Kisah Saidjah-Adinda untuk Pariwisata

Tahun 2019 lalu saya mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan simposium dalam rangka Festival Seni Multatuli di Rangkasbitung, Lebak. Hasil dari simposium tersebut berupa artikel dengan judul ‘Max Havelaar Milenial di Indonesia dan Belanda’. Tahun 2021 ini saya kembali mendapatkan kesempatan ikut berpartisipasi. Meskipun dilakukan secara daring setidaknya kesempatan berharga ini jangan sampai terlewatkan. Apalagi tema yang ditawarkan sesuai dengan minat saya yaitu pariwisata. Tahun ini saya menyampaikan artikel berjudul ‘Kisah Saidjah-Adinda untuk Pariwisata’. Berikut abstraknya:

Di Indonesia orang lebih mengenal kisah Saidjah-Adinda dibandingkan dengan roman Max Havelaar (1860) karya Multatuli nama samaran Eduard Douwes Dekker (1820-1887) walaupun sebenarnya kisah Saidjah-Adinda merupakan salah satu kisah yang terdapat dalam roman tersebut. Hal tersebut disebabkan kisah Saidjah-Adinda yang pertama kali disadur ke dalam bahasa Sunda (1932) dan Indonesia (1954) dibandingkan kisah keseluruhan roman Max Havelaar (1972). Bahkan Sitor Situmorang, penyair besar Indonesia yang membaca Max Havelaar ketika usia remaja, tergerak menerjemahkan sajak Saidjah Adinda ke dalam bahasa Batak. Di Lebak, selain diabadikan untuk nama yayasan yang didirikan oleh tokoh Lebak Uwes Qorny, nama Saidjah-Adinda diabadikan untuk nama perpustakaan Jl. Rt Hardiwinangun No. 3 (perpustakaan umum) dan Jl. R.M Nata Atmaja No. 3 (di sebelah Museum Multatuli), serta nama gelar untuk duta putra putri pariwisata Kabupaten Lebak (icon pariwisata) tahunan dan nama paguyubannya.

Artikel ini membahas narasi dalam kisah Saidjah-Adinda yang dapat dimanfaatkan untuk Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW) unggulan nasional berbasis potensi lokal, khususnya di Kabupaten Lebak. Selain itu dibahas jenis pariwisata yang dapat dikembangkan berdasarkan narasi kisah Saidjah-Adinda. Metode yang digunakan untuk menjaring data adalah dengan netnografi (Kozinets, 1997) dipadu konsep tourist attraction (Leiper, 1990) dan literary tourism (Watson, 2009). Selain itu kritik sumber dari metode sejarah digunakan untuk memverifikasi data yang diperoleh. Hasilnya adalah narasi dalam kisah Saidjah-Adinda memiliki potensi untuk dijadikan Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW) unggulan nasional berbasis potensi lokal di Kabupaten Lebak. Berbagai potensi jenis pariwisata dapat dikembangkan seperti ecotourism (ekowisata), cultural tourism (wisata budaya), geotourism (geowisata), heritage tourism (wisata warisan budaya), dan literary tourism (wisata sastra) yang berada dalam payung special interest tourism (pariwisata minat khusus). Tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, terutama sinergi antara beberapa pihak yaitu pemerintah, swasta, masyarakat, dan pers.

Untuk versi lengkapnya, kita tunggu tanggal mainnya. “Ik heb uw gezegd, lezer, dat myn verhaal eentonig is

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *