Plateau van Dieng

come to java-danau ceding Pukul 02.00. Udara dingin yang menusuk tulang tak menyurutkan semangat saya untuk mengikuti kegiatan melihat matahari terbit di Bukit Sikunir.  Kawasan yang berada di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo. Sekitar pukul 03.00 kami berangkat dari Hotel Dieng Kledung Pass, Wonosobo yang memiliki pemandangan gunung kembar (Sindoro, Sumbing).

Sambil menahan kantuk, saya duduk di bis mini berbahan bakar solar. Udara dingin bercampur aroma solar bukanlah kombinasi menarik di pagi-pagi buta. Setelah melewati ladang tembakau,  bis terus meluncur memasuki kota Wonosobo lalu mendaki. Di luar, hampir tak ada yang dapat dilihat. Kecuali lampu-lampu, papan-papan nama dan kemudian bau belerang menusuk hidung.

‘Kawah Sikidang’, kata kenek bis sambil berdiri di pintu. Silakan buang gas sepuasnya, tanpa takut dicurigai.  Bis terus mendaki jalan yang hanya cukup untuk dua mobil berpapasan. Sesekali bis melewati truk bermuatan penuh atau dilewati mobil minibus yang lebih kecil dan ingin mendahului.

Saya melihat deretan bangunan rumah diterangi lampu-lampu. ‘Ini Desa Sembungan. Desa tertinggi di Jawa yang tingginya 2000 meter di atas permukaan laut’, kata kenek bis. Di tepi jalan saya melihat serombongan turis (asing) berjalan beriringan membawa senter.

‘Telaga Cebong’, kata kenek bis setengah berteriak. Masih gelap. Tak tampak apa pun. Saya hanya melihat pantulan cahaya di atas air. Bis terus menderu, mendaki. Menjelang subuh, kami tiba di tempat parkir.  Rupanya sudah ada beberapa mobil dan bis yang parkir di sana. Saya segera mencari tempat favorit yaitu toilet untuk sekedar meringankan tubuh lalu mencari mushola. Ada beberapa warung yang menjual kopi, indomi, sarung tangan, syal, dan topi. Sebelum mendaki bukit saya singgah di sebuah warung.

Pengalaman perjalanan ‘singkat’ dengan bis dari hotel Dieng Kledung Pass menuju Dataran Tinggi Dieng selama kurang lebih dua jam membuat saya teringat pada buku-buku panduan turisme Hindia-Belanda akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kawasan Dataran Tinggi Dieng sudah menjadi salah satu objek yang disarankan untuk dikunjungi pada masa itu?

Dalam buku-buku panduan terbitan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 Plateau van Dieng (Dataran Tinggi Dieng) menjadi salah satu objek yang disarankan untuk dikunjungi oleh para turis.  Reisgids voor Nederlandsch Indië (1896) karya J.F.van Bemmelen yang disponsori oleh Koninklijke Paketvaart Maatschappij memuat informasi mengenai wilayah ini.

Van Magelang uit kan men over Wonosobo een tocht ondernemen naar het 2170 M. hoog gelegen plateau van Dieng, dat met het Amerikaansche Yellowstone-park kan vergeleken worden. (Dari Magelang orang dapat melakukan perjalanan melalui Wonosobo menuju dataran tinggi Dieng yang tingginya 2170 meter.  Wilayah ini dapat dibandingkan dengan Yellowstone park di Amerika).

Lalu menurut buku panduan itu, objek-objek menarik lain di kawasan itu adalah:

, en is bedekt met Hindoe-oudheden (vier tempels, Tjandi Ardjoeno)- dan dikelilingi oleh peninggalan Hindu (empat candi, Candi Arjuno)

Serta:

…het vulkanische meertje Telaga Leri; het kleurenrijke Telaga Warna, en eindelijk het Telaga Tjebong, zijn naast de genoemde ruïnes de belangrijste punten (danau vulkanis Telaga Leri, Telaga Warna, dan akhirnya Telaga Cebong, disamping reruntuhan yang telah disebutkan merupakan objek-objek penting).

Terkait dengan reruntuhan peninggalan Hindu di kawasan Dieng, Arthur S.Walcott dalam Java and her neighbours (1914) juga menyinggungnya selain di kawasan Prambanan.

Saat ini kita dapat menikmati keindahan alam di Dieng dengan waktu yang lumayan singkat. Tidak perlu menghabiskan waktu lama.  Transportasi dan sarana infrastruktur berupa jalan memudahkan kita. Namun, pada awal abad ke-20, para pengunjung harus menunggang kuda dan ditandu oleh para kuli.

Dalam buku panduan Come to Java: Information for travellers. Trips in the isle of Java (1920) dan See Java the Garden of the East (192x) disebutkan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan ekskursi di Dataran Tinggi Dieng sekitar tiga hari, dua malam. Buku itu juga menyarankan pakaian yang harus dikenakan selama melakukan ekskursi, seperti pakaian hangat  dan jas hujan. Para turis disarankan untuk membawa bekal roti dari Wonosobo atau memberikan informasi sehingga dapat dibawakan roti dari Wonosobo. Untuk tempat menginap yang berupa pasanggrahan, para turis juga disarankan mengajukan izin kepada asisten residen di Wonosobo.

foto:

Telaga Ceding (sumber Come to Java 1920).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *