Kiprah Pendiri Bangsa Indonesia di Negeri Penjajah

Judul: Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950

Judul Asli : In het Land van de Overheerser: Indonesiër in Nederland 1600-1950

Penulis : Harry A. Poeze

Penerjemah : Hazil Tanzil, Koesalah Soebagyo Toer

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia dan KILTV-Jakarta , 2008

Tebal : x + 412 halaman

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.” Demikian kalimat awal dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Hal yang menarik dalam kalimat itu adalah kata “bangsa Indonesia” dan “kemerdekaannya”. Siapa bangsa Indonesia yang dimaksud dan merdeka dari siapa?

Jawaban kedua pertanyaan itu kelihatannya mudah. Pertanyaan siapa bangsa Indonesia mungkin dijawab “ya kita ini” yang ketika Proklamasi diatasnamakan oleh Soekarno dan Hatta. Sedangkan pertanyaan kedua jawabannya adalah merdeka dari Jepang yang ketika itu baru kalah dari pasukan Sekutu. Bisa juga merdeka dari Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Bila pertanyaan pertama ditanyakan lebih kritis: siapa “kita” yang dimaksud? Mungkin orang yang ditanya agak sedikit bingung. Jawabannya yang mungkin muncul adalah “ya, orang Indonesia”.

Perihal “Orang Indonesia” inilah yang menjadi benang merah menarik buku terjemahan Orang Indonesia di Negeri Penjajah karya Harry Poeze dengan sumbangan tulisan dari Cees van Dijk dan Inge van der Meulen. Berdasarkan untaian benang merah itu muncul pula berbagai pertanyaan. Siapa saja “orang Indonesia” yang pernah memiliki kesempatan menengok dan tinggal negeri penjajahnya? Apa yang mereka lakukan di sana serta apa sumbangan mereka terhadap tanah air Indonesia?

Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu diuraikan secara kronologis dalam terjemahan buku dengan judul asli In het Land van de Overheerser dengan sub judul Indonesiër in Nederland 1600-1950. Buku ini ditulis secara kronologis.

Bagian pertama 1600-1898 merupakan tulisan sumbangan dari Cees van Dijk, lalu periode 1898-1945 hasil tulisan Harry Poeze dan ditutup oleh tulisan Inge van der Meulen (1945-1949). Buku ini diawali dengan ‘orang Indonesia’ yang datang ke tanah Belanda di seberang lautan pada 1600-an. Orang Indonesia yang dimaksud sengaja saya beri tanda kutip mengingat saya meragukan apakah pada masa itu kata “Indonesia” sudah ada.

‘Orang Indonesia’ yang datang melawat adalah para utusan Koninck van Achyn (Raja Aceh). Mereka mendarat di Zeeland pada 1602. Pada tahun yang sama, duta besar Aceh itu meninggal pada 9 Agustus 1602 di Middelburg dalam usia 71 tahun dan dimakamkan di gereja Sint Pieters dengan cara Islam. Para utusan Aceh itu disambut oleh Pangeran Maurits di tengah perang dengan Spanyol yang sedang berkecamuk (1568-1648).

Pada periode berikutnya ‘orang Indonesia’ yang menginjakkan kaki di negeri ‘penjajah’ adalah tiga pangeran dari Ambon yang berusia sepuluh hingga dua belas tahun. Marcus de Roy, Andrea de Castro dan Laurens de Fretis. Selain mereka ada pula pelukis terkenal Raden Saleh alias Raden Syarif Bustaman. Cerita mengenai sang maestro ini sangat menarik. Awalnya ia selalu menolak jika ia hendak dipulangkan. Hubungannya dengan beberapa pejabat memungkinkan ia tinggal lebih lama di Eropa. Satu hal yang menarik adalah alasan mengapa ia diizinkan tetap tinggal di Eropa yaitu rasa khawatir gagasan dan ‘kepintaran’ Raden Saleh menular ke orang Jawa lainnya. Maklum saja ketika itu Perang Jawa (Java Oorlog) yang menguras kantong pemerintah baru usai dan pemerintah tak mau kecolongan.

Sekilas kita mungkin berpikir bahwa mereka yang berkesempatan mengunjungi dan tinggal di negeri penjajah hanya anak-anak dari kelompok masyarakat elit alias anak-anak pejabat saja. Pikiran itu tak sepenuhnya keliru karena memang yang dikirim ke sana hampir kebanyakan adalah anak-anak pejabat. Kartini pun sebenarnya akan dikirim ke sana.

Namun yang menarik, di tanah seberang mereka justru lebih terbuka wawasannya. Mereka membentuk perhimpunan (Indische Vereeniging) dan membuat majalah. Lalu bersama dengan rekan-rekan mereka di tanah air, serta berbagai aliran dan pikiran mereka mewujudkan cita-cita menggapai kemerdekaan.

Ada satu ilustrasi yang menggelitik. Di kamar salah seorang mahasiswa Indonesia yaitu Soebardjo, tempat mereka biasa berdiskusi, terpampang bendera merah putih dengan kepala kerbau di tengah yang menempel di dinding. Bendera itu menjadi sangat penting. Sebelum mengikuti ujian, seorang calon peserta biasa bersemadi sejenak di depan bendera itu. Kemudian sang calon menekankan dalam ingatannya, semacam tekad bahwa kelulusannya dari ujian itu penting bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang mahasiswa hukum yang bernama Achmad gagal dalam ujian. Ia menganggap kegagalannya karena lupa ‘bersemadi’ di depan bendera tersebut. Sebelum mengikuti ujian ulangan, ia menyempatkan diri bersemadi di depan bendera. Hasilnya, ia pun lulus.

Apakah hanya anak-anak dari masyarakat elit yang pernah menginjakkan kaki di negeri penjajah? Ternyata tidak. Jauh sebelum TKW dan TKI kita kenal, para pembantu dari Indonesia sudah menginjakkan kaki di Belanda. Pada masa itu mereka disebut baboe, koeki yang ikut ke sana lantaran mengikuti majikannya. Bahkan pada 1899 didirikan wisma untuk orang Jawa, Tehuis voor Javanen di Amsterdam. Semacam tempat penampungan atau persinggahan sementara bagi mereka.

Mereka tak semuanya merasa senang bisa plesiran ke Belanda. Ada seorang pembantu perempuan bernama Datem yang berusia 17 tahun yang bunuh diri menerjunkan diri dalam kanal. Entah karena rindu kampung halaman atau masalah lain.

Dalam buku ini juga terdapat tokoh-tokoh yang terlupakan atau sengaja dilupakan dalam sejarah Indonesia. Sebut saja Mas Marco, Noto Suroto, Tan Malaka. Ada pula Rustam Effendi yang duduk dalam parlemen di Belanda.

Pada sampul buku terjemahan kita melihat dua sosok pemuda Sumatra (Deli?), Teuku Amir dan Teuku Musa yang berpakaian ala Eropa. Meminjam istilah Rudolf Mrázek, mereka bergaya dandy. Sedangkan pada sampul buku aslinya adalah tiga pangeran Solo (Mangkunegara), Herman, Tonny dan Henry (nama-nama Eropa) dengan beberapa teman di atas kanal yang membeku di Leiden. Gambar itu diambil pada 1 Januari 1908 dan dimuat di majalah Bandera Wolanda.

Buku ini sangat menarik dan menambah pengetahuan kita mengenai kiprah para pendiri bangsa Indonesia di negeri penjajahnya. Hanya sayang, seperti ulasan J. Verkuyl dalam jurnal BKI dan pengantar penyusun buku ini adalah sedikitnya peranan orang Tionghoa yang disertakan dalam buku ini. Padahal mereka juga tak kurang perannya dalam proses bangsa kita menemukan jati dirinya.

3 thoughts on “Kiprah Pendiri Bangsa Indonesia di Negeri Penjajah

Leave a Reply to Shinta Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *