Indonesia berdoa, beraksi dan bersiap

Judul artikel ini meminjam judul buku Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert yang telah difilmkan dan dimainkan oleh artis Julia Roberts. Lalu saya ubah menjadi Pray, Act, Prepare.  Inilah yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Indonesia sekarang.

Setelah mendoakan saudara-saudara kita yang tewas dalam bencana alam Wasior, Mentawai dan Merapi, langkah berikutnya adalah beraksi memberikan bantuan yang diperlukan tanpa harus ditunda. Dalam hal ini kita tak perlu meragukan semangat gotong royong bangsa kita. Begitu pula dengan perbaikan dan pemulihan akibat bencana jelas perlu dilakukan dan itu merupakan aksi yang tak kalah penting.

Langkah selanjutnya yang juga tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengingat bencana itu tidak diundang dan dapat datang sewaktu-waktu. Namun, bila kita memiliki persiapan bukan mustahil jumlah korban jiwa yang banyak dapat diminimalisir.

Langkah mempersiapkan diri menghadapi bencana sudah seharusnya menjadi bagian bangsa ini. Mengingat wilayah Indonesia berada di wilayah rawan bencana.

Ungkapan bahwa bencana alam adalah warisan nenek moyang harus dimaknai dengan cara melihatnya dari sisi berbeda. Bukan sekedar pasrah dan hanya menyerahkan pada Maha Pencipta. Jika sudah diketahui bahwa bencana alam merupakan warisan, alangkah bijaknya jika kita bisa mengelola warisan tersebut. Di sini peran para ahli yang mumpuni di bidang tersebut yang konon dianggap ilmu-ilmu kering menjadi penting.

Bukan juga salah para penduduk bertempat tinggal di daerah rawan bencana. Di sini pepatah jangan berumah di tepi pantai jika tidak ingin tersapu ombak dalam arti sebenarnya sebaiknya jangan diartikan yang sesungguhnya. Memindahkan mereka atau relokasi dari sana pun bukan harga mati dan jalan keluar satu-satunya.

Hampir tak ada negara yang ‘aman’ dari bencana alam di dunia ini. Bencana alam selalu mengintai. Misalnya, Belanda yang sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan air laut pernah mengalami bencana nasional. Pada 1 Februari 1953 di beberapa provinsi seperti Zeeland, Zuid-Holland dan West Brabant diterjang banjir. Bukan karena hujan tetapi meningginya air Laut Utara. 1836 penduduk tewas, 72.000 penduduk kehilangan tempat tinggal, 200.000 hektar lahan pertanian direndam air laut.

Setelah proses penanganan bencana dan rehabilitasi, pemerintah Belanda mengeluarkan Deltawet (Undang-undang Delta) pada 1957. Undang-undang ini merupakan cikal-bakal proyek pembangunan Delta (Deltawerken). Proyek ini membangun semacam bendungan yang menghubungkan wilayah-wilayah yang berhadapan dengan laut. Proyek tersebut merupakan proyek jangka panjang. Dimulai dari 1957, proyek ini selesai Oktober 2010 lalu. Hal yang menarik adalah hasil proyek ini tidak hanya bermanfaat untuk keamanan negeri Belanda dari bencana melainkan juga menjadi daya tarik pariwisata, khususnya Deltawerken di provinsi Zeeland.

Bagaimana dengan Indonesia? Bangsa ini ada melalui sejarah yang panjang. Proses yang panjang tersebut seharusnya memberikan kearifan pada kita untuk tidak meremehkan segala hal. Termasuk alam di mana bangsa ini berpijak. Alam sebagai karunia Tuhan yang telah memberikan kita kehidupan bertahun-tahun.

Kita tidak perlu melawan atau menantang alam. Alam semesta beserta isinya berjalan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Jika Sang Pencipta berkehendak, semudah membalikkan tangan, maka yang terjadi akan terjadi lah. Alam bergerak sesuai keinginan Sang Pencipta. Manusia paling berkuasa di dunia pun tak akan mampu melawan dan menahan keinginan Sang Pencipta.

Di sinilah kita perlu bersiap menghadapi bencana di masa depan. Tanpa persiapan kita akan terus terlena, lupa akan bahaya yang membayangi dan menghantui. Dengan persiapan saja, kita belum tentu dapat mengimbangi kekuatan alam. Namun, bersiap lebih baik daripada menunggu dan sekedar pasrah atau bahkan carpe diem (menikmati hari ini).

Sudah saatnya pemerintah memikirkan cara untuk bersiap-siap menghadapi bencana. Misalnya apakah kita mengetahui langkah praktis menghadapi bencana alam (gempa bumi, banjir, gunung meletus) dan langkah-langkah sesudah bencana. Lalu apakah sudah tersedia fasilitas penampungan korban bencana untuk beberapa bulan,

Kita pun tentu bukan termasuk bangsa yang tidak mau belajar dari masa lalu dan alam yang telah memberikan kita banyak pelajaran selama ratusan tahun.  Banyak pelajaran yang kita terima dalam rentang waktu tersebut.  Namun, alangkah baiknya juga kearifan lokal tersebut ditinjau ulang karena banyak sudah perubahan yang terjadi. Sudah seharusnya perpaduan antara kearifan lokal yang telah dievaluasi dan pengetahuan teknologi (Kompas 30/10/2010) berjalan seiring untuk masa depan yang lebih baik. Sudah siap?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *