Persahabatan Antar Bangsa pada Dua Jaman

Judul       :  Oeroeg
Judul asli :  Oeroeg
Penulis  : Hella S Haasse
Penerjemah : Indira Ismail
Penerbit :  Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2009
Tebal  :  144 halaman

Pada 1948 sebuah novel tipis dihadiahkan kepada para pembeli buku di Belanda yang berbelanja sedikitnya 3,5 gulden. Novel itu anonim, tanpa disebutkan pengarangnya. Hanya ada petunjuk, sebuah moto ‘Soeka Toelis’, kisah tentang persahabatan antara seorang anak Belanda dan pribumi di Hindia-Belanda. Di sampulnya terpampang judul: Oeroeg.

Di halaman belakang novel itu, ada 19 nama pengarang. Para pembaca diminta untuk menuliskan siapa nama pengarangnya dan mengirimkan jawabannya pada panitia, Commisie voor de propaganda van het Nederlandsche Boek (Komisi propaganda buku Belanda). Jawaban yang benar akan diundi dan tiga pemenang utama akan mendapatkan hadiah masing-masing 100 gulden. Dari 24.000 jawaban yang masuk, hanya 672 yang benar.

Salah satu dari nama-nama pengarang itu adalah Hella S Haasse yang sekaligus sebagai jawaban yang benar. Pada 1947 ia mendapatkan undangan dari CPNB, Komisi propaganda buku Belanda untuk mengikuti sayembara penulisan novel yang akan dijadikan hadiah pada saat boekenweek (minggu buku). Novel tersebut akhirnya menjadi pemenang. Ketika itu Haasse baru kehilangan putrinya. Maka seperti penuturannya, ia berupaya mengalihkan rasa sedihnya dengan menulis novel tersebut.

Setelah enam puluh tahun lebih, novel itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Negeri tempat kelahiran Haasse. Bersamaan dengan itu, Oeroeg kembali diterbitkan di Belanda dan dijadikan buku hadiah dalam rangka promosi program Nederland leest (Negeri Belanda membaca) 2009.

Novel Oeroeg mengisahkan persahabatan antara tokoh aku (Belanda) dengan Oeroeg, anak pribumi. Aku adalah anak administrator perkebunan teh dan Oeroeg, anak mandor perkebunan.  Usia mereka tak terpaut jauh, hanya berselisih beberapa minggu (hal.6)  Keduanya pun sama-sama dilahirkan di perkebunan Kebon Jati (hal.7)

Ketika mereka masih kanak-kanak perbedaan ras, warna kulit dan derajat bukan menjadi halangan persahabatan. Mereka tak merasakan dan menyadari hal itu, meskipun pada kenyataannya jurang perbedaan antara Tuan (baca: orang Belanda) dan Hamba (baca: pribumi) ketika itu sangatlah besar. Kepolosan khas anak-anaklah yang menyelubungi tabir perbedaan itu.

Dalam perjalanan persahabatan kedua anak itu, ada dua peristiwa penting yang merekatkan jiwa dan darah mereka. Pertama, tewasnya ayah Oeroeg, Deppoh karena menyelamatkan tokoh aku di Telaga Hideung (hal.34) Kedua, kepergian ibu tokoh aku ke Belanda sehingga tokoh aku hanya tinggal dengan sang ayah (hal.44) Kedua peristiwa penting itu seolah merekatkan jiwa tokoh aku pada Oeroeg. Padahal sebelumnya sang ayah tak begitu suka jika tokoh aku terlalu dekat dengan Oeroeg dan menjadi Belanda ‘cakar ayam’ alias Belanda ‘kampung’ (hal.16). Kelak yang tumbuh adalah perasaan bersalah bercampur aduk dengan kesedihan serta kekosongan jiwa tokoh aku.

Seiring pertumbuhan kedua tokoh tersebut tumbuh kesadaran adanya perbedaan di antara mereka. Kesadaran adanya perbedaan itu mulai tumbuh ketika tokoh aku melihat dan mendengar perlakuan orang-orang di sekitarnya terhadap Oeroeg. Hingga akhirnya Oeroeg sendiri yang mengatakannya. Tampaknya situasi di luar diri mereka mengubah arti persahabatan mereka.

Tokoh aku melihat proses perubahan atas diri Oeroeg. Oeroeg yang dikenalnya sejak kecil semakin berubah. Perubahan itu sangat besar seiring dengan munculnya sahabat-sahabat baru Oeroeg. Demikian pula tempat ia dibesarkan. Ia merasa asing di hadapan sahabatnya serta di tanah kelahirannya sendiri. Tokoh aku seolah terus mempertanyakan perubahan itu. Bahkan ia tidak mampu lagi mengenalinya.

Dengan mengambil latar-belakang perkebunan teh di Priangan, Batavia (Jakarta) dan Surabaya, Haasse melukiskan dan menuangkan kembali situasi, khususnya keindahan alam pada masa itu dengan kata-kata. Situasi yang kelak berubah dan dirasakannya ketika kembali berkunjung ke negeri kelahirannya.

Helena Sefaria Haasse lahir di Weltevreden, Batavia pada 2 Februari 1918. Ibunya, Katharina Diehim Wizenhhler seorang pianis dan ayahnya, Willem Hendrik Haasse seorang inspektur keuangan yang bertugas di Hindia. Setelah pensiun Willem menjadi penulis roman detektif dengan nama samaran W.H. Van Eemlandt. Ketika Hella berusia dua tahun, keluarga ini kembali ke Belanda lalu dua tahun kemudian kembali ke Hindia dan menetap di Surabaya, tempat Hella menyelesaikan sekolah dasar.

Tahun 1924, sang ibu sakit dan harus dirawat di sanatorium maka keluarga ini kembali ke Belanda. Di Belanda, Hella tinggal di Baarn dengan neneknya. Tahun 1928, keluarga ini kembali ke Hindia. Mereka tinggal setahun di Bandung, Buitenzorg (Bogor), dan Batavia (Jakarta) di mana Hella menyelesaikan lyceum (sekolah menengah). Tahun 1938 Hella kembali ke Belanda, meneruskan pendidikannya di Gemeentelijke Universiteit Amsterdam. Ia memilih jurusan bahasa dan sastra Skandinavia. Namun, orang tuanya masih tinggal di Hindia. Reuni keluarga ini gagal karena masuknya Jepang. Orang tua Hella pun sempat masuk interniran. Keluarga ini kembali berkumpul pada 1946.

Hella keluar dari kuliahnya pada 1941 lalu ia masuk Toneelschool (sekolah drama) di Amsterdam. Ia lulus pada 1943. Setahun berikutnya Hella menikah dengan mr. Jan van Lelyveld. Keluarga ini dikarunai seorang anak, Chrisye pada 11 November 1944. Tiga tahun kemudian Chrisye meninggal dunia.

Sebenarnya novel Oeroeg ini bukan karya pertama Hella yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karya lain yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah naskah drama Een draad in het donker dan novel  dan Sleuteloog.

Ketika terbit pada 1948, novel ini merebut perhatian para pembacanya di Belanda. Namun, di Indonesia novel ini menuai kritik. Misalnya tulisan dalam majalah budaya Oriëntatie mengkritik Hella yang sebagai seorang perempuan tidak tahu banyak permainan anak laki-laki sehingga persahabatan yang digambarkan tidak mungkin seperti itu – tidak sesuai kenyataan (onrealistisch). Selain itu novel Oeroeg dipandang berbahaya secara politik mengingat hubungan Indonesia-Belanda pada masa itu.

Menanggapi kritikan tersebut, Hella menyatakan novel itu merupakan reaksinya terhadap Aksi Polisionil (dalam historiografi Indonesia disebut Agresi Militer) Belanda di Indonesia pada 1947. Hatinya tergerak dan ia menulis, terus menulis tanpa henti hingga menghasilkan novel tersebut.

Dalam suatu kesempatan wawancara lainnya sehubungan dengan novel Oeroeg, Hella Haasse yang mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Universiteit Utrecht pada 1988 menyatakan bahwa ia merasa berhutang pada bangsa pribumi Hindia. Alasannya, ketika ia masih berada di Hindia, ia seolah mengabaikan peran dan keberadaan mereka. Padahal dalam kehidupan sehari-hari mereka lah yang mengisi hari-harinya.

Haasse adalah salah satu contoh generasi masa silam yang seakan mewakili kelompok masyarakat yang pernah merasakan kehidupan di Hindia dan seolah enggan pulang ke negerinya (kelompok blijvers). Pengalaman masa lalu tersebut seolah sulit dihilangkan dan akan terus terkenang dalam bingkai kenangan tempo doeloe.

Adalah juga hal menarik untuk mengetahui tanggapan generasi sekarang, baik di Belanda maupun di Indonesia yang tidak merasakan langsung latar belakang masa novel ini. Mungkin juga generasi kini hanya mengetahui situasi masa itu dari cerita atau buku-buku sejarah. Nuansa ‘masa sebelum dan sesudah perang’ tentunya tak mudah untuk dirasakan oleh generasi sekarang.

Lalu, bagaimana dengan akhir kisah persahabatan kedua anak dari bangsa dan latar belakang yang berbeda serta pada dua jaman, jaman sebelum dan sesudah perang ini? Silakan Anda temukan jawabannya pada novel ini yang juga telah difilmkan pada 1993.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *