Kerja Dari Rumah Saja

Fisik boleh tak kemana-mana tetapi fikiran harus tetap waras. Situasi pandemi yang masih berlangsung membuat mobilitas kita sangat terbatas. Ditambah lagi angka mereka yang positif Covid-19 di Indonesia belum memperlihatkan tanda-tanda menurun. Namun, situasi ini tidak membuat kita lantas berbuat apa-apa.

Beberapa bulan terakhir, beberapa karya telah dihasilkan meskipun tetap tinggal di rumah. Satu-persatu karya mulai terpublikasi, antara lain ‘sedekah’ essay untuk memperingati 100 tahun Hassan Shadily yang diterbitkan oleh Penerbit Babon dan Penerbit Mlaku. Segera menyusul karya-karya lain. Beberapa kegiatan penelitian juga tetap berjalan dengan strategi yang berbeda. Beruntung, saya memiliki kesempatan menelusuri data di Perpusnas Jl. Medan Merdeka Selatan sebelum ditutup lagi karena PSBB di DKI Jakarta. Mengenai hibah penelitian meskipun kondisi Pandemi, laporan kemajuan tetap harus disampaikan.

Demikian pula dengan kegiatan-kegiatan seperti seminar, pelatihan, rapat dalam jaringan, susul-menyusul terus berlangsung, baik yang termonetisasi, maupun pro bono. Sementara itu kegiatan perkuliahan di semester gasal sudah tiga minggu berjalan. Sesuai arahan pimpinan, semua kegiatan perkuliahan dilakukan secara dalam jaringan. Dianjurkan juga untuk tidak setiap minggu melakukan tatap muka yang disebut sinkronus.

Satu hal yang perlu disyukuri pada situasi seperti sekarang adalah ada waktu untuk merenung dan menyusun strategi ke depan. Beberapa gagasan berupa rencana bermunculan satu-persatu, meskipun terkadang dihadang kesibukan yang tiba-tiba dan tidak direncanakan. Eksekusi rencana tinggal menunggu waktu.

Diskusi dengan Redaksi National Geographic Magazine Indonesia, Didi Kaspi Kasim dan Mahandis Yoan Thamrin 12 September lalu merupakan salah satu kegiatan yang sangat berkesan. Dalam kesempatan itu kami membahas pejalan yang melanglang ke mana-mana dari rumah. Satu ide dan beberapa gagasan bermunculan sebagai hasil diskusi tersebut. Semakin memperkuat tekad untuk tetap mempelajari dan berkecimpung di bidang ini demi masa depan.

Saya teringat pada satu gagasan dari seorang guru besar, untuk menggunakan metodologi multidisiplin dalam melihat sejarah untuk masa depan. Seperti yang diungkapkan oleh Nancy Florida, ‘menulis masa lalu, mengukir masa depan.’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *