kembali ke…komik

Urusan kurikulum tak kunjung selesai. Bagai jalan tak ada ujung. Begini rupanya jadi bagian dari perumus kebijakan. Putar sana, putar sini. Rapat ini, rapat itu. Sudah nyaris di ujung, eh masih nyambung lagi.

Sambil meluruskan pikiran (memang selama ini tidak lurus?) saya mengingat-ingat koleksi komik saya yang entah ke mana. Di rumah ibu saya, saya masih punya Asterix, Lucky Luke (versi Belanda), Rampokan Jawa, Roel Djikstra (versi Indonesia), dan apalagi ya?

Di rumah saya ada Beni dan Mice, Suske en Wiske (hadiah dari Frank Brandsma), Joe Sacco dan Put On. Untuk yang terakhir ini ‘mbahnya’ komik dalam versi buku. Saya membelinya di TM Depok. Letaknya di atas, tersembunyi. Tidak didisplay khusus. Saya saja harus jinjit meraih komik ini.


Saya belajar membaca dari komik. Lewat balon-balon berisi tulisan saya mendengar ibu saya mendongeng. Lalu saja berimajinasi sendiri dengan deretan huruf yang belum saya pahami melalui gambar dalam panel. Kalau tidak salah melalui komik Deni Manusia Ikan dalam majalah Bobo. Saya beranjak mulai menikmati komik ‘Surga Neraka’, seri Sunan Gunung Jati, Mahabarata (R.A Kosasih), petualangan Karl May, Tintin, Asterix, Lucky Luke. Sesekali komik super hero Marvel dari Amerika (meski tak banyak). Akhirnya serial Lima Sekawan, Sapta Siaga, Trio Detektif, Imung, Sersan Grung Grung, Noni, Trio Tifa yang lebih banyak tulisannya memaksa saya pada kelas tiga SD mengenakan kaca mata. Namun, komik Petruk Gareng (Tatang S) yang agak vulgar, juga saya lahap. Komik dalam Lembergar (lembaran bergambar) Pos Kota juga saya nikmati. Masih ingat Doyok, Ali Oncom(potongan rambutnya itu lho), Jhonny?


Sebenarnya terselip pula ketidakpuasan dalam diri saya, sehingga dengan bantuan sepupu (Ipang) yang sekarang tinggal di Amerika, kami menyusun komik. Dia pintar menggambar, garis gambarnya lebih mantap dibandingkan saya. Sedangkan ide cerita disumbangkan saya. Maka jadilah sebuah komik dalam buku tulis yang bersampul biru tua (masih ingat?). Misalnya kami pernah membuat superhero kembar yang saling bertempur atau gabungan berbagai superhero. Ada yang menggunakan sayap, bertopeng atau polos tanpa atribut.


Ketika lancar membaca cukup lama, saya terbuai dengan buku yang lebih banyak tulisan. Di SMP dan SMA sesekali saya membuat coretan di buku teks atau catatan supaya tidak membosankan. Biasanya gambar guru yang menyebalkan (maaf ya Pak, Bu). Ketika di bangku kuliah, sewaktu penataran P4 di gugus 04 (teknik), saya berkenalan dengan Dani (tanpa Ahmad) dari Fakultas Hukum. Di sela-sela penataran ia membuat gambar. Gambarnya selalu musisi rock, lengkap dengan peralatan musiknya. Ia pernah memberi satu gambarnya pada saya.

Lalu ketika mulai kuliah di FSUI, teman sekelas saya Andi Sarwono (yang ternyata masih ada hubungan saudara) rupanya pintar juga membuat komik. Suatu ketika ia menggambar dosen kami yang sedang mengajar. Ia menunjukkan gambar itu pada saya, saya hanya tersenyum. Rupanya Mbak Henny (sekarang sudah Phd) tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa keras. Tawa itu membuat dosen kami tersinggung lalu marahlah dia. Usai kuliah, kami tertawa lagi. Andi melanjutkan kuliah di FH Unair dan sekarang bekerja di BNI.

Jadi kalau saya kembali ke komik…yang memang dari sana akarnya.

sumber gambar:

Mahabarata: goodreads.com

Ali Oncom:www.intisari-online.com

Deni Manusia Ikan: kangtantan.blog.friendster.com

Petruk Gareng: www.bukubagus.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *