Ganyang Preman atau Kemiskinan?

Awal tahun 2012, kita dihebohkan (lagi) dengan aksi premanisme. Meskipun sebenarnya itu bukanlah sesuatu yang baru. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri meminta aparat keamanan lebih aktif mengantisipasi terjadinya kekerasan.  Seperti yang disampaikan beliau pada 24 Februari 2012 silam:  “…. Laksanakan antisipasi dengan benar, tangani secara profesional, dan selesaikan itu dengan tuntas.” (Kompas, 25/2/2012)

Sehubungan dengan permintaan presiden tersebut, mengingatkan saya pada apa yang terjadi tiga tahun silam. Saya sempat mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan tiga tahun silam, dengan judul “Ganyang Preman atau Kemiskinan?”. Selamat menikmati.

Judul tulisan ini memang provokatif. Mengingatkan kita pada slogan Bung Karno tahun 60-an: ‘Ganjang Malaysia!’. Kali ini yang menjadi sasaran adalah bukan Malaysia tetapi mereka yang disebut preman.

Operasi pemberantasan preman ini serentak dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di DKI Jakarta. Dari wilayah Polda Metro Jaya saja berhasil diamankan 2.949 preman. Dari jumlah tersebut, dua ditembak mati dan 347 ditahan (Sindo 11/11/08). Hingga 12 November 2008, kepolisian total telah menangkap 5.012 preman dari lima wilayah kepolisian daerah di Indonesia.

Menurut kriminolog UI, Adrianus Meliala operasi tersebut memiliki agenda khusus yaitu upaya mengamankan situasi sebelum dieksekusinya para pelaku bom Bali dan persiapan menjelang Pemilu 2009. Meskipun mendapatkan sambutan positif dari masyarakat operasi ini patut diperhitungkan apakah operasi ini efektif mengingat jangka waktu operasi yang terbatas.

Preman berasal dari kata bahasa Belanda vrijman (vrij= bebas, man=orang) yang diartikan orang bebas, tidak terikat. Adapula yang menyebutkan kata preman berasal dari freeman yang memiliki makna sama dengan vrijman dalam bahasa Belanda. Dahulu, istilah preman dipakai bagi para tentara atau polisi berpakaian sipil yang sedang menyamar dan kelak memiliki arti mereka yang meresahkan masyarakat.

Menarik jika menelusuri sejarah preman di Indonesia jauh ke belakang, khususnya masa Hindia Belanda. Alasannya preman memiliki sejarah panjang yang patut diketahui karena hanya istilahnya saja yang berganti. Pada masa Hindia Belanda istilah yang umum digunakan adalah jago. Istilah jago mengacu pada ayam jantan atau jago yang tidak hanya melambangkan kejantanan/maskulinitas, kemampuan berkelahi tapi juga mengacu pada orang yang kuat.

Menurut Henk Schulte Nordholt dalam artikel “A genealogy of violence” (2002) menyebutkan kegiatan para jago pada abad ke-19 berada di bawah bayang-bayang pemerintah kolonial dan tumbuh subur pada masa itu. Akibatnya pemerintah kolonial harus mengerahkan marcheuche/marsose dan veldpolitie (polisi kota) untuk menghadapi para jago tersebut. Di Batavia, para jago menguasai jaringan tenaga kerja. Mereka menjalin koneksi dengan jaringan pedagang Arab, dalang, guru-guru mengaji serta gembong perampok.

Dalam hal ini kita perlu mengkritisi sudut pandang pemerintah kolonial yang menganggap jago sebagai biang kerok dari ketidakamanan wilayahnya. Pasalnya, para jago yang sejati sebenarnya memiliki akhlak luhur dan tidak semena-mena. O’ong Maryono dalam Pencak Silat Merentang Waktu (2000) mengemukakan hal tersebut. Meminjam istilah pemerintah bahwa ada ‘oknum’ jago sesat yang lebih mementingkan nafsu dan materi belaka.

Para jago ‘sesat’ itulah yang menjadi incaran para tuan tanah pemilih lahan partikulir untuk dirangkul dan menjadikan para jago tersebut tukang pukul mereka. Tugas lainnya adalah mereka memunguti pajak dari rakyat. Sementara pemerintah kolonial tak ambil peduli bahkan pemerintah memanfaatkan para jago itu sebagai informan mencari biang rusuh masyarakat. Justru para jago sejati yang gerah terhadap sikap pemerintah kolonial dianggap menganggu keamanan dan ketertiban.

Pada masa revolusi situasi tak menentu. Pada masa ini semua orang yang memiliki nyali dapat unjuk gigi. Pramoedya Ananta Toer menuturkan para preman Senen itulah yang berani bertempur menyongsong peluru musuh. Pada masa ini para preman yang bermodal kenekadan dan keberanian maju bertempur. Sebut saja nama-nama seperti Haji Darip, Pak Macem, Kiai Nurali, Camat Nata, dan Bang Pi-ie. Di tengah romantika revolusi, menurut sejarawan Robert Cribb ada pula yang menggabungkan semangat patriotisme dan semangat merampok bin menjarah. Misalnya Barisan Rakyat Indonesia yang mencari sasaran seperti orang Eropa, Tionghoa, Indo, Ambon dan Timor.

Usai masa revolusi polah para preman ini surut seiring dengan usia mereka yang terus bertambah. Generasi baru muncul dengan gaya dan tujuan yang berbeda. Berbagai kelompok yang menyebut diri mereka geng bermunculan. Mereka mengidentifikasi diri dengan simbol-simbol, topi, jaket dan sepeda motor. Oleh karena mereka sering nongkrong di perempatan jalan, mereka dinamakan crossboy. Hal serupa terjadi di kota-kota besar semacam Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung. Kebut-kebutan, mabuk, mengisap ganja dan berkelahi menjadi ciri. Hingga paro pertama tahun 1980-an, berandalan ugal-ugalan merupakan ciri khas premanisme di Indonesia.

Antara tahun 1983 dan 1985 Indonesia dihebohkan dengan adanya ‘petrus’. Singkatan dari penembak misterius. Media massa khususnya cetak ramai memberitakan hal ini. Bahkan James T. Siegel Profesor Antropologi asal Cornell University juga menyebut kata “petrus” lewat buku terkenalnya, A New Criminal Type in Jakarta (1998). Menurutnya, pada tahun-tahun tersebut, banyak sekali ditemukan mayat orang bertato di mana-mana. Koran setiap hari memberitakan penemuan-penemuan itu. Isinya pun seram-seram. Misalnya sebuah berita dari harian Pos Kota edisi 6 Agustus 1983 “…Sepuluh lubang peluru yang mengoyak habis tubuh korban ternyata bukan rekor..Kami juga pernah memeriksa ada 12 peluru bersarang ditubuh seorang korban, dengan lima selongsong peluru di kepalanya”

Para korban pembunuhan dikenal dengan nama gali, “gabungan anak liar” atau “golongan anak-anak liar”. Sebagian besar gali adalah penjahat kelas teri dan anggota geng. Menurut Siegel, banyak dari mereka yang bekerja bagi Golkar, dalam pemilu 1982. Mereka kemudian dicampakkan begitu saja, hingga kembali ke kehidupan semula. Hal yang tidak diungkap waktu itu adalah, siapa kepala galinya? Dan bagaimana hubungan sang pemimpin dengan pemerintah ?.

Mengenai “petrus” sendiri diakui Soeharto dalam otobiografinya Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989) sebagai tindakan tegas terhadap para penjahat yang menganggu ketentraman dan dianggap bertindak melebihi batas perikemanusiaan. Sedangkan mayat-mayat korban penembakan yang ditinggalkan begitu menurut Soeharto untuk shock therapy.
Hal yang menarik, terlepas dari sasaran petrus yaitu para gali, para korban kebanyakan bertato sehingga dalam benak masyarakat para gali identik dengan orang yang bertato. Maka oleh karena takut disangka gali, mereka yang bertato karena alasan untuk gagah-gagahan atau gaya meminta perlindungan polisi.

Pada masa orde baru, para preman seolah terorganisir. Di Jakarta biasanya kelompok preman mengacu pada suku dengan wilayah kekuasaan tertentu. Bahkan ada pula yang terbungkus dalam organisasi kepemudaan. Baik itu menginduk pada partai tertentu maupun organisasi kemasyarakatan. Dalam hal ini seolah mereka tak tersentuh oleh aparat keamanan. Keadaan ini berlangsung hingga Reformasi 1998 di mana kondisi ‘kacau’ berlangsung hingga kini.

Upaya yang dilakukan oleh kepolisian ini sepatutnya mendapatkan dukungan semua pihak. Memang ada berbagai kalangan yang mengkritik operasi kepolisian karena dianggap tidak menuntaskan akar permasalahan dan hanya mengatasi gejala. Kritikan itu ada benarnya karena yang ditangkap adalah mereka yang berada di jalanan. Lalu bagaimana dengan para ‘preman berdasi’ dan ‘preman berkerah putih’ yang juga meresahkan masyarakat? Yang jelas faktor kemiskinan merupakan akar yang semestinya diganyang.

foto: ‘Demonstratie van siervechten (pentjak) op koninginnedag te Negara op Bali’ (Demonstrasi pencak pada Hari Ratu di Negara, Bali) tahun 1946, koleksi KITLV Belanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *