Membingkai Mooi Indië, Jalan-Jalan Zaman Normaal

Masih dalam suasana PSBB yang mulai dilonggarkan. Saat itu siang hari tanggal 16 Juni 2020 setelah mengerjakan beberapa tugas, sebuah pesan dari WA masuk. Isi pesan dari seseorang bernama Pitor, pengajar dari Prodi Pariwisata Sekolah Vokasi UGM dan pegiat di platform . Ia mendapat nomor saya dari Rianti, salah seorang pengajar di Prodi Belanda. Dalam WA, ia meminta kesediaan saya untuk berdiskusi mengenai sejarah pariwisata di Hindia-Belanda, terkait dengan buku saya Sejarah Pariwisata di Hindia-Belanda 1891-1942 yang terbit tahun 2019 lalu.

Saya bersedia dan disepakati acara diskusi pada hari Jumat, 26 Juni 2020 pukul 15.30 dan berdurasi satu hingga satu setengah jam. Awalnya tema yang diajukan ‘Melancong di Masa Lalu’. Kemudian pada 21 Juni saya diberitahu tema diskusi menjadi ‘Mooi Indië: Tamasya di Hindia-Belanda’. Saya diminta membahas berbagai hal, antara lain romantisisme sebagai embrio pariwisata di Hindia-Belanda, peran buku (catatan) perjalanan dan buku panduan pariwisata, promosi pariwisata di Hindia-Belanda, dan aktivitas pariwisata sebagai gagasan dan praktik kolonial.

Berbagai hal yang akan dibahas ada dalam buku saya tersebut. Sebenarnya beberapa hal saja sudah dapat menghabiskan waktu yang lumayan lama. Oleh karena itu di awal pembicaraan, saya menanyakan durasi diskusi tersebut. Pitor menyebutkan para peserta diskusi adalah para pejalan dan menurutnya akan lebih menarik jika saya juga menyajikan gambar-gambar. Tentu saja, membicarakan pariwisata masa lampau tanpa gambar ibarat ‘sayur tanpa garam’. Saya teringat pada salah seorang profesor Belanda ketika saya menceritakan penelitian tentang pariwisata masa kolonial, secara spontan ia mengatakan “Pasti Anda juga membahas poster-poster eksotis, ya?”

Tanggal 23 Juni, saya dikirimi poster untuk acara diskusi tersebut. Materi dasar poster diambil dari karya Jan Lavies tahun 1938. Reklame tersebut merupakan iklan K.N.I.L.M, perusahaan penerbangan milik pemerintah Hindia-Belanda. Jan Lavies merupakan raja promosi dunia perhotelan. Berbagai logo hotel di Hindia dirancang olehnya. Ia adalah salah satu pelopor art deco dalam rancangan periklanan. Perihal reklame dan Jan Lavies ini pernah saya tulis dalam artikel ‘Iklan Pariwisata Masa Kolonial di Hindia-Belanda’ (2011).

Satu hal yang membuat saya bergembira ria adalah wajah saya tak (perlu) dipampang di poster diskusi daring tersebut. Bukan karena saya tidak percaya pada kualitas wajah saya yang menurut putri saya tampan seperti pangeran dalam film Frozen. Namun, lebih pada ketidaknyamanan saja karena jika ada wajah seperti acara para motivator. Demikian.
Berikut isi berita mengenai acara tersebut:
Diskusi Daring Membingkai Mooi Indie: Tamasya di Hindia-Belanda

Jumat, 26 Juni 2020, esok, TelusuRI akan menggali cerita-cerita lama soal awal perkembangan pariwisata Hindia-Belanda bersama penulis buku Pariwisata Hindia-Belanda (1891-1942), Achmad Sunjayadi.

Dengan Daan Andraan (penulis, aktivis Traveller Kaskus dan Ngopi Jakarta) sebagai pembawa acara serta Ayos Purwoaji (penulis dan kurator), Sarani Pitor Pakan (dosen dan peneliti), dan Timoti Tirta (peneliti) sebagai penanggap, kita akan bercermin pada sejarah dan berusaha menggali makna.
Poster tersebut sangat informatif.

Acara diskusi pada 26 Juni berlangsung lancar. Berbagai tanggapan yang muncul berkaitan dengan situasi pariwisata pada masa lampau dan kekinian. Beberapa pertanyaan dan tanggapan merupakan penelitian yang sedang saya lakukan. Ada juga beberapa pertanyaan dan tanggapan yang menjadi ide untuk penelitian-penelitian pada masa yang akan datang. Semoga selalu sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *