“Piye kabare mas bro? Penak zamanku to…”

Ini kali kedua saya pergi ke Jogja. Bukan kebetulan hotel tempat saya menginap pun sama. Hotel Saphir di Jl. Laksda Adi Sucipto yang pada akhir bulan Mei lalu menjadi tempat saya menginap, kembali saya sambangi. Jika pada kunjungan pertama merupakan tugas dari Kemendikbud, pada kunjungan kedua ini sehubungan dengan konferensi internasional yang diadakan fakultas.

Pada kunjungan pertama tidak banyak tempat yang saya kunjungi. Pada kunjungan kedua, dalam waktu yang relatif singkat, cukup lumayan juga. Oleh karena kami tiba masih terlalu pagi dan belum bisa masuk hotel, maka kami mengunjungi dua tempat.

Kunjungan pertama adalah Desa Kasongan, Bantul. Desa ini terkenal karena kerajinan gerabah, keramik buatan tangan yang sudah turun-temurun. Seulas sejarah mengenai daerah yang berada di selatan kota Jogjakarta mengingatkan saya pada sebuah artikel.

Artikel itu berkaitan dengan upaya Kyai Song dan Nyai Song mendirikan sebuah desa yang dulunya masih merupakan hutan belantara. Kyai Song merupakan pengikut Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro dalam historiografi Belanda ditempatkan sebagai tokoh dalam ‘Java Oorlog’ (Perang Jawa), perang yang menghabiskan jutaan gulden uang kas negara.

Pasca penangkapan Diponegoro pada 1830, Kyai Song yang bergelar Kyai Guru Kasongan Ngabdul Raupi tetap melakukan perlawanan secara diam-diam. Perlawanan diam-diam itu dilakukannya dengan cara mengajak warga supaya tidak bertani tetapi beralih profesi menjadi pekundi atau pembuat peralatan dapur dari tanah liat. Ia mengajar keahlian baru sebagai perajin gerabah kepada warga.

Imbauan Kyai Song tersebut agar warga tak bercocok tanam disebabkan sebagian hasil pertanian harus diserahkan kepada pemerintah kolonial. Dengan cara mengubah profesi warga menjadi pekundi (dari kata kundi atau kendi, tempat air minum dari tanah liat), diharapkan ladang persawahan di sekitar Kasongan menjadi tidak subur dan tidak bisa ditanami karena tanahnya diambil untuk membuat gerabah.

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah TeMBI Rumah Budaya di Sewon, Bantul. Usai makan siang dengan suguhan makanan khas rumahan, saya melihat-lihat koleksi museum seperti koleksi senjata (keris, tombak, pedang), senthong (kamar) yang merupakan bagian dalam rumah Jawa. Koleksi lainnya adalah reklame jadul (kesukaan saya).  Selain itu di sini disediakan juga tempat menginap ala resor.

Dari rumah TemBi kami menuju hotel. Malam harinya, saya (kembali) napak tilas menuju Malioboro. Usai Mahgrib kami dari hotel kami berjalan kaki. Hingga akhirnya perut mulai minta diisi. Kami pun berhenti, menikmati makanan lesehan yang sudah menjadi komoditas kota ini. Soal rasa nomor sekian, yang penting suasananya.

Setelah perut diisi, kami menelusuri jalan Malioboro. Di tengah-tengah hiruk pikuk (maklum musim liburan) kaki lima, kami melihat-lihat suasana Malioboro di waktu malam. Ramai anak-anak sekolah menawar t-shirt, celana, gantungan kunci, baju batik, sandal untuk buah tangan. Di salah satu kios saya melihat t-shirt bergambar Soeharto dengan tulisan “Piye kabare mas bro? Penak zamanku to…” (gambar yang sama saya lihat juga di sebuah mobil di depan toko oleh-oleh). Wah, Jogja. Inggih, mboten?

2 thoughts on ““Piye kabare mas bro? Penak zamanku to…”

  1. ismail Nur Hidayat

    Mboten, katingale. Ananging kita kedah ngurmati piyambakipun, bilih piyambakipun nate ngurusi kita danten.

    and for indication why i say not, in this era (SBY’s era) he paid debt from IMF that had not could been paid in Soeharto’s era. so do economy development rate, >6.00 % in SBY’s era, and in Soeharto’s era? hehehe… sorry for my bad english.

    :))

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *