Mengenang Pemilu 2004 di Indonesia

Judul : The year of voting frequently: politics and artists in Indonesia’s 2004 elections
Editor: Margaret Kartomi
Penerbit: Melbourne, Monash University Press, 2005
Tebal: 138 + x hlm

Menjelang Pemilu 2009, 36 partai akhirnya ikut meramaikan Pemilu. Bayangan parade baliho, poster, iklan di televisi serta kampanye sudah di depan mata. Untuk sekedar mengingatkan Pemilu 2004 silam yang menghasilkan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kalla, presiden pilihan langsung pertama, membuat buku ini menarik untuk disimak.

Buku ini merupakan kumpulan artikel yang sebagian merupakan artikel untuk Australian-Indonesian Lecture Series (AILS) di Monash University, Australia. Secara khusus tema kumpulan artikel ini adalah politik dan pemanfaatan seni dalam pemilu 2004 di Indonesia.

Ada sembilan artikel yang ditampilkan dalam buku ini. Diawali dengan pengantar dari editor Margaret Kartomi. Artikel dari Michael Leight “Polls, parties and processen: theatre that shapped the outcome of the 2004 elections” berargumentasi bahwa di era desentralisasi, sistem legislatif dan pemilu Indonesia perlu dipertimbangkan dengan baik. Leight membandingkan dua masa pemilu; pemilu di bawah pemerintahan Soeharto dan pasca Soeharto.

Artikel David Wright-Neville “Anti-Westernism, Indonesian democracy and the ‘politics of dashed expectations” mengupas retorika anti Barat yang digunakan oleh para juru kampanye dalam pidato kampanye pemilu. Kedua artikel tersebut secara garis besar menitikberatkan pada teater politik pemilu dan konsekuensinya. Sementara itu Lance Castles mengupas mengapa dan bagaimana SBY bisa memenangkan pemilu “Why dan how did SBY win?”. Tentunya bukan sekedar karena SBY kerap menyanyikan lagu dari Jamrud, ‘Pelangi di matamu’ pada saat kampanye. Meski kelak setelah menjadi presiden dua buah album telah diluncurkan.

Sehubungan dengan ‘pertunjukan’ selama pemilu, beberapa penulis membahasnya. Misalnya Jennifer Lindsay dengan “Performing in the 2004 elections“. Lindsay mengulas ‘pertunjukan’ selama awal pemilu 2004 yang ketika itu bersamaan dengan maraknya babak spektakuler Indonesian Idol ala Indonesia dan final Piala Eropa 2004 (hlm.35).

Sebenarnya buku ini tidak hanya membahas Pemilu 2004. Misalnya Lindsay yang mengeksplorasi latar belakang dari ‘pertunjukan’ dalam politik tersebut. Ia menyinggung kampanye Golkar sejak 1971 hingga 1987 dalam pemilu. Dalam kampanye pemilu 1971, Golkar merekrut 324 artis untuk ‘Team Kesenian Safari Golkar 1971’ yang terdiri dari penyanyi, pelawak, penari dan band. Nama-nama seperti Titik Puspa, Bing Slamet serta Koes Plus meramaikan kampanye Golkar tersebut (hlm.39).

‘Penantang’ artis Golkar dalam menggalang massa tahun 1977 hanya Rhoma Irama yang ketika itu meramaikan kampanye PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Akibatnya Rhoma Irama masuk daftar cekal TVRI dan tak bisa tampil. Tahun 1992, Rhoma Irama ‘berpaling’dari PPP ke Golkar. Bagi pendukung PPP, hal itu dianggap sebagai ‘pengkhianatan’ (hlm 39)

Sementara itu dalam pemilu 2004, tidak lagi semata mengandalkan para artis untuk berkampanye. Lindsay menulis pada 4 Juli 2004 Metro TV menampilkan enam kandidat presiden dan wakil presiden dalam program “Tribute to Indonesia“. Keenam kandidat tersebut adalah Amien Rais, Agum Gumelar, Wiranto, Yusuf Kalla, Salahuddin Wahid dan Susilo Bambang Yudhoyono (hlm.47). Bahkan, sebelumnya pada 19 Juni 2004, Wiranto dan SBY dalam Akademi Fantasi Indonesia di Indosiar menjadi tamu khusus acara tersebut.

Iwan Dzulvan Amir secara khusus membahas ‘gegap gempitanya’ pemilihan presiden di Aceh dalam “The Week of Culture’: arts in the politics of the 2004 presidential election in Aceh“. Kemudian Ahmad Suaedy membahas penyair Acep Zamzam Noer dalam “An artist-activist from a mock political party in Tasikmalaya“, Irene Ritchie dan Endah Suseno dalam “Two musicians and a ‘Hip Mullah’ from Yogyakarta” menyajikan wawancara dengan Emha Ainun Nadjib, Drs Wijayanto dan Ki Sukisno. Dalam sketsanya, “No music, no election!: a vignette”, Jaya Suprana menyebutkan bahwa ketika Megawati diminta untuk menyanyi lagu ‘Indonesia Pusaka’ akhir 2003 , Megawati mengatakan dia lebih baik menyanyi daripada pidato (hlm.91). Kandidat presiden lainnya yaitu Wiranto juga lebih suka menyanyi daripada berpidato dalam kampanyenya. Tentu saja, karena jenderal purnawirawan ini sudah menelurkan satu album.

Pemilu, tulis Margaret Kartomi dalam pengantar buku ini, memang perlu dipelajari. Tentunya dalam konteks sejarah serta latar belakang nasional dan regional. Sejumlah penulis artikel dalam buku ini mengacu pada pemilu 1955, pemilu pertama setelah Indonesia merdeka.

Di masa pemerintahan Soekarno, pemerintah mensponsori kesenian dan menyeleksi sejumlah seniman untuk diutus dalam misi kesenian yang dikirim ke luar negeri. Penyair, musisi, penari, dalang dan aktor yang tergabung dalam satu kelompok kesenian tampil dalam kampanye, peristiwa politik, terutama merupakan afiliasi PNI (Partai Nasional Indonesia) dan PKI (Partai Komunis Indonesia).

Sebelum tv ada, maka radio dan surat kabar menjadi strategi komunikasi yang efektif. Di samping pidato dalam kampanye. Tiga puluh partai politik ‘umbar janji’ memecahkan berbagai permasalahan rakyat. Mulai harga, kesehatan, korupsi, kelaparan, kolonialisme hingga persatuan nasional dan nasionalisasi aset asing. Dari beragam isu yang dijanjikan, program partai tak banyak disinggung, demikian tulis Herberth Feith dalam The Indonesian election (1957).

Coba simak lagu pemilu 1955 yang dibuat oleh Ismail Marzuki dan dipelajari anak-anak di sekolah dan diputar di radio. Liriknya sebagai berikut:
Pemilihan umum kesana beramai
Marilah, marilah saudara-saudara
Marilah saudara memberi suara
Suara saudara sungguh kuasa
Menentukan dasar tujuan bersama
Membina Negara nasional yang mulia.

Pada awal masa Orde Baru, pemerintah memilih satu lagu yang memenangkan kompetisi. Lagu resmi pemilu tersebut berjudul ‘Pemilihan Umum Telah Memanggil Kita’ yang juga diajarkan di sekolah di seluruh negeri serta ditampilkan oleh para artis melalui radio dan televisi nasional selama tahun 1980 hingga 1990-an.

Perkembangan teknologi dalam wujud penggunaan friendster, facebook atau you tube tampaknya akan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para tim sukses dalam pemilu. Iklan diri berslot-slot di televisi menampilkan sosok para kandidat juga masih menjadi salah satu cara yang mungkin dianggap efektif.

Bagaimana persisnya ‘pertunjukan’ pemilu 2009 nanti? Sambil menunggu ‘pertunjukan janji” menarik apa yang akan ditampilkan ada baiknya aturan yang tegas juga perlu diterapkan. Kita tunggu!

One thought on “Mengenang Pemilu 2004 di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *