Mengabadikan Kenangan Masa Kanak- Kanak

Judul            :  Masa Kanak-Kanak
Judul asli     :  Kinderjaren
Penulis        :  Jona Oberski
Penerjemah :  Laurens Sipahelut
Pengantar   :  Dr. Lilie Suratminto
Penerbit    :  Pena Wormer 2009, Jakarta
Tebal        :  96 halaman

Adakah yang masih kita ingat tentang masa kanak-kanak kita?  Bagaimanakah kita – pada masa itu – melihat dunia ini?  Rasa senang, sedih, ingin tahu, takut hingga trauma bercampur dengan fantasi serta kepolosan khas anak-anak membentuk keping kenangan yang akan terbawa hingga dewasa.

Tak banyak orang yang mampu mengingat dan mengenang masa kanak-kanak mereka lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan, seperti halnya Jona Oberski dalam bukunya Masa Kanak-Kanak yang edisi bahasa Belandanya terbit pada 1978. Hingga tahun 2000 buku ini sudah 25 kali cetak ulang. Buku ini pun sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan difilmkan tahun 1993 dengan judul “Jonah who lived in the whale”    Novela yang berlatar-belakang Perang Dunia II, lebih tepatnya pendudukan Jerman di Belanda, menuturkan pengalaman seorang bocah laki-laki pada masa itu. Kepolosan khas anak-anak dalam memandang dunia inilah yang menarik untuk disimak.

Jumat pagi, 10 Mei 1940 adalah hari yang tak dapat dilupakan begitu saja oleh penduduk Belanda. Deruman pesawat, dentuman bom dan deru tank yang merangsek masuk membangunkan penduduk Belanda. Pasukan Jerman sudah berada di perbatasan. Rotterdam luluh lantak dan kota-kota lain menyusul. Ratu dan pemerintahannya mengungsi ke London. Dalam lima hari Jerman menduduki Belanda.

Inilah masa penuh penderitaan., khususnya bagi warga Yahudi. Perlakuan ‘khusus’ diberikan kepada mereka. Mereka harus mengenakan tanda bintang david bertuliskan ‘Yahudi’ sehingga mereka dapat dengan mudah dikenali. Di bioskop-bioskop, kafe dan gedung teater terdapat papan bertuliskan: Voor Joden Verboden (Yahudi Dilarang Masuk). Sejak bulan Juli 1942, Nazi Jerman melakukan operasi besar-besaran untuk mengirim warga Yahudi ke Eropa Timur (Auschwitz, Sobibor).

Mereka dijemput dari rumah masing-masing lalu diangkut dengan kereta menuju kamp sementara kamp Westerbork di Drenthe. Lebih dari 100.000 warga Yahudi, baik laki-laki maupun perempuan dibawa dengan kereta dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Dari Westerbork mereka dibawa ke kamp konsentrasi di Eropa Timur dan ada yang tak kembali. Secara keseluruhan ada enam juta warga Yahudi Eropa yang tewas pada periode itu. Terlepas dari keraguan beberapa kalangan mengenai kebenaran peristiwa tersebut serta ketidaksetujuan saya terhadap pendudukan Israel di Palestina.

Dalam bingkai peristiwa sejarah mengerikan inilah cerita dalam novela ini dikemas. Memang kita tidak akan menjumpai secara langsung latar belakang historis dalam jalinan cerita. Namun, uraian sejarah sosial di Belanda pada masa PD II dalam kata pengantar dari Dr. Lilie Suratminto seakan menuntun kita untuk mendapatkan suasana tersebut.

Semua gambaran dalam buku ini berasal dari sudut pandang seorang anak laki-laki mengenai kehidupan dalam kamp Westerbork di Belanda, Bergen-Belsen di Jerman dan Tröbitz (Jerman Timur). Kehidupan ‘nyaman’ di kamp Westerbork dalam dekapan hangat kasih-sayang orang tua terusik ketika mereka harus pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan kamp Westerbork (hal.28). Maka dimulailah ‘petualangan’ anak laki-laki tersebut yang terpaksa harus terpisah dengan ayahnya.

Di kamp yang baru anak itu akhirnya kembali berjumpa dengan sang ayah. Ibu si anak menghadiahi ayah dengan kue tar. Bukan kue tar sungguhan melainkan dari kentang dan potongan roti yang dipadatkan. Kentangnya pun merupakan ransum yang dikumpulkan beberapa hari sebelum pertemuan itu (hal.46).

Kita pun disajikan dengan pengalaman lugu si bocah yang harus bergeming ketika kedua orang tuanya diam-diam bercinta dalam kamp (hal.47). Fantasi anak-anak begitu bebas, seperti gambaran anak itu ketika melihat seorang serdadu Jerman berpakaian hijau berjalan dengan seekor anjing besar. Dia membayangkan anjing itu seperti serigala dalam dongeng ‘si Tudung Merah’ (hal.49). Atau pengalaman ‘uji nyali’ memasuki sebuah bangunan yang mereka sebut rumah ketel. Ternyata isi bangunan itu adalah tempat menyimpan tulang dan tubuh manusia yang meninggal (hal.61). Upaya penerjemah untuk menyampaikan tuturan penulisnya begitu rapi. Beberapa catatan dari penerjemah turut membantu pembaca memahami isi cerita (hal.34, 43, 63).

Melalui penuturan sederhana anak laki-laki yang digambarkan berusia di bawah sepuluh tahun buku ini menjadi istimewa. Tak sadar lembar demi lembar mengetuk rasa kemanusiaan kita dalam melawan diskriminasi dan ketidakadilan hingga lembar terakhir. Bagaimana dengan kisah selanjutnya si bocah lelaki tersebut? Apakah dia selamat dari kamp konsentrasi maut?  Bagaimana dengan kedua orang tuanya? Silakan Anda menyimak sendiri buku menarik ini.

Buku ini mengingatkan kita pada buku berlatar-belakang periode historis yang sama yaitu Het Achterhuis (Buku Harian Anne Frank). Satu hal yang membedakannya adalah buku harian Anne Frank merupakan catatan otentik. Dalam ilmu sejarah, buku catatan harian itu dapat disebut sumber primer sedangkan buku Masa Kanak-Kanak ini merupakan rangkaian pengalaman yang terbungkus dalam karya fiksi. Walau tak dapat disangkal buku ini seperti otobiografi Jona Oberski yang lahir di Amsterdam 20 Maret 1938.

Kita juga menjumpai buku serupa yaitu The Boy in The Striped Pyjamas (2006) karya John Boyne (yang telah diterjemahkan tahun 2007, Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis). Buku fiksi yang penuh kejutan ini pun menggunakan sudut pandang sederhana dan polos bocah laki-laki. Bruno, anak seorang komandan Nazi dan Shmuel, anak penghuni kamp Auschwitz. Buku ini jelas berbeda dengan Masa Kanak-Kanak karena penulisnya tak mengalami sendiri situasi pada masa itu (John Boyne masih berusia 30-an).

Lantas bagaimana menempatkan buku ini dalam konteks Indonesia? Sebagai bangsa kita pun tak lepas dari berbagai kisah tragedi yang melanda negeri ini. Mulai dari tragedi 1965 yang mengorbankan jutaan jiwa, konflik di Ambon, Poso hingga bencana alam. Bukan bermaksud untuk mengorek luka lama. Namun, pernahkah kita sejenak berpikir dan merenung bagaimana perasaan anak-anak para korban peristiwa tersebut terenggut kasih-sayangnya yang seharusnya mereka dapatkan.

Anak-anak adalah individu yang patut dilindungi karena secara individu mereka belum matang baik secara fisik, mental dan sosial. Kondisi mereka pun sangat rentan dan lebih berisiko terhadap tindak eksploitasi serta kekerasan. Anak-anak juga sangat rawan menjadi korban kebijakan ekonomi makro atau keputusan politik yang salah arah.

Pada 23 Juli lalu kita memperingati Hari Anak Nasional. Sejatinya anak merupakan aset utama bagi masa depan bangsa dan kemanusiaan secara menyeluruh. Tak ada kata lain selain kita harus melindungi hak mereka sesuai dengan Konvensi Hak Anak yaitu nondiskriminasi, mengupayakan yang terbaik bagi anak, kelangsungan hidup dan perkembangan anak serta penghargaan terhadap pendapat anak. Demi kenangan indah masa kanak-kanak mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *