Kapan ke Jogja lagi?

Sebuah iklan muncul di layar televisi dalam kereta yang membawa saya ke Solo tahun lalu (2012). Di sana terpampang iklan bertuliskan ‘Kapan ke Jogja lagi?’. Iklan itu dari produsen kaos terkenal di Jogya yaitu Dagadu. Maka kota Jogja pun saya lewati sebelum sampai ke Solo. Sekilas saya melihat Jogja dari balik jendela kereta ketika kereta berhenti menurunkan penumpang di Stasiun Tugu.

Tahun ini pertanyaan iklan ‘Kapan ke Jogja lagi?’ seolah terjawab. Akhir bulan Mei 2013 saya ke Jogja. Tidak dengan kereta dan tidak berhenti di Stasiun Tugu melainkan mendarat di bandara Adi Sutjipto. Walaupun sebenarnya durasi perjalanan nyaris sama, kurang lebih tujuh jam. Setelah tergopoh-gopoh menyajikan makalah di seminar pada siang harinya, lalu bergegas bandara dengan taksi di tengah hujan lebat, diakhiri dengan tertundanya penerbangan selama satu setengah jam. Total durasi perjalanan, seperti menumpang kereta api. Namun, ini ditambah olahraga jantung.

Sudah sangat lama saya tidak menginjakkan kaki di Jogja. Seingat saya perjalanan terakhir ke Jogja sekitar tahun 1987 atau 1988. Tahun 1984 dalam perjalanan menuju Pulau Bali, kami sempat singgah di Jogja dan menginap di Gedung Agung. Tahun sebelumnya, keluarga besar kami melakukan konvoy dengan mobil melakukan perjalanan ke Jogja di saat liburan sekolah, usai Lebaran. Jogja menjadi semacam ‘pusat’ keluarga besar. Saya pun teringat perjalanan kami ke Candi Prambanan dan Borobudur.

Selebihnya di tahun-tahun berikut, kota Jogja hanya dilintasi. Yang jelas, seperti kota-kota besar di Jawa, Jogja telah berubah. Di tengah-tengah padatnya acara saya mencoba kembali ‘menikmati’ Jogja.

Dari arah hotel saya terus berjalan lurus hingga Tugu dan berbelok ke kiri. Saya mencoba menikmati suasana Malioboro di waktu pagi. Suasana pagi jelas berbeda dibandingkan waktu malam. Penjual makanan menyajikan sajian sarapan bagi para turis yang melancong kepagian.

Tumpukan barang-barang kaki lima terlihat di depan deretan toko di seberang jalan yang saya telusuri. Beberapa bangunan bergaya kuno menarik perhatian saya. Becak, sepeda kayuh, sepeda motor berseliweran searah.

Beberapa pengemudi becak menawarkan  jasanya.’Dagadu…dagadu….bakpia…bakpia…batik…batik’ itu yang terdengar. Saya menolak secara halus. Pasar Beringharjo pun terlewati. Di ujung sana berdiri benteng Vredeburg berhadapan dengan Gedung Agung. Saya mencoba mengais-ngais ingatan ke puluhan tahun silam. Bayangan kenangan muncul ketika keluarga besar kami menginap di Gedung Agung.

Jogja pun menyambut mentari pagi  (bersambung)

Foto: A. Sunjayadi (2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *