Makna Dari Selembar Foto

Bagaimana perasaan Anda jika foto-foto koleksi Anda yang sifatnya pribadi dinikmati oleh orang lain? Perasaan yang timbul bisa campur-aduk. Bisa senang, bangga, terharu bahkan dapat pula sedih bercampur malu. Yang terakhir ini bila foto-foto tersebut memang sebenarnya tidak dimaksudkan dikonsumsi untuk umum.

Bulan September silam saya berkesempatan mengunjungi FOAM museum fotografi Amsterdam. Museum ini terletak di Keizersgracht 609. Salah satu pameran yang menarik perhatian saya adalah koleksi para kolektor foto-foto pribadi. Maksudnya adalah foto-foto yang dipamerkan adalah koleksi album foto orang lain, bukan milik mereka. Menurut Aldo, salah seorang petugas museum, para kolektor itu membeli album-album foto di pasar loak, menyeleksinya dan hasilnya adalah foto-foto yang dipamerkan tersebut.

Para pengunjung pun berfantasi. Ini kesempatan yang baik menggunakan konsep ‘denotasi’ dan ‘konotasi’ Roland Barthes pikir saya. Gabungan foto-foto yang dibidik oleh jurufoto amatir dan professional bergabung menjadi satu. Aldo menunjuk pada salah satu foto dan menanyakan apakah foto itu hasil bidikan jurufoto amatir atau profesional. Sebuah foto dengan obyek seorang pria dan seorang gadis kecil (putrinya).Kami pun menjawab dengan berbagai argumen. Mulai dari pose, bahasa tubuh obyek dan juga latar belakang.  Foto yang lain adalah seorang anak kecil yang berpakaian rapi memegang sebuah buku kecil. Sepertinya dia baru saja mengalami hari yang khusus.

Saya tertarik pada kumpulan pasfoto yang mengingatkan saya, pada kumpulan pasfoto milik saya. Rata-rata menatap ke depan dengan wajah serius. Berbeda dengan pasfoto milik almarhum ayah saya atau ibu. Pasfoto mereka diambil dari sudut yang berbeda. Tidak hanya dari depan dan dengan tatapan serius.

Saya ingat ketika membuat pasfoto saya yang pertama. Rasanya tersiksa sekali. Mata tidak boleh berkedip dan menatap ke arah depan. Jurufoto yang bersembunyi di balik kain hitam akan memberikan aba-aba…satu…dua…tiga. Lalu kilatan blits membuat mata saya berkedip. Maka terpaksa diulang lagi dari awal. Oleh karena itu saya terpaksa memelototkan mata supaya tidak berkedip. Hasilnya, sebuah foto dengan tatapan wajah galak.

Kami pun terus melangkah menikmati koleksi foto-foto yang lain.  Sebuah foto dengan obyek sekumpulan pria dan wanita sedang berdiri menatap ke arah juru foto. Aldo bertanya kepada kami periode foto itu dibuat dan lokasi foto itu dibuat. Salah seorang kawan menjawab bahwa foto itu dibuat pada periode 50-an di Belgia. Alasannya dari pakaian dan latar belakang mereka. Aldo mengangguk. Foto lainnya adalah foto-foto para kelasi yang memeluk dengan mesra wanita lokal. Dari tulisan tangan yang ada di foto tersebut, kita mengetahui foto-foto itu dibuat di sebuah studio foto di Hawaii pada tahun 1940-an. Mungkin foto-foto itu sekeping kenangan sebelum Jepang menyerang Pearl Harbour. Entah bagaimana nasib para kelasi dan para wanita yang ada di dalam foto tersebut? Saya pun membayangkan sanak saudara para kelasi yang ada di foto itu jika mereka melihat foto-foto tersebut.

Koleksi foto yang lain membuat tercekat. Foto-foto itu sifatnya sangat pribadi sekali. Foto-foto wanita tanpa sehelai benang pun di tubuh mereka. Entah apakah mereka sukarela melakukannya atau dengan alasan lainnya.

Dalam penelitian sebuah karya sejarah, kehadiran sumber visual semakin membantu membangun suasana latar periode sejarah yang kita teliti. Tentunya setelah foto-foto tersebut diverifikasi keasliannya.

One thought on “Makna Dari Selembar Foto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *