Luber

klingkinge

Gua deg-degan mau pilih siapa, “ celoteh seorang ibu separuh baya pada rekannya. “Banyak banget, sih. “Kenal juga kagak ama tuh orang-orang,” tambahnya lagi. Begitulah suasana di sekitar TPS (Tempat Pemungutan Suara) di wilayah saya pagi ini, Rabu 9 April 2014.

Jika diurut ke belakang, saya sudah lima kali mengikuti pemilu di negeri ini. Pemilu pertama tahun 1992. Ketika itu partai-partai peserta belum sebanyak sekarang. Rasanya tanpa diadakan pemilu kita sudah mengetahui siapa yang jadi pemenangnya.

Sepertinya pemilu tahun ini, pada 1992 sudah ada model ‘amplop-amplopan’. Saya ingat ketika itu salah satu partai pemilu ‘mentraktir’ makan siang saya dan teman-teman. Bahkan ada juga partai yang menyelenggarakan kegiatan berbungkus latihan ujian masuk perguruan tinggi. Sasarannya para pemilih pemula.

Tahun 1977 samar-samar saya mengingat kegiatan pemilu. Lucunya yang saya ingat justru ramainya penjual mainan anak-anak dan jajanan di dekat lokasi TPS. Kebetulan letaknya di sebelah rumah kakek dan nenek saya. Suasananya mirip acara tujuh belasan yang ramai.

Pemilu tahun 1982 yang saya ingat adalah konvoi kampanye setiap partai dengan beragam kostum aneh. Ketika itu bapak mengajak saya dan kedua adik saya menonton kampanye yang melewati jalan By Pass (Jl. Achmad Yani), Jakarta Timur. Ketika itu di Jl. Achmad Yani belum dibangun jalan layang di atasnya. Bagi kami kampanye itu merupakan tontonan gratis yang mengasyikkan. Segala macam hal aneh ditampilkan. Mulai dari ka’bah di atas truk, pohon beringin hingga kepala banteng dan beragam atribut lainnya.

Pemilu tahun 1987 saya tidak begitu ingat. Baru pada 1992 saya menggunakan hak pilih saya karena sudah cukup umur. Apa pilihan saya, itu rahasia. Seperti asas pemilu masa itu: LUBER (Langsung Umum Bebas Rahasia).

Tahun 1997 saya mengikuti pemilu lagi. Ada kejadian lucu saat itu. Ketika itu saya menggunakan hak pilih di salah satu kompleks perwira militer di Jakarta yang isinya kebanyakan para purnawirawan. Sudah jelas, partai pilihan mereka. Sebelum hari pemilihan, rupanya seisi warga kompleks sudah ‘diarahkan’ harus memilih apa. Termasuk briefing bagi nenek saya yang penglihatannya tidak begitu baik untuk memilih apa. “Jangan lupa, ya, mbah!”, pesan yang disampaikan.

Saya dan sepupu saya termasuk kelompok ‘radikal’ (Rada terdidik tapi nakal) memilih partai lain. Maka hebohlah kompleks itu. Beberapa penghuni kompleks langsung dituduh. Dikaitkan dengan partai-partai yang tidak setuju dengan pemerintah. Sementara itu ‘oknum’ yang dituduh ini tenang-tenang saja.

1998 Reformasi meletus. Tahun 1999 diadakan Pemilu lagi. Saya pun ikut memilih dan partai pilihan saya adalah bukan partai yang mainstream. Hal di luar mainstram mirip dengan selera musik saya pada waktu itu. Saya sempat kecewa juga ketika partai pilihan saya tidak menang. Tapi lebih baik kecewa daripada tidak berusaha.

Tahun 2004 ramai-ramai lagi Pemilu. Saya pun memilih partai yang ketika itu juga bukan partai mainstream tapi juga tidak termasuk partai gurem. Walau bukan partai pemenang, sempat puas juga memilih partai itu. Alasannya, karena untuk pertama kalinya kita boleh memilih presiden secara langsung.

Tahun 2009 untuk pemilu legislatif saya menyerah karena ketika itu saya bepergian (alasan klise) sehingga jari-jari ini tak sempat ternoda. Barulah pada pemilu presiden, saya ikut memilih. Meskipun jago saya kuliah, saya pun puas.

Tahun 2014 ini, saya sudah lama menantikannya. Saya pasti ikut memilih. Bingung tapi tetap memilih karena bingung berarti kita berfikir. Kita berfikir berarti kita ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *