Pekerja di Jawa Tempo Dulu dalam Gambar

pekerja

Judul: Pekerdja Di Jawa Tempo Doeloe

Penulis: Olivier Johannes Raap

Pengantar: Seno Gumira Ajidarma

Penerbit: Galang Pustaka, Yogyakarta

Cetakan: I, 2013

Tebal: xviii + 190 halaman

ISBN:  978-602-8174-80-0

 

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” Kalimat dari Nyai Ontosoroh, tokoh dalam Bumi Manusia (2000) karya Pramoedya Ananta Toer menyadarkan kita bahwa bahwa semua pekerjaan itu mulia, sepanjang jujur dan tidak merugikan orang lain.

Sekilas kita akan mengira buku ini adalah buku sejarah yang membahas pekerja di Jawa pada masa silam. Perkiraan itu tidak meleset jauh. Namun, yang terdapat dalam buku ini bukanlah narasi mengenai pekerja. Kita justru disuguhi rangkaian gambar kartu pos dari koleksi Mas Oli, panggilan akrab untuk Olivier Johannes Raap, Pria Belanda lulusan jurusan arsitektur TU Delft, sang penyusun buku ini. Ia menggunakan kartu pos koleksi tahun 1890 hingga 1940 sebagai sumbernya. Tema Jawa dipilih karena Raap menaruh hati pada keindahan pulau beserta budaya yang dianut penduduknya (hal ix). Pada 1998 untuk pertama kalinya ia datang ke Indonesia sebagai turis.

Kartu pos bertema ‘kerja’ dipilih karena aktivitas tersebut dekat sekali dengan manusia tanpa batasan geografis. Kita akan mengenali pekerjaan-pekerjaan yang sudah punah serta mungkin pekerjaan yang melayangkan ingatan kita pada pekerjaan eyang kita pada masa itu.

Berdasarkan jenis pekerjaan, sekitar 150 lembar kartu pos dalam buku ini disebar ke sembilan bab. Bab pertama memuat gambar berbagai pedagang kecil, Bab dua pertokoan dan warung, bab tiga kerajinan,  bab empat pengabdi dan penjual jasa, bab lima keahlian, bab enam seniman, bab tujuh pemerintahan, bab delapan pertanian dan perikanan, bab sembilan perindustrian dan lain-lain. Buku ini dilengkapi pula dengan lampiran profil fotografer dan penerbit kartu pos.

Dalam menyajikan koleksinya, Raap tidak hanya sekedar memamerkan kumpulan gambar semata. Walaupun sebenarnya satu gambar bisa bernilai ribuan kata, Raap juga memberikan penjelasan informatif, seperti baju yang dipakai, alat yang digunakan, hingga lokasi yang mewakili foto dalam kartu pos. Raap tak segan-segan melakukan ‘napak tilas’ mengunjungi tempat-tempat sesuai dengan lokasi gambar dalam kartu pos tersebut untuk melengkapi narasinya (hal ix).

Kartu pos bergambar pertama di Hindia-Belanda menurut catatan diperkenalkan pada akhir tahun 1890-an. Dalam De locomotief ; Samarangsch handels-en advertentie blad  (25/10/  1899) terdapat iklan briefkaarten met gezichten Soerabaja en Java stuk 10 c, dozijn fl.1 netto (kartu pos bergambar Surabaya dan Jawa, 1 lembar 10 sen, 1 lusin 1 gulden). Kartu pos bergambar menurut Marcel Bonneff &  Stephen Grant (1994) diterbitkan oleh pihak swasta, bukan pemerintah dengan ukuran 9 x 14 sentimeter mengikuti peraturan baru dari organisasi pos dunia Union Postale Universele (UPU).

Sebelum dikenal kartu pos bergambar, menurut Geuzendam (1997) pada 1874 di Hindia-Belanda dikenalkan kartu pos yang dikeluarkan oleh pos negara. Kartu pos itu berukuran 9 x 12 sentimeter dan belum bergambar. Kartu pos itu terdiri dari bagian bersisi kosong untuk menulis berita atau pesan, dan sisi lainnya untuk alamat dan perangko yang sudah tercetak (hal xiii)

Kartu pos bergambar tidak hanya digunakan sebagai alat berkomunikasi. Beberapa perusahaan menggunakan kartu pos bergambar sebagai sarana promosi produk mereka, seperti produk minuman, makanan, jasa (hotel, pelayaran). Misalnya kartu pos yang dikeluarkan oleh Appolonaris, perusahaan air mineral di Hindia-Belanda serta kartu pos yang mempromosikan Susu Tjap Nona.

Gambar pada kartu pos periode awal menggunakan teknik litografi yaitu teknik cetak lama yang mendasari teknik cetak offset. Gambar yang diambil dapat dari lukisan maupun foto. Kebanyakan, foto-foto yang digunakan masih hitam-putih. Namun, ada pula yang berwarna sebagai hasil teknik perwarnaan manual menggunakan kuas halus dengan cat air atau cat minyak.

Kartu pos bergambar tidak hanya untuk promosi produk. Dalam upaya promosi turisme di Hindia-Belanda, perusahaan pelayaran Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) dan perhimpunan turisme Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) Batavia yang didirikan pada 1908 pun menjual sekaligus mendistribusikan kartu pos bergambar. Bahkan ada yang secara gratis dibagikan sebagai cindera mata.  Menurut Algemeen Handelsblad (27/02/1910) VTV mencetak seribu eksemplar kartu pos bergambar bertema pulau Jawa.  Tema pulau Jawa dengan objek bergambar pekerja inilah yang tersaji dalam buku ini.

Menilik ragam pekerjaan tempo doeloe di Jawa ini memang mengasyikkan. Kita bisa mengetahui pekerjaan mana saja yang sudah tidak ada dan yang tetap bertahan hingga kini. Simak saja gambar tukang kopi keliling dengan pikulannya (hal 2). Saat ini pun penjual kopi keliling masih ada. Mereka berjualan kopi tidak dengan pikulan lagi tetapi dengan sepeda. Lalu penjual tebu (hal 7), penjual rujak ulek (hal 12), penjual sayur (hal 13), penjual roti keliling dengan pikulan (hal 27). Demikian juga dengan penjual barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun, minyak wangi (hal 24), serta penjual perabotan keliling yang menjual perabotan dari bambu (hal 33).

Hal menarik dari koleksi kartu pos bergambar ini adalah kartu pos bergambar para penatu pria bercap pos tahun 1932 (hal 77). Gambar ini menimbulkan pertanyaan, sejak kapan profesi ini muncul. Mengingat dalam istilah pada ranah domestik kolonial lebih dikenal istilah wasbaboe (babu cuci) yang notabene adalah perempuan, bukan laki-laki. Jawabannya ada dalam Guide Through Netherlands Indie (1903). Dalam buku panduan itu disebutkan bahwa pelayan hotel akan mengatur baju-baju para tamu untuk dapat dicuci oleh toekang menatoe yang merupakan seorang pria dengan ongkos 5 hingga 10 sen per pakaian.

Ada pula gambar yang untuk ukuran sekarang tidak akan mungkin menjadi objek menarik untuk kartu pos, seperti rumah madat (hal 52), suasana di pengadilan pribumi (hal 133), orang hukuman (hal 136 dan 137), serta pengemis (hal 174).

Objek gambar (berupa foto) yang dijadikan objek kartu pos pada masa itu tentu dianggap menarik dan eksotik oleh orang Barat. Mereka (baca: orang pribumi) yang dijadikan objek adalah subjek tanpa identitas, tanpa catatan,  kecuali sosok-sosok dengan posisi sosial tertentu, seperti gubernur-jenderal, susuhunan, sultan dan para kerabatnya. Sejarawan Jean Gelman Taylor (2008) menuturkan pilihan objek yang ditampilkan oleh para fotografer kolonial lebih menampilkan simbol-simbol status dalam foto-foto natives (pribumi). Penduduk sering ditampilkan sebagai ‘tipe penduduk asli’ (native types), seperti jongos, juru masak, pengasuh anak, kuli, penjaja makanan, gadis penari.

Bagi sejarawan sosial atau peminat sejarah sosial, koleksi kartu pos bergambar ini memberikan sumbangan berharga karena dapat dijadikan sumber visual kehidupan sehari-hari masa kolonial. Namun, dalam menggunakannya kita harus kritis. Seperti kritik Raap pada kartu pos bergambar prajurit keraton Yogya yang berwarna. Menurutnya ada kesalahan warna seragam prajurit yang seharusnya berwarna lurik abu-abu, tetapi oleh si pemberi warna diberi warna merah (hal 132).

Karya Olivier Johannes Raap melengkapi karya-karya sebelumnya yang berhubungan dengan kartu pos bertema Indonesia masa kolonial, seperti Stephen Grant dengan Former Points of View, Postcards & Literary Passages from Pre-Independence Indonesia (1995), Leo Haks dan Steven Wachlin dengan Indonesia 500 Early Postcards (2004), Scott Merrillees dengan Greeting from Jakarta Postcards of a Capital 1900-1950 (2012). Karya-karya tersebut digarap oleh mereka dengan serius.  Lagi-lagi hal ini menyentil kita. Untuk hal yang mungkin kita anggap sepele, seperti urusan kartu pos, ‘orang asing’ ternyata lebih serius daripada kita. Bagaimana dengan urusan yang besar dan penting?

 

Dimuat di Kompas, 2 Februari 2014

cover buku: www.goodreads.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *