Orang Indonesia di Negeri Penjajah

Tanggal 17 Agustus 2008. Ketika itu orang-orang merayakan tujuh-belasan. Tak terkecuali ibu saya yang sejak tanggal 16 berlatih menyanyi lagu-lagu perjuangan. Akhir pekan ini kami sekeluarga memang menginap di rumah ibu saya. Satu batita, satu bayi dan satu koper besar untuk keperluan mereka kami boyong ke Pondok Gede.

Malamnya saya menerima pesan singkat dari nomor yang belum saya kenal. Isinya meminta kesediaan saya menjadi pembicara buku DI Negeri Penjajah: Orang Indonesia di negeri Belanda 1600-1950 di Perpustakaan Umum DKI, Kuningan tanggal 26 Agustus. Buku itu merupakan terjemahan karya Harry Poeze. Saya lalu menelepon balik. Rupanya dari Mas Didik Pradjoko Departemen Sejarah FIB.

Awalnya saya ragu karena beberapa minggu terakhir saya disibukkan dengan urusan mengatur jadwal yang tak kunjung selesai. Di tambah lagi ada kelas pararel. Akhirnya saya memutuskan bersedia. Lumayan, pikir saya. Siapa tahu dapat bukunya. Minggu lalu, Cak Tarno sempat menawarkan dengan harga diskon. Sebenarnya saya sudah membaca edisi aslinya dalam bahasa Belanda yang berjudul In Het Land van de Overheerser: Indonesiers in Nederland 1600-1950 terbitan tahun 1986 (reviewnya akan saya buat terpisah). Ketika itu saya mencari informasi tentang Parlindoengan Loebis.

Komunikasi dengan panitia berlangsung melalui Mas Didik. Kabar terakhir saya menjadi moderator karena pembicara lainnya Des Alwi. Saya sempat terkejut juga tapi sekaligus senang karena berarti saya tak perlu membuat makalah (dasar malas 🙂 ) . Sebelum hari H, tanggal 22 Agustus bukunya sudah saya terima. Saya baca dan tidak jauh berbeda dengan buku aslinya.

Tepat hari H saya berangkat ke Kuningan. Untuk menghindari kemacetan Jakarta yang membuat stress saya datang lebih pagi. Saya berangkat persis ketika mahasiswa baru UI berangkat PSAU. Saya singgah di Erasmus Taal Centrum lalu jam 9-an saya menuju Gedung Nyi Ageng Serang tempat Perpustakaan Umum DKI.

Tak lama setelah saya tiba, Pak Des Alwi pun datang. Kami bercakap-cakap sejenak. Rupanya panitia tak memiliki CV Pak Des Alwi. Entah terselip di mana. Beruntung, saya sempat mendapatkannya melalui internet. Lagipula siapa yang tak mengenal Des Alwi. Mas Didik pun datang. Sekitar jam 9.30 acara dimulai.

Setelah pembukaan oleh panita, giliran kami maju. Sebelum acara, pihak panitia meminta saya mengulas buku itu sekitar lima belas menit. Ah, kalau lima belas menit itu sih pembicara pikir saya. Saya hanya berbicara sekitar lima menit lalu mikrofon saya serahkan pada pak Des Alwi. Lalu ‘bercerita’lah Pak Des Alwi. Sepertinya beliau belum membaca buku itu. Memang sebelum acara beliau sempat membuka-buka buku itu tapi saya yakin ‘cerita’ beliau lebih menarik.

Benar saja, tak banyak yang beliau ulas tentang buku itu. Namun, jangan kecewa dulu karena beliau sendiri adalah saksi sejarah. Banyak cerita menarik yang beliau ungkapkan. Misalnya alasan mengapa Bandaneira (kampung kelahiran beliau) dijadikan tempat pembuangan para pembangkang pemerintah Belanda. Menurutnya supaya para tokoh muda itu jatuh cinta pada wanita-wanita Banda sehingga lupa dengan aktivitas mereka. Lalu ia menambahkan pasal 32 dan 33 dari UUD 1945 dirancang Bung Hatta di Banda. ‘Membuang mereka adalah suatu kebodohan,” Itu komentarnya terhadap tindakan pemerintah Hindia Belanda yang membuang para tokoh politik pada masa silam.

Ada satu hal pernyataan menarik Pak Des Alwi sehubungan dengan buku yang kita ulas adalah di tengah kegelapan yang dibuat penjajah, ternyata masih ada sinar yang masuk. Mungkin maksudnya adalah para orang Indonesia yang sempat menginjak negeri penjajahnya menjadi bagian dari mereka yang mengantarkan bangsa ini ke gerbang kemerdekaannya.

Pembicara kedua Mas Didik Pradjoko mengulas sistematika buku dan menyayangkan periode 1600-1898 tidak terwakili dalam buku Di Negeri Penjajah ini. Mas Didik juga mengungkapkan pernyataan menarik yaitu sejarah itu adalah buku sejarah itu sendiri. Maksudnya jelas, seburuk apapun buku sejarah itu, buku itu  telah menjadi sejarah karena kelak bisa dikritisi bahkan dibakar. Buku itu setidaknya telah tercetak. Tercetak hitam di atas putih dibanding sebatas angan dan cita-cita belaka yang entah bagaimana wujudnya. Serta lenyap terbawa angin sehingga orang mudah melupakannya.

 Dalam acara itu yang dihadiri para peserta diklat juga mendapat sambutan baik. Banyak pertanyaan yang diajukan bahkan hingga acara mundur setengah jam. Di akhir acara diputar film seputar Proklamasi dan hari Pancasila. Ketika saya melirik arloji di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Saya pun bergegas kembali ke Depok menggunakan Trans Jakarta sambil membayangkan orang Indonesia yang pernah menginjakkan kaki di negeri penjajah. Jika buku itu ada lanjutannya sampai tahun 2000, saya mungkin termasuk di dalamnya karena negeri ‘penjajah’ itu pernah saya tinggali dan saya minum airnya.

One thought on “Orang Indonesia di Negeri Penjajah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *