Belanda di Mata Pendatang</title>
		<link>http://sunjayadi.com/alam-hindia-belanda-di-mata-pendatang.html</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/alam-hindia-belanda-di-mata-pendatang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Sep 2012 00:39:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Coretan Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Hutan adalah anugerah Tuhan kepada umatnya. Tentunya Tuhan menciptakan hutan bukan tanpa maksud dan tujuan. Membicarakan hutan, berarti membicarakan alam.  Alam berikut hutan sebagai salah satu bagiannya dalam pandangan masyarakat kita pun memiliki tempat tersendiri. Demikian pula dalam pandangan masyarakat asing yang pernah datang di negeri kita dengan berbagai tujuan. Seringkali kita menduga para pendatang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2012/09/gunung-sumbing.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-389" title="gunung sumbing" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2012/09/gunung-sumbing.jpg" alt="" width="115" height="83" /></a></p>
<p>Hutan adalah anugerah Tuhan kepada umatnya. Tentunya Tuhan menciptakan hutan bukan tanpa maksud dan tujuan. Membicarakan hutan, berarti membicarakan alam.  Alam berikut hutan sebagai salah satu bagiannya dalam pandangan masyarakat kita pun memiliki tempat tersendiri. Demikian pula dalam pandangan masyarakat asing yang pernah datang di negeri kita dengan berbagai tujuan.</p>
<p><span id="more-388"></span></p>
<p>Seringkali kita menduga para pendatang (baca; orang Eropa) adalah yang mengilhami kita dalam perhatian dan pelestarian alam di negeri kita. Namun, bila kita telusuri jauh ke belakang, pendapat tersebut bisa berubah. Masyarakat kita pun sebenarnya memiliki kearifan lokal, jauh sebelum orang Eropa tersebut datang ke negeri kita. Bahkan, ketertarikan orang Eropa pada masa lalu berbeda dengan masa berikutnya.</p>
<p>Dalam artikel ‘<em>Verleidelijk perspectief’</em> – Perspektif Menarik (2001), Dr. Arie J. Gelderblom, peneliti dari Universiteit Utrecht menyebutkan bahwa dilihat dari sudut pandang masyarakat sekarang, orang Belanda dari zaman VOC  atau kompeni (Sekitar 1600- 1800) memiliki hubungan aneh dengan alam.  Maksudnya adalah alam tidak menyentuh emosi melainkan akal mereka.  Orang Belanda hampir tidak mengenal pengalaman estetis tentang alam dan pemandangan alam, termasuk flora dan faunanya. Segala hal yang mereka lihat ditafsirkan sebagai pesan Tuhan yang telah memberikan ciptaan-Nya kepada manusia untuk dipelajari dan sebagai obyek konsumsi (Gelderblom 2001:145).</p>
<p>Menurut Gelderblom, di negerinya, para ‘pelancong’ Belanda pada abad 16 dan 17 yang melakukan perjalanan ke Italia sangat takut mendaki pegunungan Alpen. Mereka takut pada gunung-gunung yang terlalu tinggi, jurang-jurang yang dalam, tanjakan-tanjakan yang licin karena salju dan es. Wajarlah bila ada yang mengalami kecelakaan dan harus menghadap pengadilan Tuhan untuk mendapatkan putusan-Nya.  Di pegunungan Alpen, kehadiran Tuhan sebagai hakim lebih terasa dibandingkan di daerah polder yang rendah dan rata, daerah asal mereka. Apabila mereka tiba di daerah yang rendah dan hangat di Italia Utara, barulah mereka akan merasa lega dan bebas.  Itulah tanah surgawi bagi mereka (Gelderblom 2001:145)</p>
<p>Hal tersebut memperlihatkan bahwa ketertarikan orang Belanda terhadap alam secara estetis baru terbentuk pada masa sesudahnya. Demikian halnya dengan pegunungan. Di Belanda, puncak tertinggi adalah Vaalseberg (322 meter) yang terletak di provinsi Limburg, di wilayah selatan Belanda. Tinggi Vaalseberg ini bila dibandingkan dengan gunung-gunung di Indonesia yang memiliki tinggi di atas 3000 meter tentu jauh berbeda. Puncak Vaalseberg di Belanda bila dibandingkan dengan alam di Indonesia seperti bukit di Indonesia.</p>
<p>Alam, hutan sebagai obyek konsumsi para pendatang di Hindia-Belanda juga dikemukakan oleh Darja de Wever (1995) yang menerbitkan <em>R.M. van Goens, Javaense reyse: De bezoeken van een VOC gezant aan het hof van Mataram 1648-1654</em>. Rickloff van Goens adalah seorang utusan VOC yang dikirim ke keraton Mataram. Wever mengomentari laporan para pegawai VOC. Ia menyatakan bahwa dalam tulisan para pegawai VOC, hanya sedikit pegawai VOC yang menaruh perhatian pribadi pada alam tropis. Para pegawai VOC hanya menggambarkan daerah-daerah dari sudut pandang materialistis. Mereka hanya menyebutkan secara berurutan, apa saja yang dapat dihasilkan alam di daerah-daerah tertentu, tanaman apa saja yang dapat ditanam di sana dan bagaimana kesuburan daerah-daerah itu (Wever 1995:105-106)</p>
<p>Seperti yang diungkapkan van Goens dalam menggambarkan pohon-pohon tidak lebih daripada melihat kayu-kayu yang dapat digergaji:  ‘<em>groote jaty ofte eycken bossen van hooge ende boven gemeene sware boomen, daer men uyt de sommige plancken kan sagen of blacken hacken, welcke niet min dan 3 a 3 ½ voeten breedt zijn</em>’<br />
(Pohon-pohon jati yang besar dengan ketinggian melebihi ketinggian hutan pada umumnya, karena dari kayu itu dapat digergaji papan-papan atau dibuat balok-balok yang lebarnya 3 a 3,5 kaki)  (Gelderblom 2001:147)</p>
<p>Namun, pengecualian untuk penggambaran dalam laporan yang kering oleh para pegawai VOC, dapat kita lihat dalam <em>reisverhaal </em>(cerita perjalanan) dari Jacob van Neck pada 1599 dan <em>Javaense reyse</em> (perjalanan di Jawa) dari Rijklof van Goens pada 1650.  Laporan dan cerita perjalanan yang ditulis oleh mereka berbeda dengan laporan perjalanan pada umumnya.</p>
<p>Sekitar 1599, Laksamana van Neck menggambarkan suatu pulau di Selat Sunda, tempat dia bersantap siang di suatu daerah terbuka. Daerah tersebut tentu bukanlah sebuah ruang makan mewah dengan hiasan dinding berupa lukisan-lukisan melainkan suatu lapangan kecil dengan pepohonan dan kali kecil serta pemandangan menghadap perbukitan serta persawahan. Tanpa iringan musik orkes namun diiringi kicauan burung dan gemericik air serta bebauan harum yang bukan berasal dari parfum botolan. Tak ada penghibur, melainkan monyet-monyet yang berlompatan ke sana-ke mari. Penggambaran van Neck tersebut diungkapkan de Haan dalam <em>Priangan: De Preanger-regentschappen onder het Nederlandsch bestuur tot 1811</em> (1910-1912).</p>
<p>Professor Bert Paasman dari Universiteit van Amsterdam dalam artikelnya <em>De Ogen van de Nederlandse literatuur</em> – Mata Kesusastraan Belanda (1995) mengungkapkan bahwa dalam laporan-laporan perjalanan VOC, aspek alam dan pemandangan menjadi salah satu gambaran yang berguna dan sekaligus menjadi ancaman bahaya yang ditakuti. Ancaman tersebut termasuk hewan buas, serta para penduduk yang ‘liar’ dan ‘buas’. Tentunya para penduduk di sini maksudnya adalah mereka yang tidak mau menjalin kerjasama dengan pihak VOC (Paasman 1995:234-235)</p>
<p>Meskipun van Goens memberikan gambaran dari sudut pandang materialistis terhadap alam, sekitar 1650 ketika ia melakukan perjalanan dari Semarang ke keraton Mataram, ia juga mengungkapkan kekagumannya pada gunung, air terjun, desa serta persawahan yang dilihatnya.</p>
<p>Setelah  menempuh perjalanan melalui pegunungan penuh hutan rimba, tibalah van Goens di suatu lembah yang menurutnya bagaikan surga dunia dengan hamparan tanah subur. Di puncak gunung [Merbabu], van Goens berkomentar:  <em>“op deszelfs schoonheid zo verliefd te wezen, dat ik lust had die te gaan bezichtigen’</em> (Saya sungguh jatuh cinta dan saya ingin sekali lagi berkunjung ke tempat yang indah ini).</p>
<p>Pada abad kesembilan belas Eropa dilanda aliran romantisme yang secara khusus melagukan keindahan alam liar dan eksotis di luar Eropa. Adalah Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864), seorang peneliti biologi, naturalis, pemerhati botani, geologi asal Jerman yang bertugas untuk pemerintah Hindia-Belanda. Junghuhn menyandang nama besar yang dikaitkan dengan budidaya kina di Indonesia.  Seorang pahlawan kina Indonesia.</p>
<p>Berkaitan dengan romantisme yang melanda Eropa, Junghuhn adalah orang pertama yang melukiskan pulau Jawa dari sudut pandang romantis. Laporan yang ditulisnya berbeda dengan laporan kering para pegawai VOC, pada masa sebelumnya.</p>
<p>Dalam perjalanannya, Junghuhn membuat deskripsi dan ilustrasi alam pegunungan. Dia tinggal di desa terpencil dan menggambarkan kehidupan di sana. Terkadang ia melewatkan malam di puncak gunung berapi untuk menyaksikan hutan belantara dan keindahannya sambil menatap langit berbintang. Baginya, alam adalah segalanya (Paasman 1995:236)</p>
<p>Yang jelas perbedaan cara pandang para pendatang yang berkunjung ke Hindia-Timur dapat pula dikaitkan dengan latar belakang para pendatang tersebut. Misalnya para pegawai VOC yang tidak memiliki latar belakang keilmuan tertentu tentu berbeda dengan mereka yang memiliki latar belakang ilmu yang berhubungan dengan alam. Apalagi diketahui di antara para pegawai VOC tidak semua berpendidikan tinggi. Unsur estetis seperti yang digunakan van Goens atau Junghuhn, jelas merupakan pengecualian.</p>
<p>Berbeda dengan gambaran dalam kisah-kisah perjalanan orang Eropa yang ‘nekad’ masuk ke padalaman Hindia-Belanda pada abad ke-17 dan 18, pada umumnya mereka menceritakan kelebatan hutan, pada masa berikutnya diperlihatkan jumlah hutan semakin merosot. Seperti ketertarikan para ahli kehutanan Belanda pada persoalan jumlah hutan di Hindia-Belanda sejak akhir abad kesembilan belas. Persoalan sama yang juga kita hadapi pada masa kini. Semakin berkurangnya jumlah hutan di negeri kita.</p>
<p>gambar: litografi gunung sumbing, koleksi KITLV-Leiden</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/alam-hindia-belanda-di-mata-pendatang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta Siapa yang Punya?</title>
		<link>http://sunjayadi.com/jakarta-siapa-yang-punya.html</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/jakarta-siapa-yang-punya.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2012 04:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Coretan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[buku sejarah jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[History of Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta A history]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta Sejarah 400 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Susan Blackburn]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=383</guid>
		<description><![CDATA[Judul               :  Jakarta: Sejarah 400 Tahun Judul asli         :  Jakarta: A History Penulis             : Susan Blackburn Penerjemah  :  Gatot Triwira Penerbit           : Depok, Masup Jakarta Juni 2011 Tebal               : 416 hal Jakarta jadi ajang ‘pertempuran’ lagi. Setidaknya hal ini yang terlihat dari para kandidat gubernur dan wakilnya yang mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2012/08/blackburn.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-384" title="blackburn" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2012/08/blackburn-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p>Judul               :  <em>Jakarta: Sejarah 400 Tahun</em></p>
<p>Judul asli         :  <em>Jakarta: A History</em></p>
<p>Penulis             : Susan Blackburn</p>
<p>Penerjemah  :  Gatot Triwira</p>
<p>Penerbit           : Depok, Masup Jakarta Juni 2011</p>
<p>Tebal               : 416 hal</p>
<p>Jakarta jadi ajang ‘pertempuran’ lagi. Setidaknya hal ini yang terlihat dari para kandidat gubernur dan wakilnya yang mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di ibukota negara. Pencalonan para kandidat tersebut memperlihatkan tabuhan ‘genderang perang’ pertama partai-partai politik yang akan bertarung pada Pemilu 2014 nanti.</p>
<p><span id="more-383"></span></p>
<p>Seberapa pentingkah Jakarta bagi partai-partai politik tersebut yang mencalonkan para kandidatnya? Jelas penting karena pilkada kali ini dapat menjadi ajang mengukur kekuatan mesin politik menghadapi Pemilu 2014. Namun, hal yang terpenting adalah apakah para kandidat tersebut kelak mampu mengatasi berbagai persoalan di Jakarta. Mulai dari kemacetan, kebakaran, hingga banjir.</p>
<p>Berbagai peneliti telah mengupas Jakarta serta persoalannya dari berbagai sisi. Hal yang menarik adalah bila kita membahas tentang Jakarta, seolah tidak akan ada habisnya. Satu nama yang kerap menjadi sumber para peneliti tentang Jakarta yaitu Frederik ‘si Jago’ de Haan. De Haan ini pula yang termasuk salah satu sumber dalam buku <em>Jakarta: Sejarah 400 Tahun</em> karya  Susan Blackburn.</p>
<p>Buku ini merupakan terjemahan dari edisi revisi <em>Jakarta: A History</em> (1989) karya Susan Blackburn yang ketika itu masih bernama Susan Abayasekere. Ketika pertama kali terbit pada 1987 buku tersebut sempat dilarang beredar.</p>
<p>Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah ketika itu adalah pemerintah tidak suka dengan cara meneliti dan pengungkapan Susan mengenai Jakarta yang pernah dijuluki Ratu dari Timur (<em>Queen of the East</em>). Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan metode yang digunakannya melainkan tesis yang diajukan oleh Susan membuat pihak-pihak yang berkepentingan tidak berkenan.</p>
<p>Susan mengajukan tesis bahwa Jakarta merupakan kota yang dibangun untuk memuaskan impian para penguasa dan pemilik modal serta tidak memerhatikan kelompok masyarakat lain yaitu masyarakat bawah alias <em>wong cilik</em>.</p>
<p>Dilihat dari sejarah perkembangan Jakarta, Jakarta memang mengalami perubahan serta kesinambungan seiring pergantian penguasanya. Mulai dari penguasa VOC (<em>Verenigde Oost Indische Compagnie</em>), sebuah perusahaan dagang yang kerap disebut kompeni dan pada awalnya membangun benteng di salah satu wilayah bagian utara Jakarta sekarang.</p>
<p>Hal ini dibahas pada bagian pertama:  ‘Tuan-Tuan Lama’.  Bagian tersebut membahas Jakarta pada periode abad ke-17 (1619) hingga menjelang masuknya Jepang pada 1942.  Pada bagian ini terdiri dari tiga bab: ‘Kota Kompeni: Asal Mula Hingga 1800’, ‘Kota Kolonial: Batavia pada Abad ke-19’, dan ‘Batavia 1900-1942: Kota Kolonial Menghadapi Tantangan’.</p>
<p>Pada masa kolonial, pemerintah Hindia-Belanda berharap Jakarta menjadi salah satu kota yang menjadi kota bagi masyarakat kulit putih. Di sini kita mengenal istilah <em>benedenstad</em> (kota lama) , kawasan Weltevreden hingga Menteng.</p>
<p>Pada bagian kedua ‘Masa Peralihan Pemerintahan’ yang membahas Jakarta pada periode perang hingga pasca kemerdekaan hanya terdiri dari satu bab ‘Pendudukan Jepang dan Perjuangan Meraih Kemerdekaan, 1942-1949’ .</p>
<p>Setelah berada di bawah pemerintah Hindia-Belanda dan mengalami masa peralihan,  Jakarta berada di bawah kekuasaan pemerintah Republik Indonesia. Periode tersebut dibahas pada bagian ketiga. Pada bagian ini ‘Tuan-Tuan Baru’ membahas Jakarta di bawah Soekarno dan pemerintahan Orde Baru. Pada bagian ini terdiri dari dua bab: ‘Jakarta Masa Sukarno: 1950-1965’ dan ‘Jakarta di Bawah Pemerintahan Sadikin dan Para Penerusnya: 1966-1985’</p>
<p>Pada masa Republik Indonesia, Jakarta dirancang untuk menjadi kota kebanggaan nasional di mana berbagai proyek dibangun dan pada masa Orde Baru, Jakarta menjadi kota pusat perekonomian negeri.</p>
<p>Benang merah yang menjadi penghubung antar periode tersebut adalah Jakarta dibangun hanya untuk kepentingan kelompok tertentu bukan untuk seluruh masyarakat. Dalam setiap periode, Jakarta terus menghadapi permasalahan dan tak kunjung mampu mengatasinya. Sebut saja masalah banjir, air bersih, sampah, kemacetan yang akarnya sudah terlihat dari awal dan masih dirasakan hingga kini. Permasalahan itu pula yang menjadi pekerjaan rumah para kandidat gubernur.</p>
<p>Sehubungan dengan periode yang dibahas (sampai 1985), khususnya dengan data yang mendukung buku ini, sepertinya membuat buku ini ketinggalan zaman.  Apalagi pasca peristiwa Reformasi 1998 juga memberikan pengaruh dan mengubah wajah Jakarta sekarang. Hal ini sebenarnya sudah dijawab oleh Susan Blackburn dalam kata pengantarnya bahwa diperlukan satu buku tersendiri untuk membahas periode tambahan tersebut.</p>
<p>Selain disusun secara kronologis buku ini dilengkapi peta dan ilustrasi yang membantu kita untuk membayangkan kembali situasi pada periode yang dibahas.</p>
<p>Siapa pun yang kelak menjadi orang nomor satu di Jakarta, diharapkan juga dapat menyuarakan suara masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Tidak hanya segelintir elite, baik penguasa dan pemilik modal. Oleh karena Jakarta adalah milik kita semua. Jakarta punya kita</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/jakarta-siapa-yang-punya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Batik Danar Hadi Solo</title>
		<link>http://sunjayadi.com/museum-batik-danar-hadi-solo.html</link>
		<comments>http://sunjayadi.com/museum-batik-danar-hadi-solo.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jul 2012 07:35:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>achmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Turisme]]></category>
		<category><![CDATA[batik indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian batik museum]]></category>
		<category><![CDATA[museum batik danar hadi]]></category>
		<category><![CDATA[museum batik solo]]></category>
		<category><![CDATA[museum danar hadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sunjayadi.com/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[Di sela-sela acara konferensi IAHA (International Association of Historians of Asia) ke-22 di Solo 2-6 Juli 2012 lalu, para peserta konferensi memiliki kesempatan mengunjungi Museum Batik Danar Hadi. Museum Batik Danar Hadi terletak di Jalan Slamet Riyadi 261 Solo. Museum ini sebenarnya adalah museum pribadi. Dengan kata lain dapat pula disebut ‘museum swasta’. Pemiliknya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2012/07/batikdip.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-380" title="batikdip" src="http://sunjayadi.com/wp-content/uploads/2012/07/batikdip-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Di sela-sela acara konferensi IAHA (International Association of Historians of Asia) ke-22 di Solo 2-6 Juli 2012 lalu, para peserta konferensi memiliki kesempatan mengunjungi Museum Batik Danar Hadi.</p>
<p><span id="more-379"></span></p>
<p>Museum Batik Danar Hadi terletak di Jalan Slamet Riyadi 261 Solo. Museum ini sebenarnya adalah museum pribadi. Dengan kata lain dapat pula disebut ‘museum swasta’. Pemiliknya adalah H. Santosa Doellah, pemegang merek dagang batik Danar Hadi.</p>
<p>Saya mengenal merek Danar Hadi sejak kecil karena Danar Hadi memiliki gerai yang terletak di Jalan Raden Saleh IA Jakarta. Bila saya berkunjung ke rumah kakek dan nenek yang tidak jauh dari gerai tersebut, pastilah melewatinya.</p>
<p>Museum Danar Hadi diresmikan oleh Megawati Soekarno Putri pada 20 Oktober 2000 dengan nama “Galeri Batik Kuno Danar Hadi”. Saat ini berubah nama menjadi “Museum Danar Hadi”</p>
<p>Berbagai kain dipajang secara terpisah. Penataan disesuaikan menurut jenisnya. Ada Batik Belanda, Batik Cina, Batik Jawa Hakokai, Batik Indramayu, Batik Sembagi, Batik Nitik, Batik Jambi, Batik Keraton, Bati Saudagaran, Batik Petani. Tahun pembuatan batik-batik kuno tersebut berkisar antara 1840-1910.</p>
<p>Ketika kita menikmati berbagai koleksi kain batik di museum tersebut, seolah ‘membaca’ catatan sejarah dalam bentuk artefak yang mungkin tidak ditemui di tempat lain. Beruntung koleksi batik tersebut tersusun rapi di dalam negeri. Sehingga para pencinta batik di Indonesia tak perlu bersusah payah berkunjung ke luar negeri.</p>
<p>Selain dapat menikmati koleksi berbagai kain batik tersebut, para pengunjung dapat melihat proses pembuatan batik dan tentunya membeli kain batik sebagai suvenir. Seperti halnya Professor Leonard Andaya dari University of Hawai’i salah satu peserta konferensi IAHA yang saya lihat juga membeli kemeja batik.  Sebagai museum (meskipun dikelola swasta), museum Batik ini tak boleh dilewatkan jika Anda berkunjung ke Solo.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sunjayadi.com/museum-batik-danar-hadi-solo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
