Promosi Budaya Melalui Lidah

Ketika kita bepergian ke suatu tempat biasanya kita ingin mencicipi hidangan khas daerah tersebut. Jika tidak ada hidangan khas, maka ditemu-ciptakan suatu hidangan dan diperkenalkan sebagai hidangan khas. Hidangan itu kemudian disosialisasikan sehingga terkenal dan membuat orang penasaran untuk mencicipinya. Hal ini lah yang mendorong kegiatan wisata kuliner yang marak belakangan ini.

Bagi saya hidangan yang enak adalah ketika dalam kondisi lapar. Apapun hidangannya jika halal maka akan saya santap dengan senang hati. Apalagi jika dalam kondisi lapar. Tidak ada penilaian rasa enak dan lezat dalam kamus saya. Bagi saya, semua rasanya sama saja gurih, asin, manis, pedas, asam, pahit. Kemungkinan besar saya tidak akan lolos menjadi pembawa acara kuliner dan sok mengomentari berbagai hidangan.

Satu pengalaman saya ketika kecil ketika bepergian dengan Almarhum Bapak ke luar kota sangat membekas dalam ingatan. Ketika itu kami berdua bepergian dengan mobil menuju Surabaya. Kami tiba di Cirebon pagi-pagi buta. Dalam keadaan setengah mengantuk, Bapak menyodorkan sesuatu beralaskan daun pisang. Aromanya membuat saya terbangun. Rupanya, itu adalah serabi.

Perkenalan terhadap kuliner khas suatu wilayah atau negeri merupakan hal penting. Jika di tempat asal kita tersedia restoran atau rumah makan yang menyediakan hidangan khas suatu wilayah, hal itu memudahkan lidah kita supaya terbiasa dengannya. Meskipun biasanya bumbu-bumbunya sudah disesuaikan dengan lidah kita. Cara perkenalan lain biasanya dilakukan dalam perjalanan ke tempat tujuan.

Pada masa kolonial, kuliner merupakan salah satu cara memperkenalkan budaya dan kebiasaan di Hindia-Belanda. Selain lewat mata, perkenalan budaya dan kebiasaan dilakukan melalui lidah. Hidangan rijsttafel merupakan salah satu menu yang disajikan di kapal-kapal yang membawa para penumpang dari Eropa ke Hindia menjadi buktinya. Di antara para penumpang yang kelak juga kemungkinan menjadi turis dibiasakan dengan jenis hidangan khas di Hindia tersebut beserta tata cara pelayanannya.

Salah satu hidangan dalam rijsttafel adalah sambal. Louis Couperus (1863-1923), penulis Belanda yang dalam salah satu bukunya Oostwaarts (1924) secara khusus menjelaskan cara menikmati sambal dalam rijsttafel. Petunjuk cara menikmati sambal dan mengurangi rasa pedasnya juga diperlihatkan oleh para penulis catatan perjalanan yang awalnya mengatakan kapok tapi ternyata mereka tetap menikmatinya.

Pada masa kini, pengenalan kuliner khas suatu wilayah tampaknya berlanjut. Di beberapa maskapai penerbangan, mereka biasanya menyediakan kuliner khas negara asal maskapai penerbangan tersebut. Dalam suatu penerbangan jarak jauh ke Eropa, saya sengaja memilih menu khas negara asal maskapai tersebut. Meskipun para koki dan pembawa acara kuliner terkenal Anthony Bourdain dan Gordon Ramsey memilih tidak mau makan saat penerbangan, hal tersebut tidak berlaku buat saya. Saya dengan senang hati menyantap semua hidangan yang ditawarkan.

Menurut Bourdain, makanan di pesawat tidak mungkin enak dan tak mungkin memiliki rasa terbaik. Makanan di penerbangan dibuat di darat dengan proses pemasakan, pendinginan, pengemasan, dan pemanasan kembali di pesawat. Bourdain menambahkan proses tersebut pada akhirnya mempengaruhi rasa makanan.

Saya sependapat dengan Bourdain karena pernah melihat suatu acara televisi yang menyajikan proses persiapan hidangan di pesawat dalam jumlah yang besar. Proses persiapannya lebih mirip pabrik dibandingkan restoran. Soal kualitas rasa tentunya menjadi nomor sekian dibanding kuantitas makanan. Namun, apakah lantas kita tidak makan sama sekali?

Fritz Gross, Director of Culinary Excellence LSG Sky Chefs Asia Pasific memberikan saran untuk memesan makanan yang direbus. Alasannya makanan tersebut kemungkinan dipanasi berkali-kali dan akan tetap menjadi makanan rebusan. Jika tidak ada makanan yang direbus, Gross menyarankan untuk memilih nasi goreng atau ikan karena kedua hidangan tersebut cenderung memiliki rasa dan tekstur yang sama ketika dipanaskan. Hindari memesan pasta, Gross mengingatkan, karena hidangan tersebut cenderung mudah berubah jika terus dipanaskan apalagi jika jumlah saus tak berimbang. Selain pasta, hindari juga dada ayam yang cenderung kering jika dipanaskan dan hindari segala sesuatu yang digoreng. Ah, lagi-lagi saran itu tak berlaku untuk saya.

foto:
https://travel.kompas.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *