Ku’pe

Kenangan bisa dibangkitkan dengan berbagai medium. Entah itu benda yang dapat kita lihat, sentuh dan cium atau pun sesuatu yang dapat kita dengar. Salah satunya album-album lawas dari kelompok musik legendaris Indonesia ini yaitu Koes Plus.

Saya mulai mendengar album-album Koes Plus sejak usia balita puluhan tahun silam. Bersama dengan lagu-lagu kocak dari Benyamin S , lagu-lagu jadul lainnya dan tentu saja musik tradisional yang kerap diputar dan diperdengarkan melalui radio oleh orang tua saya. Ketika itu kami masih tinggal di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

‘Ku’pe’, demikian saya menyebut kelompok musik legendaris Indonesia ini sambil mengacungkan kaset Koes Plus ke ibu atau bapak saya minta diputarkan. Ini bukan karena gaya atau trend seperti halnya ragam bahasa masa kini: ‘miapah’, ‘ciyus’, ‘enelan’. Selain mendengar melalui radio (gelombang MW) yang mutu suaranya khas, kita ketika itu bisa melihat penampilan Koes Plus melalui TVRI. Baik dalam acara musik atau iklan kaset mereka.

Dalam kurun waktu tertentu, Koes Plus mengeluarkan berbagai ragam album. Mulai dari pop, pop melayu, keroncong hingga yang berbahasa Jawa. Saya masih ingat pada akhir tahun 70-an, ada buku tulis bergambar Koes Plus. Di sampul belakangnya ada satu lirik lagu Koes Plus.

Beberapa bulan lalu, ketika mengantar istri berbelanja di sebuah mini market dekat rumah, saya melihat dua album CD Koes Plus, Volume 1 dan 2. Saya langsung tertarik ketika melihat sampulnya. Kedua sampul CD Koes Plus tersebut menurut saya sangat menarik , klasik dan unik. Harganya pun tak terlalu membuat kita merogoh kantong terlalu dalam. Saya pun membeli kedua album tersebut demi mengenang masa lalu.

Bagian belakang sampul CD volume pertama Dheg Dheg Plas mengingatkan saya pada masa balita. Lalu sampul di album volume kedua, properti bangku besi ala tahun 70-an serupa dengan bangku milik keluarga kami. Entah di mana bangku-bangku itu sekarang. Seingat saya, sampai kami pindah ke Pondok Gede, bangku-bangku itu masih ada.

Lagu-lagu seperti Derita, Kembali ke Jakarta, Manis dan Sayang, Cintamu Tak Berlalu, Kisah Sedih di Hari Minggu, Hidup Yang Sepi, Andaikan Kau Datang yang pernah juga dinyanyikan kembali oleh berbagai artis Indonesia generasi sesudah Koes Plus, dapat kita temukan dan nikmati di kedua album tersebut. Kedua album ini ditampilkan apa adanya. Maksudnya bukan hasil rekaman ulang (sekarang) atas lagu-lagu tersebut. Sambil menikmati lagu-lagu dari kedua album tersebut, kepingan kenangan masa lalu terajut kembali. Ku’pe…ah…Koes Plus…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *