Kenangan Goyang Lidah

ayam goreng bu haji-JNG

Urusan perut memang tidak bisa disepelekan. Namun, bukan berarti urusan ini menjadi segalanya dan mengalahkan urusan lain. Urusan yang jauh lebih penting dari sekedar urusan perut. Ingat saja ungkapan ‘makan bukan sekedar untuk hidup, hidup bukan sekedar untuk makan’. Setidaknya jika Anda berkenan biarlah saya sedikit berkisah mengenai kenangan saya dengan urusan perut yang juga menyinggung lidah untuk bergoyang.

Saya mencoba mengingat urusan ini ketika saya masih balita. Untuk urusan mangsa-memangsa ini ups…maksud saya makan, saya tergolong sulit sekali makan. Ketika makan saya harus ditemani dengan berbagai pernak-pernik, entah itu kerupuk atau segelas air putih. Namun, komposisinya terkadang lebih banyak pernak-perniknya. Maksudnya, makanan utama belum habis, pernak-perniknya sudah lenyap disantap. Saya jadi teringat anak sulung saya yang ternyata memiliki kebiasaan yang sama. Syukurlah, sekarang kebiasaan itu sudah berkurang.

Ketika saya mulai bersekolah, sepertinya saya membutuhkan banyak asupan energi. Akibatnya, nafsu makan saya begitu berkobar-kobar tapi badan saya tidak menjadi mekar. Meskipun saya makan banyak, saya tetap kerempeng. Satu hal yang perlu dicatat. Meskipun makan banyak, saya tidak suka sembarang jajan. Mungkin ini kebiasaan kami sejak kecil. Kami dilarang oleh ibu untuk jajan sembarangan. Sehingga malanglah nasib para penjual makanan yang lewat di depan rumah kami.

Sebenarnya bukannya tidak suka jajan. Kalaupun jajan alias mengudap makanan non rumah, kami sekeluarga biasanya menikmatinya beramai-ramai atau pergi menyambanginya sekeluarga.  Ada berbagai lokasi jajan keluarga kami yang hingga kini saya kenang dengan baik. Jajanan-jajanan tersebut mungkin sudah tidak ada di lokasinya sekarang.

–   Nasi tim di Proyek Senen (ketika itu kami masih tinggal di Kemayoran). Samar-samar saya mengingat pengalaman mengudap di tempat ini. Harum nasi tim ayam hangat dengan uap mengepul masih saya ingat dengan baik.

–   Soto Gombong di jalan A. Yani, By Pass. Ketika itu kami masih tinggal di kawasan Pisangan Lama, Jatinegara. Biasanya kami berjalan kaki ke tempat ini. Kami berjalan ke arah jalan A. Yani, By Pass dan menyeberangi jalan yang ketika itu belum ada jalan layang di atasnya. Kesegaran kuah beningnya serta getuk membuat merem-melek ketika diseruput. Entah pindah ke mana Soto Gombong ini, mengingat lokasinya terkena pelebaran jalan dan proyek jalan layang Cililitan-Tanjung Priok.

–   Ayam Goreng Bu Haji di Jalan Bekasi Barat Raya – seberang Stasiun Jatinegara. Salah satu pengalaman unik dan tak akan terlupakan adalah ketika kami sekeluarga berbuka puasa di sana. Waktu itu sepertinya belum musim bukber-bukberan. Lantaran kami tiba di sana menjelang waktu Mahgrib, kami terpaksa menikmati hidangan ayam goreng di tempat yang sangat spesial yaitu di lantai paling atas, tempat menginap para karyawan. Bisa dibayangkan, di sana-sini tergantung jemuran pakaian dan handuk para karyawan. Pemandangan yang dapat mengganggu nafsu makan. Namun, perut lapar, hangatnya nasi, gurihnya ayam, pedas-pedas sedapnya sambal kacang-kecap mengalahkan pemandangan itu. Sepertinya tempat ini masih ada hingga kini.

–   Daging Burung ‘Apanya De’?’.  Kalau tidak salah ada di depan rumah makan Ayam Goreng Bu Haji (seberang Stasiun Jatinegara). Mengapa disebut Daging Burung ‘Apanya De’?’ karena penjualnya kerap berkata demikian kepada para pembelinya. Maksudnya bagian apa yang akan dibeli. Dadanya, pahanya, atau bagian lain.

–  Gado-Gado, Karedok Bu Rahmat. Lokasinya dekat dengan rumah kami di Pisangan. Gado-Gado dan Karedok ini biasa kami pesan. Sebagai tambahan disediakan juga rujak buah dan kerupuk kuning lengkap dengan sambal ubinya. Biasanya kami menikmatinya untuk makan siang.

–  Tongseng, Sate keliling. Bila ibu malas memasak, ini lah saatnya kami menikmati tongseng, sate ayam atau kambing yang dijajakan penjualnya dengan pikulan. Penjualnya biasa lewat di depan rumah sehabis Isya. Uniknya, dia memasak tongseng kambing di atas anglo arang yang baranya dikipasi dengan tangan. Hidangan slow food ini kami nikmati bersama-sama sekeluarga.

–  Ketoprak Cirebon. Dijajakan usai Mahgrib di gerobak dan mangkal di belakang rumah Pak Slamet di JL. K, Pisangan Lama III yang ketika itu menjadi ketua RT 05. Rasanya seperti ketoprak yang kita makan sekarang (Lah iya lah). Rasa ketoprak memang begitu. Yang spektakuler, para pelanggannya harus rela antri untuk menikmati ketoprak ini. Biasanya kami membeli beberapa bungkus untuk dinikmati di rumah.

–    Sate Ayam-Kambing Jl. Saharjo ke arah Pancoran, Jakarta Selatan. Wilayah jajahan jajanan kami merambah ke wilayah lain. Biasanya, usai Mahgrib, Bapak menyiapkan ‘pasukannya’ untuk menyerbu warung kaki lima ini. Setengah lusin perut lapar kami bisa mengganyang berpuluh-puluh tusuk sate ayam maupun kambing plus semangkuk sop kambing jika masih berkenan dan mampu menampungnya. Lokasinya sekarang sudah tergusur karena berada tidak jauh dari jalan tembus Casablanca.

Bakmi Pisangan

–    Mi Jawa Pisangan Lama I, kolong jembatan Jatinegara. Musim penghujan terkadang membuat kita membutuhkan hidangan hangat. Mi Jawa ini juga salah satu alternatif lain jika ibu, koki kami tercinta sedang ngelungrah alias tidak enak badan dan membutuhkan hidangan segar berkuah. Dimasak dengan anglo berbahan bakar arang, kuah dari kaldu ayam kampungnya sangat menyegarkan.

Bersambung….

sumber foto :

  1.  http://gastronomy-aficionado.com/2013/01/07/ayam-goreng-bu-haji/
  2. http://www.adjisubela.com/2013/04/mie-yogya-langganan-artis.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *