Kartini dan Seni Batik

Sehelai foto memuat gambar tiga perempuan Jawa berkebaya sedang duduk membatik. Perempuan yang berada pada posisi kiri tampak tekun menorehkan canting di kain. Dia adalah Kartini. Dua perempuan lain adalah adik-adiknya, Roekmini dan Kardinah.

Foto itu dimuat dalam buku Batik-kunst in Nederlandsch-Indië en haar geschiedenis (Seni Batik di Hindia-Belanda dan Sejarahnya) karya H.H. Juynboll dan G.P Rouffaer yang ditulis pada tahun 1899 dan diterbitkan pada 1914. Buku Batik-kunst karya H.H. Juynboll dan G.P Rouffaer tersebut berhubungan dengan Kartini. Seperti yang diungkapkan dengan gembira oleh Kartini dalam suratnya kepada Estelle ‘Stella’ Zeehandelaar tanggal 6 November 1899 bahwa artikel yang ia tulis setahun sebelumnya akan diterbitkan dalam buku:

Een stukje over ‘t batikken, dat ik verleden jaar voor de Vrouwenarbeid-Tentoonstelling maakte, waarvan ik nooit iets hoorde, wordt opgenomen in een standaardwerk over ‘t batikken, dat gauw zal verschijnen. Wel leuk, toen ik dezer dagen van het onverwachte nieuws. Ik was die heele geschiedenis reeds vergeten (Kartini, 1912).

Sebuah artikel tentang cara membuat batik yang saya tulis tahun lalu untuk Pameran Karya Perempuan yang kabarnya tak pernah saya dengar lagi, dimuat dalam karya standar mengenai batik-membatik. Karya itu akan segera terbit. Menyenangkan, ketika saya mendengar kabar tak terduga itu. Padahal saya sudah melupakannya.

Artikel yang ditulis Kartini tersebut sebenarnya menjadi bagian dalam pameran de Nationale Tentoonstelling van Vrouwenarbeid (Pameran Nasional Karya Perempuan) pada 1898 di Den Haag. Dalam pameran tersebut, ibu suri kerajaan Belanda berhenti di salah satu stand yang bernama ‘Jawa’. Di stand tersebut dipamerkan berbagai contoh kerajinan dan hasil seni rakyat Hindia, salah satunya adalah Jawa. Sepertinya ibu suri tertarik pada batik. Setelah memeriksanya dan membolak-balik naskah yang menjelaskan proses pembuatan batik sampai hal-hal yang kecil. Naskah tersebut ditulis dalam bahasa Belanda yang sempurna, kata Dr. H.Bouman dan berjudul ‘Handschrift Japara’ (Manuskrip Jepara). Naskah tersebut ditulis oleh Kartini (Toer, 2000:158).

Setelah beberapa tahun, Kartini tidak mendengar kabar mengenai naskah karyanya yang disertakan dalam pameran. Hingga ia mendapat kabar bahwa naskah artikelnya tersebut akan dimasukkan dalam buku. Berita itu tentu membahagiakan Kartini. Seperti yang ia ungkapkan dalam isi suratnya kepada Estelle Zeehandelaar di atas.

Sebagai perempuan Jawa pada peralihan abad ke-19 dan 20, Kartini mengenakan kain batik. Kain batik yang dikenakan oleh Kartini dan kedua saudarinya membuat Dr. Nicolaus Adriani, seorang ahli bahasa terkesan. Adriani yang bertemu dengan Kartini, Roekmini, dan Kardinah di Batavia mencatat pertemuan tersebut dalam buku hariannya bertanggal ‘Depok, September 1900’. Adriani menggambarkan ketiga perempuan itu mengenakan pakaian yang sama yaitu berkebaya sutra putih bunga-bunga jambu, berkonde dan berkalung emas tipis. Satu hal yang membuat mereka tampak cantik. ‘Ketiganya mengenakan sarung batik indah, buatan sendiri, berwarna coklat memikat’, tulis Adriani seperti yang dikutip Pramoedya A. Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (2000). Tidak dijelaskan siapa yang menyampaikan kepada Adriani bahwa sarung batik tersebut buatan ketiga saudara tersebut.

Kartini mempelajari seni batik sejak ia berusia 12 tahun atau sejak ia dipingit, meninggalkan bangku sekolah. Guru yang mengajarinya membatik adalah abdi di kabupaten Jepara, Mbok Dullah. Kartini bahkan pernah menghadiahkan sarung batik buatannya sendiri kepada Nyonya Abendanon, istri J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pengajaran dan Agama (Toer, 2000:158).

Perihal kegiatan membatik Kartini ini diperkuat oleh catatan salah seorang adik Kartini, Kardinah. Dalam memoarnya, Kardinah menuturkan bahwa mereka memperoleh pelajaran membatik dari sang ibunda, Ngasirah. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan pada siang hari, sesudah makan siang, yang dilakukan di serambi belakang rumah. Menurut Kardinah, mereka duduk melingkari wajan kecil di atas kompor dengan menghadapi gawangan batik masing-masing yang terbuat dari bambu atau kayu. Kartini menyukai untuk mengerjakan pola batik garis (Tondowijojo, 1994:12). Uraian ini memperkuat penjelasan untuk informasi foto ketiga bersaudara yang sedang membatik.

Kartini tidak hanya dapat membatik, ia juga mengupayakan supaya batik dapat dikenal di luar Hindia. Kartini mencoba menghubungi Oost en West (Timur dan Barat), sebuah asosiasi yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan de Vrouwenarbeid-Tentoonstelling (Pameran Karya Perempuan) pada 1898 di Den Haag. Asosiasi itu memiliki tujuan mempromosikan ketertarikan mereka terhadap Hindia. Salah satunya adalah perhatian khusus terhadap kesenian, terutama seni batik. Dalam suratnya untuk Stella M. Zeehandelaar tanggal 11 Oktober 1901, Kartini menjelaskan upayanya tersebut (Sutrisno 1981: 133; Coté 2004: 122-123). Kartini menulis:

De belangtelling in Holland voor de Indische kunst is gewekt door de uitstekend geslaagde tentoonstellingen, die Oost en West van Indische kunsten gehouden heeft. In het buitenland ook begint de Indische kunst, inzonderheid de batikkunst, bekend te worden (Kartini, 1912)

Ketertarikan di Belanda terhadap seni Hindia dibangkitkan dengan pameran yang berhasil yang diselenggarakan oleh Oost en West mengenai seni-seni Hindia. Di luar negeri seni Hindia, terutama seni batik juga mulai dikenal.

Kartini tidak hanya berupaya mempromosikan seni batik. Dalam salah satu cita-citanya adalah ia menginginkan suatu upaya yang pada masa sekarang dikenal dengan pemberdayaan kaum perempuan. Caranya adalah mengajarkan ketrampilan membatik kepada kaum perempuan di sekolah yang diselenggarakan oleh Kartini dan adik-adiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *