Rangkasbitung 2019

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya
Salam sejahtera!
Nama saya Multatuli.
Datang dari masa lalu.
Dahulu abdi Kerajaan Belanda,
Ditugaskan di Rangkasbitung,
Ibukota Lebak saat itu.

Penggalan sajak yang saya kutip ini berjudul “Demi Orang-Orang Rangkasbitung” karya Rendra (1990). Sajak ini mengingatkan saya pada pengalaman pada bulan April tahun 2010, sepuluh tahun silam. Saat itu saya yang masih menjabat sebagai Koordinator Program Studi Belanda bersama rombongan dosen, mahasiswa, dan para peserta Kongres Studi Belanda berkunjung ke Rangkasbitung. Ketika itu sebagai puncak acara Kongres Studi Belanda dalam rangka 40 Tahun Studi Belanda di Indonesia diadakan di pendopo kantor bupati Lebak di Rangkasbitung. Beberapa hari sebelumnya, dalam acara pembukaan Kongres, bupati Lebak beserta rombongan ikut hadir.

Bulan September 2019 ini saya datang kembali ke Rangkasbitung tetapi tidak dengan rombongan. Saya berkesempatan ikut berpartisipasi dalam Simposium Membaca Ulang Max Havelaar yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pemda Kabupaten Lebak. Acara simposium ini merupakan bagian dari rangkaian acara Festival Multatuli yang kedua. Tahun lalu, ketika acara Festival Multatuli digelar pada 2018, saya sedang berada di Belanda dan Belgia.

Saya sangat bersyukur ketika panitia mengumumkan 15 pembicara terpilih untuk Simposium tahun ini dan nama saya termasuk di dalamnya. Ada beberapa nama yang saya kenal dan mereka adalah para pakar di bidangnya, seperti Fadly Rahman dari Bandung, Prof. I Nyoman Darma Putra dari Bali, Heri Priyatmoko dari Solo. Sementara yang menjadi salah satu pembicara utama adalah ‘guru’ saya, Prof. Peter Carey. Kebetulan juga ketika beliau tampil bersama Yusri Fajar, M.A. dari Malang, saya menjadi moderatornya.

Memori yang terekam di ingatan saya ketika berkunjung ke Rangkasbitung pada 2010 adalah jaraknya yang cukup jauh dari Depok. Seingat saya, kami berangkat dari Depok sekitar pukul 7 atau 8 pagi dan tiba di Rangkasbitung sekitar pukul 12 siang. Kurang lebih lima jam perjalanan melalui jalan tol. Istri saya sempat menawarkan menggunakan mobil. Saya memutuskan menggunakan Commuter Line karena lebih praktis dan tidak membuat repot.

Setelah mendapat surat izin dan mengatur tugas untuk mahasiswa selama dua hari (acara berlangsung dua hari, 11 dan 12 September dan saya menjadi moderator pada hari pertama tanggal 11 September), saya berangkat pada sore hari tanggal 10 September. Khusus moderator, saya mendapat jatah dua malam akomodasi.

Saya berangkat pukul 17.00 karena saya harus memberi kuliah yang berakhir pada 15.50. Setelah pulang ke rumah dan berkemas, sampai di stasiun pukul 17.00. Saya memilih jurusan Tanah Abang karena untuk menuju Rangkasbitung harus transit di Tanah Abang. Saya beruntung, ketika tiba di stasiun, tak lama kereta jurusan Tanah Abang tiba. Sekitar pukul 17.50 kereta tiba di Tanah Abang. Setelah menunggu sejenak, kereta jurusan Rangkasbitung tiba. ‘Petualangan’ dimulai pikir saya.

Penumpang di dalam gerbong yang saya naiki tidak terlalu padat dibandingkan dengan kereta menuju Bogor pada jam yang sama. Saya mulai menghitung waktu tempuh dan memperhatikan nama-nama stasiun yang dilewati. Ada 17 stasiun yang harus dilewati sebelum sampai di Rangkasbitung.

Sudah hampir dua jam saya di kereta dan tidak ada tanda-tanda tiba di tujuan. Sebuah pesan WA dari panitia saya terima, menanyakan saya sudah sampai mana. Beberapa hari sebelumnya pihak panitia memberitahu saya bahwa akan ada yang menjemput dari stasiun dan mengantar menuju penginapan.

Perjalanan ke Rangkasbitung ini mengingatkan perjalanan saya tahun lalu dari Leuven ke Schiphol. Setelah tergopoh-gopoh menyeret kopor transit di Antwerpen pindah jalur dan transit lagi Rotterdam, barulah saya bisa duduk sampai Schiphol. Namun, dalam perjalanan Tanah Abang-Rangkasbitung, saya baru mendapat kesempatan duduk di empat stasiun terakhir. Lumayan.

Akhirnya kereta tiba di stasiun Rangkasbitung. Para penumpang bergegas turun. Saya melirik arloji yang sudah menunjukkan pukul 20.30. Saya segera mengirimkan kabar ke Kang Wahyu (panitia) yang ternyata sudah menunggu di tempat parkir motor. Tiba-tiba ada keributan. Dari arah tempat parkir, seseorang tampak digelandang oleh beberapa satpam. Entah copet atau apalah. Saya bergegas menemui Kang Wahyu yang telah siap dengan sepeda motornya. Kami segera meluncur ke penginapan yang terletak di Jalan Multatuli. Selamat datang pendatang, orang-orang yang ke Rangkasbitung. Salam untuk semua. Ik groet U allen zeer!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *