Plesiran Tempo Doeloe ke-100 (1)

Awal April 2012 saya dihubungi Ade Purnama a.k.a Adep, bos Batmus. Dalam rangka acara ke-100 Plesiran Tempo Doeloe (PTD) saya diminta menjadi salah satu narasumber.

Dengan Adep sendiri saya sudah kenal lama. Sekitar tahun 2004 dalam acara peluncuran terjemahan buku Batavia Awal Abad 20 Gedenkschrift van een oud koloniaal dari Clockener Brousson yang saya terjemahkan dan diterbitkan oleh Komunitas Bambu, Adep dan rombongannya turut meramaikan acara tersebut.

Sudah cukup lama saya mendengar kegiatan Sahabat Museum (Batmus) dengan acara Plesiran Tempo Doeloe. Acaranya tidak hanya di Jakarta, acara di luar Jakarta bahwa di luar pulau Jawa juga diminati. Dari Pak Lilie Suratminto yang kerap menjadi narasumber acara mereka, saya mendapat kabar bahwa pernah dalam salah satu acaranya mengumpulkan sekitar 900 peserta.  Saya tidak dapat membayangkan bagaimana mengurus 900 peserta tersebut plesiran.

Dalam acara Plesiran Tempo Doeloe ke-100 tema yang diambil adalah Postcards from Netherlands East Indies. Idenya mengambil dari buku terbaru Scott Merrillees Greeting from Jakarta, Postcards of a Capital 1900-1950.

Mendengar bahwa Scott Merrillees juga menjadi narasumber saya langsung menyetujui. Apalagi dikaitkan dengan Vereeniging Toeristen Verkeer (VTV) Batavia yang menjadi obyek penelitian saya. Kartu pos merupakan salah satu alat promosi lembaga tersebut.

Selain Pak Scott, yang juga menjadi narasumber adalah pak Lilie Suratminto, Pak Andy Alexander, Mas Soni Gumilang dan Bu Nadia Purwestri. Mereka ini kerap menjadi narasumber untuk PTD.

Menjelang acara saya dihubungi lagi oleh Broer Adep melalui e-mail yang merupakan cc dari Pak Scott. Berikut e-mailnya:

From: Scott Merrilees

To: adep@cbn.net.id

Sent: Sunday, April 08, 2012 5:15 PM

Subject: VTV

Hi Pak Adep,

I think you mentioned that one of your narasumber has written a book on the VTV.  Where can I please buy a copy of the book?

Terima kasih,

Scott

Berikut jawaban Broer Adep:

i bought the book from Kampus UI (Universitas Indonesia), and written on the cover TIDAK UNTUK DIJUAL, eh tapi saya bisa beli hehe, i think we better ask about it to Pak Achmad himself. Ok Pak Achmad what is the answer?

cc: Pak Achmad Sunjayadi
(sangkelana@lycos.com)

salam,
Adep

Buku VTV memang dicetak terbatas dan di sampulnya tertulis ‘Tidak Untuk Dijual’. Saya pun sebenarnya berniat untuk mencetak kembali dengan beberapa tambahan data baru.

Saya semakin antusias ketika Broer Adep datang ke kampus dan menceritakan itenario PTD ke-100.  Stasiun Tanjung Priok- Pelabuhan Sunda Kelapa –Museum Fatahillah – Stasiun Beos, Passar Baroe- Gedung Departemen Keuangan

Sambil berseloroh saya katakan pada broer Adep, itenario PTD ke-100 kalau pada awal abad ke-20 bisa dilakukan dua atau tiga hari. Mengingat pada masa itu belum ada bis ber-AC. Bisa meleleh para turis itu.

Ada dua tempat yang langsung menarik minat saya: Stasiun Tanjung Priok dan Gedung Departemen Keuangan yang dibangun pada masa Daendels.

Menjelang hari M (hari Minggu) 29 April saya mempersiapkan diri. Maklum ini ‘penampilan’ perdana di forum informil. Biasanya saya tampil di acara-acara formil yang terkadang tidak bisa diduga juga para pesertanya.

29 April 2012 Jam 7.30 saya tiba di Parkir Timur Senayan, tempat berkumpul acara PTD ke-100. Saya bertemu dengan Pak Lilie Suratminto yang sepertinya baru turun dari ojek. Rupanya para panitia sudah sibuk dengan para peserta yang mendaftar ulang dan membagikan sarapan. Saya pun diberikan tanda pengenal dan t-shirt PTD ke-100 oleh panitia.

Perjalanan dimulai setelah ‘pembagian’ dan signeren (tanda tangan) buku Pak Scott yang kelihatannya ludes dalam waktu singkat. Luar biasa untuk buku setebal itu ( kepengen.com)

bersambung (….)

foto: Mohammad Aditya Setiajid

One thought on “Plesiran Tempo Doeloe ke-100 (1)

  1. Pingback: Plesiran Tempo Doeloe ke-100 (2) » Sangkelana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *