KISAH PARA PEREMPUAN BELANDA PENDUKUNG REPUBLIK

Judul: Tanah Air Baru, Indonesia
Judul asli: Enkele Reis Indonesië. Vier Amsterdamse vrouwen in hun nieuwe vaderland
Penulis: Hilde Janssen
Penerjemah: Meggy Soedjatmiko
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: I, 2016
Tebal: 360 halaman
ISBN: 978-602-03-3541-4
Harga: Rp. 89.000

Berawal dari sehelai foto yang dibeli Hilde Janssen pada pameran peringatan 65 tahun Republik Indonesia tahun 2010 di Jakarta. Dalam foto itu memuat gambar dua perempuan kulit putih berambut pirang yang sedang menjulurkan badan di atas kereta api. Di bagian bawah foto terdapat keterangan bertuliskan: ‘Wanita-wanita Belanda dalam perjalanan menuju Republik, 1947’.

Beragam pertanyaan muncul di benak Hilde Janssen dan mungkin kita ketika melihat foto tersebut. Mengapa mereka menuju wilayah Republik? Siapa sebenarnya kedua perempuan Belanda itu? Apa yang mereka lakukan di wilayah Republik ketika orang-orang Belanda justru meninggalkan wilayah Republik? Bagaimana nasib mereka selanjutnya?

Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan menggelitik itu Hilde berupaya mencari tahu sosok dalam foto tersebut. Gabungan antara pekerjaan sebagai seorang jurnalis yang merupakan profesinya serta latar belakang antropolog dilakoni oleh Hilde untuk mengungkapkan kisah di balik sehelai foto itu. Sebagai mantan koresponden yang pernah bertugas di Indonesia, penelusuran Hilde membuahkan hasil. Melalui seorang kenalan di Indonesia, ia berhasil bertemu dengan Dolly, perempuan Belanda berusia 85 tahun yang tinggal di Indonesia. Dolly mengenali dua perempuan dalam foto itu. Dari Dolly lah, satu persatu kisah dan pertanyaan mengenai kedua perempuan Belanda itu terungkap.

“Ini temanku Annie, dan itu Miny yang memegang ukulele,” kata Dolly yang langsung mengenali kedua perempuan dalam foto yang disodorkan padanya (hal. 8). Mereka adalah kakak beradik Kobus yang berasal dari Amsterdam. Ketika itu awal bulan Januari 1947. Dolly pun berada di atas kereta itu bersama Betsy, kakak kedua perempuan dalam foto serta Ma Kobus, ibu Kobus bersaudara. Mereka berempat sudah hampir melintasi perbatasan wilayah Belanda dan Republik Indonesia. Setelah identitas kedua perempuan dalam foto itu diketahui, pertanyaan berikut adalah alasan mereka berada di wilayah Republik Indonesia yang baru saja dilanda perang dan bebas dari pendudukan Jepang.

Dari dua perempuan dalam foto, maka bertambah dua perempuan lagi yang kisahnya sayang untuk dilewatkan terkait hubungan Indonesia dan Belanda pasca kemerdekaan. Ini merupakan hal menarik karena dalam sejarah Indonesia, kita mengenal bangsa Belanda sebagai sosok penjajah. Alasan mengapa mereka menyeberang ke wilayah Republik merupakan hal yang menarik dan perlu kita ketahui.

Penelusuran kisah keempat perempuan Belanda di wilayah Republik dilakukan Hilde berdasarkan serangkaian wawancara serta penelusuran arsip. Seperti yang ia tuliskan: ‘Saya merekonstruksikan sejarah kehidupan keempat wanita Amsterdam ini secermat dan sedekat mungkin dengan kebenarannya (…). Data-data yang bersifat fakta sebisa mungkin saya ujikan berdasarkan dokumen-dokumen tertulis, arsip-arsip, dan publikasi-publikasi sejarah.’ (hal. 332). Tak jarang, ia memberikan interpretasi pribadi. Jelas ada cara kerja sejarawan di situ. Bahkan, jika boleh dibandingkan, dalam proses penelusuran ada juga cara kerja detektif. Seperti yang diungkapkan Robin Winks dalam The Historian As Detective (1978): ‘the historian must collect, interpret, and then explain his evidence, by methods which are not greatly different from thos techniques employed by the detective, or at least the detective of fiction

Satu hal yang mengikat keempat perempuan Belanda dalam buku ini yaitu cinta. Keempat perempuan tersebut menikah dengan pria asal Indonesia. Dolly menikah dengan Tarjo (Raden Mas Soetarjo) putera Solo yang sedang belajar di Delft, Betsy menikah dengan Djoemiran pemuda Kebumen, Annie dengan Mouch alias Djabier, dan Miny dengan Amarie dari Madura. Dolly dan Tardjo menikah pada 30 September 1943 di Amsterdam (hal. 50). Kobus bersaudara menikah secara bersama-sama pada 9 Mei 1946 di Amsterdam. Iklan dan berita pernikahan mereka tercantum dalam surat kabar Het Parool (hal.63). Selain dimuat dalam Het Parool, berita tentang pernikahan mereka dimuat juga dalam De Waarheid (9 Mei 1946) di bawah judul ‘Oost en West drievoudig verenigd’ (Timur dan Barat, tiga [bersaudara] bersatu). Hal menarik, berbeda dengan berita dalam Het Parool, nama-nama Kobus bersaudara ditulis dengan inisial, seperti J.E., J.W., dan M.J. yang masing-masing inisial untuk Betsy, Annie, dan Miny. Sedangkan nama-nama pemuda Indonesia ditulis lengkap.

Alasan cinta inilah yang membawa para perempuan Belanda ini ke Indonesia. Namun, apakah memang hanya alasan cinta? Apakah tidak ada alasan lain? Dalam buku yang dapat dimasukkan sebagai buku sejarah keluarga ini, terkuak jawaban untuk pertanyaan itu.

Buku ini mengingatkan pada buku Kemerdekaan Memilih (1995), otobiografi Johannes Cornelis Princen atau Poncke Princen, mantan serdadu Belanda yang desersi dan memilih membela Republik. Princen datang ke Indonesia pada bulan Januari 1947. Bulan yang sama dengan kedatangan keempat perempuan Amsterdam tersebut.

Rentang waktu kisah empat perempuan Belanda yang memilih menjadi pendukung Republik cukup panjang. Mulai dari kedatangan mereka di tanah air yang baru yaitu Indonesia pada 1947 hingga periode milenium. Berbagai peristiwa sejarah di Indonesia menjadi bagian dalam pengalaman mereka. Mereka menjadi saksi dari serangkaian peristiwa tersebut. Mulai dari Agresi Militer Belanda I pada bulan Juli 1947 (hal. 76), Agresi Militer Belanda II pada bulan Desember 1948 (hal.110), penyerahan kedaulatan pada 1949 (hal. 123), nasionalisasi pada tahun 1950-an (hal.154), Kudeta 1965 (hal. 173-211), hingga Reformasi 1998 (hal. 287-291).

Ada satu cerita menarik ketika Dolly, Miny, dan Annie tinggal di Malang dalam kondisi perang setelah Agresi Militer Belanda Pertama. Mereka memiliki persediaan satu bal gula. Dolly menemukan resep untuk membuat permen keping. Annie dan Miny mengeluarkan pita merah-putih bekas buket pengantin mereka. Lalu mereka jadikan krans Natal yang terbuat dari permen keping. Mereka membuat lusinan rangkaian dengan membuat lubang kecil permen berbentuk bundar dan menjalinnya dengan pita. Miny dan Dolly lalu menjual permen-permen dalam kantong dari rumah ke rumah. “Kalian dari gereja mana?” tanya seorang perempuan Belanda. Tak ada yang menyadari warna krans tersebut. Warna merah-putih bernuansa Republik (hal. 95).

Dalam kurun waktu yang panjang, keempat perempuan Belanda tersebut harus ‘berjuang’ untuk keluarga, kawan dan diri sendiri (baca: identitas mereka). Dolly yang bersuamikan Tardjo terpaksa berpisah dengan sang suami karena perang. Miny yang kemudian berpisah dengan Amarie, suami pertamanya, hanya sejenak menikmati kesuksesan bersama suami keduanya, Nanang. Mereka terpaksa berpisah karena Nanang menjadi tahanan politik tanpa diadili. Demikian pula Betsy dan Annie dengan permasalahan mereka sendiri.

Rentang waktu kisah pengalaman yang panjang tentu bukan tanpa resiko. Bagian yang terlupakan atau yang sengaja ingin dilupakan karena tak ingin diingat dapat saja luput dari catatan. Tanpa kesabaran dan kerja keras Hilde dalam mendengar penuturan ketiga perempuan Belanda tersebut (Dolly, Annie, dan Miny) serta keluarga mereka, buku ini tidak akan terwujud.

Sayangnya, buku yang untuk edisi bahasa Indonesia menggunakan sampul karya Peter van Dongen, komikus Belanda yang terkenal dengan karya Rampokan Jawa dan Celebes (2014), tidak dilengkapi dengan indeks. Bagian yang akan membantu para pembaca.

Membaca pengalaman empat perempuan Belanda ini, rasanya seperti mendengar ‘kisah lain’ dari pelajaran sejarah yang biasa kita terima di bangku sekolah. Sejarah yang hanya mengagungkan para pahlawan, tanpa melihat sisi lain dari suatu peristiwa. Terutama yang berkaitan dengan sejarah hubungan Indonesia-Belanda. Apalagi dalam sejarah Indonesia, segala hal yang ‘berbau’ Belanda selalu dianggap sebagai penjajah atau musuh. Tidak ada ruang atau warna lain yang mungkin ada tentang mereka dalam catatan sejarah karena pandangan yang sempit. Sekali menjadi musuh, maka tetap menjadi musuh. Padahal, mungkin ada cerita lain dari mereka yang kita anggap sebagai musuh.

cover buku versi bahasa Indonesia : gramedia.com
cover buku bahasa Belanda : enkelereisindonesie.nl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *