Pemikiran dan Cita-Cita Sang Perantau

Judul : Muhammad Yamin dan Cita-Cita Persatuan Indonesia
Penulis : Restu Gunawan
Kata Pengantar : Taufik Abdullah
Penerbit : Ombak, Desember 2005
Tebal : 272 + xxii hlm

Kalau generasi sekarang ditanya apakah mereka mengenal M. Yamin, maka jawabannya mungkin bermacam-macam. Masih bagus bila mereka menjawab seorang pahlawan nasional yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di daerah Menteng, Jakarta. Jawaban memprihatinkan yang tidak kita harapkan adalah bila mereka menjawab apakah itu nama sejenis makanan yaitu mie yamin (sejenis mie ayam tanpa kuah). Jelas, mereka yang memberikan jawaban ini tidak mengetahui sejarah. Namun, bagi mereka yang menjawab pahlawan nasional perlu mendapat informasi “tambahan” melalui buku ini.

Diangkat dari tesis penulisnya di Universitas Indonesia tahun 2003, buku Muhammad Yamin dan Cita-Cita Persatuan Indonesia mengulas dengan menarik kiprah dan pemikiran Muhammad Yamin dalam sejarah Indonesia. Seperti yang diungkap penulisnya bahwa buku ini berusaha mengisi kekosongan penulisan sejarah pemikiran (intellectual history) dari tokoh-tokoh yang membangun bangsa Indonesia.

Ada beberapa hal menarik yang diangkat dalam buku ini yaitu pemikiran Muhammad Yamin tentang persatuan Indonesia, mengapa ia gandrung terhadap persatuan Indonesia tersebut serta latar belakang pemikiran-pemikirannya yang kontroversial. Beberapa pemikiran kontroversialnya antara lain ia mengatakan bahwa Republik Indonesia adalah negara nasional III setelah Sriwijaya dan Majapahit. Lalu Sang Saka Merah Putih telah digunakan oleh penduduk di kepulauan Indonesia sejak 6000 tahun lalu, Garuda lambang Indonesia sudah terbang di atas bumi nusantara sejak 4000 tahun lalu. Yamin juga menggambarkan sosok Gajah Mada yang berbadan besar dan wajah yang sekilas mirip dengan dirinya. Serta penyusunan buku pembangunan semesta yang terdiri dari 17 bab, 8 buku dan 1945 halaman.

Kegandrungan M. Yamin terhadap persatuan Indonesia dimulai sejak ia muda. Pemikirannya berangkat dari persatuan lokal di tanah kelahirannya di Sumatera Barat. Hal itu didukung dengan kebudayaan Minangkabau yang mengandung nilai-nilai untuk mendorong orang berpikir realistis, dialektis, dinamis, dan logis. Semua itu tampak pada konsep rantau yang dipahami oleh masyarakat Minangkabau. Mereka meninggalkan kampung halaman, membuka diri dan pikiran terhadap dunia luar lalu kelak diharapkan di perantauan mereka berhasil memetik nilai-nilai berguna bagi masyarakat dan kampung halamannya.

Adam Malik, mantan wapres RI mengatakan bahwa sejak belia, Muhammad Yamin telah terangsang untuk memperdalam, menyelami sejarah dan kebudayaan Indonesia. Hal ini memang tampak dari karya-karyanya yang sangat merindukan kembali kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Keahliannya dalam sejarah dan kebudayaan yang juga membuat ia lebih maju dari tokoh-tokoh lain sehingga selalu disetujui setiap ia mengusulkan dan mengeluarkan kata-kata baru dari bahasa San Sekerta atau Jawa Kuno(hal.182). Misalnya istilah Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila.

Salah satu tokoh yang mempengaruhi serta menjadi inspirasi hidupnya adalah Patih Gajah Mada. Bentuk badan Gajah Mada yang kekar merupakan hasil inspirasi dari Muhammad Yamin yang pada masa-masa selanjutnya menimbulkan pertanyaan. Rupanya sketsa gambar tersebut berdasarkan pecahan keramik, hasil temuan Yamin di Mojokerto. Tentunya bukti-bukti tersebut tidak cukup kuat untuk melukiskan bentuk tubuh Gajah Mada. Maka tidaklah mungkin seorang ksatria seperti Gajah Mada memiliki bentuk tubuh seperti “Samson”, seperti yang terlihat di depan Mabes Polri saat ini serta gambar-gambar di buku-buku. Oleh karena itu sewaktu penyusunan diorama di Museum Nasional (Monas) tahun 60-an khususnya tentang pembuatan “Sumpah Palapa”, tubuh Gajah Mada digambarkan agak langsing (hal.194-195). Uniknya, wajah Gajah Mada yang dilukis oleh Henk Ngantung mirip dengan Muhammad Yamin. Tentunya lukisan tersebut sangat mempesona dirinya (hal.193).

Sementara itu mitos Yamin tentang asal mula warna merah putih yang telah digunakan 6000 tahun lalu berdasarkan tahun perpindahan orang purba Indonesia dari Asia Tenggara melalui Semenanjung Sumatera dan Filipina . Menurut Yamin orang-orang purba tersebut menghormat warna merah matahari dan putih rembulan sehingga penggunaan bendera merah putih sebagai bendera nasional sangat menjunjung tinggi kebudayaan nenek moyang (hal.200).

Dalam pendidikan sejarah, Yamin berupaya memasukkan ide-idenya tentang sejarah Indonesia menurut versinya yaitu dasar-dasar sejarah Indonesia centris. Pada masa itu usaha penulisan Indonesia centris sebagian besar hanya membalikkan orang yang dianggap pemberontak oleh Belanda menjadi pahlawan dalam versi Indonesia. Salah satunya adalah Pangeran Diponegoro, figur yang juga diidolakan oleh Yamin. Akibat model penulisan yang banyak mengangkat cerita kepahlawanan maka muncul konsep pahlawan nasional (hal.201).

Namun, pendapat Yamin mengenai filsafah [falsafah] sejarah nasional dalam Kongres Sejarah Nasional Pertama 1957 ditentang Soedjatmoko. Menurut Soedjatmoko tidak ada falsafah sejarah nasional karena dengan mengajukan falsafah sejarah nasional berarti meninggalkan sejarah sebagai ilmu dan menginjak suatu ranah lain yaitu ideologi. Penggunaan ranah sejarah untuk keperluan politik akhirnya bisa menjurus ke arah demagogie yaitu politik untuk memperoleh kekuasaan dengan jalan menghasut dan membangkitkan emosi rakyat (hal.190).

Di lain sisi, Muhammad Yamin sangat peduli dengan pendidikan nasional. Ia mengusulkan garis-garis besar pendidikan dan pengajaran yang bersendikan agama dan kebudayaan bangsa serta menuju kearah keselamatan dan kebahagiaan Indonesia. Oleh karena itu, menurutnya pendirian lembaga-lembaga pendidikan harus diperluas dengan melibatkan warga masyarakat untuk mendirikan sekolah-sekolah partikelir [swasta]. Ia pun mengusulkan bagi masyarakat yang tidak mampu perlu diadakan pembebasan uang belajar (hal.204). Suatu hal yang saat ini hanya sekedar retorika dari para elit kita ketika kampanye pemilu.

Sementara itu dalam masalah Irian Barat [sekarang Papua], Muhammad Yamin yakin bahwa Irian Barat merupakan bagian dari wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Pendapat Muhammad Yamin ini konsisten dengan pendapatnya sewaktu menyusun UUD 1945. Ia meyakini bahwa wilayah Indonesia meliputi seluruh bekas wilayah jajahan Belanda termasuk Irian Barat, bahkan termasuk bekas-bekas jajahan dan daerah perwalian Inggris di Semenanjung Malaya dan Kalimantan (hal.85-86).

Sehubungan dengan tuntutan Yamin atas Irian Barat itu, Muhammad Hatta menolaknya. Menurut Hatta, tidak ada dasar Indonesia mengambil Papua karena bangsa Papua termasuk bangsa Melanesia. Jika akan dicari asal persatuannya, maka Melanesia tidak termasuk tetapi Polinesia yang letaknya di tengah-tengah kepulauan Pasifik. Hatta menyarankan agar masalah Papua diserahkan kepada orang Papua sendiri untuk mengurusnya. Kalau perlu diberi hak “merdeka” (hal.106-107). Bahkan Hatta lebih setuju jika wilayah Papua ditukar dengan wilayah Borneo Utara. Namun, pendapat Hatta ditolak Soekarno yang mendukung 100 persen pendapat Yamin (hal.107).

Muhammad Yamin adalah salah satu contoh menarik mereka yang mengalami proses peningkatan struktur kesadaran dari seorang patriot menjadi nasionalis. Ia merantau dari tanah Sumatera ke Jawa hingga menikahi seorang puteri dari Pura Mangkunegaran, Solo. Memang mungkin terasa aneh, seperti penjelasan Taufik Abdullah dalam kata pengantar buku ini, kalau cita-cita nasionalisme Indonesia sebenarnya adalah ideologi “para perantau”, mereka yang meninggalkan lingkungan primordialnya. Nasionalisme [baca keindonesiaan] mereka tumbuh ketika para perantau merasakan diri mereka telah berada dalam konteks sosial yang seakan-akan merupakan tumpukan komunitas-komunitas “orang-orang asing”.

Di tanah rantau itulah para nasionalis perantau menemukan keindonesiaan mereka. Suatu contoh – mengutip Taufik Abdullah – yang memperlihatkan bahwa nasionalisme modern Indonesia tidak dilahirkan di gubuk-gubuk petani yang menderita tetapi di kota-kota kolonial. Dalam konteks kehidupan kota kolonial inilah orang dari berbagai kesatuan etnis saling berkenalan dan saling tukar menukar pengalaman serta simbol-simbol kultural.

Sekali lagi, meminjam pendapat Ben Anderson tentang masyarakat Indonesia, dari dulu hingga kini, rupanya cepat melupakan para tokoh yang berjasa bagi mereka. Sehingga kehadiran buku ini dirasakan sangat perlu untuk selalu mengingatkan jasa-jasa dan pemikiran-pemikiran brilyan para pendiri bangsa ini. Terutama dengan cita-cita persatuan Indonesia yang sekarang ini mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan.

One thought on “Pemikiran dan Cita-Cita Sang Perantau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *