Kisah Petualangan Pria Uzur

the-100-year-oldSecara tak sengaja saya menemukan trailer film yang menarik. Judulnya The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Dissappeared.  Judul beranak kalimat ini menggugah saya untuk mencari informasi lebih lanjut. Ternyata film tersebut diangkat dari novel berjudul sama karya penulis Swedia, Jonas Jonasson. Pun saya teringat pada Astrid Lindgern, penulis buku anak-anak Pippi Si Kaus Kaki Panjang yang juga berasal dari Swedia.

Setelah menjelajah di internet dan membaca ulasan novelnya. Ternyata novel ini patut dibaca. Tak lama novel ini mendarat di rumah dengan selamat. Di sela-sela waktu senggang, novel ini akhirnya tuntas dibaca.

Kisah dimulai dari seorang pria lanjut usia di sebuah panti werda yang akan dirayakan ulang tahunnya ke-100. Pria ini memanjat jendela, keluar, lalu menghilang seperti judul novelnya. Allan Karlsson, nama pria tersebut kabur lantaran menolak atau menghindari perayaan usianya yang keseratus. Bermodalkan pakaian seadanya, Allan melakukan perjalanan tak direncanakan penuh petualangan.

Dengan langkah-langkah pendek karena faktor usia, Allan sampai di terminal bis Malmköping. Di sana dia masih belum dapat menentukan hendak ke mana. Di terminal, Allan bertemu seorang pemuda yang membawa koper besar. Pemuda berjaket denim bertuliskan Never Again di bagian punggungnya menitipkan koper itu pada Allan karena toilet terminal tak muat menampung dirinya beserta kopor tersebut.  Nah, pada saat yang sama bis yang menuju Strängnäs akan berangkat. Akhirnya Allan membawa serta koper besar itu sambil berpikir isi koper itu sekedar pakaian yang mungkin dapat dia gunakan. Justru di sinilah awal dari ketegangan cerita ini karena Allan kelak dikejar-kejar oleh gank Never Again.

Cerita yang ditampilkan dalam novel ini ternyata tidak hanya secara kronologis. Dengan cara tuturan flashback, kita dibawa ke masa sebelumnya untuk mengenal sosok Allan Karlsson yang ternyata sudah banyak makan asam garam kehidupan selama hidupnya. Allan yang dilahirkan pada 2 Mei 1905 mengingatkan kita pada Hari Buruh. Memang, dalam novel ini diceritakan sebelum Allan lahir, sang ibu ikut dalam prosesi Hari Buruh di Flen, kota kelahirannya.

Secara bergantian dengan situasi sekarang, kita dibawa ke masa ketika Allan berusia belasan dan pengalamannya yang kocak di abad ke-20 dengan para pesohor politik di dunia berkaitan dengan keahliannya dalam hal dinamit (ahli ledak). Nama-nama yang kita kenal dalam sejarah dunia muncul dalam novel ini mulai dari Jenderal Franco, Roosevelt, Truman, Mao Tse-tung, Churchill, Stalin, Kim Ill Sung, Nixon, hingga Sukarno, Suharto, dan SBY. Benar, Indonesia merupakan salah satu negeri, tempat petualangan Allan. Tentunya satu hal ini yang menarik perhatian saya.  Citra Indonesia disampaikan penulis melalui tokoh Allan Karlsson.

Hal yang membuat saya geli adalah kisah sang pengejar Allan yaitu tokoh Bucket. Bucket mengawali karir kriminalnya dengan gagasan membentuk sebuah geng motor dengan nama the Violence yang sengaja diambil dari bahasa Inggris.  Dengan bantuan sang pacar, Isabella yang menjahitkan nama geng motor di sepuluh jaket kulit hasil curian. Rupanya Isabella tidak pandai berbahasa Inggris sehingga nama yang terjahit di jaket tersebut The Violins. Untungnya, semua anggota geng tak ada yang pandai berbahasa Inggris sehingga kesalahan fatal itu tak diketahui. Akibatnya, semua anggota geng terkejut ketika sebuah surat undangan mereka terima. Undangan tersebut ditujukan kepada The Violins di Braas dari pengurus gedung konser di Vaxjo yang mengundang The Violins untuk tampil dalam konser bersama orchestra terkenal di kota itu.

‘Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apa pun yang akan terjadi, pasti terjadi’

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *