0

PETUALANGAN DI TANAH ‘PARA PEMBURU KEPALA’

Judul: Tanah Para Pendekar: Petualangan Elio Modigliani di Nias Selatan Tahun 1886
Judul asli: Fra i tagliatore di teste. Elio Modigliani: un fiorentino all’ esplorazione di Nias Salatan-1886
Penulis: Vanni Puccioni
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: I, 2016
Tebal: 360 halaman
ISBN: 978-602-03-3164-5
Harga: Rp. 110.000

“Kebiasaan memburu manusia untuk dipenggal kepalanya sebagai piala merupakan karakteristik penting di Nias Selatan. Hal ini berbeda dengan kebiasaan penduduk di Nias Utara.” Demikian catatan Elio Modigliani (1860-1932), petualang asal Italia ketika menjelajah Nias selatan pada 1886. Daerah ‘liar’ yang merupakan daerah kekuasaan suku para pemburu kepala manusia dan tak pernah berhasil ditaklukkan pemerintah kolonial Belanda. Modigliani kembali dengan selamat ke Italia dan menuangkan pengalamannya dalam buku Viaggio a Nias (Perjalanan ke Nias) yang terbit tahun 1890. Suatu karya etnografis yang sarat informasi tentang budaya Nias.

Pasca bencana tsunami 2004 Vanni Puccioni, arsitek Italia yang bekerja di pemerintah regional Tuscani memimpin program rekonstruksi di Nias. Ia diperkenalkan dengan buku Modigliani oleh Pastor Johannes di Gunung Sitoli. Pastor Johannes ‘memprovokasi’ Puccioni untuk menerjemahkan buku tersebut. Gayung pun bersambut. Meskipun Puccioni tidak secara utuh menerjemahkan Viaggio a Nias, Puccioni justru kembali ikut ‘berpetualang’ menapaktilasi perjalanan Modigliani di Nias selatan.

Mengapa Modigliani tidak dibunuh oleh penduduk Nias menjadi dasar bagi Puccioni untuk ‘berpetualang’ mencari jawabannya. Puccioni juga menelusuri para keturunan raja dan prajurit desa-desa yang pernah dijumpai oleh Modigliani. Hasilnya adalah buku Fra i tagliatore di teste. Elio Modigliani: un fiorentino all’ esplorazione di Nias Salatan-1886 (2013) yang diterjemahkan menjadi Tanah Para Pendekar: Petualangan Elio Modigliani di Nias Selatan Tahun 1886.

Dalam buku ini Puccioni bertindak sebagai ‘perantara’ antara petualangannya sendiri pada abad ke-21 dan petualangan Modigliani pada abad ke-19. Oleh karena itu Puccioni khusus membuat bagian ‘Konteks’. Hal yang dibahas adalah sejarah singkat Nias, mulai dari zaman kuno (Sebelum Masehi) hingga kekuasaan pemerintah Hindia-Belanda (abad ke-19), budaya dan masyarakat Nias pada masa itu (hal.23-94).

Uraian penting dalam bagian ‘Konteks’ adalah persiapan Modigliani sebelum berpetualang ke daerah ‘liar’, baik secara fisik maupun mental, baik praktis maupun teoritis. Modigliani mempelajari teknik fotografi yang pada masa itu masih tergolong baru, mempelajari pengobatan dan taksidermi (teknik pengawetan binatang), topografi, memperbaiki senjata, bahkan teknik kuno untuk menyalakan api. Modigliani juga membekali diri dengan pengetahuan budaya antropologi, sejarah pulau Nias serta bahasa Melayu. Ia memperoleh pengetahuan tersebut di Belanda (hal. 87). Hal ini menjadi catatan bagi para petualang masa kini untuk tidak hanya bermodal semangat dan nekad. Semua harus terencana, terukur dan diperhitungkan segala resikonya.
Sebelum berangkat ke Selatan (Nias), Modigliani masih meyakini hal rasis dari para penduduk. Misalnya semua orang Cina adalah pencuri, orang Melayu pengecut, dan orang Nias barbar. Semua keyakinan rasis ini kelak berubah setelah ia mengalaminya sendiri.

Tekad Modigliani berpetualang ke Nias sudah bulat meskipun oleh kontrolir Gunung Sitoli dihalangi dan dibujuk untuk membatalkan rencananya. Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ketika itu, Otto van Rees mengingatkan bahwa penduduk asli di daerah tersebut sangat berbahaya. Mereka adalah pemburu kepala manusia (hal. 125).
Cerita para pemburu kepala juga didengar oleh Puccioni pada abad ke-21. Seorang arsitek Nias yang bekerja dengannya pada 2008 menceritakan bahwa ketika dia masih kecil ibunya melarang ke luar rumah jika di sawah terlihat kupu-kupu kuning. Hal itu merupakan pertanda musim pemburu kepala manusia (hal. 67).

Pada bagian ‘Ceritanya’ (hal.97-335), Puccioni memadukan pengalaman Modigliani dengan pengalamannya sendiri. Dalam narasi Puccioni, naskah penuturan Modigliani dihadirkan. Dengan lincah kita dibawa pada situasi masa lalu dengan masa kini. Misalnya ketika Modigliani menuliskan pengalamannya dikirimi sepotong roti segar oleh Nyonya Van Os, istri kontrolir Gunung Sitoli. Modigliani memohon untuk tidak dikirimi lagi karena ia ingin membiasakan diri untuk tidak makan roti. Puccioni mengomentari hal itu sebagai sesuatu yang sangat menggelikan dan bersifat tidak Italia. Jika ia menjadi Modigliani, ia justru akan memuaskan diri menikmati roti tersebut karena dari pengalamannya di Nias belum ada roti yang layak. Menurutnya, pada 2009 hanya ada satu wanita di ujung utara Pulau Nias yang mampu membuat roti yang lezat (hal. 108-109).

Puccioni juga mengkritisi catatan Modigliani tentang Teluk Dalam, salah satu daerah yang dijelajahinya. Modigliani menulis ketika perahu lesungnya berlabuh di Teluk Dalam, ia berkomunikasi dengan barisan prajurit Nias yang mengelilingi mereka. Menurut Puccioni Pantai Teluk Dalam sangat terkenal dengan ombak besarnya sehingga banyak peselancar dari seluruh dunia datang ke sana. Jadi tidaklah mungkin perahu Modigliani dapat berhenti di dekat pantai selama ia membuat kesepakatan dengan para prajurit Nias (hal. 138-143).

Menurut Modigliani, salah satu keistimewaan Nias adalah kegemaran penduduknya mengoleksi tengkorak manusia. Modigliani pun pulang ke Italia dengan membawa oleh-oleh 26 tengkorak manusia yang menjadi koleksi berharga Museum Nasional Antropologi dan Etnografi di Florence, Italia. Unsur ketegangan dalam petualangan Modigliani memperoleh 26 tengkorak manusia menjadi salah satu bagian menarik buku ini. Berbekal senapan laras pendek Winchester dan ditemani Cerutti serta empat pemburu asal Jawa, Modigliani berpetualang.

Buku ini dilengkapi peta, gambar fauna dan beberapa foto karya Modigliani dan Puccioni. Selain memotret objek manusia, Modigliani memotret bangunan desa. Namun, Modigliani tidak diperbolehkan memotret para perempuan Nias karena para lelaki Nias akan sangat cemburu. Modgliani menulis: “Mereka selalu lari menjauh karena merasa malu atau takut pada pasangan yang cemburu. Saya yakin mereka tidak akan bertingkah laku seperti itu jika bertemu di luar desa atau saat mereka sendirian”. Lalu Modigliani berkomentar: “Ketidakpercayaan laki-laki Nias terhadap perempuan mereka bukan merupakan hal terhormat, tetapi mungkin ada alasannya sendiri.” (hal. 175).

Salah satu foto menarik karya Modigliani adalah foto jalan utama Desa Hilizihono karena menggambarkan kehidupan sehari-hari penduduk desa. Di bagian depan terlihat bangunan batu untuk ritual adat lompat batu (fahombo), di sebelah kiri terlihat tiga orang sedang bekerja dalam posisi duduk di atas meja batu. Foto menarik lain diambil dari interior rumah Raja Hilizihono, Siduho Gheo. Dalam foto tersebut terlihat sebagian peralatan yang dibawa Modigliani. Salah satunya adalah penyaring air (hal. 177).

Sebenarnya Modigliani bukan orang pertama yang menjelajah di Nias. Pemerintah Hindia-Belanda pernah mengirim dua penjelajah ke Nias selatan pada September 1854- September 1855. Mereka adalah J.F. Nieuwenhuizen, naturalis-antropolog dan H. von Rosenberg, ahli geografi dan topografi. Hasil penjelajahan mereka salah satunya berupa peta yang kelak digunakan oleh Modigliani (hal. 48-49).

Penjelajahan Modigliani di Sumatra berlanjut. Pada 1890 ia mengunjungi daerah Batak yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. Meskipun dilarang oleh pemerintah, ia tetap menjelajah di wilayah Batak. Ia menjadi pria kulit putih pertama yang menyaksikan Danau Toba dan air terjun Sampiran Siarimo yang keramat. Hasil petualangannya membuahkan buku kedua dan ketiga yang terbit 1892 dan 1894 yaitu Tra i liberi Batacchi (Di Antara Suku Batak yang Bebas) dan L’isola delle donne (Pulau Para Perempuan). Rencana ekspedisi Modigliani berikut adalah Kepulauan Mentawai. Pada 1893 ia mengunjungi Pulau Sipora dan Siberut. Namun, tato adat yang dibuat di tangan kirinya mengakhiri petualangannya sebagai penjelajah. Ia terkena infeksi parah dan butuh setahun penyembuhan di Italia (hal. 333-334).

Ada kesalahan ejaan nama dalam buku Puccini ini yang mungkin dikutip dari sumber buku aslinya yaitu Nieuwenhuisen yang seharusnya Nieuwenhuizen (hal.48). J.F. Nieuwenhuizen adalah perwira kesehatan yang selanjutnya menjadi penguasa sipil di Singkel. Kekurangan lain buku ini adalah tidak dilengkapi indeks daftar nama tokoh dan tempat yang banyak bertebaran di dalam buku. Indeks itu tentu akan sangat membantu dan memudahkan pembaca.

Terlepas dari hal tersebut, buku ini melengkapi kekayaan mozaik negeri kita dari kaca mata para penjelajah Eropa, selain Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman pada abad ke-19. Alangkah baiknya jika naskah asli dari buku Modigliani juga diterjemahkan secara lengkap sehingga kita mendapatkan gambaran serta pendapatnya yang lebih utuh tentang negeri kita.

foto sampul buku:
http://www.gramedia.com/conf-tanah-para-pendekar-petualangan-elio-modigliani-di-nias-selatan-tahun-1886.html

foto Elio Modigliani:
http://www.modiglianinias.it/

achmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *