Kembali ke Yogya

Akhir tahun 2018 ditutup dengan mengikuti kegiatan ilmiah, tepatnya Seminar Sejarah Nasional tahun 2018. Seminar ini bertema Paradigma dan Arah Baru Pendidikan Kesejarahan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya acara seminar akan diselenggarakan pada 14-15 Desember 2018 tetapi kemudian dimajukan menjadi 3-4 Desember 2018.

Saya memutuskan naik kereta menuju Yogya. Terakhir saya menikmati kereta jarak jauh pada tahun 2012 ketika mengikuti konferensi IAHA (International Association of Historians of Asia) di Solo. Saya berangkat tanggal 2 Desember dan menurut jadwal kereta berangkat dari stasiun Gambir. Rupanya pada tanggal 2 Desember semua kereta jarak jauh diberangkatkan dari stasiun Jatinegara untuk mengantisipasi kegiatan reuni 212 di kawasan Monas. Suasana stasiun Jatinegara tampak ramai. Rupanya banyak orang yang akan bepergian ke luar kota. Sekilas saya melihat rombongan instansi ini dan itu. Pukul 9.00 kereta Argo Dwipangga yang akan saya tumpangi berangkat dari Jatinegara. Perjalanan cukup lancer dan menyenangkan. Sore hari saya tiba di Yogyakarta dan langsung menuju penginapan yang disediakan oleh panitia seminar.

Makalah yang saya bawakan dalam Seminar Sejarah Nasional 2018 berjudul ‘Pariwisata Sejarah untuk Generasi Milenial dan Generasi Z’. Berikut abstraknya:

In the past two decades, Indonesian people’s awareness of history can be said to have grown. This can be seen from the publication of various historical books and activities related to history. Historical activities are initiated by various communities. These communities appear in various cities in Indonesia, both large and small cities. These communities are driven by the community, especially young people from various educational backgrounds, both those with a history education background, and those who have no historical education background. These communities explore local history in their respective cities and hold events in the form of tourism activities. These tourism activities can be included in the history-based tourism category. Historical tourism is one of the attractions of every city that can become a tourism promotion for the city. In historical tourism, the element of narrative or story is one of the important factors for supporting tourism activities and becoming an object reinforcer/heritage site. In addition to being a means of cultural education, historical tourism can contribute to driving the economy. How narrative forms can be used in historical tourism activities to attract millennials and generation Z, as well as tourism promotion, are the focus of this paper.

Kata kunci: generasi milenial, generasi Z, komunitas pencinta sejarah, pariwisata sejarah di Indonesia, promosi pariwisata

Beberapa hal menarik saya peroleh dari pengalaman mengikuti seminar ini. Pertama, kondisi darurat padamnya listrik pada hari pertama, menyebabkan acara dipindahkan dari kampus FIB ke gedung rektorat UGM yang merupakan gedung bersejarah. Lalu, dalam beberapa panel yang saya ikuti muncul pendapat bahwa komunitas menjadi unsur penting dalam pendidikan kesejarahan di samping lembaga formal (sekolah),khususnya berkaitan dengan pariwisata sejarah. Dalam kaitannya dengan minat penelitian saya tentang kegiatan turisme di Indonesia pada masa kolonial, unsur komunitas memang menjadi faktor penting yang pada masa kini juga merupakan unsur penting dalam kegiatan pariwisata. Terutama kegiatan promosi pariwisata di berbagai wilayah di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *