Oeroeg di Binus International School

Satu surat masuk ke alamat surat elektronik saya. Isinya tawaran untuk mengisi acara diskusi buku di sebuah sekolah di kawasan Simprug. Saya diminta menyampaikan uraian tentang perkembangan sastra Belanda secara umum di Indonesia yang dikaitkan dengan novel Oeroeg.
Pengirim surat tersebut adalah ibu Aling (Suryanling) pengajar Binus International School. Rupanya ia mengikuti diskusi novel Oeroeg yang diselenggarakan penerbit GPU di Kinokuya Plaza Senayan tahun 2009 lalu.  Setelah saling berkomunikasi melalu surat elektronik disepakati hari Jumat 27 Agustus 2010. Saya pun harus menyesuaikan dengan kesibukan di kampus. Minggu itu merupakan minggu wisuda yaitu 26, 27 dan 28 Agustus. Belum lagi izin untuk meninggalkan kampus. Acara di Binus sendiri dimulai pukul 13.00. Setelah disepakati saya akan dijemput di kampus.

Perjalanan dari Depok-Simprug sekitar 1 jam. Saya dijemput oleh Pak Poyo yang rupanya sudah menunggu sejak pukul 9.00. Kami berangkat dari Depok pukul 11.00. Saya tiba di Binus tepat ketika Shalat Jumat dimulai.

Usai shalat saya menuju lantai 6, seperti yang tertera dalam undangan.Di lift saya bertemu dengan anak-anak (Grad 1?) yang bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Di lantai 6 saya mengamati poster-poster menarik yang rupanya dibuat oleh para siswa yang akan menjadi peserta diskusi. Poster-poster itu mengambil ide dari novel Oeroeg. Mereka memvisualisasikan berbagai hal dari novel dan film Oeroeg.  Misalnya Telaga Hideung yang menjadi salah satu latar dalam novel.  Sangat menarik.

Tak lama kemudian telepon genggam saya berbunyi.  Ibu Aling  menelepon, menanyakan posisi saya. Seorang pria berbatik yang sepertinya guru mereka sedang membantu beberapa siswa. Rupanya beliau Pak Daru Janarto, Kepala Departemen Bahasa Indonesia Binus International Simprug. Saya pun berjumpa dengan Bu Palupi Damardani yang ternyata salah satu almamater dengan saya.

Acara pun dimulai. Sambutan diberikan oleh Mr. Peter M. Saidi, Kepala Sekolah Binus International Simprug. Sementara itu yang bertindak sebagai moderator adalah Pak Greg.
Saya membawakan makalah yang berjudul “Karya Sastra Belanda dan Hindia-Belanda di Indonesia (1800 – kini)”.  Saya sengaja mengkaitkannya dengan perkembangan kesusastraan Belanda dan Hindia-Belanda di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menempatkan novel Oeroeg tersebut yang termasuk pada karya sastra pasca Perang Dunia II.

Saya menyajikan pula berbagai tokoh serta karya sastra, terutama yang karyanya pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa karya yang pernah difilmkan juga saya tampilkan dan sedikit diulas.

Sekilas saya melihat para siswa. Ada yang mengantuk, bengong, adapula yang asyik dengan telefon genggamnya bahkan ada yang serius. Saya pun berinisiatif mempercepat presentasi dan segera membuka bagian diskusi.

Beberapa tangan menunjuk ke atas dengan antusias. Mereka rupanya sudah tidak sabar. Berbagai pertanyaan pun meluncur dengan deras. Pertanyaan-pertanyaan tersebut ada yang berhubungan dengan novel Oeroeg, ada pula yang bertanya mengenai sejarah di Indonesia. Latar-belakang pengarang juga tak luput dari perhatian mereka. Beberapa pertanyaan mengacu pada hal tersebut.

Sebenarnya jika membahas novel terjemahan rasanya kurang pas jika kita membahas gaya bertutur pengarang. Karena dalam hal ini penerjemah dan editor juga berperan penting. Namun, tema yang ditawarkan pengarang (Hella S. Haasse) sangat menarik dan masih aktual hingga kini yaitu persahabatan.

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Dua jam tidak terasa. Sebelum acara diakhir, saya pun mengumumkan pemenang resensi novel Oeroeg. Ada lima pemenang dan masing-masing mendapatkan hadiah dari sponsor. Hasil resensi mereka sangat menarik. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Ketika waktunya kembali ke Depok, saya diiringi hujan deras. Saya sudah membayangkan kemacetan menjelang jam pulang kantor. Sambil terkantuk-kantuk, dari arah jendela saya memandang lebatnya hujan yang mengguyur Jakarta. Beruntung, Pak Poyo (lagi) yang mengantarkan saya kembali ke Depok sehingga saya tak perlu bersusah payah menembus hujan deras.

Foto: Suryanling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *